Lafadz Cinta di Negeri Sunyi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 6 June 2015

Coffee maker di pantry itu menggemuruh. Sebentar lagi cappuccino kesukaan Rio akan siap. Selanjutnya, dia akan menuangkannya ke dalam cangkir. Kemudian menaburi bagian atasnya dengan coklat granula dan sedikit cinnamon powder. Terakhir, lelaki tampan itu melengkapi komposisi minumannya dengan menaruh kayu manis batangan sebagai sendok pengaduk.

Rio selalu mengawali hari-harinya dengan secangkir cappuccino berbuih kental plus dua lembar roti tawar gandum beroles keju krim. Semua ritual itu dilakukannya sendiri, di pantry yang merangkap ruang makan, di apartemen mungilnya, dan menikmatinya di meja yang berada tepat di tepi jendela, sembari menatap sepi dan memandang sendu daun-daun maple yang meliuk-liuk tertiup angin bulan Juni.

Sehari lagi kekasihnya, Alyssa Saufika Umari, akan berulang tahun. Siang nanti, sembari lunch, rencananya Rio akan ke toko buku yang berada dua blok dari kantornya untuk membeli kertas surat. Kertas warna orange dan amplop panjang berwarna coklat. Dan, sesampainya di apartemen dia akan menulis surat dan harus sudah selesai sebelum pukul 00:00 WIB. Surat ucapan selamat ulang tahun untuk Ify yang ke-35. Rio tidak mau keduluan orang lain dalam memberi ucapan selamat.

Ritual itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun sejak ia menyepi ke negeri jauh ini. Ia harus tetap menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat kepada perempuan yang dicintainya itu. Ia tahu persis, Ify selalu menunggu suratnya. Tak ada hadiah lain yang paling ditunggunya selain berlembar-lembar art paper warna orange berisi tulisan tangannya.

Mata itu berbinar-binar. Ify diam tak bergerak. Matanya setia mengikuti huruf demi huruf di lembar kartu pos yang ada di tangannya. Sampai-sampai tak didengarnya suara Ray yang setengah berteriak minta susu. “Maa… aku sudah haus! Mama denger, nggak sih?”

Ugh! Sudah beberapa hari ini Ify banyak menghabiskan waktunya dengan membaca berulang-ulang, kartu pos bergambar pondok kayu berselimut salju di tengah hutan pinus itu. Padahal, huruf-huruf yang tercetak disana selalu sama. Tidak ada yang berloncatan dan berubah titik komanya.

“Iya, sayang.” Tapi mata Ify tetap tak lepas dari kartu di tangannya.

“Ayo, Ma!” Ray tak sabar menarik tangan mamanya. Akhirnya Ify menaruh kartu posnya di laci meja riasnya dengan hati-hati. Seolah yang hendak disimpannya itu adalah sebuah kristal antik berharga puluhan juta rupiah. Setelah itu barulah ia melenggang menuju dapur, membuatkan susu untuk Ray.

Pertama kali Rio tahu kalau Ify sangat menyukai tulisan tangannya adalah ketika pada suatu waktu secara iseng ia mengirim kartu pos dari Alaska, saat ia berkesempatan mengunjungi negeri dingin yang terletak di dekat Kutub Utara itu. Di lobi hotel tempatnya menginap ia melihat berlembar-lembar kartu pos cantik di meja resepsionis. Salah satunya sangat menarik perhatian Rio. Gambar sebuah pondok kayu berselimut salju, di tengah hutan pinus. Secara refleks ia mengambilnya dan menulis sebait puisi disana, kemudian mengirimkannya ke alamat Ify di Jakarta. Saat itu ia masih tak paham, mengapa ia tiba-tiba ingin mengirim kartu pos dan ditulisi puisi pula, untuk Ify.

Ify,
Engkau adalah bunga,
Yang setia pada musim,
Yang menyimpan rindu pada matahari,
Yang melukis harapan di langit luas,
Yang menulis kata-kata sebening kristal di lazuardi dadamu,
Ify,
Keikhlasan selalu membuahkan hikmah dan
Kesabaran pasti melahirkan cinta.

Sejak itu, setiap kali ia pergi, keluar kota maupun keluar negeri, Ify selalu berpesan minta dikirimi kartu pos berisi puisi tulisan tangannya, dari setiap tempat yang ia kunjungi.

Rio menyayangi Ify dan anak-anaknya karena Alvin, suami Ify, adalah teman seangkatannya di Fakultas Teknik UI. Mereka bahkan satu kos selama bertahun-tahun. Sebagai anak rantau mereka merasa punya kesamaan nasib, jauh dari keluarga. Rio dari Manado dan Alvin dari Malang. Setelah lulus, Alvin bekerja di perusahaan maskapai penerbangan besar di Jakarta, dan Rio mendirikan perusahaan kontraktor bersama teman-temannya di Manado.

“Alvin kapan pulang Fy?” tanya Rio sambil menerima cangkir kopinya. Sebagai area manager di Papua, Alvin banyak menghabiskan waktunya di tempat tugasnya itu. Sehingga Ify sehari-hari bergulat sendiri dengan kesibukannya mengurusi tiga anaknya yang masih kecil-kecil.
“Masih lima hari lagi. Di Jayapura sedang ada masalah pelik dengan pihak pemerintah daerah. Apalagi kalau bukan soal prosedur formal yang terus berganti-ganti setiap pejabat baru yang memerintah.” Ify menanggapi pertanyaan Rio sambil memeriksa PR Angel, putri sulungnya.
“Mau gue panaskan croissant untuk menemani kerja lo malam ini?”
“Enggak usah Fy, cukup kopi ini saja. Thank’s. Oh ya, lusa gue ke Denpasar. Ada meeting dengan owner Ayana Resort di Jimbaran, yang akan memakai jasa kantor gue untuk konsep spa resortnya.”
“Jangan lupa kewajiban lo, ya! Biasaaa…” Ify mengucapkan kalimatnya sembari mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti. Rio tahu betul yang dimaksud kewajiban oleh Ify. Ia tak boleh lupa mengiriminya kartu pos, berisi puisi tulisan tangannya. Rio mengangguk-angguk sembari menaikkan alis matanya, dan mengacungkan ibu jarinya ke udara. Ia berlalu menuju kamarnya di lantai dua. Sejak lulus kuliah dan akhirnya mendirikan perusahaan di Manado, Rio selalu tinggal di rumah Alvin setiap kali ia melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Bahkan dia diberi kamar pribadi di lantai dua.

Alvin yang serius segera menikah dengan Ify, perempuan yang telah dipacarinya selama tiga tahun. Sementara Rio terus melajang dan selalu saja berganti-ganti pacar. Entah kenapa, ada saja hal yang membuatnya kehilangan minat untuk menikah, sekalipun pacarnya cantik-cantik.

“Rio! Tolong antar aku ke rumah sakit. Suhu tubuh Ray tinggi sekali. Dia harus segera dibawa ke UGD!” suatu malam Ify menggedor pintu kamar Rio. Ditolehnya jam dinding. Pukul 23:50. Alvin sudah tiga hari bertugas di Singapura. Sopir keluarga, tentu saja sudah pulang sejak sore. Rio seperti tersengat ketika meraba dahi Ray. Dalam hitungan menit dia sudah melarikan mobilnya ke arah Pondok Indah. Selama Ray diobservasi di UGD, Ify dilanda kepanikan luar biasa. Dalam diam, Rio merangkul tubuh kecil Ray dan menggenggam tangan Ify. Ada kehangatan hati yang hendak dibagikannya pada ibu dan anak yang ternyata diam-diam telah menghuni sudut hatinya. Ia tak pernah menyadarinya.

Malam itu juga, Ray dirawat di RSPI. Dia terkena thypus. Sejak itu, selama seminggu ia bergantian dengan Ify, menginap di rumah sakit. Dan sejak malam itu pula, Rio mulai dihinggapi perasaan aneh setiap kali melihat Ify sibuk mengurusi Ray. Kegaduhan perempuan ayu bertubuh mungil itu saat mengurusi tiga orang anaknya seorang diri, karena suaminya lebih banyak bepergian keluar kota dan keluar negeri, benar-benar menyentuh hati Rio. Sejak itu, Rio berubah menjadi lebih pendiam. Ia kasihan melihat Ify yang baru berusia 25 tahun sudah harus bertanggung jawab sendiri atas rumah tangga dan tiga orang anaknya. Sebagai sahabat, Rio tahu sepak terjang Alvin di luar rumah. Selain karena tugas, Alvin juga masih suka berhura-hura di diskotik maupun pub, dengan teman-temannya. Dia tak peduli dengan semua kerepotan istrinya. Dipikirnya, selama ia bisa membelikan rumah bagus dan mencukupi Ify dan anak-anaknya dengan berbagai barang mewah, sudah lebih dari cukup. Tapi Rio tak pernah mengungkapkan keresahannya itu pada siapa pun. Dia hanya terus memperhatikan Ify diam-diam, dan sebisa mungkin mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Alvin. Sekali-sekali ia membantu urusan sekolah Angel dan Deva, anak pertama dan kedua mereka, atau saat libur sekolah ia mengajak ibu dan anak itu jalan-jalan ke Dufan. Tentu saja semua itu ia lakukan dengan seizin Alvin.

Lama-kelamaan Rio tak berdaya. Yang ada dalam pikirannya hanya Ify dan ketiga anaknya. Rupanya, dia mulai jatuh cinta. Sebenarnya tidak ada yang salah. Apa yang salah dengan jatuh cinta? Harusnya, tak ada. Dan apa yang salah kalau Rio jatuh cinta pada Ify? Itu baru salah! Karena Ify adalah istri Alvin. Tapi kenapa harus kepada Ify ia jatuh cinta? Sungguh, ia tak pernah berencana mencintai Ify. Ia juga tidak memilihnya untuk menjatuhkan cintanya pada istri sahabatnya itu. Ia merasa semua hal berjalan dengan wajar dan semestinya. Selanjutnya, semua berkembang diluar logika.

Maka, disanalah Rio dan Ify berada. Di sebuah ruang sepi, dimana hanya ada mereka berdua. Sebuah planet yang tak mereka rencanakan, tapi diam-diam mereka dambakan. Sebuah waktu yang tidak dijadwalkan, tapi sangat mereka nantikan. Sebuah momen yang tak mereka persiapkan, tapi sangat mereka impikan.

Apa yang kemudian terjadi, hanya mereka berdua yang tahu. Yang jelas, kalau sampai berminggu-minggu mereka tidak bertemu, rasa rindu bertumpuk dan bergulung-gulung di dada. Semua tumpah ruah lewat e-mail, SMS dan telepon. Perasaan rindu yang mengaduk-aduk hati. Sebuah rindu terlarang yang berdenyut-denyut menyesakkan dada. Hingga pada suatu ketika gemuruh di dada yang bagaikan magma gunung berapi itu pun meletus dan menumpahkan laharnya kemana-mana. Kerusakan pun tak terhindarkan. Hati Alvin remuk redam mendapati istrinya menjalin cinta dengan sahabatnya sendiri.

“Pilih salah satu, Yo. Pergi sejauh mungkin dari Indonesia atau ledakkan pistol ini di kepala lo!” Alvin menaruh revolver di meja dengan tangan gemetar menahan marah. Suaranya menggelegar dan napasnya tersengal-sengal. Rio menyaksikan gelombang kemarahan di mata Alvin dari bangku yang didudukinya. Dengan tangan dan kaki terikat. Malam itu perseteruan mereka berakhir di sebuah rumah kosong yang entah milik siapa. Alvin memang brengsek, tapi ia tidak mau kehilangan istri dan anak-anaknya. Ia juga tak sudi menyerahkan mereka pada sahabat yang sangat ia percayai, tapi kemudian mengkhianatainya itu.

“Kalau pilihan pertama yang lo ambil, orang kepercayaan gue akan segera menyiapkan paspor, visa dan deposit 3 miliyar di bank sebagai pesangon lo. Segera tinggalkan Jakarta dan seumur hidup jangan pernah menginjakkan kaki lo lagi di sini!”

Rio tergugu. Membisu.

“Dan kalau pilihan kedua yang lo ambil, gue juga udah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir buat lo, di tempat yang bagus. Kompleks pemakaman mewah, Sandiego Hills di Karawang. Gue pilihkan kavling yang view-nya menghadap matahari terbit. Juga uang 300 juta untuk keluarga lo mengurus biaya pemakaman lo dan pembelian batu nisan untuk mengukir nama lo.” Alvin mengucapkan semua itu dengan geram, sembari merok*k, dengan mata berkilat-kilat.

Rio bukan takut kalau dia hanya terkulai diam. Dia hanya khawatir kalau reaksi yang diucapkannya akan membuat Alvin semakin murka. Rio sadar, ia telah melakukan kesalahan sangat besar. Tapi, selain itu dia juga memperhitungkan nasib Ify dan anak-anaknya. Maka dia memilih diam seribu bahasa. Dibiarkannya Alvin melampiaskan kemarahannya. Tak dipedulikannya pukulan dan tendangan Alvin di sekujur tubuhnya. Juga tak dihiraukannya semua kata-kata penghinaan yang berhamburan dari mulut Alvin.

Malam itu, harga diri Alvin sebagai lelaki sangat tercabik-cabik oleh pengkhiantan istri dan sahabatnya. Dan ia melampiaskan kemarahannya dengan cara yang nyaris sempurna. Selain dengan brutal ia memukili Rio, dia juga dengan rapi menyiapkan deposit uang miliyaran rupiah di bank. Dengan cara itu Alvin hendak menghina Rio ke titik paling rendah. Ia hendak membeli nyawa dan harga diri Rio dengan uang yang dimilikinya. Dengan semua itu Alvin hendak melampiaskan sakit hatinya.

Kalau kemudian Rio mengambil pilihan pertama, bukan karena ia takut mati. Pikirnya, kalau ia masih hidup. Setidaknya, ia masih punya harapan suatu saat akan bertemu lagi dengan Ify. Entah kapan dan dimana. Maka, Rio pun berhijrah ke Toronto – Ontario – Kanada. Kota yang ditetapkan oleh Alvin sebagai tempat ‘pelarian’-nya. Ia tidak pernah tahu, kenapa Alvn memilih kota Toronto. Sebuah kota terbesar keenam di Kanada. Maka, di kota yang terkenal sebagai kota paling hijau dan kreatif di Amerika Utara itu, Rio kemudian menjalani sisa usianya.

Di tempat baru yang yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah air itu Rio terus menjalani hari-harinya yang sunyi. Meski ia berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor biro arsitek lokal, selebihnya, hari-harinya adalah kebisuan dan keheningan bagaikan jarum-jarum tajam yang menusuk-nusuk jantungnya. Ia tekun menjalani pekerjaannya, tapi ia seolah tak bernyawa. Selama delapan tahun dalam ‘pengasingan’ tak sekalipun ia menjalin hubungan dengan seorang wanita. Cintanya pada Ify merampas seluruh kemerdekaannya. Kedekatan jiwanya pada perempuan yang dicintainya itu juga memangkas habis jarak ruang waktu. Ia terus mencintai kekasihnya, dengan caranya.

Hari terus bergulung-gulung. Dalam minggu, bulan dan tahun. Adakah yang abadi di muka bumi ini sementara semua hal adalah keniscayaan dan kefanaan? Mega di atas langit terus berarak. Terkadang seperti segerombol bunga mawar putih yang berdesak-desakan dan terkadang seperti gumpalan harum-manis kesukaan anak-anak. Mengapa semua terus berderap pergi, meninggalkan kekinian? Mengapa sepi terus tertatih setia pada hari? Rio terpana ketika menyadari hanya dia yang tidak berlari. Dia terus saja sendiri dibekukan oleh rasa. Demikian kuatnya magnet cintanya pada Ify, sehingga ia tak merasa perlu berkejaran dengan waktu. Ia terus bahagia dalam pendiangan api unggun hangat bernama kerinduan. Ya, Rio adalah manusia sunyi yang riuh dalam api unggun bernama cinta. Malam itu, ia menulis surat untuk kekasihnya.

“selamat Ulang Tahun ke-35, Alyssa Saufika Umari kekasih hatiku. Saat cuaca di negerimu tak terkatakan dan langit luas menanti isyarat darimu, dan aku yakin ada matahari yang terus setia pada hari-harimu. Karena ulang tahun bagimu tak hanya usia yang memanjang sebagaimana malam tak hanya purnama.

Alyssa yang kucintai, kerinduanku berdenyar menggeliat ke segenap pori-pori tubuhku menjelma denting yang berlesetan ke dasar kenangan. Harapanku yang membiru adalah cemara sunyi yang menerbangkanku jauh ke kotamu. Memjumpaimu, mendekapmu dan menciummu sepenuh jiwaku hingga gemuruh ini mereda.

Alyssa kekasihku, gerimis itu tak boleh menjelma hujan di matamu dan terika matahari takkan kubiarkan jadi kemarau di hatimu. Kan kugenggam pelangi dan kusematkan di luas jiwamu bersama doaku yang melesat menembus cahaya.

Alyssa kekasih hatiku, aku akan terus mendekap rindu ini hingga Malaikat mengabariku bahwa di sebuah galaksi kelak kita akan diperjumpakan.

Dari aku, kekasihmu yang tak henti mencintaimu, dari jarak sangat jauh.

Rio.

Usai menulis suratnya, Rio melipatnya dengan hati-hati dan menulisi alamat dengan lengkap. Tapi anehnya, ia kemudian berjalan menuju lemari pakaian yang ada di sudut kamar dan menarik sebuah kotak antik beledu berwarna merah. Ia menyimpan suratnya di sana bersama ketujuh surat lainnya. Surat-surat itu selalu dibuatnya setiap tahun, tepat di malam ulang tahun Ify. Ia memang tidak pernah memposkan surat-suratnya. Ia hanya menyimpannya di kotak antik itu. Rio menyimpan semua suratnya dengan rapi bersama harapan yang terus ditiupkan diam-diam dalam hatinya.

END

Cerpen Karangan: Santi Pratiwi
Facebook: Santi Maniez

gaje kah ??? tentu!! 😀
tapi semoga suka ya…
jgn lupa tinggalkan jejak kaki

Cerpen Lafadz Cinta di Negeri Sunyi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ijinkan Aku Jatuh Cinta

Oleh:
Dea terlelap dalam tidurnya. Hingga ia tak sadar ketika matahari sudah hampir berada di titik teratasnya. Semalaman ia tak tidur, baru setelah adzan subuh Dea bisa terlelap. Dea membuka

Kejutan

Oleh:
“Kadang kita harus sadar, perpisahan akan selalu ada. Tetapi, dengan memeberikan kenangan indah kehadiran akan selalu ada walau telah tiada.” — “Kamu pulang kapan, Nak? mamah udah kangen banget,

Persimpangan (Part 2)

Oleh:
Rasanya aku ingin waktu berhenti di malam ini, karena aku ingin terus seperti ini. Merasakan kebahagiaan yang tak terhingga bersama pangeran impianku selama ini. Semua mimpiku satu persatu terwujud

Akan Baik Baik Saja

Oleh:
Bagaimana rasanya jika kita harus melupakan hal yang paling kita sukai? Sulit bukan? Begitu juga Nandira. Nandira harus melupakan Fathan seorang pria yang sangat dia cintai saat ini. Ibunya

Ketika Pacarku Seorang Malaikat

Oleh:
Malam ini cukup sunyi bagi intan, seorang gadis cantik yang sedang duduk di pinggiran kolam, hanya suara jangkrik yang terdengar merasuk ke dalam telinganya, ia hanya berfikir apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *