Love of The Past and Current (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 14 May 2015

Sore itu aku datang ke rumah Anaya, karena aku sudah berjanji padanya akan mengajak ia jalan-jalan. Anaya tersenyum manis menyambut kedatanganku. Seperti biasanya ia mengenakan T.shirt biru kesukaannya yang di padukan dengan jins yang berwarna biru juga. Hmmm… Anaya memang menyukai warna biru sejak ia kecil. Apakah ia ingat dengan hal itu?. Setelah meminta izin kepada orangtuanya, lalu aku dan Anaya segera pergi dari rumah.
“Hmmm… vespa kamu kemana?” Tanya Anaya bingung.
Wow Anaya menanyakan Vespa bututku yang sudah aku jual dua tahun yang lalu. Apa yang harus aku jelaskan padanya? Pikirku dalam hati.
“Ndra… kok kamu malah bengong?” Tanya Anaya lagi.
“Hmmm… Nay, kamu lupa yaa! Kan vespa ku sudah aku jual dan aku tukar dengan mobil ini” jawabku berbohong.
“Ohhh… gitu yaa, hmmm maaf yaa aku lupa” kata Anaya.
“Hehehehe… Enggak apa-apa kok, yuk kita jalan” jawabku sambil membukakan pintu mobil untuknya.

Aku mengendarai mobilku menuju jalan raya. Tiba-tiba jantung ini kembali berdebar dengan kencang, aku merasakan perasaan yang sama seperti dulu ketika untuk pertama kalinya aku mengajak Anaya jalan-jalan berdua. Suasana ini seperti suasana kencan pertamaku dengannya. Aku pun menarik napas panjangku dalam-dalam, dan aku berusaha untuk menepis perasaan ini untuk yang sekian kalinya.
“Kita mau kemana, Ndra” Tanya Anaya sambil melirikan matanya kearahku.
“Hmmm… kamu maunya kemana, Nay?” tanyaku yang berbalik bertanya padanya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota” jawabnya sambil tersenyum.
“Taman kota…?” Kataku.
“Iyah… kita bisa mengobrol dan memakan es cream, pasti seru” jawabnya antusias.
“Okie…” kataku sambil tersenyum.

Hmm… taman kota adalah tempat pertama kali aku berkencan dengannya dulu. Apakah ini suatu kebetulan?. Aku lalu terbayang lagi, di saat aku bersama dengan Anaya tiga tahun yang lalu. Setiba di taman kota, aku dan Anaya berjalan-jalan memutari taman yang sangat luas itu. Anaya tampak sangat gembira, ia terus menerus bercerita tentang hubungan kami berdua, sesekali Anaya bergurau lalu sesaat kemudian ia tertawa terbahak-bahak, ketika ia berteriak ada kodok dan berhasil membuatku ketakutan yang sangat jijik dengan mahluk yang satu itu.
Aku tersenyum memandang Anaya ketika kami berdua sedang duduk di bangku taman. Anaya bertanya-tanya tentang kehidupannya sebelum ia mengalami kecelakaan. Aku pun menceritakan apa yang aku ketahui tentangnya dan keluarganya. Aku menjelaskan jika kami berdua sudah lulus dari kuliah dan sekarang kami bekerja di tempat yang berbeda. Namun aku tidak menceritakan tentang hubungan kami yang sejak lama sudah putus, dan ia sekarang sedang menjalani hubungan yang serius dengan Tandy, dan ingin melangkah ke jenjang pernikahan.

“Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu, Ndra” kata Anaya sambil menatapku.
Aku terkejut ketika Anaya menyatakan perasaannya padaku. Apakah perkataannya itu berasal dari hatinya yang terdalam? Atau apakah ia berkata seperti itu di luar kesadarannya, karena Anaya sedang mengalami amnesia?. Bukankah terakhir kami bertemu pada saat itu, ia terlihat sangat membenciku karena aku mencampakannya.
“Apakah itu benar?” tanyaku yang penasaran dengan perkataannya.
“Benar Ndra…, mengapa kamu meragukan perkataanku. Jangan-jangan kamu sudah tidak sayang lagi sama aku?” Tanya Anaya yang masih saja menatapku.
“Hmm…, aku… aku juga sayang dan mencintai kamu, Nay” jawabku ragu-ragu.
“Aku tidak bisa hidup tampa kamu” bisik Anaya.
Aku tersenyum mendengar perkataan Anaya. Dan perasaan ini tambah tidak menentu, apa yang harus aku lakukan. Apakah dulu Anaya benar-benar sangat menyayangiku. Hufh… ternyata aku tega sekali padanya waktu itu, yang mengkhianatinya kataku dalam hati.
“Apakah selama ini hubungan kita baik-baik saja, Ndra?” Tanya Anaya lagi.
“Ba… baik, memangnya kenapa?” tanyaku balik.
“Hmmm… sepertinya sekarang kamu terlihat kaku dan tidak seperti biasanya, aku merasakan ada hal yang berbeda? Hmmm… apakah ini hanya perasaanku saja, yaa” kata Anaya.
“Nay, aku ini tidak berubah sama sekali. Aku tetap seperti aku yang dulu! Mungkin hanya perasaan kamu saja?” jelasku berbohong.
Aku menggenggam tangan Anaya dan berusaha untuk menyakinkannya, lalu dengan ragu-ragu aku memeluk tubuhnya dengan hangat, harum tubuh Anaya masih sama seperti yang dulu. Wangi aroma vanilla yang sangat menentramkan hati ini. Sandiwara apa yang sedang aku lakukan yaa Tuhan? Aku semakin merasa bersalah padanya kataku dalam hati.

Hampir tiga bulan sudah aku menjalani kehidupan percintaan yang penuh dengan kebohongan dan sandiwara ini. Anehnya selama itu perasaanku kepada Anaya terus berkembang seperti tumbuhan yang sangat subur. Aku mulai takut kehilangannya, walaupun aku tahu jika Anaya itu adalah kekasih Tandy. Aku sangat mengagumi dan menyayanginya, lebih dari perasaan yang dulu aku rasakan ketika bersama dengan Anaya. Sampai saat ini hubunganku dengan Tere masih berjalan dengan baik, Tere sama sekali tidak mengetahui atau curiga dengan sikapku saat ini. aku berusaha untuk membagi waktuku untuk Anaya dan Tere. Hubunganku dengan Tandy juga berjalan dengan baik. Tandy selalu menghubungiku dan berusaha untuk mencari tahu tentang perkembangan Anaya. Anehnya Tandy sangat mempercayaiku, aku tidak melihat ada rasa cemburu di dirinya ketika aku berjalan berdua dengan Anaya. Apa jadinya jika Tandy mengetahui perasaanku yang sebenarnya pada Anaya saat ini, yang aku pendam dalam-dalam. Yaa Tuhan aku merasa berdosa pada Tandy, Tere, juga Anaya yang saat ini sangat menyayangiku.

Waktu terus berjalan, begitu juga dengan perasaanku yang menjadi serba salah menjalani kehidupan ini. Siang itu Anaya mengajakku menonton sebuah film, aku memintanya untuk mengajak Tandy juga yang kebetulan sedang berada di rumah Anaya, ketika aku datang menjemputnya. Anaya menyetujuinya, aku tersenyum sambil memandang Tandy yang terlihat senang. Tidak lama kemudian kami bertiga jalan menuju sebuah Mall. Anaya terus menerus menggandeng tangaku selama berada di sana. Ku lihat Tandy tampak santai melihat sikap Anaya kepadaku saat itu.
“Sorry yaa, Tan” bisikku pada Tandy ketika kami berdua sedang menunggu Anaya yang sedang berada di dalam toilet.
“Santai saja, Ndra!” jawab Tandy sambil menepuk pundakku.
“Sumpah gue enggak enak sama loe” kataku.
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita bisa menjaga perasaan Anaya saat ini” jelas Tandy.
“Sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini, bukannya ini akan menjadi bom waktu jika tiba-tiba Anaya mengetahui dan menyadarinya” jelasku.
“Aku juga bingung, Ndra? Sampai kapan kita harus berpura-pura seperti ini” kata Tandy sambil menatapku.
“Bagaimana jika seumur hidupnya Anaya mengalami amnesia, atau pernahkah kamu memikirkan jika tiba-tiba saja Anaya kembali mengingat semua ini? Apa yang harus kita jelaskan” kataku.
“Nanti kita pikirkan lagi? Hmmm bagaimana dengan pacarmu?” Tanya Tandy.
“Baik, mudah-mudahan Tere tidak akan mengetahuinya sampai masalah ini berakhir” jawabku.
“Ussttt… Anaya datang!” bisik Tandy ketika ia melihat Anaya sedang berjalan ke arah kami.
Kami berdua pun terdiam ketika Anaya datang.
“Yuk kita masuk ke dalam theater! Sepertinya filmnya akan segera diputar?” kata Anaya sambil tersenyum.
Aku menganggukan kepalaku, Anaya lalu menggenggam tanganku kembali ketika kami bertiga masuk ke dalam bioskop.

Setelah selesai menonton, aku, Anaya dan Tandy pergi untuk makan di sebuah café yang letaknya masih berada di dalam Mall. Aku memperhatikan Tandy yang diam-diam sedang memandangi Anaya yang berada di hadapannya. Sepertinya Tandy sangat tersiksa melihat keadaan ini. Apakah aku harus pergi dari sini untuk memberikan Tandy kesempatan berduaan dengan Anaya. Aku bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh pria berkacamata itu.
“Yaa… ampun!!” teriakku sambil pura-pura menepuk kening ini.
“Ada apa, Ndra?” Tanya Anaya bingung.
“Nay, aku lupa hari ini aku ada janji dengan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaanku” jawabku berbohong.
“Apa…” Kata Tandy sambil menatapku.
“Iyah…, aku lupa? Hmm… bagaimana ini, sepertinya aku harus buru-buru mengejar waktu” kataku sambil memberikan sebuah kode pada Tandy, dan sepertinya ia sudah paham dengan apa yang aku maksud.
“Terus bagaimana dong jadinya?” Tanya Anaya.
“Hmmm… begini saja, aku cabut duluan? Kamu sama Tandy makan saja dulu berdua disini. Nanti pulangnya kalian kan bisa bareng” jelasku.
“Iyah… Boleh juga” kata Anaya sambil memandangiku.
“Kalian pulangnya pakai mobil aku saja? Ini kuncinya” kataku sambil menyerahkan sebuah kunci pada Tandy.
“Enggak usah Ndra, kita naik taxi saja” jawab Tandy sambil tersenyum.
“Serius…?” Tanyaku.
“Iyah… sayang! Kamu kan dikejar waktu, nanti kalo telat bagaimana?” jelas Anaya.
“Okie… aku jalan dulu yaa” ujarku sambil bangkit dari bangku.
“Paundra…, kamu hati-hati yaa” kata Anaya sambil mencium pipiku dengan mesra di depan Tandy.
Hufh… Yaa Tuhan, Aku menarik napas panjangku sambil melirikan mata ini ke arah Tandy.
“Hmmm jaga Anaya yaa, Tan?” kataku sambil tersenyum.
“Okie… kamu tenang saja, aku akan jaga dia” jawab Tandy sambil tersenyum kearahku.
Sesaat kemudian aku pun pergi meninggalkan Anaya dan Tandy berdua. Aku ingin memberikan kesempatan pada Tandy. Semoga mereka berdua menikmati kebersamaan mereka di sore ini. Aku lalu mengendarai mobilku menuju rumah Tere.

Tere tersenyum ketika aku menghampirinya, sewaktu aku sampai di rumah yang memiliki cat berwarna putih itu. Lalu Tere memelukku.
“Tumben sore ini kamu datang ke rumah Sayang?” bisik Tere yang masih memelukku dengan erat.
“Iyah kebetulan aku lewat daerah ini, terus aku keingetan sama kamu” jawabku sambil tersenyum.
Aku dan Tere lalu duduk di teras depan rumah sambil menikmati secangkir teh hangat dan makanan kecil.
“Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk yaa! Di kantor kamu lagi mengerjakan projet apa sih, sampai-sampai kamu lupa dan menelantarkan aku?” kata Tere memelas.
Aku memandang wajah Tere, yaa Tuhan apa yang harus aku katakan. Sepertinya akhir-akhir ini aku telah banyak berdosa karena berbohong? Kataku dalam hati.
“Sayang…!!” seru Tere sambil melambaikan tangannya tepat di wajahku yang sedang termenung.
“Maaf yaa, Re! apakah selama ini kamu merasa aku telantarkan?” tanyaku.
“Hmmm… enggak apa-apa kok Ndra, aku mengerti dengan kesibukan kamu. Aku cuma khawatir kalau kamu sakit karena kelelahan” jawab Tere sambil memandangku.
“Aku berjanji jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan menghabiskan waktuku dengan kamu” kataku sambil tersenyum.
“Benarkah…?” Tanya Tere, dengan matanya yang berbinar-binar.
Sambil tersenyum, aku pun menganggukan kepalaku. Tere lalu menghampiri dan memelukku lagi dengan erat. Maafkan aku Re, kataku dalam hati sambil memandanginya.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Love of The Past and Current (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Oh Ternyata…

Oleh:
Dag-Dig-Dug terasa melihat apa yang telah aku rangkai menjadi empat bait yang indah dibaca oleh orang yang paling aku kagumi saat ini. Dia adalah Shila, gadis keturunan Batak dan

Karena Aku Sayang Mama

Oleh:
Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut mama dan Maya (adikku) ikut Papa. *Ketika pulang

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Oleh:
23 Januari 2010 Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi

Cinta Membuatku Gila

Oleh:
Pukul 15:00. Namaku Raditya. Tepat Hari ini umurku bertambah menjadi 17 tahun. Teman teman sekelasku selalu bilang kepadaku kenapa kau tidak punya pacar? Mereka sering menanyakan itu tapi aku

Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 2)

Oleh:
“Masih mikirin cowok itu?” Tanya Rinda sembari menyodorkan es teh yang tadi mereka pesan. “Jangan-jangan kamu beneran suka lagi sama dia.” “Uhuukk,” Dinara hampir saja tersedak. “Mungkin karena dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *