Kau Teman Spesialku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

Alarmku berdering keras menandakan sudah pukul 5 pagi, waktunya untuk diriku bersiap ke sekolah. Sebelum itu hal yang pertama yang ku lakukan yaitu membersihkan tempat tidur, salat dan mandi, memakai seragam putih abu-abu dengan kerudung di kepalaku dan untuk memperindah riasan kerudungku, aku menambah bros kecil bergambarkan Mickey Mouse. Turun ke bawah untuk menyapa orangtuaku dan adikku yang bersekolah tak jauh dari rumah dan sarapan, selesai sarapan aku berpamitan dengan orangtuaku seraya mencium kedua tangan orangtuaku. Ke luar dari rumah seraya membaca basmallah untuk keselamatanku. Berjalan menyusuri rumah rumah tetanggaku.

Namaku Ardiana Putri biasa aku dipanggil Ana. Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana, bertempatkan tinggal di kawasan komplek sederhana di kawasan Medan Utara. Aku mempunyai orangtua yang keduanya sama sama bekerja. Ayahku pemilik bengkel di salah satu kawasan komplek, ibuku bekerja sebagai pegawai swasta yang sehari harinya bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah pertama di kawasan medan Utara.

Sesampainya di halte angkutan umum, aku menaiki salah satu angkutan umum yang melewati sekolahku. Aku murid kelas satu yang bersekolah di salah satu sekolah menengah atas di kawasan Medan Utara. Sudah tujuh bulan aku bersekolah di sekolah itu. Waktu yang ku tempuh sekitar setengah jam lamanya untuk sampai di sekolah. Jarak antara pemberhentian angkutan umum dengan sekolahku kira-kira sekitar 800 meter jauhnya yang mengharuskanku untuk berjalan kaki sendirian tanpa teman, akhirnya aku sampai di gerbang sekolah, menyusuri koridor-koridor kelas berjalan kaki patah semangat, pasalnya setiap aku datang ke kelas pasti aku datang duluan. Namun, tak terjadi pula pada hari ini.

Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat semua temanku memegang buku. Hiruk pikuk suara ada di mana-mana, kertas berterbangan entah ke mana-mana, kencangnya angin yang dikipas mesin angin, dan gelapnya kelas yang mendung karena ingin hujan yang tanpa mereka sadari karena sibuknya dengan tugas sekolah yang bermata pelajaran kimia, semua murid takut padanya entah apa yang menyebabkan semua murid takut kepadanya termasuk aku. Tugasku yang menghidupkan lampu agar mereka dapat mengerjakannya.

“Ana, kau udah siap Pr Kimia, lihat naapa aku,” temanku yang bernama Yuri yang bertubuh besar.
“Nah, ini bukunya,” dengan bodohnya aku memberi bukuku yang tadi malam aku mengerjakannya mati-matian. Pikirku ya sudalah, sudah aku kasih mau gimana lagi.

Alvin Bastian yang sering dipanggil Alvin yang bersatu sekolah denganku tapi berbeda kelas dia di kelas X-2 sedangkan aku di kelas X-1, berwajahkan tampan berwatak keras kepala yang mengikuti salah ekstrakulikuler terpandang yang ada di sekolahku yaitu Basket. Anak basket dikenal dengan anak laki-laki berwajah putih bak artis Korea ditambah dengan kepintaran yang mereka miliki, perempuan mana yang tak suka dengan lelaki seperti itu termasuk diriku yang sudah menyukainya sejak lima bulan terakhir ini. Alvin salah satu murid yang bagiku paling tampan yang menjadi idaman para perempuan yang ada di salah satu sekolahku. Aku si Ana yang girang berhasil meraih peringkat di sekolah yang membuat orangtuaku bangga terhadapku namun tak ku sombongkan diriku. Aku mengikuti salah satu ekstrakulikuler di sekolah yaitu paskibra yang sudah lama aku inginkan.

Pagi ini Bu Mira Guru bahasa Indonesia yang sekaligus wali kelasku memanggilku ke kantornya. Aku terkejut, pasalnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat. Dalam hatiku aku bertanya-tanya. “Ada apa?” Dugaanku benar, aku terkejut bukan karena kesalahan yang ku perbuat namun di kantornya Bu Mira ternyata ada Alvin, lantas seluruh tubuhku gemetaran, karena baru kali ini aku dihadapkan dengan dirinya, bertatap muka. Biasanya aku hanya melihatnya dari kejauhan, namun kali ini aku dapat melihat di depan mataku. Nyata!

“Ibu rasa kalian sudah saling kenal jadi tidak perlu ibu kenalkan. Ibu ada tugas untuk kalian berdua.” Kata Bu Mira. “Mati aku, tugas apa? berdua sama Alvin? Ya Allah,” batinku dalam hati.
“Tugas apa Bu?” Tanyaku.
“Tugas untuk ikut lomba karya ilmiah. Ibu tugaskan kalian berdua, karena Ibu merasa kalian mampu mengerjakannya. Batas waktunya seminggu,” jawab Bu Mira.
“Bu, kapan lombanya,” Alvin mulai bicara yang lantas membuatku tercengang mendengar suaranya.
“Rabu depan, karena itu Ibu menyuruh kalian dari sekarang untuk mempersiapkannya, kalian bisa mengerjakannya bersama-sama,” ujar Bu Mira.

Betapa terkejutnya aku ketika Bu Mira berkata, “..kalian bisa mengerjakannya bersama-sama,” aku merasakan denyut jantung berhenti sejenak selama tiga detik dan berdetak kembali. Sedari tadi ternyata Alvin tidak membantah sedikit pun tugas yang diberikan karena ditugaskan bersamaku.
“Kalau begitu kami permisi ya Bu,” sambung Alvin.
“Ya ya.” kata Bu Mira.

Kami langsung pergi kembali ke kelas, dan bodohnya diriku tidak berkata yang sama seperti Alvin kepada Bu Mira. “Ya sudahlah,” batinku dalam hati. Sambil menuju ke kelas, menyusuri koridor-koridor kelas yang tampak sepi karena semua siswa sedang belajar, tanganku keringat dingin, kedua kakiku gemetaran tak karuan seperti mau lepas. Untuk memeriahkan suasana karena sedari tadi kami berdua tidak berbicara sepatah kata pun. Ketika aku ingin mengawali pembicaraan, ternyata Alvin yang duluan.

“Ana..” kata Alvin. Sebelum Alvin melanjutkan kata-katanya entah mengapa aku langsung menatap wajahnya. Tapi, aku tak kuasa memandang kedua matanya, aku hanya melihat ke bawah. “Ya, Kenapa?” kataku.
“Nanti istirahat kita jumpa di perpustakaan ya,” sambil tersenyum padaku. Senyum manisnya membuat tanganku dan kakiku ingin lepas karena melihat senyumannya yang diikuti dengan lesung pipitnya.
“Ya, istirahatkan?” Kebiasaanku seperti biasa jika bergemetaran aku selalu mengulang apa yang dibilang padaku.
“Ya. Langsung ke perpustakaan ya Ana.”
“Ya.” Aku merasa waktu bergerak lambat seakan akan tak pernah sampai ke kelas, sementara jarak antara kantor dan kelas cukup dekat namun tidak pada saat ini terasa lama.

Kring.. Kring.. Kring, bel istirahat berbunyi memberhentikan waktu pelajaran. Ketika aku mendengar bunyi bel, aku teringat dengan perkataan Alvin untuk pergi ke perpustakaan ketika istirahat. Lantas aku langsung merapikan bukuku yang berserakan dia atas meja memasukkannya ke dalam tas. Aku ke luar kelas menuju ke perpustakaan, ketika masih di pintu kelas aku kembali ke mejaku untuk mengambil kotak pensilku dan bukuku untuk mencatat hasil diskusi dengannya. “Bil, aku ke perpustakaan dulu ya,” Bilqis Veronika teman sebangkuku sekalian teman curhatku. Aku berpamitan kepadanya seperti anak yang berpamitan kepada orangtuanya. Tanpa mendengar balasannya aku bergegas aku pergi ke perpustakaan meninggalkan. Berlari-lari seperti orang ingin mengambil sembako. Ketika sampai di perpustakaan, ternyata Alvin belum datang.

“Kirain udah datang duluan, ternyata belum datang, mendingan tadi gak usah lari-lari,” batinku. Duduk–duduk sekitar satu menit akhirnya Alvin datang.
“Maaf ya, Ana. Tadi ada urusan sebentar, udah lama, Na?” tampak jelas di wajahnya raut muka bersalah.
“Oh.. Ya gak apa-apa, cuman sebentar kok,” kataku padanya. Padahal menunggu satu menit itu terasa lama bagiku untuk menunggunya.
“Lombanya kan tentang karya ilmiah jadi kita buat judulnya.. bla..bla..bla..” Alvin memulai pembicaraan. Ketika itu aku langsung bertukar pikiran dengannya yang disambutnya dengan baik. Gemetaran dan keringat dingin bercampur menjadi satu, namun tak aku tampakkan ke hadapannya.
“Ana, nanti sore kita ketemuan di perpustakaan di jalan Sudiantoro Ya,” kata Alvin.
“Boleh, jam 4 ya,”
“Ya, ya.”

Kring.. Kring.. Kring.. bel masuk berbunyi menghentikan pembicaraanku dengannya, kembali ke kelas masing-masing. Waktu terasa cepat berlalu. Jam dindingku berpukulkan pukul 3.30 yang mengharuskan untuk bersiap-siap bertemu dengannya di salah satu perpustakaan di Medan. Pamit kepada ibuku.
“Ma, Ana pergi ya,” pamitku kepada ibuku.
“Ya, hati-hati. Jangan pulang lama-lama.” Seru ibuku.
Ke luar rumah membacakan basmallah. Menaiki salah satu angkutan umum, setelah setengah jam di perjalanan, aku masuk ke perpustakaan menyusuri rak-rak buku yang besar. Ternyata dia sedang membaca salah satu buku bertemakan ilmiah.

“Vin, udah lama,” kataku langsung.
“Gak, baru aja datang, karena Ana belum datang jadi aku baca buku dulu,” jawabnya.
“Oh.. Jadi kita duduk di mana?” Kataku.
“Duduk di situ aja, dekat jendela, banyak angin.” Jawabnya.
Berbincang-bincang panjang lebar sampai-sampai jam tanganku menunjukkan pukul 5.30 yang mengharuskanku untuk pulang ke rumah.
“Vin, udah jam 5.30, udah mau gelap pulang ya,” kataku.
“Ya. Sekalian aja sama aku. Aku naik kereta jadi bisa sekalian pulang,” Ajaknya.
“Gak usah. Aku mau beli buku dulu, duluan aja aku bisa naik angkutan umum lagian pun rumah kita kan gak searah.” Tolakku, padahal aku tidak akan beli buku apa pun, itu hanya alasan ku untuk tidak pulang dengannya.

“Udah gak apa-apa, Biar aku temanin beli bukunya,” tawarnya.
“Gak usah, aku bisa sendiri.” Tolakku lagi.
“Gak apa-apa pulang sendiri udah mau gelap ini,” tawarnya lagi.
“Gak apa apa kok, aku bisa sendiri.” Kataku kembali.
Akhirnya kami berdua pulang masing-masing, dia pulang ke rumahnya aku pun pulang ke rumahku bukan beli buku. Dan parahnya lagi dia menunggu naik angkutan umum sampai aku naik, untungnya angkutan itu juga melewati rumahku. “Untunglah…” batinku dalam hati.

Keesokan harinya, sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata.. “Ana, nanti istirahat kita ketemuan lagi di perpustakaan.” Katanya. Langsung jantungku berhenti berdetak sejenak. Tanpa ku jawab dia langsung pergi meninggalkanku. Bel istirahat terdengar nyaring yang mengharuskan untuk ke perpustakaan ternyata kami berdua sama-sama sampai di sana tepat pada waktunya. Berbicara mengenai karya ilmiah setelah panjang lebar, karya ilmiah kami pun sudah siap.

Tak terasa waktu seminggu yang ditugaskan akhirnya berlalu dengan cepat. Hasil karya kami, kami tunjukkan kepada Bu Mira. Bu Mira puas dengan hasil kerja kami. Hari selasa yaitu dimana aku dan Alvin tidak sekolah karena kami berdua mengikuti lomba karya ilmiah yang didampingi guru pendamping. Perlombaan dimulai kami berdua mempresentasikan hasil karya kami dan akhirnya selesai dan waktunya pengumuman juara perlombaan hari ini. Kami berdua berharap tiga besar. Namun, tak disangka,

“Juara pertama, dari sekolah..” juri memperlambat perkataannya.
“Juara pertama yaitu dari sekolah SMA Negeri 21 Medan!” Juri memperkeras suaranya. Lantas kami berdua tertawa bahagia seraya bersyukur dan kejadian yang tak sengaja membuatnya memeluk diriku karena kemenangan itu.
“Mengapa dia memelukku tiba-tiba?” batinku dalam hati.
“Maaf ya Ana, aku gak sengaja. Karena kegirangan aku jadinya meluk Ana,” katanya.
“Oh, iya gak apa-apa kok,” jawabku.
Setelah kemenangan itu setiap ada perlombaan yang sifatnya presentasi kami selalu ditugaskan bersama.

Pagi hari ini udara terasa sejuk, sinar matahari menyelimuti panasnya pagi ini. Desas-desus pasti akan menyebar di sekolah ini dengan cepat. Aku dikejutkan ketika salah satu temanku berkata padaku bahwa Alvin murid paling tampan yang ada di sekolahku berpacaran dengan salah satu murid perempuan yang tak lain teman sebangkuku sendiri. Hatiku teriris bagaikan bawang yang diiris dengan pisau. Pedih! Entah mengapa air mataku mulai menetes ke pipiku. “Apa ini? Air? Aku nangis?” Aku memegang pipiku yang mengeluarkan air mata. Secepat samurai aku menghapus air mataku yang mulai mengalir deras, ku seka menggunakan tisu yang ku pegang. Seiring berjalannya waktu desas-desus itu hilang dibawa terpaan angin kencang. Bushhh.

Bersambung

Cerpen Karangan: Putri Ahda Sabilla Marunduri
Facebook: Putri Ahda Sabilla Marunduri

Cerpen Kau Teman Spesialku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Untuk Adik Kelas

Oleh:
Pagi itu, hari pertamaku bersekolah di kelas 9. Aku bangun kesiangan. Aku bergegas ke kamar mandi dan mengganti seragam. Lalu, aku pun sarapan. Setelah itu, aku berlari dengan kecepatan

Cinta Jadi Benci

Oleh:
Liburan lebaran tahun ini aku hanya berlibur di rumah. Menghabiskan waktu bersama adik-adikku. Entah kenapa hari ini rasanya ingin sekali aku membuka facebook ku. Lekas ku ambil laptop dan

Empat Kata Terindah (Part 3)

Oleh:
Ketika sampai di depan pintu rumahnya, gadis itu menghentikan langkahnya. Matanya memanas. Dengan air mata yang terus mengalir gadis itu berlari tanpa arah. Hingga akhirnya, ia sampai di sebuah

Flashdisk

Oleh:
Seperti biasa jam weaker berbunyi pukul 4 pagi. Andra pun bangun dan langsung ke kamar mandi berwudhu lalu sholat subuh. Setelah itu ia berolahraga agar badannya tetap fit, kerena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *