Hurt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

Aku melangkah beriringan dengan Aldo. Dia ketua osis sekaligus kakak kelasku. Meskipun aku dan dia selalu melangkah beriringan ke sekolah, dia sama sekali tidak pernah menyapaku. Kak Aldo selalu menganggapku debu yang melintas di hidupnya. Pernah sekali waktu, aku tanpa sengaja merangkul lengannya. Bukan. Bukan karena aku ingin diperhatikan olehnya, namun, karena pada saat itu aku hampir menabrak mobil yang melintas di sampingku. Dan Kak Aldo hanya membalasnya dengan senyuman getir.

Tetapi, hei! Dia adalah pria pertama yang berhasil mengisi relung hatiku. Jangan tanya kepadaku kenapa aku menyukainya. Bahkan aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa mencintai pria jutek seperti dia. Saat ini aku tidak ingin lagi salah tingkah di hadapannya. Apalagi jika dia tahu bahwa aku menyimpan perasaan lebih dari kakak-adik.

“Woi!!” seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke sumber suara. Talita sudah terpampang jelas di hadapanku. Ia mengernyit bingung sambil bergumam tak jelas. “Talita, ngapain kamu di sini?” ucapku mengalihkan pandangan ke arah Kak Aldo yang sedang bermain bola basket di tengah lapangan.
“ih, kamu gimana sih! Kan kamu sendiri yang nyuruh aku buat ke sini. Biasa.. ngegosipin si cowok ganteng.” Talita kemudian duduk di sampingku dengan wajah yang begitu berbeda dari hari hari sebelumnya.

“gimana, udah ada perubahan belum?” ucapnya lagi. Aku hanya menggeleng.
“udah dong sya.. jangan sedih mulu. Kamu tahu sendiri kan kalau Kak Aldo orangnya jutek banget. Masih aja ngarepin dia. Ya udah, kan tadi kamu bilang mau curhat. Curhat aja. Aku siap jadi pendengar yang baik buat kamu.” aku mengalihkan pandanganku ke arah Talita yang sedang menyeruput jus jeruknya.

“aku kecewa banget sama dia ta. Dia gak pernah ngehargain aku. Aku juga berhak dong jatuh cinta. Gimana pun aku manusia yang bisa ngerasain patah hati. Udah berapa kali dia nyuekin aku? Udah berapa kali dia ngejutekkin aku? Udah berapa kali dia mempermalukan aku? Gak kehitung ta.. dan sampai saat ini dia masih dingin. Dia bahkan seolah-olah gak kenal sama aku. Aku cape ta.. aku sama sekali gak dihargain.” aku membendung air yang hampir ke luar dari pelupuk mata.

Talita yang merasa iba kepadaku langsung menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dia memang sahabat terbaikku. Talita selalu mengerti apa yang aku rasakan. Aku sayang kamu Talita.
“jangan nangis dong… kamu jelek kalau lagi nangis.” dia mengusap telapak tangannya ke punggungku. Aku hanya tersenyum simpul. Tak lama kemudian seorang pria bertubuh atletis melangkah ke arahku dan Talita. Tak asing lagi bagiku. Dia Kak Aldo. Tidak salah lagi. Itu benar benar Kak Aldo! OH MY GOD!

“Talita, temenin gue ke ruang osis. Bentar doang.” ucap Kak Aldo dengan oktaf suara yang begitu lembut. Jujur, baru kali ini aku mendengar Kak Aldo berbicara selembut dan tidak irit dalam berbicara. Aku cemburu. Tapi, Talita dan Kak Aldo hanya berteman, dan aku tahu itu. Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.

Beberapa minggu kemudian aku sudah jarang bertemu Talita. Terakhir kali kami bertemu itu pun hanya membahas tentang ulang tahun Kak Aldo. Yang bertepatan pada hari ini. Talita memberiku aba-aba untuk datang ke cafe tempat di mana Kak Aldo akan diberi kejutan istimewa oleh orang-orang spesial di hidupnya terkecuali, aku. Terasa sangat asing mengucapkan itu, tapi bagaimana pun itulah kenyataannya. Aku bukanlah siapa-siapa, Kak Aldo.

Jam dinding menunjukkan pukul 19:06. Aku bergegas mengganti pakaian dan membaluti wajah dengan make up yang natural seperti anak SMA pada umumnya. Sebenarnya aku masih ragu untuk datang ke acara itu, namun bagaimana pun Kak Aldo adalah kakak kelasku. Aku harus menghargainya meskipun dia tidak pernah menghargaiku. Baiklah, aku tidak mau berlama-lama di sini. Dengan langkah yang santai aku segera masuk ke cafe yang sudah didesain sedemikian rupa. Lampu sudah dimatikan. Semua yang ada di sana bersiap-siap mengambil posisi masing-masing.

Sedangkan aku mengambil posisi pada meja paling pojok sebelah kiri. Semuanya sudah rapi dan indah. Tak begitu lama, seorang pria yang sudah pasti bahwa dia Kak Aldo mulai muncul di ambang pintu yang bertuliskan “sweet cafe.” Lampu dengan bersamaan menyala dan disusul suara nyanyian dari orang-orang yang juga berada di sana.

Aku lihat Talita sedang membawa kue ulang tahun ke arah Kak Aldo. Wajahnya tampak begitu bahagia. Ada apa sebenarnya? Kenapa Kak Aldo memeluk Talita di depan orang banyak? Padahal selama ini yang aku tahu Kak Aldo seorang pria jutek dan tidak suka disentuh oleh gadis mana pun. Dan saat ini, aku melihat dengan jelas mereka sedang berpelukan?! Apa yang terjadi? Beribu tanda tanya menyelinap masuk ke dalam pikiran. Hatiku berdetak hingga tak karuan. Beberapa saat kemudian Talita menghampiriku dan menarikku ke atas panggung. Apa yang akan aku lakukan? Bernyanyi? Aku tidak bisa bernyanyi.

“Tasya, kasih ucapan spesial buat Kak Aldo! Aku yakin kamu pasti bisa!” ucap Talita antusias kepadaku. Aku mengangguk. Baiklah. Aku mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Aku lihat Kak Aldo sedang menatapku, cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku darinya.

“buat Kak Aldo. Selamat ulang tahun. Semoga Kakak bisa menjadi pria yang bisa menghargai wanita, dan mencintai orang lain dengan tulus. Saya juga berharap Kakak bisa peka terhadap perasaan orang lain yang benar-benar menyayangi Kakak. Jujur, Kakak adalah cinta pertama saya, pria kedua yang saya banggakan setelah Papa, dan pria yang saya sayangi setelah orangtua saya. Namun, hari ini saya juga menyatakan bahwa saya berhenti mencintai Kakak. Saya berhenti untuk menjadi diri saya yang dulu. Saya juga punya perasaan, yang semestinya Kakak hargain. Saya mempercayai Kakak sebagai cinta pertama saya. Namun…” aku menarik napas panjang dengan wajah yang sudah dilumuri bulir air mata.

“Kakak sama sekali tidak perduli dengan saya. Mengacuhkan saya, seakan Kakak tidak pernah mengenal saya. Saya mati-matian berjuang agar Kakak bisa mengenal saya. Menegur saya. Dan menganggap saya lebih dari orang lain. Semoga Kakak dan Talita menjadi pasangan yang serasi. Terima kasih atas semua luka yang Kakak goreskan di hati saya, terima kasih karena Kakak, saya bisa belajar banyak hal.”

“Saya kecewa Kak! Dan mulai detik ini juga saya akan menjauhi Kakak. Berpura-pura tidak pernah mengenal Kakak. Sama halnya seperti yang Kakak lakukan terhadap saya. Awalnya saya pikir Kakak lah pria yang nantinya akan menjadi orang pertama yang menghias hidup saya, justru saya salah. Kakak tidak ada bedanya dengan pria di luar sana!! Kakak mau marah? Silahkan! Kakak benci dengan saya setelah saya mengungkapkan ini semua? SILAHKAN! Mulai detik ini anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.” aku berlari meninggalkan cafe tersebut dengan air mata yang masih jelas di wajahku. Dan sekarang aku mengerti kenapa cinta itu menyakitkan.

Talita. Ternyata selama ini dia dan Kak Aldo berpacaran, dan aku sama sekali tidak tahu. Apa yang harus aku lakukan? Dua orang yang ku sayang sekaligus mengkhianatiku.

The End

Cerpen Karangan: Anisa Fadila
Facebook: Anisa Fadila

Cerpen Hurt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arini

Oleh:
Semilir angin berhembus menyebabkan daun-daun kering berjatuhan. Di kursi taman ini aku menikmati sejuknya. Di sini pula aku pertama kali berjumpa dengannya 8 tahun lalu. Masih ku ingat senyuman

Mantan Bertahan Dengan Rasa Sakit

Oleh:
Gue punya pacar bernama rian saputra, Mulanya kita sebatas teman kerja… Berawal dari kebencian gue sama dia, yg padahal gue sendiri ga tau kenapa gue sangat membenci dia. Saat

Ketika Senja Datang

Oleh:
Kasih. Telah kuterima pesan walimah darimu. Telah ku baca dengan kerapuhan jiwa tiada daya. Telah ku ucapkan “aku turut bahagia” meski tersimpan dusta lara. Kasih.. Telah kau ajarkan mencinta

Penyesalan

Oleh:
Tanpa pikir panjang aku langsung chat dia melalu bbm “kita putus”. Tak lama Faisal membalas “kenapa? Aku gak mau putus”. “Pokoknya aku mau putus”. “Kamu gak ngertiin, Nenek aku

Sweater Hitam

Oleh:
“Malam ini dingin banget ya” kataku padanya sambil memulai pembicaraan, “iya dingin banget, lo pasti kedinginan” katanya sambil membuka sweater hitam miliknya dan memberinya padaku untuk kupakai. Ia hanyalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hurt”

  1. Tiara says:

    yaallah. nyesekkss ::(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *