Love Triangle (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 4 December 2015

“caa… enak banget ya kamu bisa berpasangan sama Al. Gilaaaa dia itu cool banget tahu, gantengnya gak nahan.” aku menoleh ke arah Selly.
“haha iya Selly, itu menurutmu. Tapi aku tidak suka berpasangan dengannya. Dia itu dingin, setiap aku bicara pasti dia cuma bisa balas dengan senyuman.”
“aduuuh, meleleh dong disenyumin terus.” kenapa saat Selly berbicara tentang Al hatiku semakin aneh, aku tidak suka Selly terlalu memuji Al. Rasanya ingin aku marah dan menangis tapi itu tidak mungkin.

“ca, kalau aku sama Al boleh gak?” aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Selly kali ini, tapi aku tidak mungkin marah. Oh, Tuhan ada apa dengan hatiku ini?
“haha terserah deh sell.” aku membalikkan badanku hingga membelakangi Selly, aku berusaha memejamkan mataku tapi entah kenapa tiba-tiba buliran air mataku menetes. Aku merasakan hal yang teramat aneh, rasanya hatiku sedang berperang di tengah gemuruh. Apa aku mulai menyukai Al? Tidak mungkin!

Hari ini adalah hari terakhir untuk latihan, besok adalah hari dimana acara fashion week kampus akan berlangsung. Dalam beberapa hari ini pula aku tidak bertegur sapa dengan Al, tapi anehnya dia selalu mengajakku berbicara. Tapi aku tak pernah menghiraukannya. Saat aku hendak pulang karena latihan sudah selesai, tiba-tiba Al menarik tanganku.

“aku minta maaf.” ucapnya sambil menggenggam tanganku semakin erat.
“minta maaf untuk apa? Haha sudahlah Al, lupakan.” Al membalikkan badanku agar aku bisa menatapnya.
“hayyyy.. sudah selesaikah latihannya?” Al melepaskan tangannya dari pundakku, dan langsung terlihat gugup.
“Al, jadi kan kau mengajakku jalan-jalan hari ini?” aku begitu kaget mendengar ucapan Selly. Jalan-jalan? Dengan Al? Sejak kapan mereka bisa seakrab ini? Aku berusaha tersenyum manis di hadapan Selly.
“oke baiklah, selamat jalan-jalan hehe.” aku segera pergi meninggalkan mereka berdua.

Kali ini aku seperti orang yang kehilangan arah, selama aku kenal dengan Al dia tidak pernah mengajakku jalan. Tapi kenapa dengan Selly dia terlihat akrab sekali? Apa bedanya aku dengan Selly? Ya, mungkin dia terlihat lebih cantik di mata Al atau mungkin Selly menarik perhatiannya. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, “aku senang sekali caaa!” Selly memang tampak senang sekali, wajahnya begitu berseri. Dan di tangannya ada setangkai bunga mawar merah dan cokelat.

“kau tahu, Al begitu romantis dia mengajakku berkeliling dan memberikanku bunga dan cokelat ini.” what? Tuhan, kenapa hatiku hancur mendengar ucapan Selly barusan. Seharusnya aku senang kalau sahabatku satu-satunya ini senang. Mengapa jadi begini? Rasanya ingiin sekali aku menangis dan marah padanya. Tapi tidak mungkin, bagaimana pun aku tampak bahagia atas apa yang Selly dapatkan dari Al.

“wah, baguslah jadi aku tidak perlu repot-repot mengajakmu jalan-jalan lagi.” aku pun berlalu meninggalkan Selly menuju kamar mandi.
“ca, kok gitu sih. Aku kan ke sini kangen sama kamu. Kok kamu gak mau ngajakin aku jalan-jalan lagi?” Selly mengejarku dengan wajah yang begitu melas, ah beginilah dia.
“kan sudah ada Al untuk apa lagi aku?” Selly terlihat bingung, lalu menunjukku seakan-akan curiga.
“jangan-jangan kau suka dengan Al dan kau cemburu kan? Ayoooo loh hahaha.” aku cepat-cepat membuka pintu kamar mandi, aku sudah tidak tahan menahan air mataku rasanya aku tidak suka sekali dengan ucapan Selly barusan itu tambah membuatku sakit.

Sebentar lagi acara akan dimulai, tapi ke mana perginya Al? Kenapa dia belum juga kelihatan. Benar-benar ku habisi dia kalau dia tidak datang! “Vanessa, di mana Al?” Mrs. Tania menghampiriku dia tampak sibuk sekali karena dia adalah orang yang menyelenggarakan acara ini, aku hanya bisa menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya. Mrs. Tania memukul kepalanya pelan, dan menghela napas, “bisa-bisanya dia belum datang. 5 menit lagi acara akan mulai.” Mrs. Tania juga tampak panik, dia pun langsung meninggalkanku. Rasanya ingin sekali aku berteriak dan menangis. Ke mana dia? Apa dia akan menghancurkan mimpiku untuk memenangkan lomba ini? Semua peserta sudah bersiap-siap. Suara host yang membuka acara pun sudah terdengar, aku harus apa sekarang? Ini awal karirku Al, tega sekali kau!

Urutan 1… 2… 3… 4… 5… 6… 7…

“kita sambut pasangan dengan nomor urut 8.” oh Tuhan, itu adalah nomor urutku dengan Al, aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku hanya bisa duduk membisu, suara tepuk tangan meriah sudah terdengar.
“silahkan untuk nomor urut 8.” pembawa acara itu memanggilku lagi, kali ini air mataku menetes.
“hapus air matamu, maafkan aku princess.” suara itu membuatku begitu terkejut, akhirnya!
“dari mana saja kau? Kau hampir saja menghancurkan segalanya Al!!!” cepat-cepat ia meletakkan jari telunjuknya ke bibirku.
“jangan banyak bicara, ayo kita wujudkan mimpimu.” Al menarik tanganku, kali ini aku siap! Benar-benar siap. Suara tepuk tangan meriah itu kembali terdengar lagi saat aku dan Al mulai berjalan.
“semangat caaaa!!!” haha benar saja, Selly berada di depan sekali, aku hanya bisa memberikan senyuman termanis untuknya.

“bagaimana? Apa kau puas?” Al tiba-tiba menghampiriku yang sedang tengah asyiknya mengobrol dengan Selly.
“kau hampir saja membuatku hancur Al, but terima kasih kau bisa menepati janjimu. Dan sekarang kita sudah mendapatkan gelar Best Couple itu.” ya, pada saat itu aku dan Al memenangkan perlombaan, senang sekali rasanya. Ingin sekarang aku bisa memeluknya, tapi… yang ada di hadapanku sekarang Selly memeluk erat tangan Al. Aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang terjadi saat ini.

“kau datang ke sini untuk menemui Selly kan? Ya sudah, aku pergi dulu.” tiba-tiba tangan Al meraih tanganku.
“aku ke sini untuk menemuimu.” Selly yang mendengar ucapan Al langsung melepaskan tangannya dari tangan Al, tampaknya dia juga kaget dengan ucapan Al.
“Selama ini aku menyimpan perasaan padamu Vanessa, sudah aku coba untuk menentangnya tapi semakin aku menentang rasa ini semakin aku mencintaimu.” tiba-tiba Selly menangis, lalu dengan cepat tangannya melayang ke pipi Al.

“jadi, bagaimana dengan aku Al? Kau seakan memberi harapan kepadaku!” Al hanya diam mendengar ucapan Selly, sebenarnya aku tak tega melihat sahabatku menjadi sakit. Namun, hatiku begitu bahagia mendengar apa yang diucapkan Al. Selly menggelengkan kepalanya saat melihat aku yang hanya bisa diam seperti patung, ia menggenggam tangannya mungkin dia merasa geram terhadapku.
“aku benci kalian!” Selly pun pergi meninggalkan kami, aku tahu betul apa yang dirasakannya. Tapi aku harus bagaimana? Aku benar-benar bingung.
Al datang mendekat, ia mengambil tanganku lalu menggenggamnya. “aku benar-benar mencintaimu. Aku tak pernah mencintai Selly.” aku masih saja diam, aku tak bisa berbicara apa-apa “baiklah, lihat ini.” Al memberikan sebuah foto yang membuatku shock. “bagaimana bisa?”

“dia Citra, pacarku.” aku masih bingung dengan semua ini, bagaimana bisa Al menyebut Selly itu Citra?
“kau bingung? Aku pun awalnya juga.” Al meneteskan air mata, kemudian cepat-cepat ia menghapusnya.
“Citra udah gak ada, dia ninggalin aku 6 bulan lalu karena kanker otak. Saat pertama aku melihat Selly aku benar-benar kaget, dia mirip sekali dengan Citra. Aku merindukan Citra, maka dari itu aku mengajaknya jalan, bunga dan cokelat itu adalah hal yang aku janjikan untuk Citra. Karena Citra sudah tiada, aku berikan pada Selly.”

“Saat aku menggenggam tanganmu dan tiba-tiba Selly datang, saat itu juga aku melepaskan karena aku masih mengira Selly itu Citra dan aku sangat tidak ingin menyakiti perasaan pacarku. Tapi makin lama aku makin ngerti kalau Selly dan Citra itu sangat berbeda hanya fisik saja yang begitu sama. Aku juga sudah bisa terima kalau Citra tidak ada lagi. Satu hal lagi yang tidak bisa aku pungkiri kalau seseorang sudah mencuri hatiku dalam seminggu ini. Kamu Vanessa, kamulah orang itu.” Al memelukku erat, air mataku menetes. Haruskah aku membiarkan sahabatku tersakiti? Tidak! Aku tidak ingin kehilangan Selly. Aku mendorong tubuh Al, lalu cepat-cepat pergi meninggalkannya.

“Selly, bisakah kau dengarkan aku? Aku benar-benar tidak tahu kalau akan jadi begini. Aku bisa jelasin semuanya.” Selly masih saja tidak ingin berbicara padaku beberapa hari ini, kami layaknya orang asing yang tak pernah dekat dan cocok tapi satu rumah dan satu kamar.
“cukup! Hatiku sudah sakit! Aku tahu kau juga mencintai Al, aku tahu kau menangis saat aku pergi kencan dan mendapat bunga dan cokelat darinya. Aku tahu ca, aku tahu semuanya! Tapi kau juga perlu tahu kalau aku sangat, sangat, sangat mencintainya!” air mata Selly mengalir deras, benarkah sahabatku menjadi serapuh ini? Akankah persahabatan kami berakhir karena cinta segitiga? Aku langsung pergi meninggalkan Selly, bagaimana dengan perasaanku ini? Aku sudah mencoba untuk mengalah tapi Al terus menghantui pikiranku. Aku tidak bisa membohongi hatiku Tuhan.

Hari terus berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Al. Hubunganku dengan Selly masih saja dingin, ia masih belum mau untuk menegurku. Pagi ini free day untukku, tapi sejak bangun tidur tadi aku tidak melihat Selly, ke mana dia? Aku rasa halaman belakang adalah salah satu tempat untuk menenangkan diri, walau hanya untuk sekedar mendengarkan musik dan menikmati taman. Bayangan Al masih saja menghantuiku, aku merindukannya, merindukan senyumannya. Semua tentang Al membuatku terlelap dalam lamunan. Tapi tiba-tiba seseorang mengejutkanku dan membuyarkan lamunanku.

“ca! Kamu harus cepet nyusulin Al. Dia mau balik ke jakarta, sekarang dia udah di jalan menuju bandara!” apa aku sedang bermimpi? Benarkah orang yang di hadapanku ini?
“Selly?” aku masih tidak percaya dia tiba-tiba datang dan mau berbicara padaku.
“iya ca, maafin aku. Aku yang egois, sekarang cepat susul Al nanti kamu terlambat!” aku mengangguk dan cepat-cepat pergi, ternyata Barry sudah menungguku di depan.
“caaa, 20 menit lagi waktunya.” teriak Selly dari dalam rumah, aku melambaikan tanganku padanya saat Barry sudah mulai melajukan mobil.

“Barry, bisakah kau cepat. Kau dengarkan kata-kata Selly tadi? 20 menit lagi Barry aku sudah terlambat.” aku sangat panik, bagaimana bisa aku menemuinya kalau ke bandara menempuh 30 menit perjalanan.
“sabar nona, kalau buru-buru nanti kita bisa menabrak.” rasanya aku sudah putus asa, ingin aku menangis saja kali ini.
“nona, kita sudah sampai.” Barry menghentikan mobilnya, aku langsung cepat-cepat berlari untuk mengejar Al. Aku harap dia belum meninggalkanku. Tapi, sudah aku cari ke mana pun dia tidak ada. Air mataku menetes, ternyata ia benar-benar pergi meninggalkanku. Rasanya sedih sekali, aku begitu menyesal. Aku lelah, karena sedari tadi aku berkeliling mencarinya. Aku kembali mencari Barry karena untuk pulang saja.

“Vanessa!!!” di seberang sana aku melihat Selly, dia segera menghampiriku. Saat Selly sudah berada di dekatku aku langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
“aku tidak bertemu dengannya sell, aku menyesal! aku juga mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Aku terlambat!”
“siapa bilang terlambat?”

Aku terkejut, itu bukan suara Selly. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Selly tersenyum manis lalu Selly menunjuk ke arah belakangku.
“aku masih di sini nungguin kamu.” aku membalikkan badanku, sungguh rasa tak percaya dia masih di sini! Aku langsung memeluknya, melepaskan semua kerinduanku padanya.
“aku merindukanmu, aku mencintaimu Al. Jangan tinggalin aku.” aku kembali menangis dalam pelukan Al, perlahan-lahan Selly mundur untuk meninggalkan kami berdua.
“aku lebih mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, i promise.”

The End

Cerpen Karangan: Yunisa Dwi Angganis
Facebook: Yunisa Dwi Anggani
Nama: Yunisa Dwi Angganis
Tanggal lahir: 21 September 1995
Facebook: Yunisa Dwi Angganis
Twitter: @Yunnisaaa
Ig: @Yunisadwiangganis
Line: asinuy

Cerpen Love Triangle (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 3)

Oleh:
3 minggu menjelang pembukaan pabrik di Malang, Davin mulai menunjukan perubahan, dia full time di kantor dan mulai serius mempelajari apa-apa yang aku ajarkan, hampir setiap hari kami pulang

Antara Aku Dan Bekas Pacarmu

Oleh:
Malam begitu kelam ditemani hujan yang turun masih menyisahkan rintiknya. Dhea menghapus embun kecil di kaca mobilnya sambil sesekali memandang keluar jalan yang macet. Musik dewa 19 jamannya Ari

My First Love is Erica (Part 2)

Oleh:
Adrian berjalan dengan wajah yang lesu dan tertunduk, namun dalam hatinya ia sangat puas bisa membantu temannya bisa dekat dengan cewek yang disuka, meskipun harus merelakan perasaannya sendiri. Sesampainya

Tangisan Di Bawah Gerimis

Oleh:
Reza, panggilan teman fenny, sejak kecil reza selalu menemani fenny kemanapun dia pergi, sering orang bilang bagaikan adik kakak yang tak pernah terpisahkan, reza itu orangnya terbuka dia selalu

Takdir Jodohku (Part 1)

Oleh:
“Jadi wanita itu yang membuat dia meninggalkanku?” tanyaku pada seseorang yang mengintip di balik pintu bersamaku. Dia mengangguk meyakinkan, aku berbalik melihat sepasang anak manusia yang sedang menunduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Love Triangle (Part 2)”

  1. Raihanur says:

    Critax keren…
    Bikin trharu.. :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *