Indahnya Bunga Mawar Tapi Sakit Pada Durinya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 December 2014

Cinta! Seperti mawar yang indah rupanya. Memberikan cinta pada dua mata yang melihat. Selalu ingin dimiliki. Akan sakit jika kita memetiknya dengan sembarangan. Begitupun cinta, akan sakit rasanya jika kita mempermainkannya dengan sembarangan. Cinta memang harus dimiliki tapi tidak untuk disakiti.

“Eza tetep gak mau, Ma!” Usahaku menolak perintah mama untuk segera mencari pendamping hidupku.
“Eza, ayolah! Umur kamu sudah 22 tahun, sudah harus segera mencari pendamping hidupmu. Sedangakan mama sudah mulai tua. Mama juga gak tau sampai kapan mama bisa bertahan hidup. Setidaknya, mama bisa melihat kamu tersenyum dengan gadis yang kamu pilih. Mama mohon sama kamu, apa kamu tidak kasihan sama mama yang udah memohon sama anaknya seperti ini” jawab mama terus mendesak.
“Tapi, ma…” sergahku dengan bingung untuk menjawabnya.
“Kenapa? kamu masih mengharapkan Dina yang menghilang gitu aja tanpa kabar. Kalo dia sayang kamu pasti dia gak memperlakukan kamu seperti setan kebingungan. Jangan buang waktu dan hidupmu terpuruk hanya karena gadis yang gak jelas ada dimana. Bayangkan, dua tahun kamu menunggu. Tapi sampai detik ini juga dia belum nongol batang hidungnya. Apa kamu gak mikir? Mungkin saja dia sudah menikah dengan lelaki lain atau apapun itu!”
“Kamu buat audisi cari jodoh, supaya kamu bisa mendapatkan gadis yang kamu inginkan atau mungkin lebih dari Dina. Nanti mama suruh sahabat kamu bantuin segala hal yang dibutuhkan untuk acara ini” saran mama lalu masuk ke kamarnya.
Aku diam sangat lama. Kasihan juga mama, sudah lima tahun ditinggal ayah. Dan sekarang aku dengan tega merusak impiannya hanya karena tetap mengharapkan seorang Dina yang lenyap tak jelas.

Aku adalah cowok yang sangat susah sekali merasakan jatuh cinta. Aku hanya ingin merasakan cinta sekali untuk selamanya. Entahlah, apa mungkin aku bisa jatuh cinta gadis selain Dina.

Dina! Tatapan hangat terpancar dari matamu yang tak lagi bisa kulihat. Senyuman manis tak lagi kulihat di mulut cerewetmu. Suara merdu tak lagi bisa kudengar. Ekspresi wajah khawatir, senang, sedih, marah, dan kesal tak lagi kulihat di wajah anggunmu.
Dina, where are you? Dua tahun kamu menghilang, dua tahun aku menunggu, dua tahun aku galau, dan dua tahun juga aku merawat cinta ini untukmu. Tapi… kamu tak juga kembali. Aku tak bisa menghubungimu, aku tak bisa melihatmu, dan aku juga tak bisa lagi mencintaimu.
Tetesan bening mengalir dari mataku. Tangisan ini tak cukup melampiaskan kesedihanku selama dua tahun ini. Seandainya dia memberiku kabar, mungkin aku tak mungkin seterpuruk ini. Pahit atau manis kabar itu, aku berusaha untuk menerimanya.

Aku menunggu sahabat karibku untuk membicarakan tentang acara cari jodoh saran mama. Daniel dan hengki masih belum datang juga. Yeah, kebiasaan buruk mereka memang tidak pernah berubah. Telat, telat, dan telat sudah seperti adat mereka.
“Hay, Za! Kami siap melaksanakan tugas bos” suara cempreng terdengar dari balik pintu.
Dua kepala mucul di ambang pintu. Lalu, masuk dengan gaya se-cool mungkin. Bagaimana sulitnya seorang ibu melahirkan anak yang jadinya malah begini. Berilah kesadaran untuk mahkluk yang aneh ini.
“Za, coba liat kuku gue! Bagus kan? Barusan gue lagi perawaan kuku di salon” lapor Si Daniel yang tidak pernah bolos ke salon untuk menjaga ketampanannya.
“Ala, ngantuk gue nunggu loe di salon! Tapi, ceweknya lumayan juga sih!” komentar Hengki.
“Be the way, sampai kapan gue harus ngasih tau kalian berdua adat masuk ke kamar orang?” tanyaku marah.
“Sampai kami pensiun jadi sahabat loe” jawab Daniel dan Hengki kompak.
“Terserah! Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku langsung tanpa berbasa-basi dengan manusia yang seperti tak punya dosa ini.
“Ke mall! Cari makan dan minum, jangan lupa bawa laptop!” jawab Hengki sambil memainkan gitar Eza yang baru saja diambil di gantungan yang berjejer untuk koleksi gitarnya.
“Ah, yang bener aja! Kita mau membicarakan biro jodoh bukan mau nongkrong mas-mas yang oon”. Kataku jengkel.
“Emang, yang harus kita lakukan sekarang adalah santai-santai aja kawan” kata Daniel.
“Kemarin gue udah pasang iklan di seluruh media sosial seperti di Facebook, twitter, E-mail, friendster, we chat, BBM, koran, majalah dan sebagainya”
“Syukurlah, ya udah kita ke mall sekarang” kataku kemudian.

Aku segera mengambil mobil merah kesayanganku. Lalu segera berangkat ke mall yang biasa kami datangi. Perasaanku sangat bingung, gundah, dan takut. Aku bingung, apa pilihanku mencari jodoh dengan cara ini adalah cara yang benar. Aku gundah, karena bagaimanapun cinta ini tetap untuk Dina. Aku juga agak takut membuat mama sedih.
Akhirnya kami telah sampai ke sebuah mall yang kami inginkan. Mall ini menyediakan seluruh apa yang kita inginkan. Dari kebutuhan primer, sekunder, tersier, dan sebagainya sudah tersedia di mall ini. Tujuan kami saat ini ke tempat yang santai dan penuh dengan makanan.

Akhirnya kami menemukan tempat makanan yang menyediakan makanan yang kami suka. Di tempat ini kami bisa memilih pelayanan yang biasa atau istimewa. Kami juga bisa bermain lagu atau mendengarkan lagu di ruangan pribadi. Pastinya, dengan adanya makanan yang memenuhi meja.
“Gue gak nyangka loe bakal buat acara cari jodoh kayak gini” kata Hengki membuka laptopnya sendiri.
“Gue cek di BBM” tambah Daniel.
“Ini semua untuk kebahagiaan nyokap gue” jawabku jujur.
“Yeah, tante Rena terlalu baik! Siapa sih yang pengen liat dia sedih? Aku aja selalu memikirkan lelucon kalau sudah ingin ketemu dia. Senyumnya itu lho, yang sangat mempesonan.” Puji Hengki.
“Apa sih loe? Jangan bilang kalau loe naksir nyokap gue ya!”
“Ampun deh, gue gak setara dengan umur nyokap loe. Lagian, gue gak ngerti kenapa pikiran loe sebejat itu? Punya mama yang selalu dibanggakan banyak orang, bukannya makasih malah negative thinking.” Kata Hengki kesal.
“Iya deh, makasih!” kataku mengaku kalah.
“Udah… Udah… anak kucing jangan berantem sama anak tikus, gak baik lho!” ledek Daniel yang langsung dapat tinjuan keras dari Hengki.
“Nih liat di BBM ada tujuh belas gadis cantik-cantik yang berminat dengan iklan jodoh loe, Za!” lapor Daniel.
“Cuma tujuh belas? Nih liat di Facebook ada 73 gadis yang mau ikut iklan itu. Terus di twitter ada 65 yang retweet. Di e-mail 98 gadis yang ngirim biodata sebagai syarat ikut. Wah, loe kelewat cakep ya? sampai-sampai segitu banyak gadis yang berminat dengan tampang-tampang kaya loe?” lapor Hengki.
Aku juga tak menyangka sebanyak itu gadis yang ikut biro jodoh. Aku berusaha untuk tenang. Aku tetap megang Hp gue, melihat foto-foto kenangan aku dan Dina. Detik demi detik aku berpikir keras, apakah ada orang yang bisa gantiin Dina di lubuk hati ini? Apakah ada orang yang lebih baik dari Dina? Apakah ada gadis yang pantas jadi pendamping hidupku selain Dinaku tersayang?

Kulihat gadis-gadis yang berminat mencalonkan dirinya untuk jadi pendamping hidupku. Yeah, memang semua gadis itu cantik bahkan ada yang lebih cantik dari Dina. Secantik apapun gadis itu, tapi di hatiku gadis yang paling cantik ya tetep Dina.
“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanyaku kemudian.
“Kita akan mengadakan seleksi besok. Disini gue akan ada tiga babak seleksi. Ada seleksi lisan, pengujian, dan keputusan sebagai pasangan terakhir yang akan loe pilih” jawab Daniel.
“Dimana?” tanyaku lagi.
“Di studio bokap gue” jawab Hengki.
“Apa yang harus gue lakukan?”
“Loe cuma buat tiga pertanyaan yang pantas untuk kriteria gadis yang loe inginkan dan beberapa agenda kegiatan sebagai pembuktian atau sebagai mencari tau sifat atau apa yang disukai gadis-gadis itu. Mudah kan?” kata Daniel.
“Yeah, itu mudah! Thank’s udah bantuin gue. Kita langsung pulang yuk?

Tiba saatnya seleksi dimulai. Jam 9 pagi aku sudah siap di studio. Sebenarnya ini terlalu pagi, tapi Daniel dan Hengki memaksa lebih pagi karena pesertanya sangat banyak jadi perlu waktu lebih untuk itu.
Yeah, memang benar. Ada 427 gadis yang mendaftar ulang di studio. Untungnya Hengki meminjam studio yang cukup besar dan luas hingga bisa menampung gadis-gadis itu. Bermacam-macam model gadis yang ada disini. Mulai dari yang berkulit putih sampe ke yang hitam, yang berbadan kurus sampe ke yang gemuk, yang bermata sipit sampai yang bolak, dan seterusnya.

Sekarang adalah seleksi lisan, jadi cuma memberikan beberapa pertanyaan. Dan aku menyediakan tiga pertanyaan yang simpel. Pertanyaan pertama adalah “Apa maksud dan tujuan kalian ikut acara ini?”. Dan dari pertanyaan itu hanya 112 gadis yang terpilih. Sebagai tanda maaf bagi yang tidak terpilih, aku memberi makan gratis di restoran paling mewah sepuasnya.

Pertanyaan kedua di lanjutkan jam satu. Pertanyaan yang simpel tapi membingungkan. Hanya gadis yang memiliki otak dan pola pikir hebat yang kucari. Pertanyaan kedua adalah, “Apa yang kalian sukai dari tanaman mawar? serta apa alasan kalian memilih itu?”
Ada tiga pilihan yang pasti yaitu bunga, daun, dan duri. Namun hanya beberapa alasan yang aku suka. Dari pertanyaan kedua hanya tinggal 30 orang yang tersisa. Yang lain aku beri perlengkapan kosmetik lengkap sebagai tanda maaf.

Di antara gadis-gadis itu, aku tertarik pada seorang gadis bernama Luvy. Cara dia bicara dan menjawab pertanyaanku selalu membuatku kagum dan kaget. Karena itu semua yang pernah dikatakan Dina dulu padaku.
Pertanyaan ketiga aku percepat, untuk mempersingkat waktu. “Jika seorang laki-laki memberikan seikat bunga mawar merah pada kalian, apa yang akan kalian lakukan dengan bunga itu?”. Semua jawaban mereka rata-rata hanya akan menyimpannya dengan setulus hati, jiwa, raga, dan lain-lain. Hanya tinggal Luvy yang belum menjawabnya.
Luvy menghela nafas panjang sebelum menjawabnya. “Aku akan… membuangnya” jawabnya sangat hati-hati karena mungkin akan sangat menyakitkan hatiku.
Tapi, tidak. Aku malah tertarik dengan jawabannya. Semua peserta menatap Luvy bingung dan aneh. Mungkin jawabannya memang tak wajar untuk laki-laki yang sangat diharapkan semua gadis yang mengikuti seleksi.
“Kenapa? Apa kamu tidak suka bunga?” tanyaku minta alasan yang jelas.
“Seikat bunga mawar tidak membutuhkan waktu lama untuk layu dan kering. Dari pada aku menyimpan bunga yang percuma untuk disimpan, buat apa? mending di buang. Coba aja yang dikasih tanaman mawarnya. Aku masih bisa menyimpan, menjaga, dan merawatnya. Begitupun cinta, aku gak mau dapet cinta yang dangkal. Maksudku, cinta yang sesaat. Aku ingin memiliki cinta yang sebenarnya, cinta sampai akhir hidupku” jawab Luvy dengan nada lembut dan lantang.
Semua peserta menatap kagum pada Luvy. Begitupun aku yang belum percaya akan jawaban yang barusan Luvy katakan. Kata-kata itu mengingatkanku pada sosok Dina. Sebenarnya aku akan langsung memilihnya, tapi sahabatku melarangnya dengan alasan takut menyesal telah memilihnya. Aku pun setuju.

Luvy gadis yang cantik, senyumnya manis. Tatapan matanya tulus. Kecantikannya melebihi dari Dina. Dia selalu tetap tenang saat aku memuji peserta gadis lain, beda dengan peserta lain yang selalu menatap iri, marah, dan lain-lain. Luvy memang berbeda.
Dari semua gadis, aku hanya memilih lima orang saja. Yang lain aku beri sepaket kosmetik lengkap, liontin emas, dan kunjungan gratis ke salon selama tiga hari. Aku sama sekali tidak ada niat menyakiti mereka yang tak kupilih. Semuanya memang sangat baik. Tapi aku hanya memilih yang terbaik dari yang baik.

Cerpen Karangan: Fitri chubby
Facebook: Vitri Ingiin D Saiiank

Nama Penulis: Fajar Fitriyah
Sekolah: SMA 1 PANARUKAN
Alamat: Situbondo, Jawa timur
Karya: ke 2

Cerpen Indahnya Bunga Mawar Tapi Sakit Pada Durinya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kupu-Kupu Kertas

Oleh:
Tujuh tahun telah berlalu namun aku masih mengingatnya. Wanita yang tampak begitu sederhana di mataku. Wanita yang sering mengiringi langkahku dengan semangat juangnya yang tinggi. Wanita itu menganggap hidup

Oreyn Love

Oleh:
“Suka?” “iya rey, gua suka lo. udah lama gua mendam perasaan ini. sakit rey ternyata. gua tau lo mungkin gak suka gua tapi gak papa. gua terima kok” kata

Menghitung Hari (Part 1)

Oleh:
Terkadang beberapa hal sepatutnya dilepas meski tak pernah digenggam. Kalimat terakhir yang kamu ucapkan di atas gedung itu masih terngiang di telingaku, terekam jelas di otakku saat kau mengucapkan

Benih Apel

Oleh:
Menatap senja di dinginnya malam, menatap lurus pada gemerlap bintang serta benderang bulan. Ibuku telah lama tiada, kini hanyalah bingkaian memori tentangnya yang terus menemaniku. Namaku, Geraldine Scott. Scott

Catatanku

Oleh:
Namaku Dara, aku mempunyai seorang sahabat namanya Retak. Dia seorang gadis manis dan cantik dia seorang model. Banyak anak cowok menyukainya. Sedangkan aku, aku selalu dipermalukan di kelasku sendiri.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *