Hanya Kau Dan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Hening tak ada suara apa pun selain jarum jam dinding yang berputar hingga akhirnya berhenti setelah Romi melempar sepatunya ke jam dinding yang terpajang di tembok kamarnya, mengobrak-abrik seisi kamarnya hingga tak nampak lagi seperti kamar mungkin lebih terlihat seperti kapal pecah. Berteriak-teriak tak jelas, ia duduk di sudut ruang menelungkupkan kepalanya. Ia tertidur hingga pagi tepatnya sedikit siang ia baru bangun. Tercium di hidung Romi bau makanan kesukaannya bakwan udang, dicarinya sumber bau yang diciumnya ya dari dapur, seorang gadis tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya di meja makan. Kebiasaan jorok Romi jika sudah melihat makanan kesukaannya langsung menyambarnya tanpa cuci tangan bahkan mandi pun belum. Yuli gadis yang menyiapkan sarapannya menampar tangannya menjauhkannya dari makanan.

“Jangan sentuh, mandi dulu baru sarapan!” ucap Yuli. Romi hanya diam kemudian menyambar handuk yang tersampir di jemuran dekat kamar mandi. Selesai mandi ia segera ke meja makan, menyambar sarapan yang sudah disajikan Yuli. Hanya suara gemelentang piring Romi yang terdengar sepanjang mereka berdua sarapan. Tak ada sepatah kata pun ke luar dari mulut mereka berdua. Selesai makan tanpa basa-basi Romi berlalu dari pandangan Yuli. “Sampai kapan kau akan seperti itu?” gumam Yuli dalam hati.

Secarik kertas kecil memberikan petunjuk ke mana ke mana Romi membawa dirinya pergi, lokasinya sedikit jauh dari rumah singgahnya. Sebuah rumah yang sederhana yang dipagari dengan semak-semak, di terasnya tertata dengan rapi bunga-bunga yang berwarna warni itu dengan pohon mangga di depan rumah membuat rumah itu terasa sejuk. Di rumah itulah Romi menemui gadis pujaannya Mery. Mery tak begitu suka dengan kehadiran Romi semenjak ia tahu kalau Romi sudah menikah dengan Yuli 4 tahun yang lalu. Hanya saja hubungan Romi dengan Mery beberapa bulan lebih awal dari pernikahannya dengan Yuli.

“Pergilah, aku tidak suka dengan kehadiranmu,” ujar Mery.
“Dengarkan aku, aku tidak mencintai Yuli, pernikahan itu terjadi karena sebuah perjodohan,” jelas Romi.
“Aku tidak mau menyakiti perasaan Yuli, kalau sampai dia tahu wanita yang sering kau datangi adalah aku, dia akan sangat kecewa bahkan membenciku,”
“Biarkan saja dia tahu, dengan begitu dia akan mengadu kepada orangtuanya dan memilih berpisah denganku,”
“Dasar laki-laki berengsek!! Yuli itu sahabatku!”
“Kau lebih memilih persahabatanmu, dibanding hubungan yang telah kita bina selama 4 tahun,”
“Bukankah kemarin sudah ku katakan, aku hanya ingin menghargai Yuli,”
Menggenggam tangan Mery, “Aku tidak mau hubungan yang sudah lama terbina usai begitu saja, kita harus menghadapinya, Yuli adalah ujian dalam hubungan kita.”

Sejenak suasana menjadi hening, Mery tak berani menatap Romi, kepalanya tertunduk memikirkan sesuatu. Keheningan itu pecah ketika seseorang membanting vas bunga di mulut pintu, dua pasang mata itu menatap ke arah sumber suara, nampak Yuli berdiri di mulut pintu sambil menitikkan air mata. Yuli pun berlalu dari rumah itu. Tentu saja itu sangat perih menusuk hatinya, Mery pun mengejar Yuli berusaha untuk menjelaskan semuanya namun Yuli tak mau mendengar. Entah apa yang tiba-tiba menyerang hati Romi, seperti ada sebuah perasaan bersalah dan ada sedikit perasaan sakit ketika melihat Yuli menangis. Hatinya tergerak untuk mengejar Yuli hingga sampai di rumah singgah mereka berdua, nampak Yuli yang sedang mengemasi barang-barangnya dengan air mata yang tidak berhenti menetes. Romi mengeluarkan kembali barang-barang Yuli dari koper.

“Yuli apa yang kau lakukan, kau mau ke mana?” tanya Romi gelisah.
“Apa urusanmu, ini kan yang kau inginkan?!” jawab Yuli semakin terisak menangis.
“Tidak, jangan pergi!!” ucap Romi sambil menggenggam tangan Yuli.
Menghempaskan tangan Romi, “Kau tak perlu bersandiwara seperti itu, aku tak akan menuntut apa pun darimu setelah perpisahan kita,” Romi pun berlutut di kaki Yuli, “Aku sungguh-sungguh, tanpa aku sadari aku sudah mencintaimu, ku mohon jangan pergi jangan tinggalkan aku, aku janji aku akan perbaiki semua, sungguh Yuli aku mencintaimu.”

“Bagaimana bisa aku percaya setelah apa yang ku lihat dan ku dengar dari mulutmu sendiri!”
“Aku memang salah, iya aku masih mencintai Mery tapi tak seperti dulu lagi, perlahan cinta itu mulai hilang, yang terlintas dalam pikirku adalah berapa lama aku membina hubungan dengannya, tapi setelah melihatmu menangis, aku.. aku merasa kalau cinta bukan dari berapa lama cinta itu bertahan tapi seberapa kuat dan sabar cinta bertahan dan kau, kau cinta itu Yuli.”

Yuli hanya diam.
“Berikan aku kesempatan kedua, ku mohon…”
“Kau janji?”
“Janji.. hanya ada aku dan kau.”

Cinta yang di ambang kehancuran itu pun gagal retak, mungkin memang retakan itu tak sepenuhnya pulih namun setidaknya cinta itu masih sanggup untuk kembali bertahan. Kini Romi tak ada cinta lagi dengan Mery dan Yuli, ia menjadi satu-satunya untuk Romi saat ini.

Cerpen Karangan: Nabilah
Facebook: Bila CahyaNur Asidiq
Saya kelahira 1 April 1999 di kabupaten Pemalang jawa tengah, saya masih dalah tahap belajar membuat cerpen jadi mohon dimaklumi jika kalimat yang disajikan kurang pas. Terima kasih.

Cerpen Hanya Kau Dan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Titt… Tiitt!” ku raih segera handphoneku yang lagi nagkring di meja belajarku, ku buka segera sebuah pesan singkat di layar handphoneku. From: Faza Hai Neisya?, met pagi ya:D! Huft,

Lupa Cara Menangis (Part 2)

Oleh:
Langkah kaki menggeser waktu lebih cepat dari perpaduan putaran jarum pengarah waktu yang melingkar di tanganku. Balok beroda empat ku tancap melaju begitu cepat tak peduli apa yang menghalangiku.

Hadiah Terindah

Oleh:
Mungkin senja tidak ingin menunjukan keindahannya lagi. Mungkin pelangi pun juga begitu. Sudah 3 hari hujan turun di Solo. Ini hari pernikahanku. Namaku Reni. Tidak banyak yang menarik dariku.

Twinsamora (Part 1)

Oleh:
Diary, November 2009 Hmm, tadi waktu di halte, aku ketemu sama cowok. Dia tu cool banget..! Nggak tau kenapa aku seneng aja merhatiin dia. Tapi, kok aku nggak ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *