Kau Teman Spesialku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

Aku sampai di rumah tepat pukul 2 siang. Aku membuka pintu.
“Assalamualaikum. Ana Pulang,” seruku.
“Waalaikumsalam. Eh Kakak udah pulang. Cepat mandi, Ayah sudah pulang. Ayah ngajak jalan-jalan tuh. Pukul 3 nanti kita pergi.”

Kring..Kring..Kring bel berbunyi waktu istirahat dimulai, tiba-tiba Alvin datang ke kelasku, aku terkejut, pasalnya aku dan Alvin tidak ada janji untuk ketemuan di kelasku.
“Ana, nomor handphone Ana berapa? ” pinta Alvin.
“Nomor handphone, untuk apa?” tanyaku kaget.
“Mana tahu nanti ada yang mendadak aku bisa hubungi Ana,” jawab Alvin.
“Ini.. bla..bla..bla..” jawabku.
Bodohnya diriku memberi nomor hpku kepadanya. Padahal hatiku sudah ditusuk dengan kedekatan dia dengan teman sebangkuku sendiri. Hello hello hey shiny boy, hpku tiba-tiba berdering dengan lagu acoustic Cupid dari girls day. Secepat kilat aku melihat layar handphone-ku, nomor tak dikenal.

“Siapa ini? Gak usah diangkat deh. Eh ya udah lah angkat aja siapa tahu itu penting,” batinku.
“Halo, siapa ini?” aku memulai pembicaraan.
“Assalamualaikum. Ana, ini aku Alvin,” jawab lelaki itu yang ternyata adalah Alvin. Deg..deg..deg suara jantung berdegup kencang. Aku diam sejenak, aku tak tahu harus berkata apa, semua kata-kata yang ada di benakku tiba-tiba hilang begitu saja ketika mendengar suaranya.
“Waalaikumsalam. Ada apa, Vin?” bicaraku gugup karena tak sanggupnya berbicara padanya.
“Entar sore kita ketemuan di perpustakaan biasa ya, Na. Pukul 4 sore,” jawab Alvin.
“Ketemuan, kenapa kita harus ketemuan?” nada bicaraku mulai tinggi, entah apa yang membuatku merasa marah karena harus bertemu dengannya.
“Ya, kita ketemuan. Kan, ada perlombaan jadi kita harus diskusi.” Jawabnya.

“Aku kirain apa tadi,” jawabku pelan.
“Apa, Na? Ana ada bilang sesuatu?” Tanya Alvin.
“Gak ada apa-apa kok,” aku berusaha untuk menutupi perkataanku tadi.
“Pukul 4 ya, Na. Jangan lupa. Assalamualaikum.” Tutupnya. Sebelum aku menjawab salamnya dia sudah menutup teleponnya.
“Wah, parah nih. Dimatikannya.” Batinku dalam hati.
Waktu berjalan cepat, pukul 4 sudah di depan mata hanya tinggal beberapa menit saja lagi. Dengan sigap aku berpamitan kepada orangtuaku.

“Ma, Ana Pergi dulu ya.” Pamitku.
“Mau ke mana?” Tanya ibuku
“Kerja kelompok, kan ada lomba jadi Ana harus diskusi dulu. Ana pergi ya, sebelum jam 6 Ana udah sampai di rumah.” Jelasku. “Sama siapa perginya?” Tanya ibuku kembali.
“Sendiri. Di sana udah ada teman Ana. Kami udah janjian Ma. Ana pergi dulu,ya. Assalamualaikum” Jawabku.
“Ya, hati-hati. Waalikumsalam.” kata ibuku. Berjalan dari rumah menuju angkutan umum. Sesampainya di sana Alvin sudah menunggu duduk sendirian. Kali ini bergantian, waktu di perpustakaan sekolah aku yang menunggunya sekarang dia yang menungguku.

“Maaf ya. Udah lama?” Tanyaku.
“Gak kok, baru aja datang?” jawab Alvin.

Setelah itu aku duduk di depan hadapannya. Tiba-tiba handphone bergetar, drett..drett..drett. Alvin langsung melihat layar handphonenya, aku tak tahu siapa yang meneleponnya. “Halo, udah di mana?” Tanya Alvin kepada seseorang sedang meneleponnya. Entah apa yang sudah dijawab orang yang meneleponnya. Aku mendengar suara seorang perempuan yang sedang berbicara dengannya. “Oh, ya udah. Cepat ya.” Jawab Alvin.
“Siapa yang mau datang? Ke mari?” Aku berbicara di dalam hati. Aku tak menanyakan siapa dan apa yang mereka bicarakan. Aku hanya diam membisu tanpa sepatah kata apa pun.

Kami berdua melanjutkan diskusi untuk perlombaan itu. Semenit, lima belas menit pun berlalu, ketika kemenit dua puluh seseorang perempuan memakai jilbab hijau menghampiri kami berdua. “Siapa ni?” batinku dalam hati. Ketika perempuan itu menghadapkan dirinya ke hadapanku, aku terkejut. Pasalnya Bilqis yaitu teman sebangkuku yang tak lain adalah pacarnya Alvin. Dia langsung duduk di sebelah Alvin, dan mereka berdua berhadapan denganku. Aku seperti tidak ada apa-apanya.

“Maaf ya Vin, aku datang terlambat,” kata Bilqis.
“Ya, gak apa-apa kok. Kalian sebangku kan?” Tanya Alvin sambil menunjukkan tangannya ke hadapan kami berdua.
“Ya, kami sebangku.” Jawabku ketus.
“Ngerjain apa nih, kok aku gak tahu, Vin?” Tanya Bilqis ketus.
“Ada tugas jadi kami berdua yang disuruh mengerjakannya.” Kata Alvin.
“Oh, kirain tadi ada apa, rupanya kerja kelompok?” ucap Bilqis. Aku hanya diam membisu, aku tak mau memulai pertengkaran yang hanya dikarenakan hal sepele.
“Na, kita sambung ya.” Kata Alvin.

Aku lagi-lagi diam membisu. Membahas terus membahas tentang tugas, tiba-tiba Bilqis merapikan rambutnya Alvin yang berterbangan ke sana ke mari. “Terbang-terbang rambutnya,” kata Bilqis sambil merapikan rambutnya Alvin. Kemudian, Alvin mencubit pipi Bilqis geram. Mereka tidak sadar apa yang mereka lakukan, ini perpustakaan di depan mereka ada aku, Ana. “Sini dulu, biar dirapikan, jelek kali.” Kata Bilqis. Alvin hanya menuruti perkataan Bilqis.

Sesekali Alvin melirik ke arahku yang terus menunduk berpura memegang pulpen, padahal aku hanya mencoret-coret kertas yang ada di hadapanku. Melihat kebahagiaan mereka, air mataku menetes. “Ini kan hal sepele, kenapa aku menangis?” Kataku dalam hati. Ku seka air mataku menggunakan tanganku. Sesekali aku juga memperhatikan mereka berdua yang sedang tertawa kecil bahagia. Sakit! Pedih! Ketika aku melihat mereka untuk kedua kalinya, air mataku tak dapat aku tahan, mengalir deras.

“Aku tak punya tisu, sapu tangan, harus ku seka pakai apa?” bicaraku pelan. Aku hanya punya kerudungku, tanpa pikir panjang aku menyeka air mataku menggunakan kerudungku. “Apa yang harus ku lakukan, aku tak mungkin berbicara kepada mereka dengan keadaan menangis, mata merah, pilek karena menangis, hidung memerah. Huppt.. huppt.. huppt suara pilekku yang ku tarik melalui hidungku. Ketika itu juga Alvin melihat ke arahku.
“Kenapa, Na. Pilek? Tadi gak pilek kenapa sekarang pilek?” Tanya Alvin heran. Ketika aku angkat kepalaku, Alvin dan Bilqis melihat mata dan hidungku yang mulai memerah karena menangis. “Ada apa? Ada masalah? Kasih tahu aja. Mungkin aku bisa kasih solusinya.” kata Alvin terkejut.

Secepat kilat aku beranjak dari tempat dudukku menuju pulang ke rumah dan aku juga sudah berjanji kepada ibu bahwasannya aku akan pulang sebelum pukul 6. Aku tak mau tahu apa yang mereka pikirkan tentangku karena pulang begitu saja. Ketika di perjalanan pulang, hujan deras disertai awan gelap menyelimuti kepulanganku ke rumah. Aku berpikir jika Alvin akan menemuiku di sini untuk mengantarku pulang ke rumah. Ternyata Tidak! Pulang sendirian menyusuri jalan-jalan dalam keadaan basah dan mata yang masih memerah. Sesampainya di rumah aku langsung membuka pintu masuk tanpa salam dan langsung memeluk ibuku.

“Ada apa, basah baju Mama ini?” Tanya mama. Ketika berada di pelukan mama aku langsung menangis deras tanpa henti. Sulit rasanya ketika aku menceritakan semuanya kepada ibu. Sambil memeluk ibuku aku tanpa sadar menceritakan semuanya. Ibuku hanya mengelus-ngelus badanku saja.
“Sudah tidak apa-apa. Suka kepada lawan jenis itu biasa. Sudah, jangan nangis lagi.” Kata ibuku sambil menghiburku dengan kata-katanya. Aku hanya menangis di pelukannya. Lamanya menangis membuat baju ibuku juga basah. “Sudah mandi dulu, setelah itu salat dan tidur.” Kata ibuku. Aku meninggalkan ibuku yang juga ingin mengganti bajunya karena basah. Aku mengikuti perintah ibuku. Drett.. drett.. drett handphoneku berdering, aku mengganti nada dering handphoneku. Ku lihat di layar hanphone tertera nama Alvin.

“Untuk apa dia meneleponku?” batinku. “Assalamualaikum. Ada apa, Vin?” aku memulai pembicaraan.
“Tugas yang kita kerjai tadi, aku udah siapkan semua, kok. Jadi, Ana tenang aja.” Kata Alvin. Aku baru ingat ketika Alvin berbicara tentang tugas. Aku lupa karena tugas itu belum aku siapkan karena keegoisanku.
“Kenapa tadi buru-buru mau pulang?” Tanya Alvin heran. Aku diam seribu bahasa, aku tak tahu harus berbicara apa.
“Mmm, tadi perut aku sakit jadi aku langsung pulang tanpa kasih tahu kalian berdua.” Jawabku gugup.

“Maunya bilang, aku jadi bisa anterin Ana pulang ke rumah.” Jawabnya.
“Mmm, Bilqis tadi pulang naik apa?” tanyaku lirih.
“Sama aku, sekalian naik sepeda motor.” Jawab Alvin tanpa merasa curiga sedikit pun karena aku menanyakan hal ini. Ketika mendengar perkataannya itu aku langsung menutup pembicaraan itu.
“Udah dulu, ya Vin. Udah malam. Assalamualaikum.” Ku tutup teleponnya.
“Oh, ya ya. Waalaikumsalam.” jawab Alvin yang terdengar gugup.
Perlombaan itu dimulai keesokan harinya yang didampingi oleh bu Mira.

Keesokan harinya di sekolah, aku mendengar Antara Alvin dan Bilqis, mereka dikabarkan tidak berpacaran lagi. Gosip yang beredar di sekolah ini dengan cepat menyebar dan menghilang. Bushh.. diterpa angin. Bu Mira memanggil kami berdua untuk menghadiri perlombaan tersebut. Pergi ke perlombaan menggunakan mobilnya bu Mira. Sesampainya di sana kami berdua diminta bu Mira langsung ke arena perlombaan dan bu Mira berbincang-bincang dengan guru-guru yang ada di sana. Aku dan Alvin dapat giliran pertama, setelah kami selesai mempresentasikannya kami dipersilahkan untuk menunggu hasil.

“Ana, duduk ke halaman belakang aja ya. Di sini panas,” pintanya kepadaku. Padahal di tempat ini cukup banyak memiliki air conditioner. Tapi entah mengapa dia menyuruhku untuk ke luar dari ruangan ini.
“Di sini kan dingin, kenapa dia ngajak ke luar?” Kataku pelan.
“Kenapa, Ana?” Kata Alvin bertanya kepadaku. Mungkin dia tahu apa yang aku bilang.
“Mmm, Gak apa-apa kok.” kataku. Berjalan sambil menuju ke halaman belakang di arena perlombaan. Alvin seperti orang yang kebingungan duduk di kursi halaman.
“Ana, sebenarnya aku ngajak Ana kemari bukan panas di dalam, tapi ada yang lain,” kata Alvin pelan.
“Apa itu? Bilang aja. Gak apa-apa kok.” Jawabku penasaran.
“Aduh, aku bingung harus mulai dari mana.” jawab Alvin bingung. Aku diam membisu memandang Alvin heran.

“Sebenarnya, aku udah lama menyimpan ini, tapi aku baru sekarang punya kesempatan yang pas.” Kata Alvin.
“Apanya? Semua yang Alvin bilang pasti aku dengerin kok.” Jawabku sambil melihat ke bawah karena takut melihat kedua matanya.
“Aku sudah berbulan-bulan menyimpan perasaanku, tapi aku baru sekarang punya kesempatan yang tepat.” Kata Alvin.
“Perasaan? Perasaan apa?” jawabku makin bingung.
“Aku tak tahu harus mulai dari mana. Sebenarnya aku suka sama Ana sejak kita ditugaskan satu kelompok. Aku tak bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk berbicara kepadamu.” Ucap Alvin.

“Bilqis itu sahabatku, teman sebangkuku. Aku menyukaimu tapi aku tak ingin dia sakit hati karena kedekatanku denganmu. Dia merasa bahagia ketika pacaran denganmu.” Nadaku mulai tinggi, karena aku seperti dipermainkan. Alvin diam membisu tanpa sepatah kata pun ke luar dari mulutnya. “Kamu gak seharusnya melakukan hal seperti itu. Jangan kau permainkan perasaan seseorang. Aku tahu rasanya seperti apa yang kau rasakan. Tapi kau juga merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasakan.” Nada suaraku kian tinggi.

“Mengapa kau marah, aku hanya mengutarakan isi hatiku. Tak ada salahnya aku mengutarakan perasan perasaanku.” Nada suara Alvin juga kian tinggi. Ketika mendengar dan melihat raut wajahnya, langsung air mataku mengalir setetes demi setetes. Secepat kilat aku menyeka air mataku dengan tanganku.
“Aku hanya ingin kau berteman, seperti seorang sahabat.” Pintaku kepadanya.

Mendengar ucapanku, Alvin langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri bu Mira. Dan di waktu yang tepat kami kembali memenangkan pertandingan itu. Setelah kemenangan itu aku, Alvin dan bu Mira pulang menaiki mobil bu Mira yang diparkir di tempat parkir. Kami kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku langsung meninggalkan Alvin. Sejak saat itu aku tak pernah berbicara kepadanya atau berjumpa dengannya. Dan ketika aku berjumpa Alvin aku selalu menebarkan senyum sebagai seorang sahabat.

Cerpen Karangan: Putri Ahda Sabilla Marunduri
Facebook: Putri Ahda Sabilla Marunduri

Cerpen Kau Teman Spesialku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Toilet Yang Berbahaya

Oleh:
Rasa cemas, gelisah, was-was dan takut itu yang menghampiri gue jika menumpang BAB di rumah orang lain. Rasa tak enak hati mungkin itu yang menjadi faktor utamanya. Ya karena

Ngebet Punya Pacar

Oleh:
Cik… Cik… Cik suara percikan air yang membangunkan aku setiap pagi. Inilah aktivitas rutin nyokap setiap membangunkan aku sambil ngomel lalu berkata “Anak cewek ngak boleh bangun kesiangan karena

Kebahagiaan Sementara

Oleh:
Seperti biasa, aku ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum. Aku berjalan dari rumah menuju halte tempatku biasa menunggu angkutan yang jaraknya tidak begitu jauh, “Cuaca hari ini sedikit mendung.”

Mengejar Bintang Jatuh (Part 1)

Oleh:
Siapa yang tidak tahu bintang jatuh? aku pastikan semua orang tahu dan pernah melihat apa itu bintang jatuh. Konon, kalau ada bintang jatuh lalu kita memohon sesuatu itu akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *