Kisah 3 Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 11 August 2013

“… Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.”

Hujan yang kian menderas menghapus kemegahan warna jingga yang menyala di di batas langit sore itu. Nyala yang tak lagi ia temukan pula di hatinya. Nyala cinta. Nyala cinta yang telah beralih menjadi resah. Ingin rasanya ia buang semua hal tentang cinta yang ia rasakan bersama hujan yang nantinya juga akan beranjak pergi. Sesekali ia menghembuskan nafas panjang sebagai satu-satunya jalan untuk melepaskan beban batinnya yang sakit karena dua wanita yang merenggut cintanya. Wanita yang tergolek pucat di hadapannya sekarang dan yang berada di luar ruangan.

Menatap Maria yang lemah tak berdaya sontak mengingatkannya akan sosok wanita itu yang dulu begitu tegar di hadapannya. Dan kini, cinta telah menggaris finish ketegaran wanita itu. Arman menatap Maria lekat-lekat. Kemudian ia teringat percakapannya dengan Maria suatu sore di jembatan batas kota dan seolah tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Maria sore itu.
“Arman, apakah Tuhan kita berbeda?” Maria mengangkat tangannya menekan pembatas jembatan.
“Tidak Maria, Tuhan hanya ada satu.” Arman memalingkan wajahnya menatap Maria.
Maria melemparkan pandangan jauh di hadapannya dan membiarkan wajah blasteran Jerman-Jawanya yang cantik tersapu lembutnya angin, “Lalu bagaimana dengan cinta? Apakah cinta dari dua orang yang berbeda keyakinan pada akhirnya juga akan menyatu?”
Arman menggeleng. “Entahlah, Tuhan Mahacinta Maria, semua hal tentang cinta ada di bawah kendali-Nya.”
“Termasuk hati kita?”
“Termasuk hati kita.” Arman mengangguk.
“Bagaimana dengan cinta yang mungkin tidak dapat kita miliki?”
Arman menelan ludah. “Ini dunia Maria, tidak semua putri harus dan bisa mendapatkan pengerannya, begitu pun sebaliknya.”
Maria diam. Tatapannya yang tadi menampakkan rasa di hatinya yang meletup-letup berubah menjadi tatapan resah dan galau. Apakah dia akan menjadi putri yang tidak akan bisa mendapatkan pangerannya seperti yang dikatakan Arman baru saja? Sore itu menjadi sore yang begitu berat bagi Maria. Dan baru hari ini Arman mengetahui maknanya.

Arman kembali menghelakan nafas panjangnya. Mencoba masuk ke tempat di mana rasa sakit dan cintanya kini bersemayam. Mencoba memahami kisah rumit yang kini tengah menjeratnya.

Pintu ruangan terbuka. Arman menoleh. Rianti, wanita keturunan Jawa tulen dan solikhakh yang kini juga menjadi kebimbangan dalam hatinya.

Rianti mendekati Arman, menatap tubuh Maria yang terbaring sebentar lalu menatap Arman. “Kini aku melihat dengan sangat nyata, bagaimana cinta membuat hati bisa mengalahkan logika. Ternyata hal itu bukan hanya teori saja.”
Arman tercekat. Tak menemukan satu kata pun untuk bisa mengungkapkan suasana batinnya. Andai jawaban itu ada di suatu tempat yang bisa ia datangi, ia akan berlari saat itu juga untuk menemukan jawabannya dan mengetahui apa yang harus dia lakukan. Arman pasrah.
“Tidakkah kau terketuk melihat pengorbanan cinta Maria untukmu Man? Dia sakit karena kamu. Tidakkah kau pahami jika sakitnya ini adalah pesan halus agar kita tidak bersatu?” Rianti mencoba mengundang ketegarannya untuk menutupi sinar matanya yang rapuh.
“Maria sahabat baikku sejak kuliah, aku tidak ingin menyakitinya. Tapi memilih Maria kemudian mencampakkanmu sama juga seperti mengiris hatiku sendiri.” Arman hampir putus asa.
“Apa kau tidak rindu tawa Maria yang dulu selalu mencerahkan hari-harimu? Sahabat dan cinta tak harus dua orang yang berbeda Man, sahabat bisa jadi cinta.”
“Dan kamu adalah cinta yang bisa menjadi sahabat.”
“Tidak aku dan Maria sekaligus. Kamu harus yakin kepada salah satunya!” air mata Rianti mengalir, dan seketika itu dihapusnya. Andai saja boleh Arman pun ingin menghapus air mata itu. Tapi tak dilakukannya.
“Orang Jawa selalu bilang jodoh itu ada di tangan Gusti Allah. Pilihlah Maria jika kamu tak ingin melihatnya terluka. Insya allah aku ikhlas Man.” Suara Rianti bergetar. Tapi kata-kata itu harus diucapkannya untuk membebaskan Arman dari cinta segitiga.
“Urusan Umi dan Abah biar menjadi urusanku. Aku pulang dulu Man, Bulek baru saja sms menyuruhku pulang. Nanti malam ba’da isya’ aku akan pulang ke Solo menemui Umi dan Abah.”
“Tapi Yan…” Arman mencoba menahan Rianti untuk tidak pergi.
Rianti menoleh, “Tidak semua kisah harus memiliki akhir yang bahagia Arman, assalamua’alaikum.” Rianti meninggalkan ruang tempat Maria di rawat. Hatinya menangis perih. Tapi ia menyadari bahwa kisah yang rumit ini harus diakhiri.

Hati Arman tertusuk melihat Rianti pergi meninggalkannya dan kelu mulutnya saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Bisa jadi Rianti akan benar-benar meninggalkannya.
“Ar…man…” Maria bersuara, lirih sekali. Jari-jari tangannya bergerak.
Arman berbalik melihat Maria, “Subhanallah! Kamu sadar Maria?”
Arman berbalik ingin meninggalkan ruangan dan memanggil dokter. Tapi Maria menahannya.
“Ar…man cin…ta ma…sih ber…ada di ba…wah ken… da… li Tu…han kan?” tanya Maria lirih dan terbata-bata. Arman mengangguk.
“La…lu me..ngapa Tu…han ti…dak me…ngambil… ra…sa cinta…ku pa…damu?”
“Mungkin…, Tuhan ingin…, ingin menyatukan kita, Maria.” Kata Arman, hati-hati.
“Ka…mu ingat ti…dak se…mua putri ha…rus dan bi…sa men…dapat…kan pange…rannya?” Arman mengangguk lagi.
“Per…gi…lah ka…lau ka…mu mengi…nginkan Rian…ti!” Untuk ke sekian kalinya hati Arman seperti di tusuk jarum berkarat.
“Sudahlah Maria, kamu harus sembuh!” Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ka…ta…kan pa…da Ri…anti, a…ku tak i…ngin meng…ha…la…ngi ka…lian.” mata Maria sembab.
Arman tertunduk. Bingung, gelisah, resah dan putus asa.

Arman menepis dingin dengan jemper hitam yang serasi sekali dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap. Malam enggan mengundang kawan-kawannya; bulan dan bintang-bintang untuk sekedar menggoda dan menghiburnya. Maria, Rianti dan hatinya sendiri telah membuat arsitek muda itu jauh dari kesan maskulinnya. Tawa Maria yang dulu mencerahkan hari-harinya, senyum Rianti yang menyejukkan hatinya hadir kembali meminta satu jawaban kepastian. Membuat Arman benar-benar putus asa.
Arman tersentak kaget mendengar handphone-nya berdering nyaring. Satu pesan diterima. Arman membukannya.

Dari: Bulek
Pesan: Dlm prjalnannya mnju Solo tdi Rianti jtuh dari speda mtornya. Kpalanya mengnai batu kras sekli dan tdak brhnti mengeluarkan drah. Dan pkul 20.24 tadi Rianti hars meningglkan kta untk slmnya, Le.

Jantung Arman seakan berhenti berdetak saat itu juga. Jiwanya masih di ambang antara percaya dan tidak percaya pada sms yang baru saja dibacanya. Tapi semakin ia baca berulang-ulang untuk meyakinkan jika dia tidak salah membaca semakin sakit rasa yang menusuk ulu hatinya.

Arman duduk bersama dengan hatinya yang sedang hancur. Tiba-tiba handphone-nya berdering lagi. RS Bethesda calling.
“Hallo!” suara Arman terdengar sangat lirih.
“Benar ini Bapak Arman?”
“Benar. Ada apa suster?”
“Pukul 20.25 tadi Ibu Maria kembali masuk UGD, Pak. Keadaannya kembali kritis. Jantungnya kembali melemah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi….” tuuuuut.
Handphone Arman terpelanting ke lantai. Dua jarum berkarat tepat menusuk ulu hatinya. Dia terkulai lemas tak berdaya seakan menyerah pada dua keadaan yang menguras habis ketegarannya. Harapannya bersama Rianti untuk bertamasya ke Kebun Binatang Gembira Loka bersama anak-anak mereka kelak kini hanya tinggal harapan hampa. Gelak tawa Maria yang menghiasi frustasinya menjadi mahasiswa dulu dan sahabat terbaiknya hilang sudah.

Cinta menunjukkan dirinya sendiri malam itu bahwa sampai kapan pun cinta akan terus berada dalam kendali Tuhan Sang Mahacinta. Bukan Rianti, bukan Maria, dan bukan Arman yang kuasa menciptakan dan menghilangkannya.

Dan malam itu, Yogyakarta yang senyap dan gelap gulita setia menemani Arman dan hatinya yang remuk redam.

– SELESAI –

Cerpen Karangan: Devi Setianingsih
Blog: deviset20.blogspot.com

Cerpen Kisah 3 Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Antara Kita

Oleh:
Kesya berulang kali memutar bola matanya. Jenuh. Satu hal yang menekannya kini. Entah berapa kali handphone-nya berbunyi, tapi ia acuhkan. Telepon, sms, bbm, dan teman-temannya telah memenuhi smartphone-nya kini.

Terbawa Hembusan Angin

Oleh:
Di sudut kamar kududuk termenung, menatap indahnya langit malam ditemanin pancaran cahaya bulan yang hangat. “Akankah sang pujaan hati menghampiriku, akankah sang pangeran cinta itu ada. Hmmmm” aku berdetak

First Love

Oleh:
Tiga Tahun berlalu, Namun kenangan, perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan masih tersimpan rapi di hati ini. Bagiku tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melupakanmu, telah banyak

Friends or Love (Part 1)

Oleh:
Terik matahari yang begitu panasnya di jakarta sudah menjadi hal yang biasa. Bagi penduduk di sana berpanas-panasan ketika melakukan aktivitas sudah menjadi santapan sehari-hari. Mereka fine-fine saja dan enjoy

Kado Terakhir Dinda

Oleh:
Pagi ini seperti biasa, aku berangkat sekolah diantar oleh supirku karena kedua orangtuaku khawatir jika saat aku sedang menyetir penyakitku kambuh lagi. Namaku Reand Dirgantara, umurku 17 tahun. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kisah 3 Hati”

  1. arsyfira d'arnadal says:

    Sedih banget ceritanya,jadi terharu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *