Ikhlas, Sesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Aku hanya dapat menyanyikan lagu ini untuk mewakili perasaanku, perasaanku yang saat ini sedang hancur karena suatu sebab, yaitu saat kedua orang yang aku sayangi mengkhianatiku.

Ku langkahkan kakiku menuju halaman rumah menjumpai seorang pria yang telah menunggu ku sejak tadi.
“Hai putri tidur sepertinya mimpimu sangat indah sehingga kau sangat lelap.” Ucapnya sambil memegang tanganku.
“Maaf maaf aku bangun telat, maaf telah membuatmu berjamur.”
“Ha sudah tidak apa-apa sayang, ayo kita segera berangkat sebelum mentari makin panas.” Dia pun menarik tanganku.
Dia adalah pria terindah yang diturunkan Tuhan untukku, ku bahagia memilikinya karena dia sungguh sempurna, mungkin sulit bagiku untuk menemukannya pria lain sepertinya, ku harap aku dan dia tetap bersama selamanya.

Di Sekolah.
“Hiya sayang ayo cepat kita berlari lebih cepat, ingat pelajaran pertama gurunya killer abis, kayak abis makan pedes 10 mangkok penuh.” Ucapnya sambil terus memegang tanganku.
“Aduh sayang kakiku tak kuat melangkah, cape sekali.”
“kalau tidak cepat kita bakalan terlambat sayang.”

Kami berlari sangat cepat menuju kelas karena pelajaran pertama telah dimulai 10 menit yang lalu, namun saat sampai di depan kelas.
“Fransiska Cornelia, Hadi Pahreza!” Sosok monster itu telah berdiri di hadapan kami berdua, “Beraninya kalian datang terlambat saat pelajaran saya. Cepat lari 20 kali keliling lapangan. Sekarang!” Teriaknya sambil berkacak pinggang, sungguh-sungguh teriakannya membuat seluruh dunia gempar serasa ada gempa.

Kami pun segera berlari menuju lapangan untuk menjalankan hukuman yang diberikan si monster itu.
“Maaf ya sayang gara-gara aku kita jadi terlambat.” Aku menunduk tanda menyesal.
“Gak apa-apa kok sayang, aku mengerti. Kamu kan semalam baru pulang dari Bogor pasti cape kan. Jangan cemberut gitu ah sayang, jelek tahu.” Ucap dia sambil mencolek daguku.
Aku pun mencubit pinggangnya dengan keras hingga dia meringis kesakitan.
“Aw, aw, aw, sayang sakit.”
“Hehehe.”
“Awas ya kamu aku bales.”

Kami pun kejar-kejaran sambil menjalankan hukuman, rasanya hukuman ini jadi terasa indah. Tak terasa 20 putaran sudah kami laksanakan.
“Sayang, kamu pasti merasa sangat lelah ya. Mau ke kantin dulu atau langsung ke kelas?”
Aku pun melirik jam tanganku, “Langsung ke kelas aja ya, bentar lagi pelajaran kedua akan dimulai.”
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum, sungguh senyuman itu membuat tubuhku yang panas menjadi sejuk.
Sesampainya kami di kelas, aku sungguh dikejutkan dengan seseorang.
“Siska!”
“Aini?!”

Seseorang yang bernama Aini itu menghampiriku dan memelukku.
“Aini, kamu pindah ke sini?”
“Iya, kamu juga sekolah di sini, gak nyangka. Oh iya ini siapa?”
“Ini Hadi Pacarku, sayang ini temanku waktu SMP, kami dulu berpisah karena dia melanjutkan sekolahnya ke Surabaya.”
“Hai aku Aini.”
“Aku Hadi.” Mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum.
“Kalian baru dihukum ya, pasti cape aku beliin minuman ya.” Dia pun hendak pergi ke kantin.
“Sudah tak apa, nanti kita beli sendiri.” Guru pelajaran kedua pun masuk, dan kami belajar dengan khidmat karena guru yang satu ini cukup tegas.

Teeeet, teeet, teeeet. Tanda istirahat pertama pun berbunyi, semua murid segera pergi ke luar kelas.
“Sayang mau ke kantin?”
“Ayo, anak-anak kutil itu pasti udah nyampe kantin.”
“Aini ke kantin yuk.”
Dia pun mengangguk lalu mengikuti langkah kami di sampingku.

Di Kantin.
“Siska di sini.” Kami pun menghampiri sumber suara.
“Cie ceritanya gak pisah-pisah nih..” Kata perempuan yang memakai kacamata putih itu.
“Eh ini siapa kenalin dong.”
“Oh iya ini Aini, dia temanku waktu SMP dia pindahan dari Surabaya.” Ucapku sambil memegang bahu Aini.

Mereka pun saling berjabat tangan dan saling mengenalkan diri.
“Hai aku Angle.” Kata perempuan yang memakai behel itu.
“Aku Ayu.” Kata perempuan yang memakai kacamata putih.
“Aku Dimas, eh minta nomor handphone-nya dong.” Kata laki-laki yang sedang makan bakso.
“Hahaha, ketahuan gak lakunya, ada yang baru disosor.” Kata Ayu.
Aini hanya tersenyum melihat tingkah mereka, rasanya senang sekali bertemu dengan Teman lamaku. Aku begitu bersyukur pada Tuhan, aku masih diberikan segala kecukupan oleh orangtuaku, dikelilingi sahabat-sahabat yang sayang padaku, dan juga seorang kekasih yang perhatian dan setia padaku.

Bagaikan tersambar petir di siang hari yang cerah, benar kata pepatah tak selamanya kita berada di atas ada saatnya kita berada di bawah, dan hal itu terjadi padaku. Orangtuaku bangkrut, rumah ini akan digusur oleh pihak Bank, namun orangtuaku meminta agar diberi kesempatan sampai aku lulus sekolah. Aku belum menceritakanya pada sahabat-sahabatku, biarlah nanti sebelum aku pergi aku akan menceritakannya pada mereka.

Di kelas. Aku hanya bisa termenung di bangkuku, aku merasa teramat terpukul, saat lulus nanti aku akan pergi ke kampung halamanku, berpisah dengan sahabat-sahabatku, juga kekasihku. Mungkin sepertinya aku harus menceritakan pada Hadi dulu, setidaknya aku bisa sedikit melepas penat.
“Sayang.” Ucapku memanggil dia.
“Apa?” Sungguh sahutan yang sangat dingin dengan sedikit membentak.
“Aku mau bicara sesuatu.” Ucapku padanya.
“Nanti saja Sis, aku ada urusan.” Dia pun berlalu meninggalkanku.
Aku pun segera berlari ke kantin, di sana mungkin ada sahabat-sahabatku.

Di kantin. Ternyata benar mereka masih ada di sana, aku pun segera menghampiri mereka.
“Sis, tumben sendiri. Hadi dan Aini mana?” Ucap Angle, semua pun menatapku bingung, karena memang tak biasanya aku sendiri.
“Wajahmu murung, apa kau ada masalah?” Ucap Ayu sambil mengelus punggungku.
“Aku gak apa-apa teman-teman, hanya ada sedikit problem aja.” Aku pun menundukan kepala di atas meja, ku angkat daguku dan menatap kosong ke depan.

Masalah telah menghampiriku apakah aku sanggup menahan semuanya apa aku sanggup melewatinya. Orangtuaku kini telah gulung tikar, kami tak punya apa-apa lagi. Lalu Hadi kenapa dia jadi seperti itu, hampir 3 tahun kami menjalin cinta suasana kami begitu romantis tapi mengapa Hadi berubah dalam sekejap. Kenapa semua harus datang secara bersamaan, aku tak sanggup pada posisi ini. Air mataku mengalir melewati dua alur pipiku membentuk sungai yang berliku-liku.

“Siska kamu kenapa, bicara sama kita masalah kamu.” Ucap Angle memegang bahu dan menatapku tajam.
Aku hanya menggeleng pelan. “Sis gak biasanya kamu gini, bagaimana kita bisa bantu kalau kamunya hanya diam.” Ucap Dimas. Aku pun menceritakan semuanya tentang Orangtuaku lalu Hadi, mereka hanya mengangguk-angguk sambil menatapku iba. “Aku mengerti keadaanmu Sis, pasti sangat sakit saat berada dalam posisimu, tapi aku yakin pasti ada jalan.” Ucap Ayu sambil memeluk tubuhku. Mereka bertiga memeluk tubuhku erat seakan tahu perasaanku kini.

Di Kelas.
“Aini, kamu ke mana aja dicari kok gak ada.” Aku menghampiri Aini yang berada di bangkunya.
“Bukan urusanmu.” Dia pun membuang muka padaku.
‘Jleb’ rasanya aku seperti tertusuk samurai panjang, ada apa dengan semua ini, kenapa semua berubah terlalu cepat. Aku kembali ke bangkuku dengan wajah termenung, sungguh semua masalah ini membuatku rapuh tak berdaya.

Hari ini adalah pertama aku melakukan ujian, aku melewatinya dengan tenang meski beban yang menimpaku sangat berat. Masa-masa ujian aku lewati, hingga kini aku menunggu hasilnya.
Tibalah saat pengumuman. “Ibu akan mengumumkan 3 Murid yang menjadi juara tahun ini.”
“Ketiga diraih oleh Dimastin Praditya.”
“Kedua oleh Metha Nurhalimah.”
“Dan yang pertama oleh Fransiska Cornelia. Baik untuk para juara segera naik ke atas panggung untuk diberikan hadiah oleh kepala sekolah.”
Aku terhentak dari lamunanku, apa aku juara pertama, aku tak menyangka.

“Selamat untuk Dimastin, Metha dan Fransiska.” Suara tepuk tangan menggema di ruangan tersebut.
“Siska selamat ya, kamu jadi juara pertama.” Teman-temanku menyalamiku.
“Terima kasih.” Aku pun segera menghampiri sahabat-sahabatku.
“Ini dia juara kita, hebat kamu Sis.” Ucap Angle bak seorang presenter.
“Selamat ya.” Ucap Hadi. Aku hanya tersenyum.
“Dimas kamu hebat juga, peningkatan yang bagus.”

Kami pun saling bercanda ria, aku bahagia di hari terakhirku di sini mendapat kejutan yang sangat indah.
Drrt, drrrt, drrrt. Hp Hadi berbunyi, entah siapa yang sms dia tiba-tiba dia berucap, “aku pergi duluan.”
“Siska ayo kita ikutin Hadi, siapa tahu kita tahu jawaban mengapa Hadi berubah.”
Aku hanya mengangguk, kami pun mengikuti Hadi dari belakang. Ternyata Hadi pergi ke parkiran yang berada di belakang sekolah, dan yang lebih membuatku tercengang di sana ada Aini.

“Hai sayang, waw ternyata pacar kamu hebat ya menjadi juara pertama.” Ucap Aini sambil bergelayut manja.
“Sudah, ada apa?” Kata dia berusaha menyingkirkan tangan Aini.
“Sayang kamu mau ke Universitas mana, aku ikut yah.”
“Belum tahu sayang, nanti kita sama-sama cari brosurnya.”
“Iya sayang, kapan kamu akan mutusin Siska, jangan kelamaan dong mikirnya.” Ucap dia sambil memeluk Hadi.
“Aku belum yakin sayang, tapi tunggu aja dulu ya. Siska anak yang baik dia belum pernah melakukan salah apapun padaku.”

Mereka saling berpelukan mesra, dan yang semakin membuatku hancur mereka pun berciuman. Aku belum pernah melakukan itu dengan Hadi, tapi dengan Aini begitu lancarnya. Perasaanku semakin hancur remuk, air mataku telah benar-benar membasahi wajahku, teman-temanku pun sangat kaget melihat kejadian ini, mereka mendumil beberapa kali. Aku pun berdiri dan menghampiri mereka berdua, teman-temanku pun mengikutiku dari belakang.

“Seharusnya aku tahu dari awal, ini akan terjadi.”
“Siska!” Ucap mereka berdua serempak, “Siska sejak kapan di sini?” Tanya Hadi.
“3 Tahun kita bersama, kita lewati segalanya bersama. Aku sayang sama kamu melebihi apapun. Ku pikir perkenalanmu dengan Aini tak akan terjadi apa-apa, tapi ternyata. Jujur aku menyesal mengapa kalian harus saling mengenal, tapi aku juga harus ikhlas. Hadi kamu tak usah berpikir lagi bagaimana cara putus denganku, aku akan pergi ke kampung halamanku, aku tak akan kembali lagi.” aku pun membalikkan badanku ke belakang, Ayu langsung merangkulku.

Angle menghampiri Hadi lalu menarik kerah bajunya, tanpa basa-basi dia langsung mengeluarkan jurus karatenya, Hadi pun langsung tersungkur ke tanah.
“Hei apa yang kamu lakuin Angle?!” Teriak Aini sambil membantu Hadi untuk bangun.
“Dengarlah Hadi Pahreza, kamu gak tahu kan musibah apa yang telah menimpa Siska, orangtua Siska bangkrut. Harusnya kamu mengerti bukanya membuat dia tambah hancur, saat Siska menahan bebannya sendiri kau malah senang-senang sama cewek sialan ini!”

Aku segera menarik lengan Angle, “ayo kita pergi.” Kami pun segera pergi dan menemui orangtuaku.
“Hasil yang sangat memuaskan Siska, Mama bangga padamu.”
“Terima kasih Ma.”
“Mari segera berangkat.” Ajak Papa hendak berdiri dari bangkunya.
“Sebelum itu, aku pengen sesuatu dulu ya Ma Pa.”

Aku segera mengajak teman-temanku ke belakang panggung, aku hanya ingin bernyanyi untuk terakhir kalinya yang ku persembahkan buat Hadi.
“Sis Hadi ada di bangku orangtuanya.”
“Siska apa kamu siap?” Tanya pembawa acara.
Aku pun mengangguk, teman-temanku pun memberikan semangat padaku.
“Untuk penutupan mari kita sambut Fransiska Cornelia!” Teriak sang pembawa acara.

Aku segera melangkah menuju panggung, kedatanganku disambut oleh semua yang berada di sana.
“Saya di sini akan menyanyikan sebuah lagu, selamat mendengarkan.”
Para pemain musik telah memainkan alat musik mereka. Setelah mengucapkan terima kasih aku segera turun dari panggung. Aku tak sanggup lagi membendung air mataku.

Sudah 5 tahun semenjak kejadian itu aku sulit melupakan Hadi, kenangan bersama nya terlalu sulit dihapus, terkadang aku menangis sendiri saat aku ingat kejadian itu. Aku mencoba ikhlas Hadi direbut oleh Aini, tapi kenyataannya aku menyesal mengapa mereka harus saling mengenal. Kini kehidupanku berubah, Papa kini mengelola perkebunan milik pemerintah, Mama membuka usaha catering yang laris, dan aku pun kini bekerja di Konveksi pembuatan pakaian anak. Kehidupan di sini sederhana, namun begitu hangat rasa kekeluargaan yang masih kuat, dan sebentar lagi aku akan menikah.

“Sis udah ketemu belum dekorasi yang pas.” Ucap sepupuku.
“Belum Din.”
“Aku punya kenalan, pembuat dekorasi pernikahan. Kayaknya perlu dicoba deh Sis, siapa tahu pas.”
“Boleh deh Din, nanti sore yah bareng sama Risky, biar kita tentuin bersama.” Ucapku.
“Cie so sweet, oke aku tunggu ya.” Dia pun keluar dari kamarku.

Saat sore tiba aku, Risky calon suamiku, bersama Dini pergi untuk ke tempat dekorasi pesta kenanya, tempat yang lumayan bagus, kami dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Ketika menunggu datanglah dua orang yang membuatku tercengang, dua orang yang ku coba lupakan selama ini.
“Hadi, Aini?”
“Siska?!” Ucap mereka berdua serempak.
“Loh kalian ternyata udah saling kenal.” Ucap Dini sambil menatap kami heran.

Setelah saling mengobrol panjang lebar, ternyata Aini dan Hadi telah menikah, mengapa hati ini begitu sakit mengetahui hal ini, aku juga sebentar lagi akan menikah dengan Risky. Aku tak mengerti apa yang aku rasakan, yang harusnya rasa ikhlas kenapa harus benci dan marah, kenapa aku harus menyesali keadaan. Andaikan saat itu Aini tak pindah ke sekolahku mungkin saat ini aku masih bersama Hadi, namun siapa yang harus aku sesalkan kenapa aku menyesal.

Hingga hari pernikahanku rasa ini masih berantakan, aku seperti kurang menikmatinya, kenapa aku masih berharap bahwa Risky adalah Hadi. Mengapa aku masih belum bisa melupakan Hadi, di saat ini harusnya aku berbahagia malah bersedih. Tuhan bantu aku ke luar dari rasa yang teramat gila ini. Terkadang ku menyesal mengapa ku kenalkan dia padamu.

Cerpen Karangan: Silvi Senia M
Facebook: Silvi Dian
Napen: Vivhey
Gadis yang penuh dengan imajinasi di luar batas.

Cerpen Ikhlas, Sesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss You, Crying

Oleh:
Aku tetap menunggu di sini, di tempat di mana kita selalu bertemu dan mengenang masa-masa bersamamu. Aku ingat saat kita pertama kali menyapa satu sama lain. Dengan perasaan gugup

Low Batt

Oleh:
Hai, namaku Bella, umurku 11 tahun. Sekarang aku duduk di bangku kelas 5 SD Harapan Bangsa. Siang itu, pelajaran IPS. Cukup membuat pusing, karena kunci menjadi pintar pelajaran IPS

Angle Of Love

Oleh:
Cinta, tiba-tiba saja aku tertarik ingin menceritakan kisahku. Kisah yang meninggalkan pertanyaan dan aku pun tidak yakin dengan jawabannya. Bermula dari ketika aku dan sahabatku ayu sedang duduk di

Failed Anniversary One Year

Oleh:
Sebuah cerita bermula pada tanggal 17 November 2015, tepat pada malam itu jam 20.45 WITA di depan perpustakaan kampus dia mengungkapkan perasaanya. Hati terasa begitu senang ketika dia hendak

Pengorbanan Terindah

Oleh:
Allahhuakbar allahhuakbar… Suara adzan terdengar jelas dari masjid di sekolahku. Bel istirahat pun berbunyi beriringan dengan suara adzan. Aku bergegas ambil wudhu. Di sana aku harus mengantri, karena banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *