Home

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penantian, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 July 2013

Semburat warna merah dan biru bergradasi menghiasi langit. Burung-burung berterbangan mengantar sang raja langit ke tempat persembunyiannya. Lampu demi lampu mulai menyala menerangi jalanan. Orang-orang berlalu-lalang menelusuri trotoar dan deru kendaraan bermotor seolah-olah mengiringi langkah mereka.

Lelaki itu terpaku. Hiruk pikuk kota ini sudah menemaninya 4 tahun belakangan. Dengan satu alasan yang cukup mengikat sehingga ia harus rela menerimanya. Sekaligus menerima semua konsekuensi atas tuntutan tersebut. Rasa rindu akan rumahnya.
Tiba-tiba handphone di sakunya bergetar. Dilihat sekilas nama yang muncul kemudian digesernya pelan layar tersebut.
“Ya?”
“Benarkah?” Tanya lelaki itu dengan bahasa asing
“Besok pagi saya akan berangkat”
“Gracias, Josh”
Sambungan telepon telah terputus. Diliriknya jam tangan yang membelit manis di pergelangan tangan. “12 jam lagi” Gumamnya pelan. Kemudian ia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas dada. Lelaki itu menghela napas perlahan dan secara bersamaan tercetak senyuman lebar di bibirnya.

Lelaki itu berdiri tegak. Memandangi sebuah bangunan di hadapannya. Sejenak ia meregangkan otot karena usai menempuh perjalanan yang cukup lama dan melelahkan. Tapi ia yakin, rasa lelahnya itu akan terbayar, tidak sia-sia.

Ia melangkah maju mendekati bangunan tersebut. Di dorong pelan pintu kaca yang menghalang, kemudian ia melanjutkan langkahnya ke dalam. Berubah. Satu kata yang melintas di pikirannya. Tempat itu berubah dari 4 tahun yang lalu.
“Bisakah aku bertemu bosmu?” Tanyanya kepada seorang pelayan
“Maaf, dia belum datang. Ada keperluan apa anda mencarinya?”
“Baiklah, aku akan menunggunya” Lelaki itu melangkah menjauh tanpa menjawab pertanyaan dari pelayaan tersebut. Ia mengambil duduk tak jauh dari pintu. Dengan tujuan agar dapat melihat secara jelas siapa pun yang keluar masuk dari tempat ini.
“Permisi, apa anda ingin memesan sesuatu?” Tiba-tiba pelayan tadi berdiri di samping mejanya.
“Tidak, aku hanya mau dilayani oleh bosmu” Jawab lelaki itu
“Tapi bos kami sedang tidak ada. Apakah kau sudah membuat janji?”
“Sudah kubilang, aku akan menunggunya sampai dia datang”
“Baik, permisi” Pelayan tersebut menjauh dengan bingung. Apa maksud kedatangan lelaki itu?
Tapi lelaki yang dimaksud hanya memandang pelayan tersebut dengan datar. Kemudian ia menundukkan kepala tapi beberapa detik kemudian ia mendongak dengan cepat. Sudut matanya menangkap sebuah lukisan besar di pojok ruangan. Ia menatap lukisan tersebut. Lukisan itu adalah pemberiannya. “Dia masih menungguku” Gumam lelaki itu pelan sambil tersenyum kecil.

“Aku akan pergi untuk waktu yang lama”
“Pergi? “
Lelaki itu mengangguk pelan. “Untuk waktu yang lama” Ulangnya
Gadis di hadapannya mengerutkan kening, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu. “Kau tidak menyembunyikan suatu penyakit parah kan?”
“Kau pikir hidupku seperti dalam novel dan drama” Lelaki itu tertawa kecil.
“Lalu?”
“Perusahaan memberiku tanggung jawab untuk menyelesaikan beberapa urusan di kantor pusat”
“Kantor pusat?”
Lelaki itu mengangguk pelan kemudian meneguk cokelat panas di genggamannya. “Aku akan ke Madrid, kurang lebih 3 tahun” Tambahnya
“3 tahun? Kau bilang hanya beberapa urusan tapi mengapa selama itu?”
“Ya tetapi semua tergantung seberapa berat urusan tersebut, aku akan berusaha kembali secepat mungkin”. Lelaki itu memajukan tubuh kemudian melipat kedua tangannya di atas meja. Ditatap gadis yang sedang sibuk mengaduk pelan minuman di hadapannya itu. Ditemukan sepercik kesedihan di mata gadis tersebut.
“Ternyata kau sangat pintar mengambil kepercayaan bosmu” Komentar gadis itu dengan senyum yang dipaksakan.
“Kau keberatan?”
“Bagaimana mungkin aku keberatan Leo, ini kesempatan emas untukmu. Kapan kau akan berangkat?”
“Minggu depan”
“Lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat”
“Kau mengusirku?”
“Ya, ini sudah terlarut malam untuk cafe-ku menerima seorang pelanggan” Jawab gadis itu dengan tersenyum tipis.
“Baiklah, aku pulang” Pamit Leo lesu sambil beranjak dari duduknya.
Tanpa diketahui Leo, gadis itu menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ia menghela napas perlahan, kemudian pandangannya beralih menatap cokelat panas yang tersisa karena ditinggalkan oleh sang pemilik. Apa gadis itu akan bernasib sama seperti cokelat panas tersebut? Ditinggalkan oleh orang yang sama.

“Nona, ada orang yang menunggumu sejak 2 jam lalu” Lapor pelayan kepada seorang gadis yang baru saja melangkah masuk.
“Siapa?” Gadis itu kebingungan.
“Zara”
Refleks gadis itu menoleh ke asal suara tersebut. Asal suara itu tersenyum ke arahnya. Tapi gadis itu tak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya diam. Beberapa detik kemudian mereka sudah berhadapan. Dengan jarak hanya beberapa centi saja, gadis itu dapat melihat wajah orang tersebut dengan jelas. Wajah yang sangat familier dan penuh akan kenangan.
Lelaki itu langsung memeluknya. Sangat erat seperti tidak ingin tercipta jarak lagi di antara mereka. “Aku merindukanmu” Bisik Leo. “Aku sangat merindukanmu, Zara”
“Aku juga merindukanmu” Balas gadis itu sembari menguraikan pelukannya. “Duduklah” Tambahnya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka “2 cokelat panas”. Sang pelayan pun mengangguk cepat dan berjalan menuju dapur.
“Kemana saja kau selama ini hah? Kau bilang 3 tahun? Kenapa kau baru datang?” Bertubi-tubi pertanyaan terlontar.
“Ternyata urusan itu tidak semudah yang kukira” Leo tersenyum kecil “Maafkan aku karena telah ingkar janji”
“Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu?”
Lelaki itu terkejut. “Sudah kuduga akan seperti ini” Desahnya pelan. “Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Mengapa kau tidak berubah hah? Dasar! Bagaimana bisa aku marah padamu” Gadis itu tertawa.
Leo menatap gadis di hadapannya. Gadis itu tumbuh lebih cepat dari yang dibayangkan. “Kau yang berubah” Komentar lelaki itu.
“Tentu saja, usiaku semakin tua” Jawab Zara enteng.
“Bukan itu maksudku, kau terlihat lebih cantik”
Gadis itu terdiam. Apa yang dirasakannya sekarang? 4 tahun, waktu yang cukup lama untuk seseorang melakukan perubahan. Leo benar, ia kini berubah. Ia bukan lagi Zara yang dulu, Zara 4 tahun yang lalu.

“Permisi” Tiba-tiba pelayan datang mengantarkan 2 cokelat panas. Setelah meletakkannya di meja, pelayan tersebut menjauh meninggalkan meja mereka.

“Asal kau tahu, kau adalah alasanku kembali. Kau adalah rumahku” Ucap Leo sungguh-sungguh “Selama ini aku menahan rinduku padamu dan aku sangat menantikan saat-saat seperti ini” Tambahnya.
“Aku mencintaimu Zara” Leo mengenggam tangan gadis di hadapannya “Bukankah kau juga mencintaiku? Aku merasakannya sejak dulu”
Zara terpaku. Gadis itu kebingungan. “Leo, aku..”
“Aku tau Zara. Bisakah kita sekarang menjadi sepasang kekasih? Tidak perlu lagi memendam rasa ini” Potong Leo
“Kau salah Le” Zara menatap Leo. Lelaki itu mengerutkan keningnya.
“Kau salah karena kau baru mengucapkannya sekarang, memang benar aku mencintaimu, tapi itu dulu Le. Seperti yang baru saja kau katakan, aku sudah berubah” Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman lelaki di hadapannya secara perlahan.
“Apa maksudmu?”
“Kau terlambat, aku sudah tidak merasakan apa-apa saat kau memelukku, saat kau memujiku bahkan saat kau menggenggam tanganku dan menyatakan perasaanmu. Aku tidak merasakan detak jantung yang menggebu seperti dulu”
“Kau bercanda kan?” Leo memandang Zara tak percaya.
“Awalnya aku memang sangat kehilangan dirimu tapi 4 tahun bukan waktu yang sebentar Le, sampai pada akhirnya aku bertemu seseorang”
“Kau sudah mempunyai seseorang?”
Zara mengangguk pelan. “Maafkan aku, Le” Ucap gadis itu lirih.
Leo menatap dalam mata gadis tersebut. Ingin menemukan kebohongan dalam pancaran mata itu. Tapi tidak ditemukannya. Bahkan dalam mata itu seperti sudah tidak terdapat bayangan dirinya.

“Tapi mengapa lukisan itu masih berada di tempat yang sama?”
“Karena itu adalah pemberianmu dan sampai kapan pun akan selalu ada di sana”
Leo tersenyum getir mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis mungil di hadapannya itu. Jawaban yang sangat jauh dari harapannya. Ternyata lukisan itu masih di sana karena hanya untuk menghargai pemberiannya. Tidak ada maksud lain.

Tiba-tiba pintu cafe terbuka, terdapat sosok seseorang yang hendak masuk. Orang itu mengedarkan pandangan sekilas. Kemudian berjalan mendekati meja mereka. “Ternyata kau di sini” Ucapnya ketika berdiri di samping meja.
Sontak mereka terkejut dan mendongakkan kepala. Leo menatap bingung. Siapa orang itu? Atau jangan-jangan dia adalah…
“Mengapa kau tidak menelepon terlebih dahulu?” Tanya Zara sambil bangun dari duduknya dan berdiri di samping orang itu.
“Apa aku harus melakukannya setiap berkunjung ke cafemu?” Orang itu tersenyum miring. Kemudian matanya beralih menatap Leo.
“Ah kenalkan ini Leo, dan Leo ini Cavid” Ucap Zara sambil menoleh ke arah Leo dan Cavid bergantian.
Dua lelaki itu berjabat tangan. “Senang bertemu denganmu, Leo” Sapa Cavid tersenyum kecil. Leo hanya membalasnya dengan anggukan.
Zara dapat merasakan kecanggungan di antara mereka. Dan ia juga dapat merasakan kekecewaan yang terpancar dari diri Leo. “Sampai kapan kalian akan berdiri dan berpandangan seperti itu?” Zara tersenyum untuk mencairkan suasana tidak mengenakan ini.
“Ah ya, mari kita duduk” Cavid menarik salah satu kursi kemudian menghempaskan tubuhnya.
“Leo, Cavid adalah..”
“Aku tahu, dia kekasihmu kan?” Potong lelaki itu.
Zara terkejut mendengar ucapan Leo, bagaimana bisa lelaki itu mengetahuinya?
“Tidak perlu terkejut seperti itu, aku dapat membaca dari tatapanmu padanya” Leo tersenyum kecut.
Namun tidak hanya lelaki itu yang tersenyum, lelaki lain di sebelah kirinya juga ikut tersenyum kecil “Zara bercerita banyak tentangmu”
“Benarkah?” Leo menatap Cavid.
“Ya, dia juga menceritakan perasaannya padamu. Mengapa kau bisa melewatkannya begitu saja?”
“Itu memang kebodohanku” Kemudian Leo mengalihkan pandangannya menatap Zara “Kupikir dia akan menungguku, karena dia adalah rumah bagiku. Bukankah rumah tidak bisa berjalan kemana-mana?”
“Kau salah, rumah memang tidak bisa berjalan tapi rumah yang kosong dapat dihuni oleh orang lain” Balas Cavid
“Ya, kau benar” Senyuman kecut menghiasi wajah Leo untuk kesekian kalinya.
“Mungkin dulu dia adalah rumahmu, namun sekarang dia adalah rumah bagiku dan tidak akan kubiarkan rumah itu kosong bahkan dihuni oleh orang lain”
“Kau beruntung bertemu dengan laki-laki seperti dia” Leo menatap Zara.
“Maafkan aku Le” Ucap gadis itu pelan. Tidak pernah terpikir olehnya berada di antara dua lelaki ini. Posisi yang sangat membingungkan.
“Untuk apa kau meminta maaf? Akulah yang harus meminta maaf karena telah meninggalkanmu” Balas lelaki itu “Jaga dia baik-baik, jika kau menyakitinya maka aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu” Tambahnya sembari beralih menatap Cavid.
“Kau tak perlu khawatir”
Leo beranjak dari duduknya, berniat untuk meninggalkan sepasang kekasih tersebut. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti “Zara, aku tahu tidak akan mudah melupakanmu tapi aku akan berusaha, semoga kau bahagia”
“Kau akan menemukan rumah yang lebih baik, Le” Gadis itu bangun dari duduknya. “Kita masih bisa berteman kan?”
“Tentu saja, jangan membuatku lebih gila dengan tidak dapat berteman denganmu lagi” Leo tersenyum kecil menatap gadis yang berdiri di hadapannya “Ah ya satu lagi, aku menunggu undangan pernikahan kalian” Tambahnya sambil mengusap pelan puncak kepala gadis tersebut. Kemudian ia melangkah keluar dari cafe tersebut.

Lelaki itu terdiam menatap jalanan. Tidak dihiraukannya terik matahari yang sangat menyengat. Karena rasa panas tersebut tidak sebanding dengan rasa panas dan sakit yang menggerogotinya saat ini.
“Bodoh!” Umpat Leo “Mengapa aku bisa melewatkanmu Zara?” Tambahnya sambil menendang asal.
Ia berjalan mendekati sebuah taman kecil. Ketika sampai di taman tersebut, lelaki itu menghempaskan tubuhnya di rerumputan hijau. Ia tidur terlentang sambil memejamkan matanya karena tidak tahan dengan pancaran sinar matahari.
Tiba-tiba otak lelaki itu mengubah haluan kinerjanya, jauh ke belakang. Mengingat pertama kali bertemu dengan gadis itu, berapa lama waktu yang dihabiskan bersamanya. Semua terasa begitu indah sebelum kejadian di cafe beberapa menit yang lalu.
Ia menghembuskan napas kesal. Teringat olehnya kata-kata yang pernah diucapkan ketika ia bertemu dengan gadis itu untuk memberitahukan keberangkatannya ke Madrid. ‘Kau pikir hidupku seperti dalam novel dan drama’. Bukankah ucapan itu benar? Hidupnya memang tidak seperti dalam novel ataupun drama yang dapat dengan mudah berakhir bahagia. Kemudian Leo tersenyum kecut.
“Tidak, semuanya tidak berhenti di sini! Hidupku belum berakhir!!”

Cerpen Karangan: Ifarifah
Blog: www.ifarifah.blogspot.com

Cerpen Home merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nenek dan Hujan

Oleh:
Penyesalan memang selalu datang terlambat, mungkin ada penyesalan yang datang tepat waktu, tapi itu hanya dalam beberapa kasus. Tapi dalam kasusku, penyesalan datang amat terlambat. Nenek suka bernanyi. Dahulu,

Our Promise

Oleh:
“Auryn, nanti kamu nggak langsung pulang kan?” tanya seorang anak laki-laki. “Eh? I-iya enggak. Kenapa Va?” balas gadis bernama Desviana Auryn itu. “Aku… aku mau ngomong sesuatu. Tapi, nanti.

I Want To Sing A Loud

Oleh:
Aku rasa kopi ini sama sekali tidak membantuku. Aku menyingkirkan secangkir kopi yang mulai mendingin, demikian juga dengan gitar yang sejak tadi ku peluk. Akhirnya aku hanya menekuk lutut,

Salah Mengartikan

Oleh:
“Maaf aku gak bisa” itulah jawaban yang dia berikan setelah aku menyatakan perasaanku dan berharap dia menjadi pasanganku. Dia adalah Hana, wanita yang aku sukai sejak awal kita bertemu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *