Goodbye, Kelinci Yang Manis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Aku lihat jam mungil yang ada di kamarku menunjukkan pukul 02.00 malam. Malam itu mataku tidak dapat untuk terpejam. Aku duduk sambil bersandar pada dinding kamarku dan menatap kosong pada sekeliling kamarku yang mungil itu. Aku mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tapi siapa yang akan menjawabku di kamar yang terasa tak berpenghuni itu. Aku dihantui dengan rasa bersalah tapi tidak ada satu suara pun yang dapat menenangkan hatiku hari itu juga. Tiba-tiba aku mendengar suara yang memanggil namaku.

“Ira!!”

Siapa lagi yang sering memanggil namaku dengan heboh seperti itu kalau bukan Dewi. Dewi adalah satu-satunya sahabatku yang selalu mengerti dan menghibur perasaanku di kala hatiku sedang dilanda sedih. Dia memang lebih tinggi dariku dengan kacamata yang melekat pada dirinya membuatnya kelihatan jenius. Dia memang pintar nilai akademisnya di atas rata-rata dengan balutan kerudung seragam sekolah kami. Dia makin kelihatan manis. Dalam hitungan detik dia sudah ada di sampingku.

“ada apa sih. Wi?” tanyaku sambil memperbaiki kerudung abu-abu yang ku kenakan karena terbawa angin.
“sudah jangan banyak nanya. Sini!!” sambil menarik lenganku dan berjalan tergesa-gesa.
“kita mau ke mana sih?” tanyaku penasaran.
“ke kelas sebelah.” jawabnya singkat yang menambah rasa penasaranku.
“tapi mau ngapain. Wi? Aku tak kenal satu orang pun di sana dan kamu juga begitu.”
Aku mencoba bertanya lagi tapi telat kami sudah sampai tepat depan kelas XI IPA 2. Aku dan Dewi duduk di kelas XI IPA 1 sehingga aku jadi penasaran mau ngapain dia mengajakku ke sini.

“coba deh lihat itu Ra!!” serunya sambil menunjuk seseorang.
“siapa? Yang mana sih. Wi?” jawabku bingung.
“itu Ra yang duduk paling depan. Sepertinya dia siswa baru deh Ra..”

Aku mencoba mengamati orang yang dimaksud oleh Dewi ternyata dia adalah anak laki-laki yang berwatak goodlooking. Dia juga memakai kacamata seperti Dewi. Hidungnya yang mancung. Mata yang sipit. Menambah ciri khas wajahnya apalagi dia memiliki kulit yang putih. “Wi kamu mungkin benar mungkin saja dia siswa baru tapi ngapain sih kita cari tahu? Ayo kita masuk kelas.” jawabku.

Aku hendak melangkah ke kelas. Tetapi Dewi menghentikan langkahku membuatku terkejut dan buku yang ku pegang terjatuh membuat semua orang terkejut dan melihat ke arahku. Ini sungguh membuatku malu. Dan saat itu aku merasa jengkel kepada Dewi. Aku dan Dewi membereskan buku-buku itu sambil mengomelinya habis-habisan. Lalu kami berdiri namun sebelum sempat pergi aku dikejutkan dengan suara di belakangku.

“hai kalian tidak apa-apa?”
“Ra. Dia datang.” bisik Dewi dengan rona bahagia di wajahnya.
“siapa? Pak guru?” jawabku cemas.
“bukan.” katanya sambil membalikkan badanku. Aku benar-benar terkejut ternyata suara tadi adalah suara murid baru itu. “hei. Kok bengong? Kalian tidak apa-apa?” kata si murid baru itu sambil mengayunkan tangannya ke mukaku.
“eh. Iya tidak apa-apa kok.” sontak aku menjawab sambil tersenyum lalu menunduk. Menarik tangan Dewi dan pergi dari hadapannya.

Hari itulah pertama kali aku bertemu dengannya tanpa tahu siapa dia. Aku memang sangat pemalu untuk berbicara dengan lawan jenis. Seumur hidup belum pernah terjadi dalam hidupku. Aku selama ini hanya fokus belajar dan belajar. Namun siapa yang mampu menduga pertemuan dengannya waktu itu adalah awal dari perubahan dalam hidupku. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku.

Aku dikagetkan oleh weker di kamarku yang berbunyi menandakan waktu salat subuh. Aku bangkit dan segera mengambil air wudu lalu melaksanakan salat subuh. Seusai berdoa aku melangkahkan kaki ke meja belajar dan membuka laci yang selama ini aku tidak berani untuk membukanya. Bukan. Isinya bukan hal-hal yang berbau mistis melainkan berisi kenangan-kenangan yang indah.

Aku meraih sebuah album foto. Aku membuka dan melihat-melihat gambar yang ada di dalamnya. Tentu saja album itu berisi dua orang gadis belia berumur 17 tahun. Tentunya itu aku. Dewi dan sebuah persahabatan yang indah dulu semasa sekolah. Tiba-tiba aku terhenti pada lembaran terakhir aku terpaku menatap gambar yang ada di sana. Seorang anak laki-laki yang bisa membuat dedaunan di pohon yang rindang berguguran dan pikiranku terpaku pada kejadian beberapa tahun yang lalu.

“Ira coba lihat deh pohon itu indah yah.” kata Dewi dengan kagum.
“iya Wi ayo kita ke sana. Aku pengen duduk di bawahnya ini tour camping pertama kita kan.” kataku sambil menarik lengannya. “hufft.. Aku juga pengen Ra tapi mau gimana lagi sekarang aku punya tugas dari Pak Darto.” katanya dengan nada menyesal. “yaah Dewi.” sambungku dengan cemberut.
“atau gini saja kamu ke sana duluan nanti aku nyusul oke.” dengan semangat aku mengiyakan ucapannya.

Sepatu bootsku melangkah cepat melawan angin. Akhirnya aku tiba di bawah pohon yang tadi dari atas dapat terlihat suasana perkemahan kami. “ini indah sekali.” kataku sambil membentangkan tangan merasakan desau angin yang masuk ke pori-pori mukaku. “iya kau benar sekali di sini memang indah.” kata orang yang berada di sebelahku. Tentu saja aku terkejut tanpa bertanya dan berbalik aku bergegas meninggalkan tempat itu tanpa tahu siapa dan bagaimana dia bisa berada di sana. Namun sebelum sempat melangkah dia mencegahku dan berdiri beberapa langkah di depanku.

“siapa kamu?” tanyaku sambil menutup muka aku tidak berani melihat wajahnya aku takut dia orang yang jahat.
“perkenalkan aku Haikal.” jawabnya enteng.
“bukan nama. Maksud aku kamu kenal aku?” tanyaku lagi.
“bagaimana bisa kamu tahu siapa aku kalau kamu menutup wajah begitu?”
Aku melepaskan tangan dari wajahku. Menghela napas dan mencoba melihatnya alangkah terkejutnya aku.

“haaaa.. Kamu siswa baru itu?”
“iya tentu saja. Kamu pikir preman?” sambungnya meledekku.
“maaf.. Maafkan aku. Aku hanya terkejut saja.”
“tidak apa-apa Ira.” katanya dengan senyuman tipis dan hendak pergi.
“tunggu.. Kamu tahu dari mana namaku Ira?” dia berbalik dengan senyuman tipisnya yang menambah khas di wajahnya.
“kamu kan siswa terpandai semua orang bisa dengan mudah mengenali kamu.” jawabannya kali ini membuat jantungku hampir copot dan berhenti berdetak saat itu juga entah apa yang terjadi padaku saat itu.

“hei.. Ratu bengong.” dia membuyarkan lamunanku.
“Ratu bengong?”
“iya kamu memang Ratu bengong. Pertama ketemu kamu juga bengong. Makanya aku panggil kamu Ratu bengong.”
“sudah jangan cemberut aku hanya bercanda. Ini ambil.” katanya sambil menyodorkan cokelat. Karena saat itu aku tidak menanggapi aku hanya cemberut karena sedikit tersinggung.
“terima kasih.” sambil meraih cokelat itu.

“iya. Aku duluan yah Pak Darto sudah mencariku.” katanya sambil tersenyum.
“iya sekali lagi terima kasih.” Tanpa menjawab dia hanya tersenyum lalu berlalu dari hadapanku. Aku duduk sambil melihat cokelat itu sambil tersenyum.
“dia lucu juga.” kataku dalam hati.
“cokelat kok cuman dilihatin. Cokelat tuh di makan Ra.” aku berbalik ternyata itu Dewi.

“Dewi sejak kapan kamu di sini?” aku terkejut membuat Dewi sedikit merajuk.
“jadi sudah tidak butuh aku lagi? Iya aku pergi.”
“eh bukan seperti itu. Tapi kamu buat aku terkejut.” aku mencegahnya pergi.
“nih cokelat kita makan bareng yah.” akhirnya dia luluh dan duduk di sampingku.

Aku beralih dari kenangan masa laluku itu dengan meraih bungkus cokelat yang ada dalam laci meja belajarku itu sambil tersenyum. Sekarang aku sudah berusia 25 tahun dan beberapa hari lagi aku akan menikah dengan seorang pria yang dipilih oleh kedua orangtuaku. Dia adalah lelaki yang baik selaras dengan kepribadiannya dan begitu pula perwatakannya. Berkulit putih mata yang sayu dan senyuman yang manis. Membuat aku yakin siapa pun yang melihatnya akan terpukau dan terpesona.

Dia adalah Rio teman masa kecilku dulu. Tetapi ada sesuatu yang mengganggu hatiku aku sedih karena merasa salah kepada Rio. Aku setuju menikah dengannya tetapi hatiku masih menyimpan satu nama dari masa laluku. Hal inilah yang mengganggu pikiranku hari ini sehingga aku tak bisa terlelap.

Bersambung

Cerpen Karangan: Maarifah Ariska
Blog: maarifahariska.blogspot.co.id

Cerpen Goodbye, Kelinci Yang Manis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Game of Love (Part 1)

Oleh:
“benarkah cinta hanya sebuah permainan untukmu, aku merupakan salah satu permainan yang kau mainkan” aku bertanya pada Kiran gadis yang berada tepat di depanku. Dia tersenyum “sebuah luka yang

Di Antara Kita

Oleh:
Kesya berulang kali memutar bola matanya. Jenuh. Satu hal yang menekannya kini. Entah berapa kali handphone-nya berbunyi, tapi ia acuhkan. Telepon, sms, bbm, dan teman-temannya telah memenuhi smartphone-nya kini.

Dia

Oleh:
Sejujurnya aku ingin mengatakan apa yang saat ini aku rasakan. Apa yang harus kulakukan ketika diri ini merasakan rasa cinta yang dalam kepada seseorang. Yaitu kakak kelasku yang bernama

Catatan Kelam

Oleh:
Aku kembali membuka buku yang sudah usang rusak dimakan waktu, terenyuh aku saat melihat banyak sekali goresan tinta penuh warna warni berbagai kisah telah tertulis dengan rapi. Goresan goresan

On Your Side

Oleh:
Jantungku berdegup begitu kencang saat aku melewati sebuah lorong di sekolah baruku. Aku kembali melihat tangan kiriku, di mana sebuah jam tangan hitam melingkar. Jarum pendeknya menunjuk angka 7

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *