Love Is Never Felt

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 January 2016

“Dit, kamu inget kan di tempat ini kita jadian? Sekarang di tempat ini juga aku minta putus dari kamu Dit, Dit aku cewek biasa aku punya perasaan sekuatnya seorang perempuan dia punya titik dimana dia sudah harus melepaskan apa yang ternyata semakin membuatnya sakit. Dit aku udah coba untuk mempertahankan semua tapi semua percuma kalau aku hanya berjuang sendirian. Berjuang sendirian itu sakit Dit, sangat teramat sakit.”

Tiba-tiba teringat kalimat itu, ya kalimat dimana seseorang wanita yang dulu mengisi hati gue dan mewarnai hari-hari gue terpaksa harus pergi karena semua ulah dan sikap gue kepada dia. Kebodohan itu gue lakuin pada seorang cewek yang nyatanya sangat mencintai gue, sangat mengerti gue dan sangat membanggakan gue, tapi apa daya gue yang berengsek ini malah menyakiti dan menyia-nyiakan dia.

“Jagalah wanitamu sebelum pria lain menjaganya. Jangan membuatnya dia menangis karenamu karena di luar sana ada ribuan pria yang bisa saja menghapuskan air mata yang ia jatuhkan karenamu.”

Benar saja saat ini gue dapati sebuah penyesalan yang mendalam karena kebodohan gue di masa lalu. Devina sudah menemani gue selama 5 tahun, dia wanita terkuat yang pernah gue kenal, wanita yang selalu mensupport gue dalam keadaan apa pun dan wanita yang setia menemani gue. Devina selalu berkata jujur dan tidak pernah melakukan hal yang aneh seperti meladeni cowok-cowok yang seakan tebar pesona untuk menggodanya. Dia pun selalu membanggakan gue di hadapan keluarga dan temannya. Tapi tidak begitu dengan gue yang sangat acuh kepadanya.

“Dit, aku mau tanya ke kamu.”
“Apa?”
“Kalau cowok kayak gini gimana?” Sambil menunjukan foto salah satu teman laki-lakinya di bbm yang memasang display picture bersama dengan kekasih wanitanya.
“Lebay banget.”
“Kok lebay sih? tahu gak kalau cowok kayak gini tuh malah dia menunjukkan kalau dia itu punya orang lain dan dia bangga sama ceweknya.”
“Kamu nyindir aku? Karena aku gak pernah pasang Display Picture sama kamu? Jadi kamu anggap aku gak akuin kamu? Lo berlebihan tahu gak sih!”
“Bu..kaaaan itu maksud aku Dit, maaf ya aku enggak bermaksud.”

Terkesan sangat amat kasar kata-kata gue kepada Devina saat itu, gue tahu di hatinya pasti menangis meski ia terlihat biasa saja dan malah meminta maaf pada gue yang sudah menuduhnya. Dulu Devina selalu check in path dimana kita berada bersama dan membuat caption yang seakan ia bahagia bisa menghabiskan waktu dengan gue, atau sekedar memberikan ucapan Anniversary di beberapa sosial media yang ia miliki dengan caption yang baru gue sadari saat ini mengandung banyak harapan dari dirinya untuk hubungan kami dulu. Pernah beberapa kali kami memiliki masalah karena masa lalu Devina, mantan kekasihnya mencoba untuk menghubungi dia kembali dan lagi-lagi gue bersikap kekanak-kanakan.

“Jadi lo deket sama mantan lo lagi? Hebat yah hebat mana omongan lo gak akan selingkuh buls*it!”
“Dengerin dulu penjelasan aku Dit, aku sama sekali gak ngegubris dia Dit. Aku berani sumpah!”
“Makan semua sumpah lo!”

Itu merupakan awal dimana gue mulai jenuh tanpa alasan kepada Devina, gue pun sama sekali tidak mendengarkan semua penjelasan gue bagi gue itu hanya sebuah pembelaannya semata untuk menutupi semua kesalahannya. Beberapa bulan berjalan, hubungan gue dan Devina makin merenggang, sampai akhirnya gue dikenalin sama cewek bernama Aurel ya anak satu fakultas yang sama dengan gue tapi kita beda kelas, karena gue memiliki sahabat di kelasnya maka sahabat gue mencoba untuk mengenalkan gue dengan Aurel. Kehadiran Aurel memang benar-benar membuat hari-hari gue jadi semangat lagi setelah kejenuhan gue rasakan pada hubungan gue dengan Devina.

“Dit, kamu kan masih pacaran sama Devina. Jadi kapan kamu mau putusin dia?”
Aurel terus menerus menanyakan hal itu karena hubungan kami yang sudah terlampau jauh di belakang Devina. Namun gue belum bisa memutuskan bersama Aurel dan pergi meninggalkan Devina saat itu. Devina yang terus menerus meminta waktu untuk bertemu gue dan menjelaskan semua hal serta menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan kita akhirnya gue iyakan. Pada hari itu gue bertemu dengan Devina di salah satu cafe favorit kami dulu.

“sudah lama banget ya Dit kita gak ke sini.”
“Hmm.”
“Kamu bete yah? Maaf yah Dit,”
“Bete apaan sih, gak jelas tahu gak sih.”
“Dit, maaf soal…”
“Lo maaf mulu dikit-dikit maaf.” Sebelum Devina melanjutkan perkataannya gue dengan seenaknya memotong ucapan dia dengan kalimat ketus.
“Dev. Gue mau kita…”
“Kamu mau kita putus?”
“Iya Dev, aku pikir kita udah enggak ada kecocokan lagi. Apalagi saat denger kamu deket sama mantan kamu aku udah jenuh dan rasa sayang aku ke kamu udah hilang.”
“Aku gak mau kita putus Dit, aku mau kita tetep jalan Dit, aku akan menggembalikkan semua kayak dulu Dit. Aku enggak mau kita pisah sampai di sini.”
“Kita break ya biar kita bisa punya waktu untuk saling mikir. Jangan saling menghubuungi lagi kita pakai waktu kita untuk sama-sama mikir.”

Hari itu dimana hari gue berani untuk meminta break sebagai alasan agar Devina gak ganggu-ganggu gue lagi, rasanya memang risih dengan adanya dia di hari-hari gue saat itu. Gue selalu mengutamakan Aurel saat itu, seperti menjemputnya, pergi menemaninya dan beberapa hal yang disukai Aurel pun selalu gue wujudkan sampai pada suatu hari gue berani memposting gambar bersama dengan dia dengan caption. “Damn I love her.” Hal itu membuat para teman-teman gue berpikir jika hubungan gue dan Devina telah berakhir dan kini gue menjalin hubungan dengan Aurel.

“Banci lo!”
Nawa sahabat yang mengenalkan gue dan Devina menarik gue ke toilet kampus yang berada jauh dari keramaian. Nawa bersikap kasar saat menghantam gue dengan kepalan tangannya.
“Maksud lo apaan? Main hajar kayak gini!”
“Masih nanya apaan? gue kasih Devina ke lo buat lo jaga bukan buat lo mainin dan lo sakitin. Gue mati-matian bikin dia senyum seenaknya lo buat dia nangis! Ba*ingan kayak lo gak pantes buat nyakitin cewek sebaik dia!”
“Lo tanya sama itu cewek kalau dia gak mulai selingkuh gak akan gue berlaku kayak gini!”
“Haha lucu lo! Dia selingkuh! Denger gue dia malah menghindari mantannya dan dia melindungi lo karena dia khawatir mantannya berbuat nekat ke lo! Sebegitu baik sahabat gue rela lo bikin sakit? Ba*ingan emang lo! Mati-matian Devina pertahanin semua sama lo sampe dia sakit mikirin lo dan puncaknya dia lihat lo sama cewek lain? Otak lo di mana kalau lo cowok enggak mungkin lo tega sakitin cewek sebaik dia.”
“yang rela tahan sakit, yang ngertiin lo di saat lo ngehabisin waktu dan lo asyik sendiri sama dunia lo, yang seakan lo gak anggep dia sebagai pacarnya. Yang perlu lo ketahuin saat tahu lo selingkuh yang Devina katakan cuma lo pasti lagi jenuh sampai kayak gitu, lebih baik gue gak pernah kenalin sahabat gue ke lo. Kalau gue harus lihat dia malah merasa sakit kayak sekarang!”

Tamparan hebat gue dapat, bukan hanya terasa di wajah gue namun di hati gue. Setelah tahu itu semua rasanya gue mau temuin Devina dan meminta maaf atas semua kesalahan gue. Namun semua terlambat Aurel sudah menuntut gue untuk menjadi kekasihnya walau belum ada kalimat putus antara gue dan Devina namun sudah 4 bulan gue berjalan dengan Aurel. Gue pikir Aurel lebih mengerti gue dibanding Devina tapi gue salah, Devina memang yang terbaik dalam hal mengerti diri gue saat ini. Sampai akhirnya gue bertemu dengan Devina di cafe kita pertama jadian. Devina telihat sangat cantik saat ini.

“Dev, ada yang mau aku omongin.”
“Aku juga, oh iya gimana sama pacar kamu yang baru?”
“Dev, aku minta maaf sebelumnya..”
“Kamu enggak usah minta maaf gitu Dit, aku sudah maafin semua kesalahan kamu kok.” Devina masih saja bisa tersenyum saat gue tahu betapa gue menggores luka di hatinya.
“Aku sayang sama kamu Dev.”
“Dit, kamu inget gak ini tempat pertama kita jadian?”
“Iya aku inget Dev.”
“Sekarang di tempat ini juga aku minta putus dari kamu Dit, Dit aku cewek biasa aku punya perasaan sekuatnya seorang perempuan dia punya titik di mana dia sudah harus melepaskan apa yang ternyata semakin membuatnya sakit. Dit aku udah coba untuk mempertahankan semua tapi semua percuma kalau aku hanya berjuang sendirian. Berjuang sendirian itu sakit Dit, sangat teramat sakit.”
“Kasih aku kesempatan sekali lagi Dev aku Janji.”
“Maaf Dit, aku gak bisa. Karena semakin aku sama kamu semakin aku merasa sakit. Kayak memeluk duri, semakin aku mendekapnya semakin perih aku rasa. Itu yang aku rasain kalau aku pertahanin sama kamu. Dit, kita punya hidup masing-masing kok. Dit, jangan pernah kayak gini lagi ya nanti ke seseorang yang nantinya bersama dengan kamu. Jangan pernah sia-siakan seseorang yang sangat tulus sama kamu lagi ya.”

Itu kalimat terakhir yang masih saja gue ingat saat Devina meminta get off dan mengakhiri semuanya. Menyesal memang tapi gue belajar banyak dari segala penyesalan yang gue lakuin di masa lalu dulu. Sudah hampir 2 tahun setelah perpisahan kami gue masih merasa sendiri dan tidak dapat membuka hati untuk seseorang lagi. Sampai gue ketahui jika Devina sudah memiliki kekasih lain saat ini, kekasih yang sangat membanggakannya dan kekasih yang sangat mengakui dan terlihat sangat mencintainya. Sakit memang dulu gue yang berada di posisi itu sebagai lelakinya namun ada perasaan senang juga dapat melihat senyumnya kembali walau hanya melihat di beberapa gambar yang ia unggah di Instagram miliknya.

“Adit? Sendirian aja?”
Jantung gue berhenti berdetak ketika melihat sosok wanita cantik di hadapan gue, itu Devina sudah lama perpisahan kita dan hari ini kami dipertemukan di tempat di mana menjadi saksi hubungan kami dulu.
“Abis ketemu klien Dev tapi sekarang sudah selesai. Loh kamu sendirian aja?”
“Iya Dit, nunggu Tunangan aku kantornya di seberang dia janji nemuin aku selepas meeting karena kami mau meet up sama WO.”
“Kamu mau Nikah? Secepat itukah setelah berakhirnya hubungan kita Dev?”
“Adit, aku emang dulu enggak bisa move on. Tapi aku harus move on, kalau ada seseorang yang menghargai kamu dan seseorang yang menerima kamu dengan semua kekurangan kamu haruskah kamu melewatkannya? Kalau aku masih berada di dalam lingkaran masa lalu, aku akan kehilangan masa depanku Dit.”

Memang apa yang dikatakan oleh Devina benar adanya. Hargai seseorang yang memang menghargai keberadaanmu serta seseorang yang menerima kamu dengan semua kekurangan kamu tanpa membandingkanmu dengan sosok lain yang lebih indah. Karena baginya kamulah intan yang bersinar terang di antara beberapa berlian yang ada.

Gue belajar dari masa lalu, Hari ini adalah hari pernikahan Devina dan Kekasihnya, setelah pertemuan tidak terduga kami di cafe beberapa bulan lalu akhirnya gue dan Devina memutuskan untuk berteman kembali. Bahkan Devina mengundang gue untuk menghadiri pernikahannya dengan Denis yang ternyata seorang teman SMA kami dulu, jodoh itu terasa sangat unik memang. Tiba-tiba teringat saat adegan film yang pernah gue tonton di dalamnya ada kata-kata.

“Ternyata benar, jika kamu mencintai seseorang kamu harus benar-benar melepaskannya bersama orang lain. Dan mengikhlaskan dia bahagia bersama orang lain, biarkan dia tersenyum walau senyuman itu bukan berasal dari hal yang kamu berikan untuknya.”

Cerpen Karangan: Muthazia Satar
Blog: zhiazhiacil.blogspot.com

Cerpen Love Is Never Felt merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan, Mengapa?

Oleh:
Tangis ini dimulai di pagi hari yang indah. Saat pacarku Zarry dikabarkan terlibat kecelakaan mobil. Kini mobil yang ia kendarai hancur tak berbentuk, bahkan kini ia kritis. Karena ini

Sesak Terakhir Untuk Eropa

Oleh:
“Jarak sepertinya akan cukup membantu untuk fase melupakan dan menghiraukan, namun tidak terjadi padaku…” Sutra kuning serta corak motif bunga menguntai pipih pada balutan tubuh, hari ini hari terakhirku

Terlambat

Oleh:
Tanahnya belum sepenuhnya mengering, Angga yang duduk di bangku taman kampusnya sudah berdua dengan Lilia. 2 bulan lalu Ariani, istrinya baru saja meninggal. Ya mereka menikah ketika masih sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *