Kejora (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 28 April 2017

Entah apa yang harus aku lakukan sekarang dan untuk selanjutnya, apakah perasaan ini akan kembali terkubur atau akan tumbuh dan bersemi? Jawabannya hanya bisa diketahui melalui keputusan Syara, begitu tidak tenangnya hati ini menunggu jawaban dari syara yang tentu saja menentukan masa depanku. Masa depan perasaanku.

Dari ruang tamu kudengar samar-samar dering Smartphone Fajar, Syara. Ya, telepon itu dari Syara. Dengan cepat aku menuju ke kamar Rio yang tentu saja suasana menjadi hening karena aku dan mereka menunggu apa yang akan dikatakan Syara. “hallo, Fajar” suara Syara terdengar jelas yang kemudian disambung oleh Fajar “iyaa, jadi gimana jawabannya?” hal ini yang paling mendebarkan di dalam hidupku ketimbang disaat pembagian raport dan melihat apakah ada nilai yang merah atau tidak. “hmm… gimana yah, gua…”
Aku masih menantikan kata selanjutnya dan tiba-tiba dunia seperti terhenti, sepi, dan dingin. “ya udah kita jalanin aja dulu yaa jar” ya, itu lah kata selanjutnya yang terucap dari mulut Syara. “Jalanin aja dulu” diriku membatin, bukankah itu sama saja dengan Syara setuju menjadi kekasih Fajar?.

Aku bersorak kecil merayakan keberhasilan Fajar dalam mendapatkan hati Syara lalu aku keluar dari kamar tersebut pandanganku terasa kosong, dan semuanya terasa hampa. Aku berjalan menuju teras dan duduk dengan tatapan kosong dan lagi-lagi kalimat itu pun terngiang di dalam kepalaku seakan-akan Syara sedang membisikkannya di telingaku “Jalanin dulu aja”. Lagi pula tidak ada yang tahu tentang perasaanku. Dan aku sangat pandai untuk menutupinya.

Hari demi hari aku lewati seperti biasanya, hanya satu kebiasaan yang sudah tidak kulakukan yaitu saling bertukar pesan singkat dengan Syara. Untuk apalagi aku masih bertukar pesan singkat, jalanku untuk mendapatkan hatinya sudah hilang, terakhir kalinya pesan singkatku mendarat di handphonenya yaitu hanya sebuah ucapan selamat atas hubungannya dengan Fajar.

Semakin aku memikirkan Syara, semakin sakit pula hatiku. Bukan karena aku gagal mendapatkan hatinya akan tetapi karena aku belum mendapatkan kepastian apakah perasaan yang aku rasakan juga dirasakan oleh Syara walaupun hanya sedikit. Aku tidak akan mengubur perasaanku lagi kali ini.

Aku bertekad untuk mengungkapkan perasaanku walaupun nanti orang-orang akan menganggap aku apapun, yang penting Syara tau perasaanku yang besar ini sehingga membuatku bisa melakukan hal yang gila ini, mengungkapkan perasaan kepada seseorang yang sudah jelas menjadi kekasih orang lain.

Malam sabtu, lebih tepatnya seminggu setelah Syara dan Fajar menjalin kasih. Aku bertekad untuk menelepon Syara.
“Hallo..” Syara mengangkat telepon dariku, tapi seketika nafasku menjadi sangat berat dan lidahku terasa kaku seakan ada yang mencekik leherku. Tekadku yang sudah bulat pun seakan rontok dan aku menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian ada pesan singkat yang masuk, ya Syara.
“ada apa zion? Kok lu nelpon malah dimatiin lagi?” aku pun terdiam sejenak dan mulai menarik nafas sedalam-dalamnya, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tadi sudah rontok dan menekan tombol handphoneku dan meng-klik kontak Syara. “kalau bukan sekarang maka gua bakal kesiksa terus” batinku.
Kemudian aku pun meneleponnya “Iyaa kenapa Zion?” lalu aku mejawabnya “hmm sorry ya tadi mati soalnya kepencet”, “iyaa gak papa, emang ada apaan? Tumben nelpon” sahut Syara. “tapi lu lagi gak sibuk kan” tanyaku.
“enggak kok santai aja, gua lagi nonton tv aja” jawabnya santai. “gua mau ngomong serius sama lu Syara, udah lama sih gua mau ngomongnya. gua suka sama lu Syara, gua suka sama lu semenjak di puncak bahkan sampai sekarang syara. Iyaa gua tau sekarang lu udah jadian sama Fajar dan disaat Fajar nembak lu gua juga ada di situ kok” suasana di ujung telepon menjadi sunyi, aku pun memastikan bahwa teleponku tidak putus “hallo… hallo syara..”, “iyaa zion” ternyata teleponnya tidak putus. “gua kira putus tadi”, “enggak kok gua masih denger apa yang lu omongin tadi” sambung Syara.
“hmm ya udah Syara maafin gua udah berani ngomong kaya gini sama lu, sekali lagi maaf gua enggak bermaksud apa-apa. gua cuma mau ngungkapin perasaan aja ke lu enggak lebih kok, soalnya gua enggak tahan kalo harus mendem lama-lama. Ya udah sorry ya udah ganggu waktu lu, semoga langgeng yah sama Fajar”.
Sesaat aku ingin mematikan telpon terdengar suara Syara memanggilku, “Zion, hallo..” aku pun kembali mendengarkan Syara “iyaa Syara, ada apa?”, “Zioooooon… kenapa sih lu baru ngomong sekarang? Kenapa enggak dari dulu sih?” teriak Syara yang menyadari penyesalan diriku “iyaa Syara soalnya gua enggak berani buat ngungkapin semuanya ke lu Syara, baru sekarang gua bisa ngungkapin semuanya gua tau udah telat. Tapi sekarang gua Cuma mau lu tau aja perasaan gua enggak lebih, karena lu udah milik Fajar”.
Lalu Syara menyambutnya “gua tuh juga suka sama lu, tapi gua pikir lu gak suka sama gua makanya gua mau nerima Fajar, dan itu juga karena temen-temen gua yang bilang buat coba jalanin dulu sama Fajar. gua sukanya sama lu Zion…” setelah mendengar penjelasan Syara aku bagaikan tersambar kereta Commuter line, entah apa yang harus aku katakan dan lakukan setelah ini.
Tapi yang pasti aku sangat senang karena cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, tetapi cintaku datang hanya diwaktu yang salah. “trus gimana dengan perasaan kita berdua?” tanya Syara. Aku pun berfikir sejenak karena sangat berat untuk mengambil sebuah keputusan saat itu.
“hmm secara lu juga udah ngejalanin hubungan sama Fajar kan, dan dia juga temen gua” kataku yang kemudian disambut oleh Syara “ya tapi kita enggak bisa kaya gini terus Zion dan gua juga enggak bisa ngebohongin perasaan gua ke lu dan yang pastinya kalo hubungan gua sama Fajar terus berlanjut yang ada sama aja gua ngebohongin dia Zion”.

Aku dan Syara pun memutuskan untuk bertemu Fajar di kantin sekolah saat jam istirahat, kami pun saling mengutarakan perasaan masing-masing. Fajar yang awalnya tidak menyangka bahwa hubungannya akan serumit ini pada akhirnya mengerti dan merelakan Syara untuk memilih dan mengikuti apa kata hatinya.
Begitupun dengan pertemanan aku dan Fajar, kami baik-baik saja, pada akhirnya bukan hanya diriku saja yang mengetahui betapa besarnya perasaanku terhadap Syara, tetapi teman-teman ku juga. Perasaan ini tidak akan aku kubur kembali, tapi akan bersemi menjadi kisah yang jauh lebih, lebih, dan lebih indah lagi. Bersinarlah bintang kejora di dalam hatiku, kau lah yang akan menerangi setiap sudut gelap hati ini Syara.

“Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku. Kita adalah rasa yang tepat diwaktu yang salah” – Phien Kejora –

Cerpen Karangan: Meilano MZP
Facebook: Yoga Pratama
ini cerpen pertama yang saya kirim ke cerpenmu.com. semoga kalian menikmatinya, dan saya bisa terus mengirim cerpen-cerpen yang menarik. The key of success adalah kunci keberhasilan. bye

Cerpen Kejora (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Rahasia (Part 1)

Oleh:
Akhirnya terkabul juga. Selama lima tahun, aku menunggu hal ini. Tanpa sadar aku sudah sampai di musala yang cukup besar ini. Kami berjanji berkumpul di sini untuk salat maghrib

Risalah Hati (Part 1)

Oleh:
Petir terus menyambar, raga ini rapuh seakan ingin tumbang layaknya dahan pohon di seberang jalan sana. Aku hanya terpaku, terdiam membisu di bawah naungan payung sambil ditemani derasnya hujan.

Impossible

Oleh:
Namaku Deva Adithya Alvano biasa di panggil Ndev. Aku anak perempuan. mungkin jika orang belum tahu wajahku, mereka mengira aku ini anak laki-laki. Mungkin karena namaku yang mirip sekali

Mr Sooneth A.K.A Smith (Part 2)

Oleh:
Benar ternyata malamnya aku diajak nona biduan untuk menyanyikan lagu kesukaannya dia lagi, yaitu dangdut. Aku rasanya ingin pergi saja dari tempat ini, tapi mana mungkin. Dia masih punya

Let Your Eyes Be Lost In Mine

Oleh:
Pagi ini di kafe Valerie, ku pesan segelas machiatto dengan roti isi untuk mengawali hari. Ritual pagiku memang tak jauh-jauh dari candu yang bernama kopi, ya walau memang tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *