Jatuh Terlalu Dalam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Pagi itu aku terbangun dari mimpiku, namun tak seperti biasanya dalam hatiku timbul suatu kekhawatiran. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ya, hari pertamaku di sekolah baru. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana nantinya di sana. Apa aku bisa beradaptasi? Aku tahu ini bukanlah hal yang harus aku khawatirkan.
“Kita kedatangan siswa baru, namanya Risa. Cari tempat duduk yang kosong ya Risa.” Ibu guru mempersilahkan aku duduk. Ketika aku menelusuri kelas itu, sekilas terlihat orang-orang baru. Namun di sana ada beberapa orang yang sudah aku kenal yaitu sahabatku. Mereka tinggal di sekitaran rumahku. Aku kenal mereka satu tahun yang lalu ketika aku baru pindah rumah. Di antara mereka ada yang bernama Nuria, Nirma, Ardi, dan Irza.

Setelah beberapa lama, sedikit mudah bagiku. Karena beberapa orang ramah padaku dan sebagian kecilnya entahlah. Aku termasuk murid kesayangan guruku katanya. Mungkin itulah yang menyebabkan beberapa orang tidak suka keberadaanku. Aku selalu duduk dengan sahabatku Ardi. Mau tidak mau ya harus mau, itu semua karena dia adalah siswa yang agak nakal. Jadi wali kelasku menyarankan aku duduk bersamanya. Katanya sih ada harapan dia akan berubah jika aku duduk dengannya. Tapi dia termasuk orang yang pintar dan cool dengan sikapnya yang masa bodoh. Dia sedikit menyebalkan tapi dia manis. Aku senang melihatnya tertawa karena dia begitu imut dengan gingsulnya.

Awalnya aku mengeluh tidak kuat duduk dengannya, dia selalu saja berisik jika KBM dimulai. Siapa yang tidak kesal? Dia selalu mengajakku bercanda. Aku senang bisa bercanda dengan sahabat-sahabatku. Tapi aku tidak ingin tertinggal pelajaran hanya karena itu. Jadi aku sering memarahinya. Aku semakin kesal jika ia memarahiku balik, karena itu membuat sedikit keributan yang memancing pandangan guru ke arah kami. Tapi, setelah beberapa lama aku jadi terbiasa dan dia juga sedikit lebih kalem semakin harinya. Mungkin dia merasa tidak enak padaku jika aku diomeli guru karenanya.

Biasanya aku berjauhan bangku dengannya. Tapi semakin hari bangku kami seakan makin rapat. Entahlah, dia lalu melototin aku seolah dia bertanya kenapa bangku kami jadi rapat seperti ini? Aku kira dia akan mengomel ehh ternyata dia biasa saja sambil senyum tidak jelaslah kayak orang gila. Sok imut ya? Iya, emang dia sok imut. Tapi saat itu aku keceplosan malah bales senyumnya dia. Garis tipis di ujung bibir yang tidak biasanya seperti itu. Perasaanku menggila karena itu merupakan senyumannya yang aneh. Aku baru melihatnya tersenyum seperti itu. Ada apa dengannya? Sepertinya ada sesuatu yang salah.

Waktu terus berganti, hari itu adalah hari kelulusan. Aku dan sahabatku berurutan mendapat peringkat lima besar. Aku tak heran karena kami selalu bekerjasama ketika ujian. Kami melanjutkan ke sekolah yang sama, sekolah itu sangatlah mewah alias mepet sawah. Ya seperti itulah. Parahnya dari kami berlima, akulah yang berbeda kelas sendirian. Aku tidak mengerti. Ku rasa ini tidaklah adil. Tapi mau bagaimana lagi? aku melampiaskan kekesalanku kepada sahabatku. Aku menangis sejadi-jadinya. Namun mereka tidak mengomeliku balik karena mereka mengerti bagaimana perasaanku karena pisah kelas dengan mereka.

Tiba-tiba beberapa siswa datang ke arah kami mengabari bahwa Ardi yang mendapatkan vote dengan suara terbanyak dan menjadi ketua OSIS selanjutnya. Rasa kesalku hilang karena aku marasa ikut senang dengan kemenangan sahabatku itu. Tapi ini harus diselidiki, aku sudah pernah bilang bukan kalau dia adalah murid yang nakal? Kebayang tidak jika dia bisa menjadi ketua OSIS? Sepertinya yang vote dia semuanya perempuan. Bisa jadi itu semua karena parasnya yang membuat para perempuan tergila-gila. Apa itu terlalu berlebihan? Baiklah walaupun seperti itu nyatanya dialah ketua OSIS-nya.

Sudah cukup basa-basinya. Aku akan mulai cerita yang sebenarnya. Tak butuh waktu lama aku menyukainya. Ya, dialah Ardi. Entah ini sebatas perasaan sesama sahabat ataukah ada cinta yang timbul. Aku tidak mengerti karena aku masih labil. Entah kapan perasaan itu muncul. Aku hanya memendamnya dalam hati karena aku takut jika ia mengetahuinya ia akan menghindariku dan persahabatan kita tidak akan berjalan dengan baik. Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Walaupun aku berbeda kelas tapi kami tetap bermain bersama. Sampai pada suatu hari Ardi menyatakan perasaannya padaku, dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku tak percaya. Hatiku kacau, aku terdiam membisu seakan tidak bisa menjawab apapun, ini sesuatu yang seperti aku harapkan. Dengan jantung yang berdebar kencang aku menerimanya dan kami jadian.

Kami menjalani hubungan layaknya kebanyakan orang berpacaran. Susah, senang, sedih, dan gembira bersama. Sampai pada hari itu semuanya mulai berubah ketika ia terlibat pertengkaran dengan teman sekelasnya yang bernama Gina. Mereka selalu bertengkar, bahkan hal kecil pun mereka ributkan. Seolah itu menjadi tradisi di kelas mereka. Tak ada hari tanpa suara ribut dari mulut mereka. Aku mengenal Gina, dia adalah salah satu perempuan tercantik di sekolahku. Tak sedikit yang menjulukinya sebagai princess.

Ku rasa itu terlalu berlebihan. Apa karena aku yang iri padanya? Ya bisa dibilang seperti itu. Sangat risih melihat mereka beradu kata-kata yang kasar. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan melihat mereka bertengkar hatiku merasa tidak tenang. Mungkin ada rasa cemburu karena pertengkaran mereka itu seperti pertengkaran yang membuat mereka semakin dekat. Entah apa, yang jelas itu sesuatu yang menjadi mimpi buruk bagiku.

Sikap Ardi berubah semakin hari, kecemburuanku menimbulkan perasaan curiga. Padahal tidak seharusnya aku meragukan Ardi. Rasa kecurigaanku semakin menjadi-jadi. Awalnya aku menahannya, tapi kali ini aku tidak sanggup berdiam diri. Aku merasa aku harus berbuat sesuatu untuk membuktikan bahwa kecurigaanku itu salah dan hatiku menjadi lebih tenang. Namun harapan bahwa Ardi tidak mungkin selingkuh itu semua sirna setelah aku membuka akun facebook Ardi. Aku memang tahu tentang akunnya karena dialah yang memberitahuku sebelumnya. Di sana aku iseng aja membuka inbox-nya. Hatiku serasa hancur berkeping-keping ketika membaca chatnya dengan Gina. Kekhawatiranku itu ternyata benar. Mereka telah dekat semenjak Ardi mulai menjauh dariku.

Ya awalnya Ardi menolak untuk chat dengan Gina dengan andil dia tidak ingin aku sakit hati. Tapi semakin lama Ardi malah sering chat dengan Gina. Bahkan terkadang dialah yang memulai chat terlebih dahulu. Aku tidak pernah melarangnya untuk berteman dengan siapa pun. Aku tidak pernah melarangnya untuk dekat dengan perempuan manapun. Aku sangat percaya padanya. Aku pikir dia akan tetap menjaga perasaanku walaupun aku memberinya kebebasan untuk dekat dengan siapa pun. Tapi sepertinya dia sudah kelewatan. Aku mengonfirmasi semua itu, aku berharap ada pembelaan darinya. Aku tidak ingin mendengar kebohongan. Aku ingin dia mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Ternyata dugaanku salah, respon darinya malah membuatku semakin sedih.

“iya, aku dekat dengannya. Tapi ya begitulah.”
“kenapa?”
“tidak ada, memang apa salahnya?”
“tidak apa-apa, aku hanya bertanya.”
“jadi?”
“maafin aku, aku mau putus.”
“oke.”

Kata-kata itu begitu saja terlontar dari bibirku. Aku menyesal tidak berpikir panjang dulu. Tapi yang membuatku semakin kesal kenapa Ardi bersikap biasa saja? Apa aku benar-benar sudah tidak berarti baginya? Aku berharap semua yang aku lakukan ini tidak salah. Aku hanya ingin dia jera. Tapi setelah kejadian itu Ardi terasa jauh dan jarang banget menghubungiku. Melihatku saja dia hanya memberikan senyum tipis lalu berlalu begitu saja. Aku merasa begitu asing dengannya. Seperti orang yang tidak saling kenal. Entahlah aku benar-benar tidak ingin ini terjadi. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa Ardi dan Gina jadian. Beribu panah terasa menancap di dadaku. Sesak aku rasakan ketidakrelaanku jika mereka pacaran. Tidak, itu semua keputusan Ardi, aku yang mengakhiri hubungan dengannya dan dia berhak melakukan apapun. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba terjadi cek-cok antara aku dengan Gina. Seperti ada yang mengadu domba. Hal ini memojokkanku seolah aku tidak terima jika mereka pacaran. Ya, aku akui itu memang benar tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Semenjak itu, ada saja badai yang menerpaku. Kini, Ardi pun sepertinya ikut membenciku. Apa dia juga tidak percaya bahwa itu semua bukan perbuatanku? Tidakkah sekiranya jadi lebih mudah? Aku sudah berusaha mengiklaskannya tapi mengapa jadi seperti ini. Aku merasa semuanya kacau. Aku merasa tertekan dan hancur karena semua ini. Apa salahku?

Aku tidak tahu bagaimana jalannya akhirnya semuanya kembali normal. Dan karena itu aku malah menjadi dekat dengan Gina. Mungkin dia merasa bersalah karena telah ikut memojokkanku. Waktu terus berlalu, kini Gina menjadi teman dekatku. Dia sering curhat denganku. Semakin lama aku merasa bahwa aku menyayanginya. Entahlah bagaimana dengannya. Setiap aku bermasalah dengannya aku merasa sedih. Aku merasa tidak ingin bertengkar dengannya. Kami sering bermain bersama. Selalu ada Ardi bersamanya sehingga aku bisa terus melihatnnya. Tapi, aku tidak bisa dekat lagi dengannya. Kami sudah seperti tidak saling kenal karena Gina melarang Ardi untuk dekat denganku bagaimanapun caranya.

Tak disangka-sangka Ardi menghubugiku, ia menanyai kabarku. Dia mengatakan bahwa dia kangen aku. Saat itu komunikasi kami mulai membaik. Jahatnya, dia mencariku hanya jika dia menginginkannya. Seringkali aku ingin mengirim pesan padanya, tapi ketika selesai mengetik aku hapus lagi karena aku tidak berani mengirim pesan itu. Aku tidak ingin memulai duluan karena aku takut dicampakkan olehnya. Jadi, aku hanya bisa berharap kalau dia akan sering mencariku.

Dia sering menghubungiku, kami sangatlah dekat melebihi dekatnya ketika kami berpacaran dulu. Tapi kami tidak pacaran. Kami saling menjaga perasaan Gina. Aku berpikir ini sama saja dengan aku mempermainkan Gina. Aku malu dan muak jadi orang munafik. Aku tidak ingin terus menjadi parasit di antara mereka. Aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengan Ardi. Beberapa kali dia menghubungiku lagi, terkadang aku merespon terkadang pula aku tidak menggubrisnya. Aku sangat ingin bersamanya dan dekat dengannya lagi. Tapi aku tidak ingin menyakiti perasaan Gina. Aku menahan perasaanku ini sampai aku jadi sering sakit. Kata dokter aku terlalu banyak pikiran dan stres.

Sahabatku menjengukku di rumah sakit. Mereka mengomeliku, mereka memotivasiku, menyemangatiku, hingga membuatku melupakan kesedihanku. Semakin hari aku sudah mulai terbiasa melihat Ardi dan Gina bersama. Memang menyakitkan tapi apa yang bisa ku perbuat. Semuanya telah terjadi. Aku tetap berusaha untuk tidak membuat Gina sedih tapi hatiku ingin dekat dengan Ardi. Sampai akhinya aku putuskan untuk menutup hatiku. Aku hanya ingin menunggunya kembali tanpa aku harus masuk di antara mereka. Tiga tahun telah berlalu aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku tidak tahu bagaimana cara bertemu dengannya. Sekilas aku mengingat masa-masa itu, masa ketika aku bersamanya. Bisakah aku kembali ke masa itu? Tak bisakah dia menjadi temanku kembali seperti dulu? Aku ingin dia melihatku walau sekejap saja.

Terkadang aku berpikir, tak apa jika aku tak bisa memilikinya. Yang aku butuhkan hanya keberadaannya di dekatku. Seringkali aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, bagaimana ya keadaannya sekarang? Apa yang sedang dilakukannya saat ini? Hmm. Andai saja dia tahu, aku akan tetap menyayanginya walaupun dia telah menyakitiku begitu banyak. Aku akan selalu terbuka untuknya, aku akan selalu ada untuknya kapan pun dia mencariku. Sampai saat ini, aku selalu mengharapkannya. Semoga saja dia tidak pernah melupakanku. Aku berharap ada cinta yang tersisa di hatinya untukku dan suatu saat dia bisa kembali padaku, karena aku benar-benar merindukannya. Dan aku sungguh-sungguh mencintainya.

Cerpen Karangan: Baiq Rista Ananta Pratiwi
Facebook: Baiq Rista Ananta

Cerpen Jatuh Terlalu Dalam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Cinta dan Benci

Oleh:
Malam itu terasa begitu sunyi, hanya ditemani bintang-bintang yang tersenyum memancarkan sinarnya, aku duduk di sebuah kursi yang berada di taman, terdiam meratapi cerita kehidupan yang telah merenggut semangat

Raimuna Daerah

Oleh:
“Put, kamu sama Ahmad dipanggil kak Aida ke ruangannya sekarang.” “Aku sama Ahmad? ada apa? Pelantikan baru saja selesai kemarin dan hari ini kita sudah dipanggil, untuk apa yah?”

Rainy Day

Oleh:
Di sinilah aku, di salah satu cafe di Jakarta. Hawa dingin AC membuat tubuhku merinding. Aku merapatkan sweaterku yang berwarna merah muda dengan renda-renda di bawahnya. Sudah dua jam

Kesetiaan Hujan (Part 1)

Oleh:
“Jika kau tahu. Menunggu adalah hal yang amat menyebalkan bagi pria. Tapi akan terasa indah jika kau menunggu cinta. Namun bagaimana jika nantinya penantianmu itu sia-sia? Apa yang kau

Mantanku Pacar Sahabatku

Oleh:
Tepatnya pagi ini aku dibangunkan dengan ingatan yang begitu menyakitkan, menyesakan dada seketika. Rasanya aku ingin memberontak dengan keadaan semacam ini, keadaan yang harusnya bukan aku yang merasakan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Jatuh Terlalu Dalam”

  1. putri says:

    Kak, cerpennya bagus banget mirip ama kisahq, q smpe 5 tahuun brtahan dan sampai sekarang, q suka bnget ceritanya bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *