Heart to Hurt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Aku menikmati peran ini, bukan sebagai pemeran antagonis, atau pengemis cintanya Maurer. Hanya saja, aku terlanjur terjun pada jurang yang membuatku nyaman. Meski pada kenyataannya aku tak benar-benar bebas. Awal mula kenal akan sosok lelaki itu, ketika Diana sahabatku mengenalkan dia saat kita pergi ke puncak beberapa bulan yang lalu. Entah siapa yang memulai. Memang benar apa kata orang, cinta mampu tumbuh kapan saja, tak kenal tempat tanpa tahu dia siapa dan dari ras mana. Aku sudah melawannya, melawan perasaan agar tak berharap lebih.

Tapi itu semua jelas tak mudah, aku tak berhasil hingga pada akhirnya menahan sesak setiap hari. Tak logis memang, apalagi Diana adalah sahabatku. Sampai beberapa bulan setelah pertemuan itu, semakin hari Maurer semakin mencuri perhatianku. Hingga tiba saatnya ia benar-benar menyatakan cinta, aku kaget tapi bodohnya aku menerima begitu saja tanpa tahu bagaimana perasaan Diana jika ia mengetahui semua ini. Siapa yang tak bisa terhipnotis akan laki-laki berdarah indo-jerman itu? Selain suaranya yang berat, tampan, dan tinggi, ia juga pintar dalam segala hal. Terlebih Maurer anak dari salah satu pengusaha besar di Indonesia.

Aku tak pernah memikirkan bagaimana jika Diana membenciku. Bahkan aku menikmati saat-saat Maurer membagi cintanya di kala kita jalan bertiga. Diana mungkin tak tahu saat ia menyenderkan kepala, tangan kekasihnya menggenggam tanganku. Atau ketika ia memeluk Maurer, di depannya lelaki itu mencium keningku. Lucu memang, tapi aku menikmatinya. Namun, aku sadar. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti ia akan jatuh. Seperti halnya saat ini. Diana mengetahui ulahku dan Maurer. Dia datang ke apartmentku dengan bercucuran air mata. Aku yang sudah siap akan semua ulah yang aku perbuat, kini menyambutnya hangat untuk mempertanggung jawabkan semuanya.

“Kau mau teh?” tanyaku. Diana mendongak, pipinya basah dan matanya sembab. Ia mengangguk.
“Teh manis?” tawarku. Diana menyunggingkan bibirnya lalu menggeleng. “Teh pahit.”
Deg! Aku terdiam. Sejak kapan wanita itu menyukai sesuatu yang sama sekali ia tak suka?
“Teh pahit?” ulangku. Diana mengangguk. “Aku sudah bosan dengan sesuatu yang hanya manis di awal.” Aku menatapnya tajam. Dia menyudutkanku? tanyaku pada hati.
Lalu aku bangkit dan membuatkan wanita itu teh pahit, sesuai keinginannya. Setelah selesai, aku menaruh teh itu tepat di depan Diana, sahabatku.

“Kau mungkin tak akan bisa menghabiskannya.” ucapku.
Diana mendongak. “Kecuali jika kau meracuniku.” Ia lalu menenggak teh itu tanpa meniupnya terlebih dahulu.
Aku menatapnya kasihan. Sebegitu marahnyakah ia kepadaku.
“Diana!” Tukasku. Aku menyetopnya, tanganku berusaha menghentikan ulahnya. Namun Diana bersikeras. Aku tahu semua itu ia lakukan karena terlalu marah.
“Diana!” Tukasku lagi.
Diana tak mempedulikan.
“Diana hentikan!”

Tapi ketika aku mencoba menarik gelas itu, Diana dengan sengaja menjatuhkannya dan pecah tepat di kakiku. Aku meringis menahan sakit, kakiku merah tersiram air panas, juga berdarah terkena pecahan gelas. Sedangkan Diana malah tertawa, aku menatapnya sinis.
“Itu belum seberapa ketika aku tahu bahwa kau diam-diam menusukku dari belakang.” ketusnya.
“Sekarang kau sudah puas?” tanyaku.
“Belum.” teriak Diana.
“Kenapa tidak kau bunuh saja aku?”
“Untuk apa?” tanya Diana dengan tangan melipat di depan dada.

Aku terdiam, masih menahan sakit.
“Setelah aku membunuhmu apakah aku akan merasa lega?” tukasnya. “Tidak! Selama Maurer masih ada aku tak akan lega!”
“Kalau begitu, bunuh saja Maurer juga.”
Diana menyunggingkan bibirnya. “Pastilah dia akan mati.”
Aku mendongak menatap Diana. “Aku yang salah, aku tahu bagaimana hatimu.”
“Jelas saja kau yang salah, jika kau memang sahabatku tak mungkin kau merebut Maurer.”
“Lalu kau mau apa?” Teriakku.
“Kau yang bunuh Maurer!”

Deg! Aku menatap Diana syok.
“Kau sudah gila?” tanyaku.
“Kalian yang membuatku gila seperti ini!”
“Sadar, Diana!”
“Kau yang seharusnya sadar!” tukas Diana. “Kau yang memulai, kau juga yang harus mengakhiri.”
Aku benar-benar tak habis pikir Diana akan semarah ini. Jika memang endingnya akan ada yang mati. Mungkin tak akan ku terima Maurer dulu. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan aku, aku tak tahu harus berbuat apa.

“Aku tak sanggup!” tukasku.
“Baiklah kau yang mati!” Diana mengacungkan pistol tepat di dahiku.
“Bunuh saja aku!”
“Bukan hanya kau, tapi keluargamu juga!” ketusnya.
Deg! Memang benar, setiap langkah tak akan mengkhianati hasil. Ini langkah yang harus aku ambil. Sesuatu sudah terjadi, Diana benar-benar marah. Jelas saja! Tapi jika semua masalah ini harus berimbas kepada keluargaku juga aku tak sanggup. Bahkan mereka tak tahu apa-apa.

Aku berjalan menuju hotel Maurer. Di belakangku Diana mengekor sembari merok*k dengan asap yang mengepul-ngepul. Aku tak menyangka wanita yang ku kenal anggun mudah berubah layaknya preman, dan aku menjadi budaknya. Mataku sembab dan berkantung. Semalam Diana berhasil menyiksaku. Aku benar-benar tertekan, aku tak pernah menyangka Diana akan bertingkah selayaknya binatang. Aku benar-benar menyesal. Tak lama aku tiba di pintu kamar Maurer. Diana berbisik di telingaku. “Ketika Maurer membuka pintu, kau langsung tembak dia.” perintahnya sembari memberikan pistol.

Ujung mataku meneteskan air mata. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Diana sudah seperti bukan sahabatku lagi. Bahkan untuk menolehnya pun aku tak sanggup. Jika memang ini balasan atas ulahku selama ini, maka izinkan aku mengulang waktu kemarin. Aku benar-benar tak tahan bahkan tak kuat jika harus membunuh seseorang yang aku sayang. Aku mengangkat tanganku, dengan pelan aku mengetuk pintu. Perlahan pintu itu terbuka, aku bersiap-siap mengambil ancang-ancang. Diana sudah menunggu saat ini, detik-detik ketika aku membunuh Maurer, dan ketika pintu itu benar-benar terbuka, aku mengangkat pistolku. Maurer terkaget dan mengangkat tangannya. “Sekarang!” teriak Diana. Dan..

Dorrr!!

Aku menembakkan senapan itu. Pelurunya aku yakin mengenai dahi. Aku masih menutup mata. Sampai ketika aku membukanya perlahan, aku mendapati Diana terkapar tak berdaya. Aku tersadar, dengan cepat aku membalik badan ketika Diana menyuruhku menembak. Aku menjatuhkan pistol itu, dan terjatuh memeluk Diana. Aku menangis histeris sembari berteriak memanggil nama sahabatku. Maurer menatapku kasihan, ia lalu memelukku dari belakang dan berkata, “Diana akan lebih baik di surga.” Aku menoleh ke arahnya lalu teringat akan kejadian ketika Maurer menyatakan cintanya dulu.

“Diana psikopat.” ucap Maurer.
“Maksudmu?” tanyaku. “Apa kau tahu dengan siapa kau berbicara?”
“Kau sudah berapa lama berteman dengannya?”
“Dari SMP.”
“Apa kau tak tahu siapa yang membunuh Ayah dan Ibunya dulu?”
Aku menggeleng. “Diana tak pernah menceritakannya.”
“Kau ingat kejadian Robert?”
“Mantan dia sewaktu SMA?” Maurer mengangguk.

“Yang membunuh kedua orangtuanya adalah dia sendiri, dia bosan dengan mereka yang selalu ribut setiap hari, dan Robert juga ia bunuh karena tertangkap basah selingkuh.”
Aku terhenyak. “Kau tahu dari mana?”
“Aku tahu semua dari mulut sahabatmu.” tukas Maurer. “Kau tahu aku sangat tertekan setiap dia menginginkan sesuatu.” Aku terdiam tak mengerti. “Bahkan dia sering mengancam akan membunuhku.”

Lagi-lagi aku terhenyak. Sejauh ini Diana tak pernah melakukan itu kepadaku. Dia memang keras, tapi aku benar-benar tak habis pikir jika ia memang begitu. Sejauh kita bersahabat aku tak pernah melihat keanehan yang terjadi pada sahabatku itu. “Kau mungkin tak akan percaya.” Aku terdiam, terpatung.
“Kalau tak percaya, mari kita bermain di belakang. Dan lihat endingnya akan bagaimana.”

The End

Cerpen Karangan: Rival Ali
Blog: alirival.blogspot.com
Sejenis makhluk kekinian, hiperbola, doyan traveling, dan makan. Seneng nulis apa aja, dan punya mimpi besar jadi orang besar di negara yang besar | South Banten, Indonesia.

Cerpen Heart to Hurt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Cinta Tiara

Oleh:
Malam itu pun semakin larut, detik jam pun mulai terdengar kencang, tanda tiada lagi kehidupan yang menimbulkan suara, tapi Tiara masih saja terjaga dengan laptop mungil di pangkukannya, sambil

Cinta Ku Milik Sahabat Ku (Part 1)

Oleh:
Hari ini cuaca mendung, sudah sejak tadi aku menatap ke luar jendela memandangi hujan pagi yang gerimis. Halaman pun penuh dengan genangan air, ku lihat air masih mengucur dari

Antara Kita Dan Cinta

Oleh:
Namaku Fara. Aku punya sahabat yang bernama Fia. Kita memang belum lama bersahabat, tapi, kita sudah sangat dekat. Saat ini kita kelas X SMA. Dan di sekolah kita semua

Singgah

Oleh:
‘Lo mau nggak jadi pegangan gue? Biar gue nggak bingung lagi…’ DEG. Semburat merah muncul menggelitik pipi Cindai setelah membuka surat dari Bagas. Kata-katanya tak ada yang romantis. Namun

Bury, The True Story of My Life

Oleh:
Sebenarnya, udah hampir dua tahun aku suka sama seorang cowok, namanya Farel (nama disamarkan). Farel ini satu tahun lebih muda dari aku, tapi kepribadiannya lumayan dewasa. Dia sosok yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *