Let Me Be The One

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 August 2015

Aku masih tertawa sambil menatapnya. Menatap sosok yang akhir-akhir ini mewarnai hariku. Sebenarnya aku merasa malas untuk menghadiri latihan ini. Namun karena kehadirannya, aku rela pulang malam hanya untuk sekedar melihatnya.

Dia seseorang yang sederhana dan karena kesederhanaannya itu dia mampu membuatku tak memalingkan padanganku darinya. Sifatnya bisa membuat semua orang yang berada di sekitarnya tertawa. Sungguh membuatku sangat nyaman. Setiap dia berbicara, pasti bisa membuatku tersenyum. Sungguh dia mampu mewarnai hariku dengan canda dan tawanya.

Hari ini salah satu guru pembimbing menyuruhku untuk melakukan latihan vokal. Sebenarnya aku merasa bosan, tapi aku tetap saja menyanggupinya. Dia ditunjuk sebagai pengiring untuk lomba antar sekolah bulan depan dan aku yang akan diiringinya. Sungguh menyenangkan, bukan? Berlatih selama sebulan bersamanya, itu artinya aku bisa menatap wajahnya setiap hari.

Namanya Dika. Dika Aditya. Dia Kakak kelasku dan merupakan salah satu gitaris terbaik di sekolah. Wajahnya memang tak setampan orang-orang di luar sana. Namun entah mengapa dia mampu menciutkan hatiku.

***

Lagi-lagi aku tertawa karena ulahnya bersama teman-temannya. Sungguh ada saja tingkahnya yang mampu membuatku tertawa.

“Sudah! Jangan bercanda terus. Fokus!” tegas guru pembimbing kami. Dika dan teman-temannya terlihat langsung diam, begitupun denganku.
“Ayo Shania. Lanjutkan latihannya,” kata guru pembimbing tersebut. Dia menunjuk Dika yang sedang duduk sambil memangku gitarnya.

Aku beranjak dari dudukku, dengan hati berdebar aku mendekatinya. Tangannya perlahan memetik gitarnya.

“Ada cinta yang kurasakan.. Saat bertatap dalam canda..” aku mulai besenandung.
“Stop! Nggak cocok!” seru guru pembimbing itu yang membuat semangatku seketika menjadi buruk sekali. “Saya tinggal sebentar. Setelah saya kembali, suara dan gitarnya harus seirama!” kata guru tersebut sambil berjalan pergi.

Aku menghela napas sambil mengomel sendiri dalam hati. Sungguh sangat menyebalkan. Aku sudah lelah seharian belajar, kenapa harus ditambah dengan kegiatan seperti ini?

“Dimaklumi aja. Pak Effendi emang gitu..” kata Dika yang membuatku tak mampu menolak untuk meliriknya.

Dia berbicara sambil mengatur senar gitarnya. Hingga dia pun mengangkat tatapannya ke arahku. Sontak aku kaget saat matanya tepat menatapku. Aku mengalihkan pandanganku mencoba menetralkan detak jantung yang sempat berkerja dua kali lebih cepat dari normalnya.

“Ayo kita coba lagi,” ujar Dika. Aku mengangguk. Perlahan ia mulai memetik gitarnya.
“Ada cinta yang ku rasakan saat bertatap dalam canda.. Ada cinta yang kau getarkan saat ku resah dalam harap, oh indahnya, cinta..” kalimat demi kalimat lagu itu kunyanyikan dengan seluruh kemampuanku.

Dika pun menghentikan aktifitasnya. “Oke! Good!” seru Dika yang membuatku tersenyum mengangguk. Aku menghela napas lega. “Kamu memang mood boosterku Dika..” batinku tersenyum menatapnya.

Pulang sekolah, seperti biasanya aku langsung berlari menuju ruang kesenian. Karena bila aku telat beberapa menit saja, Pak Effendi pasti akan langsung mengeluarkan jurus bibirnya, alias mengomeliku. Kali ini aku mencoba lagu yang tak asing lagi di telingaku. Dengan fasih aku menyanyikan lagu itu. Dika yang memang sudah profesional pun tak bisa diragukan lagi.

Saat kami sedang beristirahat, terlihat Dika seperti sedang kesulitan. Aku bisa mendengar itu dari celotehnya.

“Kenapa?” tanyaku mendekatinya.
“Senar gitarnya putus,” jawab Dika memperlihatkan senar gitarnya yang kini sudah menjadi dua bagian.
“Yah, terus gimana?” tanyaku polos.
“Ya harus diganti. Aku pergi beli senar gitar dulu ya,” pamitnya kini beranjak.
“Emang persediaannya nggak ada?” tanyaku lagi.
“Lagi habis,” jawabnya mulai melangkah.
“Eh, ikut!” ucapku sedikit berlari.
“Hah?” Dika menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapku.
“Aku takut sendiri..” balasku.

Memang suasana di ruang kesenian ini sedikit menyeramkan. Apalagi Pak Effendi sedang mengambil sesuatu di kantor, jadi di sini hanya ada aku dan Dika.

“Ya sudah” sahut Dika. Aku tersenyum kemudian mengikuti langkahnya.

***

Sebulan berlalu. Selama sebulan ini aku semakin dekat dengan Dika. Setelah lebih mengenalnya, ternyata dia lebih dari yang aku kira. Dia baik, lucu dan aku sangat merasa nyaman saat sedang berada di dekatnya.

Hari ini, hari di mana kegiatan itu diselenggarakan. Kegiatan ini memang terbagi dalam berbagai cabang lomba olahraga dan seni. Aku dan Dika mengikuti lomba menyanyi solo dengan iringan gitar. Aku meremas tanganku yang sudah berkeringat dingin. Aku melirik Dika yang sedang duduk santai sambil memangku gitarnya.

“Dika, aku deg-degan nih..” ucapku menatapnya. Dika mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Tenang aja, pesertanya cuma tiga orang kok,” katanya santai yang sontak membuatku menatapnya kaget.
“Hah? Pesertanya ada berapa orang?” tanyaku memastikan kembali.
“Tiga orang.. jadi kamu nggak usah tegang. Minimal kita bisa bawa piala juara tiga,” lagi-lagi Dika berkata santai.

Aku menunduk. Bagaimana jika aku dan Dika benar-benar menjadi juara tiga? Memalukan! Berarti kita yang paling payah.

“Kalau aku tahu pesertanya hanya ada tiga orang, aku tidak akan mengikuti latihan satu bulan ini. Tanpa latihan pun minimal kita dapat juara tiga. Dapat piala juga kan?” seruku sungguh sangat jengkel.
Dika tertawa. “Bener juga sih. Kenapa kita harus berlelah-lelah latihan ya? Kalau udah tahu minimal kita dapat juara tiga?” timpal Dika.
“Jadi sebenarnya yang bego siapa sih?” tanyaku.
“Guru pembimbing kita,” bisik Dika. Aku langsung tertawa, begitupun dengannya. Entah mengapa rasa tegang yang tadi sempat muncul kini sirna seiring dengan candaan yang dilontarkan oleh Dika.

***

Hari ini terlihat matahari sangat bersemangat menyinari bumi. Sungguh membuat seisi lapangan merasa kepanasan. Aku dan Dika tak sepayah yang kami bayangkan. Kami memang tidak mendapat juara pertama, tapi kami mendapat juara kedua. Lumayanlah. Walaupun hanya dari tiga peserta.

Hingga akhirnya upacara hari ini pun selesai. Aku melirik Dika yang berada di barisan kelasnya, sedang terlihat santai menatap ke depan. Tak lama kemudian, pengumuman hasil dari kegiatan lomba yang kami ikuti beserta lomba-lomba lain yang diikuti teman-temanku. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan, sedangkan aku hanya bisa terdiam.

Setelah beberapa orang pemenang lomba dari cabang lain disebut, kini giliran aku dan Dika yang disuruh ke depan. Dika berdiri di sampingku. Aku meliriknya dan kebetulan dia juga sedang melirikku. Entah mengapa kami terasa langsung menahan tawa. Bila membayangkan kegiatan kemarin sungguh membuatku ingin tertawa terbahak-bahak saja. Kami mendapatkan piala yang lumayan besar, lagi-lagi siswa bersorak dan bertepuk tangan. Sedangkan aku dan Dika hanya bisa tersenyum simpul.

Suasana di kelasku kini mulai hening sesaat setelah bel tanda jam istirahat berbunyi. Kini di kelas XI IPA 2 hanya ada aku dan kedua sahabatku, Rangga dan Donny. Entah mengapa kedua pria ini betah sekali berada di dekatku.

“Eh, punya nomor HPnya Dika nggak?” tanyaku tiba-tiba.
“Hah? Buat apa?” tanya Donny.
“Ciee Shania.. kok kamu bisa suka sama si Dika sih?” tanya Rangga yang langsung membuat kesimpulan sendiri.
“Bukan gitu.. aku itu cuma mau jailin Dika. Mana? Kalian punya nomornya nggak?” tanyaku lagi. Kini dengan nada yang sedikit mendesak.
“Yaelah, modus banget sih! Ngaku aja..” kata Rangga yang lagi-lagi meledek.
“Serius deh!” sahutku meyakinkan. Rangga hanya melirik Donny.
“Ini..” kata Donny menunjukkan ponselnya. Aku tersenyum senang dan langsung mengambilnya. Sangat jelas tertera nama Dika di dalamnya. Dengan cepat aku menyalin nomor itu ke dalam ponsel milikku.

“Hai Dika..”
Itulah yang ku kirim pada nomor Dika yang aku minta dari Donny. Aku tersenyum sambil menggenggam erat ponselku. Tanganku berkeringat dingin saat ini. “Tuhan, semoga dia membalas..” batinku.

“Siapa?”
“Aaaaa!! Dia membalas! Dia membalas!! Terima kasih Tuhan!” dengan girang aku langsung membalas pesan singkat itu.
“Shania..”
“Oh Neng Nia? Tahu nomorku dari mana, Neng?”
“Aduh! Aku harus menjawab apa? Mana mungkin aku mengatakan bahwa aku mengambilnya dari Donny? Bisa-bisa dia berpikir kalau aku sengaja minta nomornya karena aku suka padanya. Eh, tapi memang aku suka dia kan?” aku kini bingung untuk membalas apa. Aku terus saja menggerutu.

“Dari kemasan teh. Yang digosok-gosok itu loh.. hehe..”
“Ya ampun! Sungguh nggak masuk akal. Sungguh bodoh kau Nia!! Mana mungkin Dika akan percaya?” batinku mengutuki kebodohanku sendiri.
“Oh ya? Haha. Lagi apa, Neng?”
“Hah? Dia percaya? Masa sih dia bisa percaya begitu saya? Apa dia terlalu polos? Nggak mungkin. Tapi sudahlah, yang penting dia tak mempertanyakan dari mana aku mendapat nomornya. Mungkin dia mengerti perasaanku..” ucapku tak percaya.

Aku membalas pesannya lagi. Malam ini sungguh membuatku sangat bahagia. Aku tak menyesal tidur larut malam hanya untuk membalas semua SMS dari Dika. “Oh Dika.. sepertinya aku jatuh cinta padamu..” gumamku sambil tersenyum sendiri.

Siang hari ini kelas sangat ramai, karena jam pelajaran terakhir kosong. Seperti biasa, yang dilakukan oleh teman-teman perempuanku saat jam kosong adalah ngegosip.

“Ciee, yang lagi deket sama Dika..” kata salah seorang temanku tiba-tiba.
“Hah? Kamu tahu dari mana?” tanyaku. Sontak teman-teman yang belum tahu berita ini pun terlihat sangat penasaran.
“Kamu deket sama Dika?” tanya temanku yang lainnya.
“Nggak terlalu deket sih. Cuma temen SMS-an aja,” jawabku tersenyum malu.
“Tapi tadi aku lihat SMS-nya so sweet gitu?” kata temanku yang tadi.
“Ciee..” semuanya bersorak.

Sungguh membuat aku tersenyum sendiri. Aku malu tapi entah mengapa aku merasa senang.

“Tapi Dika kan udah punya pacar?” ujar temanku tiba-tiba. Seketika senyumanku luntur.
“Siapa?” tanyaku yang kini ikut penasaran.
“Itu loh, teman sekelasnya. Kak Ika..” kata teman-temanku. Kini aku menunduk.
“Jadi Dika sudah punya pacar? Kenapa aku nggak pernah tahu? Aku pikir nggak ada yang suka pada Dika selain aku..” batinku miris.
“Jangan bikin Nia galau dong..” kata salah satu teman membelaku.
“Tapi beneran deh. Beberapa hari yang lalu pas lagi latihan upacara, aku lihat pak Edo, Ayahnya Dika panggil kak Ika itu calon menantunya,” cetus temanku lagi.

Aku semakin menunduk sedih. Memang, Ayah Dika adalah salah satu guru di sekolahku.

“Tapi katanya Kak Ika sama Dika udah putus..” kata temanku yang tiba-tiba datang. Sepertinya dari tadi dia mendengarkan pembicaraan kami. Aku langsung mengangkat pandanganku saat mendengar berita itu.
“Hah? Serius?” tanya yang lainnya.
“Iya. Soalnya kemarin aku lihat Kak Ika jalan sama cowok lain,” katanya menjelaskan. Aku sedikit bernapas lega.
“Tuhan.. aku harap itu benar,” batinku seraya tersenyum simpul.

***

“Shania.. Udah punya pacar belum?”

Aku terdiam sejenak membaca pesan singkat dari Dika. Aku harus menjawab apa? Rasanya kali ini aku benar-benar bingung.

“Pacar? Nggak ada. Aku belum punya.. kenapa?”
“Nggak kok. Cuma nanya..”
“Aku pikir Dika mau nembak aku! Aduh! Ngarep banget sih?!” gerutuku sambil mengumpat sendiri.
“Katanya kamu suka sama aku ya?”

Jantungku rasanya langsung bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya saat membaca pesan singkat dari Dika ini. Dari mana dia tahu kalau aku menyukainya? Ah! Memalukan sekali.

“Kalau aku suka sama kamu, memangnya kenapa?”

Aku memilih jujur saja. Daripada dipendam seperti itu akan semakin menyakitkan bukan? Walaupun aku harus menanggung malu.

“Nggak apa-apa. Jadi bener kamu suka sama aku?”
“Kenapa sih dia masih bertanya?! Ini juga aku udah jujur. Udah ketahuan juga, masih aja nanya! Dasar cowok!” lagi-lagi aku menggerutu.
“Iya..”

Aku memejamkan mata. Aku takut saat dia tahu aku menyukainya, dia tak akan membalas pesanku lagi.

“Kalau kamu mau, kita pacaran saja..”

Aku melongo saat menerima pesan singkat itu. “Apa? Dika mau aku jadi pacarnya? Benarkah ini? Ya Tuhan.. cintaku terbalaskan..” gumamku.
“Serius? Tapi katanya kamu udah punya pacar ya?”
“Memang aku udah punya pacar. Tapi kita jalani aja..”

Jadi benar dia sudah punya pacar? Dan aku akan menjadi selingkuhannya? Aku tidak mau! Tapi, aku mencintainya Tuhan, aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Aku sungguh bingung.

“Kenapa tidak dibalas? Kamu nggak mau jadi pacarku ya?”
Oh iya, aku terlalu sibuk memikirkan ini. Jadi aku tidak sempat membalas pesan singkat dari Dika.
“Ya sudah. Kita jalani saja..”
Semoga ini tak berujung menyakitkan.

***

“Dika.. kita bikin lagu, yuk! Aku bikin liriknya, nanti kita bikin melodinya sama-sama..”

Aku tersenyum saat mengirim pesan singkat itu. Aku ingin sekali suatu saat nanti mempunyai lagu hasil ciptaanku sendiri dengan kekasihku.

“Oke. Sekarang kamu bikin liriknya ya..”
“Okey!”

Aku tersenyum kembali. Ku coba merangkai kata-kata untuk mengungkapkan isi hatiku pada sebuah lirik lagu, mengungkapkan rasaku pada Dika, mengungkapkan betapa bahagianya aku bersamanya dan mengungkapkan jika betapa sakitnya aku saat melihat Dika bersama kekasihnya.

“Dika, kamu sayang aku?”
“Sayang dong.. sayang banget..”
“Kalau disuruh memilih, kamu pilih aku atau pacar kamu?”

Aku menunggu dia membalas pesan singkatku. Tapi sepertinya dia tak akan pernah memilihku.
“Aku tak bisa memilih..”
Sudah kuduga. Kau tak akan pernah memilihku.

Entah mengapa sejak berpacaran dengan Dika aku menjadi seorang yang pendiam. Kini aku lebih suka membalas pesan singkat dari Dika daripada berkumpul bersama dengan teman-temanku.

“Nia, kamu masih dekat dengan Dika?” tanya temanku tiba-tiba.
“Memangnya kenapa?” aku berbalik bertanya.
“Beberapa hari yang lalu aku lihat dia jalan sama Mbak Devy. Kayaknya mereka pacaran deh,” jawabnya yang seketika membuat dadaku terasa sesak.
“Oh gitu ya?” sahutku lemas. Aku menghela napas dalam.
“Tuhan.. ini menyakitkan. Aku ingin menyerah tapi cinta ini selalu memaksa aku untuk bertahan..”

Hari ini sama sekali tak ada kabar dari Dika. Biasanya dia selalu mengirimkan pesan singkat tapi kenapa hari ini dia seperti menghilang? Apa dia sedang bersama pacarnya? Inilah yang paling aku takutkan. Takut jika Dika tak peduli lagi padaku, takut jika Dika lebih mementingkan pacarnya daripada aku dan takut jika Dika meninggalkanku saat aku sangat menyayanginya.

Sampai malam ini dia belum menghubungiku. Aku sengaja mengurung diri di kamar dan sejak pagi aku belum makan. Entah mengapa asanya hati ini sakit saat Dika tak mempedulikan aku. Dia benar-benar melupakan aku hari ini.

“Sayang.. maaf ya aku baru sms..”

Akhirnya pesan singkat dari Dika pun datang. Tapi entah mengapa kini aku tak begitu bersemangat seperti biasanya. Aku terlalu kecewa padanya. Haruskah aku membalas pesan ini?

“Cukup tahu aja. Aku cuma selingkuhanmu. Jadi nggak terlalu penting bukan?”
“Kamu kok gitu sih? Jangan bicara seperti itu ah..”
“Sudahlah!”
“Ya udah. Selamat malam..”

Aku tak lagi membalas pesan singkat terakhirnya. Jujur saja, tadi itu adalah pernyataan yang sungguh menyakiti diriku sendiri. Entah mengapa hati ini sangat terasa sakit. Aku ingin sekali menangis namun air mata ini enggan untuk menetes. Sial! Kini kepalaku terasa sangat sakit. Sakitnya terasa sangat menusuk. Hatiku sudah terasa sesak, mengapa kini ditambah dengan kepalaku yang serasa ingin pecah? Aku merasa tak berdaya sekarang.

“Jadi kamu pacaran sama Dika?” tanya temanku dengan ekspresi kaget. Aku melirik temanku itu dan mengangguk lemah. Akhir-akhir ini aku memang merasa tubuhku tak begitu bersemangat. Aku merasa sangat lemah.
“Tapi Dika juga kan pacaran sama Mbak Devy?” kata temanku lagi.
“Aku tahu,” jawabku masih dengan wajah tak bersemangat.
“Jadi sebebnarnya kamu yang diselingkuhi atau selingkuhannya Dika?” tanya temanku yang lainnya.

Sungguh pertanyaan itu membuatku serasa ingin menghilang dari dunia ini.

“Aku juga nggak tahu,” ucapku semakin tertunduk lesu.
“Kamu putusin Dika aja,” cetus temanku itu. Aku menatapnya dan sedikit berpikir.
“Aku nggak tahu..” lagi-lagi aku menjawab dengan frustasi. Jujur, aku sangat bingung. Aku terluka karena hubungan ini, tapi aku tak mau melepaskan Dika.

Sudah hampir 5 hari aku menjalani hubungan ini dengan Dika. Ini sungguh sangat menyakitkan untukku. Namun Dika selalu bisa meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kalau ketemu aku jangan cemberut dong. Masa ketemu sama pacarnya nggak senyum? Senyum yang manis ya..”

Aku tersenyum simpul saat mendapat pesan singkat darinya. Memang setiap aku bertemu dengan Dika aku tak pernah tersenyum. Aku tak tahu mengapa sejak aku berpacaran dengannya, senyumku yang dulu hadir karenanya kini seakan menghilang. Aku takut jika semua orang tahu tentang hubungan kami. Aku takut, takut jika pacar Dika tahu.

Bel pulang sekolah telah terdengar. Dengan senangnya aku dan teman-temanku pulang bersamaan. Saat itu juga aku melihat Dika sedang mengobrol dengan teman-temannya di depan kelas. Aku meliriknya dan saat itu juga dia sedang menatapku. Aku sungguh enggan untuk menatapnya sehingga aku memalingkan pandanganku. Teman-temanku yang melihat Dika pun langsung bersorak meledek. Aku dengan paniknya meminta mereka untuk berhenti bersorak, karena aku takut pacarnya akan tahu. Ini sungguh sangat menyiksa.

Aku sedang berada di suatu warung di depan sekolah untuk menunggu mobil angkutan umum. Seperti biasanya aku dan teman-temanku menunggu sambil membicarakan berbagai hal.

“Eh, itu Dika sama Mbak Devy!” bisik temanku.

Aku enggan untuk berbalik dan melihat semua itu! Aku tak mau lihat! Itu menyakitkan! Aku mencoba melihat Dika lewat kaca etalase yang kini ada di hadapanku. Aku bisa melihat jelas senyum gadis itu, senyumnya yang hadir karena kekasihnya yang juga kekasihku. Kenapa dia bukan aku? Kenapa bukan aku saja yang tersenyum di hadapan Dika? Kenapa harus aku yang menanggung semua sakit hati ini? Aku juga ingin berada dan tersenyum di dekat Dika.

Aku mau tersenyum karenanya. Aku tak mau jadi gadis di balik layar, aku mau jadi pemeran utamanya, aku juga ingin bahagia dalam kisah ini. Terasa sangat menyakitkan hati ini. Aku ingin menangis, aku ingin menangis, Tuhan.. ini sangat menyakitkan. Tapi mengapa air mata ini lagi-lagi tak mau keluar? Kenapa yang aku rasakan hanya sakit yang menusuk kepalaku? Air mata, kumohon keluarlah.

Setelah pulang sekolah aku langsung mengurung diri di kamar. Aku termenung dengan pikiranku yang melayang pada Dika. Aku sulit untuk makan, minum dan semuanya. Aku hanya bisa terdiam, meresapi tiap sakit yang menghujam hatiku. Aku ingin menangis tapi mengapa malah kepala ini yang terasa seperti akan pecah?

Dika, mengapa aku sangat mencintai sosok pria ini? Mengapa aku mau saja dijadikan selingkuhannya? Mengapa? Aku ingin sekali menyudahi semua ini. Aku ingin terlepas dari rasa sakit ini dan keluar dari cerita rumit ini. Tapi, aku tak bisa. Aku terlalu mencintai Dika, aku tak bisa melepaskannya begitu saja, aku tak bisa menghapusnya dari dalam pikiran dan hatiku.

“Aku tunggu kamu di taman nanti setelah bel istirahat..”

Baru saja ku aktifkan ponselku, sudah ada pesan dari Dika. Aku menghela napas lalu beranjak dari dudukku.

“Mau kemana?” tanya temanku.
“Mau keluar sebentar,” jawabku langsung bergegas menemui Dika.

Kini aku mengendap-endap mencari Dika. Jujur, aku sangat takut jika seseorang melihatku sedang bertemu dengan Dika secara sembunyi-sembunyi.

“Hai,” kata Dika yang langsung menemuiku.
“Jangan terlalu kencang bicaranya,” ucapku.
“Memangnya kenapa?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.
“Mana lirik lagunya?” Dika menengadahkan tangannya.
“Belum selesai,” jawabku singkat.
“Kok belum sih?” tanyanya lagi.
“Ya, kan harus dipikirin matang-matang, biar hasilnya bagus,” aku menatap Dika. Terlihat dia hanya mengangguk saja.

Kini hening, tak ada lagi pembicaraan.

“Dika, aku takut,” ucapku yang kini mulai ingin mengungkapkan semuanya.
“Takut kenapa?” Dika menatapku bingung.
“Takut digorok sama Mbak Devy,” ucapku lirih sambil balas menatap Dika.
“Nggak mungkinlah, kok pikirannya gitu banget, sih?” Dika hanya tersenyum tipis.
“Semua akan baik-baik saja,” lanjut Dika. Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil mengangguk. Tapi jujur, aku ragu dengan kata-kata itu.

Aku tak bisa terus begini. Aku harus mengakhiri semuanya. Kini aku mulai memikirkan bagaimana perasaan kekasih Dika bila ia tahu Dika berpacaran denganku. Itu pasti sangat menyakitkan baginya. Aku bisa merasakan itu. Aku menghela napas dalam. Inilah keputusanku, mengakhiri semua ini. Kutahu aku pasti akan sangat terluka. Tapi aku harap setelah aku melakukan semua ini, aku akan merasa lega.

“Dika, sebaiknya kamu jujur saja pada kekasihmu kalau kita menjalin hubungan di belakangnya. Aku takut jika dia tahu dari orang lain. Dia akan terluka. Lebih baik dia mengetahuinya langsung darimu..”

Kukirimkan pesan itu pada Dika, berharap dia bisa berbicara pada kekasihnya dan menjelaskan semuanya. Aku pasti bisa, bisa menerima semua keputusan dari Dika. Entah itu yang terbaik atau sebaliknya. Cukup lama aku menunggu balasan darinya. Apakah sekarang dia sedang berbicara pada kekasihnya? Aku harap begitu.

“Shania..”
“Iya?”
“Sepertinya kita harus putus..”

Pesan singkat darinya itu membuatku terdiam sejenak. Kucoba meresapi setiap kata yang aku baca di layar ponselku. Ternyata Dika lebih memilih kekasihnya, bukan aku. Lebih menyakitkannya lagi, dia lebih mencintai kekasihnya daripada aku.

“Ya sudah, tak apa-apa.”

Sekuat tenaga kutahan sesak ini. Kutahan sakit yang menjalar di kepalaku, agar tubuhku tak tumbang saat ini juga. Aku ingin menangis, sangat ingin menangis. Namun lagi-lagi air mata itu enggan untuk menetes. Kini kepalaku terasa sangat sakit. Kucoba membenturkannya pada tembok namun tetap saja tak berhasil mengurangi rasa sakitnya.

“Maaf..” Itulah pesan terakhir yang kubaca darinya. Tuhan, ini memang sakit. Tapi aku harus melepaskannya dan melupakan semua tentang dia.

Hari ini adalah hari yang penting bagiku, yaitu hari di mana kenaikan kelasku dirayakan. Aku sedang bersenda gurau bersama teman-temanku saat kami tengah berkumpul sambil menonton sebuah pagelaran musik. Terlihat di sana Dika dengan bandnya menjadi pengisi acara.

Aku menatapnya, menatap sosok yang pernah berarti di hidupku, sekaligus sosok yang pernah menyakiti hatiku. Kualihkan pandanganku pada sosok gadis yang tengah merekam aksi panggung Dika. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya? Sepertinya mereka langgeng dan aku harap Dika bisa lebih bahagia.

Kini aku tersenyum miris dan berpikir mengapa aku bisa menjadi seorang yang jahat, karena sudah hadir di antara dua insan yang saling mencintai? Itu adalah perbuatan yang sangat bodoh. Ya, karena kebodohan itu juga aku jadi terluka. Tapi kini aku sadar mengapa dulu air mataku enggan untuk menetes. Mungkin air mataku mengerti bahwa aku tak pantas menangisi kebodohanku sendiri.

Tiga tahun telah berlalu. Aku tak pernah melihatnya lagi. Lagu yang dulu pernah kami rencanakan pun tak pernah tercipta. Memang lirik lagu itu ada, namun enggan untuk aku ungkit kembali. Biarlah menjadi pembelajaran untuk hidupku ke depannya.

The End.

Cerpen Karangan: Jesica Ade Natalia
Facebook: https://www.facebook.com/muhammadilham.fauzieffendi.351
Hai! Aku Jesica, sering di sapa Icha.
Berteman dengan saya di facebook: Jesica Ade Natalia Effendi, dan twitter @JesyIlhamfever 🙂
Maaf jika cerpennya kurang memuaskan.

Cerpen Let Me Be The One merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Cinta Ku

Oleh:
Aku termenung duduk sambil mengenang kejadian beberapa bulan lalu saat dia merayuku, saat dia tersenyum penuh makna kepadaku, saat aku sadar telah mencintaimu. Saat itu aku dan sahabatku, Ella

Now I Hate You

Oleh:
Aku duduk di belakang, meninggalkan tempat duduk yang biasa. Karena sebuah coklat tergeletak di sana. Tak perlu kusentuh apalagi buka coklat yang dihiasi pita berwarna merah marron itu. Sudah

Kata Hati

Oleh:
Sebulan yang lalu, waktu pertama aku melihatnya. Dengan senyum manis yang selalu terpancar itu, aku terpesona. Sungguh, aku tahu ini salah. Dia yang menyukai Fita sahabatku. Aku tau? Tentu

Ketika Cinta Harus Move On

Oleh:
“Sya, sebenarnya aku… aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu!!!” DEGGG seketika aku terkaget mendengar perkataannya. jantungku pun mulai berdetak tak karuan. Lucaz, cowok yang selama ini dekat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *