Love In Heart (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 18 January 2016

“Tak ku bayangkan, ternyata akan begini ceritanya.”
“Eh.. cerita apa Naoki-kun?” Timpal gadis pirang itu kepada sahabatnya yang sedari tadi tampak sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
Kedatangannya berhasil membuat laki-laki berkacamata itu tergagap dan salah tingkah, ternyata dia benar-benar hanyut dalam pikirannya sehingga tak menyadari kedatangan Shiyemi gadis pirang itu.

“Ahh.. anoou se-sejak kapan Shiyemi-chan di sini? Seperti hantu saja.” Ujar Naoki dengan diiringi tawa palsu yang garing dia berusaha mengendalikan kegugupannya.
Shiyemi tidak berkomentar kali ini dia berusaha menggali kebenaran dari mata Naoki yang terang di balik kacamata tebalnya.
“Doushite.. Shiyemi-chan? Apa ada sesuatu di wajahku sehingga kau menatapku begitu.”
“Tidak ada! Aku hanya mencoba mencari kebenaran dari mata birumu itu, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku! Jawablah dengan jujur Naoki-kun!”

Kini Shiyemi benar-benar ingin tahu tentang sesuatu yang belakangan ini membuat Naoki aneh dan sering menjauh darinya.
“Maaf Shiyemi-chan.. aku membuatmu terganggu.” balas Naoki dengan wajah tertunduk.
“A-apa Naoki-kun tidak ingin berbagi denganku? Siapa tahu aku bisa menolongmu menyelesaikan masalahmu itu!”
Timpal Shiyemi sambil meraih dagu Naoki dan menatapnya dengan tatapan meyakinkan.

“Shiyemi-chan.” Naoki memeluk Shiyemi dengan rapuh seolah sedang mengadukan isi hatinya.
“Na-Naoki..kun.” Shiyemi begitu terkejut baru kali ini Naoki benar-benar memeluknya biasanya selama ini Naoki begitu pemalu dan kikuk kalau dipeluk oleh Shiyemi biasanya dia meronta-ronta sambil berteriak, “heii.. Shiyemi lepaskan aku.. Dasar pirang!!” Ada getaran aneh melintas di hati Shiyemi, imajinasinya semakin terasa nyata tapi Shiyemi buru-buru menepisnya dan memperkuat hatinya untuk memaksa Naoki menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.

“Ne!! Naoki! Kau ini kenapa?” Teriak Shiyemi sambil melepaskan diri dari pelukan Naoki, tetapi Naoki kembali memeluknya bahkan lebih erat.

“Shiyemi-chan.. ku harap kau tak marah padaku kalau ku katakan ini.” Naoki berusaha memberanikan dirinya.
“Baik.. Katakanlah!” Shiyemi kini membalas memeluk Naoki dia tidak bisa membohongi dirinya kalaù sebenarnya dia sangat suka dipeluk oleh Naoki.
“A-aku.. melanggar janji kita! Aku pacaran dengan seseorang tapi ini ada alasanya.”

Langit runtuh tepat di atas kepala Shiyemi, itulah yang dirasakan Shiyemi, walau sebenarnya mereka hanya bersahabat dari kecil, tapi tentu saja benih cinta tak bisa dihindarkan walaupun tak pernah terucap. Selama ini Shiyemi membuat janji dengan Naoki, perjanjian yang terkesan tantangan, yaitu berjanji untuk tidak suka satu sama lain dan tidak berpacaran dengan orang lain. Shiyemi membuatnya hanya untuk menahan Naoki agar tidak dimiliki oleh orang lain selain dirinya.

“Naoki-kun! Kau.” Shiyemi ingin sekali menangis dan memukul Naoki tetapi dengan posisi berpelukan ini sangat susah.
“Aku memelukmu agar kau tak lari dan memukulku Shiyemi.” Shiyemi kembali tersadar, ternyata Naoki memang tak pernah mencintainya, memeluknya saja butuh alasan yang kuat. Shiyemi berusaha menegarkan diri dan perasaan agar gemuruh yang berkecamuk di hatinya tidak diketahui oleh Naoki.
“Aku akan menjelaskannya agar kau tidak memberiku hukuman yang berat karena melanggar jaji itu jadi… begini cerita hari itu…”

HOSPITAL IBNU SINA
Kamar 28.01 lantai 5.
Setelah mendapat telepon dari ibunya, Naoki merasa begitu sesak di dadanya dia langsung berlari menuju kamar tempat dia dirawat, Naoki tidak peduli kacamatanya terjatuh dan terinjak-injak oleh orang lain dia hanya ingin cepat sampai di lantai 5. Sesampainya di depan pintu kamar 28.01 itu Naoki mengatur napasnya yang tercekal akibat berlari dan membuka pintu.

“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Iriye.. Naokinya sudah datang.”
“Iriye.. ini aku.”

Sudah satu bulan lebih Iriye dirawat di ruangan putih ini, sejak diketahui dia sakit kanker stadium akhir segala kegiatannya di London pun terpaksa ia tinggalkan dan pulang ke Indonesia untuk dirawat. Hatiku terasa remuk redam melihat keadaannya yang semakin hari kian parah tubuhnya hanya tinggal kulit pembalut tulang rambutnya seakan ditarik oleh bantal sehingga sudah tipis karena rontok, “kenapa harus seperti ini keadaan Iriye kenapa harus dia? Kenapa saudara kembarku yang menderita seperti ini?”

“Nao-kun.. kau sudah datang?”
“…”
“Heii! Kau menangis? Haha dasar cengeng! Lemah!”
“Kau yang lemah! Kenapa kau sakit? Kalau kau kuat kau tak akan terbaring lemah di sini.. hiksss.”
“ini sudah takdirku Naoki-kun.”
“Kau harus sembuh Iriye! Kau pasti bisa!”

Air mata Naoki tidak bisa dibendungi lagi.
“Naoki.. Kau adalah saudaraku.. sebelum semua terlambat.. aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini untuk terakhir kalinya.”
“Jangan bodohh! Kau! Haruss sembuh!”
“Naoki-kun.. Dengarkan aku dulu.”
“Kak Iriye… hiks hikss.. Tak bisakah kita bermain guli seperti dulu lagi tak harus berpisah.”
“Ukhuk.. ukhukk, uhuk nao.. aku tak bisa hidup lebih lama lagi .. jadi aku ingin kau membantuku untuk terakhir kali.”

Tepat setelah dia mengatakan keinginan terakhirnya pukul 00:15 wib jumat 28 januari hujan turun seakan turut sedih akan kepergian Iriye yang pergi untuk selamanya. Kini aku sudah di london seperti yang diminta Iriye dia ingin aku menjadi dirinya untuk pacarnya Sherin.

“Kau gila Iriye! Aku tidak.. ahh dia itu kan pacarmu! Aku tidak mau!”
“Hanya kau yang bisa menjadi diriku.. di hadapannya kita punya wajah yang sama nao.”
“Tapi dia mencintai hatimu Iriye!”
“Aku tidak peduli.. aku hanya ingin Sherin tidak merasa kehilangan diriku karena kau ada untuknya..”
“Iriye…”
“Bisa kan dik?” Bagaimana bisa ku menolak permintaan saudaraku dengan keadaan miris seperti itu.

Pagi ini aku tiba di depan apartemen Sherin, aku sudah sedikit banyak tahu tentangnya dari buku harian Iriye.

“Ting, Tong..”
“Iya siapa?”
“A-a-ku! Iriye.”
“Haaahh? Tunggu ku bukakan… kyaaa!”
Sherin langsung meloncat memelukku aku tak tahu harus berbuat apa sepertinya penyamaranku akan berakhir hari ini juga.

“Heii! Are you oke beib? What happen to you? Why just keep silent?”
“Ahh yes sure! I Am oke! But just tired from Indonesia.”
“ahh yess you are right! Umm come on! You sit down and relex with me in my room.”
“O-oke great! Hehe.”
Iriye bagaimana ini aku takut Sherin akan terluka karena aku tidak bisa bermain seperti ini lebih lama lagi, andai kau ada.

“Iriyee.”
“Ahh ya?”
“Semenjak kau pulang ke Indonesia kau jadi seperti orang lain.”
“Ahh tidak sayang.. aku tetap diriku.. kau tahu aku sangat merindukanmu selama kita berpisah.”
“Haha gomball! Hihi ini baru Iriyeku.”
Astaga! Dari mana kata-kata itu ke luar? Jelas itu bukan diriku! Apa Iriye sedang merasukiku?

“Iriye? Kenapa kau pendiam sekarang? Ayo ceritakan pengalamanmu selama di indonesia.”
“ahh apa? Hehe maaf sayang kepalaku pusing aku tidak mood bicara saat ini.”
“oh, ya sudah sini aku peluk! Biar hilang sakit kepalanya.”
Ya Tuhan! Aku tak pantas mendapat pelukan dari gadis yang dicintai Iriye tapi bagaimana aku menolaknya.

“Iriye kau tahu kan aku mencintaimu?”
“Unn..tentu saja Sherin.. aku..”
“Lalu kenapa! Kenapa kau selingkuh? Aku tahu kau pasti punya wanita lain sehingga kau berubah! Kau bukan Iriyeku yang dulu, hikss.”
“Sherinn! Kau tidak boleh meragukan cinta Iriye kau tahu! Iriye itu sangat mencintaimuu.. kau.”
“Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya? Kau bukan Iriye!”
“Ternyata kau begitu mengenal Kakakku Iriye sehingga kau tahu bahwa aku bukan Iriye sebenarnya.”
“Kau Naoki? Lalu.. Di mana Iriye?”

Setelah ke indonesia untuk menjenguk makam Iriye, Sherin jatuh sakit dan aku harus merawatnya.

“Hiks.. hikss.. Iriye.. kau membawa separuh jiwaku bersamamu.”
“Sherin Iriye pasti sedih melihatmu seperti ini.”
“Naoki, kenapa kau masih di sini? Jangan kau kasihani orang sepertiku.”
“Iriye menyuruhku menjagamu.”
“Iriye.. hiks hiks..”
“Jangan menangis lagi Sherin! Dia ingin kau bahagia!”
“Aku tak punya siapa-siapa di sini selain Iriye.”
“Sekarang.. kau punya aku! Di sisimu!”
Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata seperti itu secara spontan dia terlontar dari mulutku tapi ini tidak sepenuhnya aku pasti Iriye sedang membantuku.

Setelah ku ucapkan kata-kata aneh itu ku lihat gurat cerah dari wajah Sherin yang jelita matanya yang semula diselimuti kabut kini kembali terang dan ceria dia seperti menemukan kebahagiaan kembali lalu bagaimana diriku? Aku tidak ingin menyakiti Sherin tapi aku lebih tak ingin melihat dia sedih lagi karena kehilangan Iriye di sisi lain aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri bahwa sebenarnya aku sudah memiliki orang yang ku sukai dan itu bukan Sherin. Tapi kini sudah terlambat untuk mengatakannya Sherin sudah terlanjur menganggapku mencintainya. Setelah Sherin sembuh aku kembali ke Indonesia dan Sherin berjanji akan menyusulku setelah ujian akhir selesai.

Dan sekarang di sinilah aku di bawah pohon bersama sahabatku Shiyemi dan aku merasa bersalah padanya karena melanggar janjiku yang kami buat bersama dan aku takut Shiyemi melakukan pelanggaran juga karena sejak dulu aku sudah menyukainya. Shiyemi merasa sangat bersalah dia mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat janji konyol itu dan akhirnya menjadikan Naoki terbebani karenanya. Dia merasa sedih dengan cinta Iriye, Sherin, dan Naoki. “Maafkan aku Naoki sudah menyusahkanmu sekarang aku akan melepasmu melepaskan cintaku selama ini demi kebahagiaanmu bersama Sherin.”

“Jadi begitulah ku harap…”
“Hahaha Naoki-kun kau masih ingat janji konyol itu? Ya sudah kau tidak usah merasa bersalah aku saja sudah pacaran selama 2 tahun apa kau tak tahu? Hahaha,” Ha? 2 tahun kenapa aku tidak pernah tahu? Jadi untuk apa aku menyimpan rasa selama ini.. Kalau dia saja.. kalau dia saja.. ohh Tuhan aku memang bodoh! Aku kecewa.. Tidak! Tapi aku hampir gila mendengarnya sebaiknya aku pergi.

“Eh Naoki-kun mau ke mana?”
“Bukan urusanmu!”
“Ha? Apa?”
Apakah ini akhir dari persahabatan?

Naoki berjalan dengan rasa sakit yang mendalam di hatinya dan akhirnya ketika menyeberangi jalan raya..

“Titt awasss!”

Cittttt!! BRUAKK!!

Kak Iriye? Apa itu kau? Iriye?

Bersambung

Cerpen Karangan: Sheriyu
Facebook: Inazuma Mizumi

Cerpen Love In Heart (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lupa Cara Menangis (Part 1)

Oleh:
Terlalu sering aku merasakan rasa sakit. Rasa sakit itu akan merasakan apa yang tidak aku rasakan saat sakit. Terlalu sering aku bersedih namun aku lupa caranya menangis. Aku tidak

My Best Friend Steal My Love (Part 2)

Oleh:
“Kamu masih inget Chan kan?” tanyaku. “Ya… kenapa emang?” tanyanya. “Apa kamu masih sayang dia?” tanyaku. “Sedikit” katanya. “Aku perlu bantuanmu! kataku. “Bantuan? Apa?” tanyaku. “Sekarang, aku ingin menghancurkan

Partner Senja (Part 1)

Oleh:
Angin sore itu lembut menyapanya, Ia menikmati suasana sore yang begitu romansa dalam indera penglihatannya. Ia selalu jatuh cinta pada suasana sore hari, saat mentari yang lelah bergelayut manja

Wening Memang Bukan Suci

Oleh:
Biarlah malam ini Aku menyendiri, nampaknya Dewi Malam tak lagi mau menemaniku seperti hari-hari kemarin. Atau mungkin Sang Rembulan itu juga sedang dirundung kegalauan seperti yang ku rasakan saat

Di Antara Dua Cinta (Part 1)

Oleh:
Tak terasa sore menjelma senja, sajikan panorama langit berwarna jingga, bersambut semilir angin yang mulai menggetarkan bulu rona. Nuansa hari ini sangat jernih sama seperti kemarin sobat, senyum dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love In Heart (Part 1)”

  1. Yumi nato says:

    Wahh bguss! Kpn part 2 nya dibuat? Penasaran nihh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *