Goodbye, Kelinci Yang Manis (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Aku selama ini memang tidak pernah dekat dengan seseorang lagi, aku mengunci hatiku rapat-rapat untuk satu orang dialah Haikal si murid baru yang menyebalkan yang menghiasi hari-hariku dulu semasa SMA. Berawal dari cokelat yang manis namun harus berakhir dengan pahit, sepahit sebuah mimpi yang tak berujung. Semenjak hari itu setelah dia memberi cokelat hingga kami kembali dari tour camping itu.

Aku selalu tidak sengaja bertemu dengannya di kantin, di perpus, taman sekolah dia selalu ada hingga akhirnya kami sepakat untuk berteman tapi aku tidak pernah memberitahu Dewi tentang ini, dia sibuk dengan olimpiade karya ilmiah yang diikutinya, aku juga memang terpilih dalam olimpiade itu tetapi karena olimpiade itu diadakan dekat dengan Ujian Nasional jadi aku putuskan untuk tidak mengikuti olimpiade itu.

Sebulan sebelum kami Ujian Nasional aku dan Haikal sepakat untuk bertemu sebelum fokus belajar untuk ujian nasional. Kami berencana pergi ke pertunjukan sirkus lalu pergi ke pekan raya sabtu malam ini. 3 hari sebelumnya aku sudah sibuk mempersiapkan pakaian yang akan aku pakai, ini pertama kalinya aku akan ke luar dengan Haikal jadi aku ingin kelihatan lebih cantik dari sebelumnya. Tepat sabtu malam setelah makan malam dengan ayah dan ibuku aku bergegas minta izin dan ke luar menuju pertunjukan sirkus dengan taksi, Haikal memang ingin menjemputku tapi aku takut ayah dan ibuku tidak akan mengizinkanku.

Akhirnya aku tiba di tempat sirkus dengan setelan jeans berpadu dengan short dress levi’s, kerudung biru dan ransel kecil yang menempel di pundakku membuat aku kelihatan lebih fresh hari itu. Aku mencoba mencari Haikal tapi dia lebih dulu menemukanku, “Ira aku di sini.” dia memanggilku dari belakang, aku berbalik dan melihatnya hari itu dia memakai kemeja dipadu jeans hitam membuatnya kelihatan cakep.

Hari itu kami menonton pertunjukan ditemani kembang gula dan camilan lainnya tentunya ada cokelat. Setelah dari pertunjukan sirkus kami menuju pekan raya di sana benar-benar sungguh ramai banyak permainan di sana. Kemudian Haikal mengajakku ke suatu permainan lempar bola dimana permainan itu apabila kita mengenai salah satu benda di depan kita yang berjarak beberapa meter dari tempat kita melempar bola maka benda itu adalah milik kita.

Hari itu Haikal berniat melempar dan ku lihat benda yang ada di sana ada boneka kelinci yang imut aku mencoba menyemangatinya. 1.. 2.. 3.. akhirnya Haikal melempar bola dan benar dia mengenai kelinci itu, Haikal mengambil boneka itu dan kami kemudian berlalu dan duduk di sebuah kursi. Entah bermimpi apa semalam hari itu Haikal menyatakan perasaannya kepadaku, “Ra kalau kamu terima aku, kamu ambil boneka ini kalau tidak kamu buang saja.”

Aku termenung dan berpikir lama aku bingung, aku juga sayang pada Haikal tapi aku mau fokus dengan belajar dan ujian dulu, mau tidak mau aku putuskan untuk menyuruhnya menunggu sampai hari pengumuman kelulusan nanti dan ternyata dia setuju, dia memang sungguh baik pikirku. Akhirnya kami pulang dan itulah terakhir kali aku melihatnya sebelum tiba waktunya bertemu lagi.

Waktu berlalu begitu cepat, Ujian Nasional akhirnya berakhir aku sungguh menantikan hari pengumuman itu tiba. Namun sebelum pengumuman tiba orangtua Haikal mengirimnya ke luar kota untuk mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi. Aku tahu kabar itu dari Haikal, dia mengirim email padaku setelah dia tiba di sana. Kejadian itu sedikit membuatku kecewa namun aku berdoa yang terbaik untuk dirinya.

Aku sempat berpikir mungkin aku akan kesepian karena Dewi pun juga pergi untuk bimbingan belajar hanya tinggal aku seorang diri. Aku memutuskan untuk tidak ikut bimbingan belajar karena aku tidak ingin jauh dari kedua orangtuaku. Meskipun sekarang teman aku sudah banyak tidak sama seperti sebelum mengenal Haikal tetapi aku tetap merasa sepi tanpa mereka berdua.

Namun aku salah karena selama Haikal ada di luar kota setiap hari dia mengirim email padaku, aku merasa senang tetapi aku tidak tahu bagaimana kabar Dewi karena sama sekali dia tidak pernah kirim email padaku. Satu bulan berlalu ada perubahan yang terjadi pada komunikasi kami, Haikal sudah jarang mengirim email padaku lagi aku berpikir mungkin memang dia lagi sibuk untuk belajar. Setelah dua bulan perubahan itu semakin nyata dia sama sekali tidak pernah mengirim email lagi padaku, namun aku mencoba berpikir positif kepadanya.

Setelah tiga bulan di akhir bulan mei dia mengirim email padaku lagi hanya email singkat namun sangat berharga bagiku katanya, “Aku akan kembali besok Ira, I miss you.” aku tanpa sadar meneteskan air mataku karena bukan hanya pesan yang dia kirim padaku dia juga mengirim foto dirinya kepadaku, dan foto itulah yang menghiasi lembar belakang pada album ftoku.

Hari pengumuman itu pun akhirnya tiba aku akhirnya dinyatakan lulus dengan nilai terbaik dan mendapat beasiswa bebas test di perguruan tinggi negeri di luar kota. Aku kemudian berkeliling sekolah mencari Haikal mulai dari sudut sekolah sampai ruang kelas aku mencarinya. Akhirnya aku menemukannya di taman sekolah dia tersenyum padaku dan mengucap selamat padaku, aku menatapnya dengan penuh haru dan rasa rindu di hatiku dan mengucap selamat juga padanya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Ra.” katanya dengan semangat aku menjawab.
“Aku juga Kal, kamu dulu deh.” Sebelum sempat Haikal mengucapkan sepatah kata seseorang datang dan menyapanya.
“Hei kamu di sini? aku dari tadi cari kamu.” Aku terkejut karena orang yang menyapanya dengan akrab adalah Dewi.
“Dewi.” kataku. Dia senang melihatku dan memelukku.

“Ira aku kangen bangat sama kamu, banyak hal yang belum ku ceritakan kepadamu.”
“Aku juga Wi.. really Miss you.”
Haikal hanya diam dan melihat kami.
“Oh iya Ra, ngapain kamu di sini?”
“Aku di sini untuk menemui Haikal.”
“Haikal? sejak kapan kalian akrab.”
“Maaf yah Wi selama ini aku tidak pernah cerita kepadamu, aku dan Haikal sudah lama akrab sejak dari tour camping itu.”
“Oh ya? baguslah Wi.” aku heran dengan jawabannya.
“Kok bagus?” sebelum sempat Dewi menjawab Haikal akhirnya mengeluarkan suaranya yang dari tadi diam.

“Dewi.. Dewi biar aku yang jelaskan soalnya aku mau minta tolong sama kamu bawa ini ke Pak Darto.”
“hmm.. Baiklah.” Dewi akhirnya berlalu dan aku merasa bingung dengan kejadian ini. Setelah lama terdiam akhirnya dia mengucapkan sesuatu.
“Ra Maaf.. Maafkan aku.” dia meminta maaf dengan nada menyesal sembari menunduk dan memegang kedua tanganku membuatku semakin bingung.
“Ada apa sih Kal? Maaf untuk apa?”
“Ra.. aku sudah jadian dengan Dewi beberapa bulan yang lalu.”
“Apa?”

Jawabannya membuat lututku seakan tidak dapat menopang tubuhku lagi. Saat itu aku tak mampu mengungkapkan kata-kata apa pun, hatiku hancur aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan duduk di kursi taman sekolah sambil menatap kosong. Dia ikut duduk di sampingku.
“Ra, tolong maafkan aku, aku memang jahat aku mengingkari janjiku untuk menunggumu tapi aku tidak pernah bohong dengan perasaanku padamu.”
Aku berbalik dan tersenyum menahan tangisku. “Kal sudah.. aku tidak apa-apa kok, Dewi adalah sahabatku dia juga orangnya baik dia pasti bisa membuatmu bahagia..”

“Aku salah Ra.” Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tidak Kal.. kamu sudah memilih orang yang tepat.”
“Kamu tidak akan pernah mengerti ini Ra.. perasaanku selamanya sejatinya hanya untuk kamu.” Kata-kata yang dia ucapkan membuatku sangat muak dan kesabaranku sudah habis.
“Sejati kal? kata kamu sejati? Perasaan yang sejati tidak akan pernah membuka hati lagi bagi orang lain Kal, meskipun sejauh apa pun jarak yang memisahkan.”

Kali ini tangis kekecewaan dalam hatiku tak dapat ku tahan lagi dan aku ingin segera beranjak dari kursi taman itu. Sebelum ku langkahkan kakiku dari taman itu Haikal menghentikanku aku berbalik dan melihatnya membawa boneka kelinci yang dia dapat dari pekan raya itu.
“Selamat Haikal.” hanya itu yang ku katakan padanya.
“Ra ambil ini aku tahu kamu kecewa tapi boneka ini membuktikan tulusnya perasaanku padamu..”

Aku sebenarnya tak ingin mengambil itu tapi dia tidak membiarkanku pergi jika aku tidak mengambil boneka itu. Akhirnya aku mengambilnya dan berlari dengan tangis kekecewaan hari itu aku meninggalkannya. Sampai hari ini aku selalu meneteskan air mata ketika mengingat itu dan besok adalah hari pernikahanku dengan Rio. Hari ini aku berdiri di depan api kekecewaan yang aku nyalakan untuk membakar semua kenangan masa lalu yang pernah terukir dengan tulusnya perasaanku. Satu persatu kenangan masa lalu yang aku punya ku masukkan ke dalam api itu mulai dari boneka, album foto, bungkus cokelat, dan masih banyak lagi tak ada satu pun yang tersisa.

Hari ini aku telah resmi menjadi Istri dari Rio ku ingin membuka lembaran baru tanpa ada masa lalu, tanpa ada cinta yang belum kelar. Namun tentang cinta serta nama dari masa laluku yang selama ini ku simpan dalam hati dan boneka kelinci, kelinci yang selama ini dikenal sebagai lambang playboy oleh semua orang tetapi aku berpendapat lain tentang kelinci di masa laluku itu. Dia bukanlah lambang playboy dari seseorang tapi kelinci yang ada di masa laluku adalah simbol dari tulusnya perasaan seseorang yang mungkin memang menyakiti.

Tapi bagiku dia tetap kelinci yang manis dan pada hari ini, jam ini, menit ini. Bahkan detik ini juga akan ku biarkan pergi dari hatiku dan akan ku katakan, “GOODBYE, Kelinci Yang Manis.”

Cerpen Karangan: Maarifah Ariska
Blog: maarifahariska.blogspot.co.id

Cerpen Goodbye, Kelinci Yang Manis (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Ingin Pulang

Oleh:
Ada yang bergerak, meriak-riak bahkan bergemuruh. Padahal setengah jam kami lalui tanpa satu kata pun, tapi bising itu masih jelas memadati indera pendengaran. Mungkinkah itu rindu yang mencoba tuk

Jiwa Yang Mati

Oleh:
Aku tak menyangka, cinta itu masih ada dalam hatiku. Ingin sekali aku melupakan, semuanya, sampai tak tersisa lagi serpihan kisahku dengannya di masa lalu. Tapi, kisah itu hanya akan

Tak Seindah Yang Nampak

Oleh:
Di dalam sebuah foto yang bergantung di dinding, aku melihat wajah Doni. Tampan dan misterius. Di dalam foto berbingkai cokelat itu, aku tak melihat ada senyum di wajah Doni.

Habis Cinta Terbitlah Lupa

Oleh:
Awal gue masuk di Smp Muhammadiyah 1 Denpasar saya belum kenal dengan semua anak-anak itu tapi gue yakin suatu saat gue kenal dengan anak-anak itu gak terlalu lama bebrapa

Friends or Love (Part 2)

Oleh:
Kamar yang tak terlalu besar itu tampak rapi dan bersih, terbukti pemilik kamar ini merawatnya dengan baik. Tak ada debu sedikit pun termasuk dekorasi kamar yang indah. Penuh poster-poster

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *