Kenyataan Pahit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 31 May 2017

Aku terus berlari menjauhi tempat menyedihkan itu. Tempat dimana aku mengetahui fakta miris. Aku benar-benar sangat kecewa. Air mataku tak berhenti mengalir.
Hujan semakin deras dan menghatam tubuhku. Tapi aku terus berlari. Tak peduli hari sudah mulai gelap sekalipun.

“Raina! Tunggu! Aku bisa menjelaskan semua ini. Ini tidak seperti yang kau kira Rain!” teriak temanku Nella yang mengejarku. Dan lebih tepatnya adalah mantan temanku sekarang.
“Aku tidak peduli! Aku kecewa padamu Nell. Aku tidak menyangka kau tega padaku.. Berhentilah mengejarku!” teriakku juga tanpa menoleh sedikitpun.

Petir mulai menyambarkan kilatnya. Awan hitam sudah memenuhi langit. Entah setan apa yang merasuki diriku hingga aku tak merasa takut sekarang.

Napasku sudah mulai habis. Nella sepertinya tak lagi mengejarku, membuatku bisa bernapas lega. Aku perlambat langkahku dan berhenti di sebuah halte yang sepi. Tempat yang cocok untuk menenangkan diri pikirku.
Aku kemudian duduk sambil sesekali mengusap wajah kumelku.

Hujan semakin deras. Seakan tahu akan perasaanku saat ini. Aku benar-benar tidak menyangka. Teman lamaku yang sudah kuanggap keluarga memendam rasa pada laki-laki yang sudah lama aku kagumi. Lebih parahnya lagi, laki-laki itu pun mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.
Aku tidak tahu ini salah siapa? yang aku tahu hanyalah kekecewaan dan kehancuran. Hatiku benar-benar teriris mendengar kenyataan pahit itu. Dadaku sakit dan sesak. Sangat perih dan sulit terlupakan.
Berulangkali aku menghapus air mataku. Tapi, ada saja hal yang membuatnya kembali menetes.

Hembusan angin dingin menghantamku lagi dan lagi. Tubuhku semakin dingin seakan ingin membeku. Kurapatkan kakiku dan kupeluk diriku sendiri dengan menyilangkan kedua tanganku. Tubuhku bergetar dan menggigil.
Kupandangi jalan, tidak ada kendaraan satu pun yang lewat. Hanya ada angin yang membawa hujan serta daun-daun kering. Tempat ini tidak ada lampu penerangan. Hanya ada cahaya sorotan dari beberapa toko dan rumah di seberang jalan.

“sudahlah.. Jangan menghukum dirimu sendiri dengan membasahi dirimu dengan air hujan dan berdiam diri di tempat yang sepi ini..” ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
Aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya tengah melepaskan jaket kulit hitam yang ia kenakan.
“Andre..?” tanyaku memastikan.
“yaa.. pakailah jaketku. Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena kakakku. Aku benar-benar merasa bersalah” jawabnya sambil menyampirkan jaketnya ke punggungku.
“kau tidak perlu merasa bersalah Ndre.. Ini murni kesalahanku. Aku saja yang terlalu berlebihan menaruh harapan pada kakakmu” ucapku tersenyum hambar padanya. Walaupun dalam hati masih tersisa rasa dendam. Tapi sudahlah. Aku akan mencoba tegar dan menerima kenyataan pahitku ini.

Cerpen Karangan: Intan Jannah M
Facebook: Intan J

Cerpen Kenyataan Pahit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Kemarin

Oleh:
Matahari bersinar malu-malu di balik awan kelabu. Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat matahari yang tak sepenuhnya akan bersinar terang hari ini. Dengan langkah gontai aku menuju kamar

Bidadari Surga

Oleh:
Semua orang tahu bahwa aku termasuk anak yang berbakti. Aku kuliah di sebuah PTN di kota. Orangtuaku tergolong orang yang mampu. Dalam artian mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginanku.

Kiss The Rain

Oleh:
Namanya Dewa, dia teman sekelasku sejak kelas XI di SMAN 1 Bintang Timur ini, dan akan terus menjadi teman sekelasku di kelas XII nanti, ada sedikit rasa sesak, penyesalan

Cinta Pertama (Harapan)

Oleh:
Namaku irham, aku anak ke 4 dari 5 bersaudara. Aku terlahir sebagai lelaki yang tidak cukup tampan, bahkan dikategorikan jelek. Akan tetapi ibuku tak bosan-bosan mengatakan bahwa aku, anak

Sahabat Ku Dan Mantan Ku

Oleh:
Namaku Latin. Cerita ini berawal ketika liburan kenaikan kelas di sebuah pantai. Saat itu pukul 11.00 wib aku dan rombonganku masing-masing mencari tempat yang sesuai dengan suasana hatiku, “Hampir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *