Love of The Past and Current (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 14 May 2015

Seminggu sudah aku tidak menyerah untuk mendapatkan kepercayaan Tere kembali. Hampir setiap waktu aku terus menerus menghubunginya, mungkin di siang itu sudah ke enam kalinya aku mengirimkan sebuah pesan pendek untuknya. Tapi hasilnya adalah nol…! yaa Tere sama sekali tidak membalas atau mau menerima teleponku sejak kejadian itu. Bahkan sudah tiga kali aku mendatangi rumahnya, Tere tetap tidak mau menemuiku. Aku menutup laptopku, lalu bersandar di kursi kantorku sambil berharap ada keajaiban yang datang. Aku tidak akan menyerah, aku tidak mau kehilangan Tere? Kataku dalam hati. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruanganku. Kulihat Tandy yang berada di balik pintu itu dan membiarkan pintu itu terbuka, lalu ia berjalan menghampiriku dengan wajah yang kusut.
“Tan…, ada apa?” tanyaku yang bingung melihat kedatangannya.
“Anaya mencarimu, kenapa kamu tidak pernah mengabarinya lagi?” Tanya Tandy.
“Maaf…, aku kan sudah memberitahu kamu, jika aku ingin menjaga jarak darinya mulai sekarang” jawabku.
“Tapi kamu tidak boleh hilang begitu saja, Kasihan Anaya? Ia mencarimu dan mengkhawatirkan kamu? Kenapa kamu tega berbuat ini padanya” jelas Tandy.
“Tan, saat ini aku juga sedang mempunyai masalah yang rumit, ini demi masa depanku juga. Haruskah aku membagi pikiran ini? Dari kemarin aku sangat bingung, karena Tere belum mau bicara dan menemuiku. Kamu seharusnya juga memikirkan perasaan aku sekarang” kataku kesal.
“Aku tidak tega melihat Anaya bersedih karena kamu?” ujar Tandy.
“Lalu apa yang sudah kamu perjuangkan sekarang. Kamu itu seorang pengecut, seharusnya kamu berani berterus terang jika kamu adalah pacar Anaya yang sebenarnya. Sedangkan aku… Aku cuma masa lalunya, cowok yang pernah menyakiti hati Anaya karena perempuan lain. Sebenarnya aku adalah cowok brengsek, aku yang memutuskan hubunganku dengan Anaya. Jika Anaya sadar mungkin ia akan meludahiku karena perbuatanku dulu. Dia benci sekali padaku, Tan. Sadarkah kamu apa yang terjadi nanti, jika Anaya mengetahui jika selama ini ia kembali berhubungan denganku? Dengan cowok yang sangat dibencinya. Apa yang aku perbuat nanti, pasti ia mengira aku adalah cowok yang paling brengsek yang mengambil kesempatan disaat dia kehilangan ingatannya?” jelasku sambil menatap tajam Tandy.
“Lalu mengapa hanya kamu yang berada di ingatannya? Mungkin walaupun kamu telah menyakitinya, tetapi hanya kamu yang di cintai Anaya” kata Tandy.
“Itu tidak mungkin Tan, Kamu harus berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi? Walaupun ia tidak ingat dengan kamu. Kita tidak bisa meneruskan sandiwara ini, aku akan bicara dengan orangtua Anaya. Kita harus memberitahu Anaya yang sebenarnya” jelasku lagi.
“A… a… apakah yang kalian bicarakan berdua itu adalah benar?” Tanya Anaya yang tiba-tiba muncul di hadapan kami berdua.
“ANAYA… teriakku dan Tandy dengan kompak”.

Yaa Tuhan, aku sangat terkejut setengah mati ketika melihat Anaya yang sedang berdiri di antara kami berdua. Mengapa tiba-tiba Anaya datang ke kantorku. Apakah ia selama ini mencariku. Aku pun menarik napas panjangku sambil memandang Anaya yang nampak kebingungan.
“Benar…, benarkah jika dulu kamu pernah menyakitiku, dan sebenarnya hubungan kita sudah lama berakhir? Mengapa… mengapa kamu tega membohongiku Ndra?” teriak Anaya histeris.
“Karena… karena yang kamu ingat dan kenali hanyalah aku dan hubungan kita waktu dulu Nay” jawabku pelan.
“Aku sangat mencintai kamu, Ndra. Bukankah kita sebentar lagi akan bertunangan? Aku harap ini hanya mimpi. Tidak… aku tidak percaya dengan apa yang kalian bicarakan berdua” teriak Anaya lagi.
“Please Nay, kamu harus mengerti. Ini adalah cerita yang sesungguhnya, aku dan Tandy tidak bohong. Kita berdua sudah lama putus, dan kita masing-masing sekarang sudah mempunyai pacar. Tandy adalah kekasih kamu yang sesungguhnya, dan bulan depan sebenarnya kalian berdua akan menikah” jelasku lagi.

Anaya melirikan matanya ke arah Tandy. Tandy lalu menatap tajam Anaya.
“Tidak… Aku tidak percaya!! yang aku mau hanyalah kamu Ndra? Hanya… kamu!!” kata Anaya.
“Nay…, mengapa hanya Paundra yang ada di ingatan kamu. Apakah kamu tidak mengenaliku sama sekali, aku adalah kekasihmu. Selama ini aku hanya bisa menahan dan tersiksa melihatmu bersama Paundra. Tidakkah kamu menyadarinya?” Kata Tandy sambil meneteskan airmatanya.
“Kalian berdua membohongiku, aku tidak percaya… aku tidak percaya?” teriak Anaya yang untuk sekian kalinya.
Tandy lalu berjalan mendekati Anaya.
“Tatap mata aku, Nay. Apakah kamu tidak mengenaliku, apakah kamu sama sekali tidak mengingatku, aku adalah pacarmu…, kita mempunyai kenangan yang sangat indah, dan kita akan menikah, tidakkah kamu menyadari itu? tanya Tandy pelan sambil menatap tajam Anaya.
“Yang aku mau hanya Paundra, Walaupun ingatanku kembali pulih, hanya dia pria yang aku cintai!” jawab Anaya.
“Nay… sadar Nay… kamu harus sadar, mengapa kamu menyakitiku?” teriak Tandy sambil mengguncang-guncang tubuh Anaya.
Aku terdiam melihat Tandy dan Anaya. Anaya lalu menatapku dari kejauhan, lalu ia berjalan menghampiriku.
“Ndra… coba katakan yang sesuangguhnya, mengapa… mengapa semua ini bisa terjadi padaku?” Tanya Anaya sambil bercucuran airmata.
“Nay…, kamu harus mengerti dan menerima keadaan yang sesungguhnya. Aku… aku adalah masa lalumu” kataku pelan.
“Tidak… Aku tidak mau… aku tidak mauuu…, yang aku mau hanya kamu Ndra!!!!” teriak Anaya.
Tiba-tiba Anaya jatuh pingsan di hadapanku. Lalu buru-buru aku angkat tubuhnya dan rebahkannya di sofa.
“Bagaimana ini, Tan?” tanyaku cemas.
“Pasti Anaya sangat kaget dan depresi? cepat kita bawa ke Rumah Sakit” jawab Tandy.

Aku membiarkan Tandy yang menggendong tubuh Anaya keluar dari kantorku, sedangkan aku cepat-cepat mengambil mobilku yang berada di parkiran. Anaya belum tersadar juga ketika kami sampai di Rumah Sakit. Anaya langsung di masukan ke dalam ruangan IGD bersama dengan Tandy, sedangkan aku segera menghubungi kedua orangtuanya. Tidak lama kemudian Tandy keluar dari ruangan yang besar itu. Lalu ia berjalan menghampiriku.

“Anaya masih belum sadar, Ndra? Saat ini suhu tubuhnya sangat panas sekali” kata Tandy sambil meneteskan airmatanya.
Yaaa Tuhan…, sepertinya aku telah menyakiti Anaya lagi? Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Kataku dalam hati.
“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Anaya” kataku sambil memberikan Tandy semangat.
“Ehh… orangtuanya Anaya Datang?” bisik Tandy ketika melihat Papa dan Mama nya Anaya berjalan menghampiri kami.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Anaya?” Tanya Mamanya Anaya.
Aku dan Tandy lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan Anaya. Untungnya kedua orangtua Anaya dapat mengerti keadaan saat itu. Mereka berdua pun menyuruh aku dan Tandy untuk tenang dan berharap mendapatkan berita yang baik dari Dokter tentang keadaan anaknya itu. Anaya mengalami demam, dan saat itu ia sudah melewati masa kritisnya. Dua hari kemudian Anaya sudah bisa dipindahkan ke kamar perawatan. Berita itu aku dapat ketika Tandy mengabari aku tentang keadaan Anaya, sewaktu aku berada di kantor. Aku pun sekarang bisa bernapas dengan lega, tetapi mengapa di saat ini aku jadi takut untuk menemui Anaya. Aku merasa sangat bersalah dengannya. Hmmm sedangkan hubunganku dengan Tere sampai saat ini masih belum ada perubahan sama sekali.

“Anaya tidak mau bertemu denganku, dia hanya ingin bertemu dengan Kamu?” kata Tandy bersedih, ketika ia datang ke kantorku.
“Apa…?” kataku terkejut.
“Datanglah dan jenguklah Anaya, sepertinya ia sangat membutuhkanmu” jelas Tandy.
“Tapi…?” Kataku lagi dengan ragu.
“Please…, aku nanti juga akan mencoba untuk menemui Tere dan menceritakan hal yang susungguhnya? Mudah-mudahan ia dengan percaya denganku” kata Tandy.
“Aku tidak mau meneruskan sandiwara ini lagi, Tan? Aku tidak mau membohongi Anaya terus menerus, biarlah dia membenciku” jelasku.
“Aku sangat berharap kamu mau menemuinya, kasihan Anaya? Hanya kamu yang ia inginkan. Dan sepertinya aku harus merelakan hubungan ini, aku ingin meneruskan hidupku selanjutnya, walaupun tampa Anaya” kata Tandy sambil tersenyum.

Aku menundukan kepalaku, bagaimana ini? Tuhan mengapa aku terjebak di cinta masa lalu dan saat ini? Tanyaku dalam hati. Tidak lama kemudian Tandy pamit untuk pulang. Dengan langkahnya yang lunglai aku melihat Tandy berjalan meninggalkanku, dan masih bingung dengan sekenario yang saat ini Tuhan berikan.

Malam harinya Papanya Anaya juga meneleponku dan membujukku untuk pergi menemui Anaya. Hufh aku tidak kuasa untuk menolak permintaannya. Aku pun berjanji jika besok sore sepulang dari kantor, aku akan pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Anaya. Hmmm bagaimana hubunganku dengan Tere? sepertinya Tere juga sudah semakin jauh dariku. Di malam itu aku pun tidak henti-hentinya memikirkan Tere dan Anaya.

Anaya tersenyum manis padaku, ketika aku membuka pintu kamarnya. Lalu ia menyuruhku untuk mendekat. Dengan ragu aku berjalan menghampirinya.
“Kamu sudah baikan?” tanyaku sambil menatapnya.
“Iyah…, aku sudah sehat, hari ini aku sudah boleh pulang? Terima kasih yaa kamu sudah mau datang dan menjemputku” kata Anaya.
Aku tersenyum sambil menganggukan kepalaku. Hmmm… ternyata Anaya mau aku yang menjemput dan mengantarkannya pulang? Kataku dalam hati. Setelah membereskan baju-bajunya, tidak lama kemudian kami berdua keluar dari Rumah Sakit. Selama dalam perjalanan aku lebih banyak terdiam, aku bingung mau berbicara apa dengannya. Sedangkan Anaya kulihat sangat bahagia, sepertinya tidak ada beban di dirinya. Hmmm… apakah ia juga tidak ingat dengan kejadian kemarin? Tanyaku dalam hati.
“Hari sabtu nanti, kita jalan yaa Ndra?” ajak Anaya, ketika aku hendak pamit pulang setelah mengantar Anaya sampai rumahnya.
“Hmmm…!!!”
“Please… Aku ingin sekali jalan sama kamu ke taman kota” kata Anaya memohon.
“Baiklah… Nanti aku kan jemput kamu” jawabku ragu-ragu.
“Terima kasih yaaa” kata Anaya, lalu ia mencium pipiku.
Aku tersenyum lalu aku segera masuk ke dalam mobilku. Aku melihat Anaya melambaikan tangannya sambil memandangiku. Aku menarik napas panjang, aku sudah lelah dengan semua kebohongan ini. Ingin rasanya aku menghilang?. Tere…, Yaaa aku ingin sekali memeluk Tere dan berada di dekatnya saat ini. Yaa Tuhan aku sangat rindu padanya kataku dalam hati.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Love of The Past and Current (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Bitterness of Love

Oleh:
Aku melangkah menuju kamar yang cukup luas. Kubaringkan tubuh ini ke atas sofa empuk. Terasa nyaman dan tenang. Kemudian aku meraih cermin bulat di atas punggung laci. Cermin itu

Cinta Jessica

Oleh:
Aku cuman bisa membalas senyum tanggung ketika gadis itu menyunggingkan senyum untukku. Meskipun sebenarnya teramat sayang kalau senyum itu harus dibalas hanya dengan senyuman. Senyuman tanggung pula. Seharusnya dibalas

Terima Kasih

Oleh:
“Heena.. Heena..” Dinda memanggilku dari balik pagar. “Iya sebentar.” Jawabku keras. Seperti biasa setiap pagi Dinda selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. “Hai…” Sapa seseorang pada kami, kami

Ringgit dan Rupiah

Oleh:
“Kang, mau sampai kapan kita seperti ini?” “Aku malu tinggal bersebalahan terus-terusan dengan ibu?” “Aku malu dengan saudara-saudaraku yang semuanya udah punya rumah sendiri Kang?” Itulah perkataan yang masih

Aku Pilih Golput

Oleh:
Tak pernah tertepis dalam benakku, aku akan berada diantara segitiga ini, untuk condong dari salah satu sisinya. Tapi aku bingung harus condong kemana. Malam ini memang beda dari malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *