Love’s Coming (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

“Kamu keren banget, cantik lagi,” Puji Jo pada Gronya.
“Makasih kamu udah mau dateng,” Ucap Gronya sambil tersenyum, senyum yang beda dari biasanya.
“Aww,” Gronya menggosok matanya, nampaknya ia kelilipan, udara malam Perth kali ini memang tak terlihat bersahabat.
“Biar ku lihat,” Jo berupaya menawarkan bantuan, tangannya menangkup wajah Gronya pelan dan meniup-niupnya dengan napas segar. Sesekali ia terlihat canggung tak pernah ia berada dengan Gronya sedekat ini. Napasnya seperti mulai tidak teratur.
“Jo, kaukah itu?” tiba-tiba seberkas suara muncul dari arah samping.
Jo menoleh kaget setengah mati, “Masita,”

Masita berlari sekencang-kencangnya. Batinnya kini bergejolak. Sebenarnya ia tak tahu harus lari ke arah mana. Tapi yang ia tahu ia harus lari menghindari Jo. Menghindari kekasih yang membuat hatinya hancur beberapa menit tadi. “Masita, Masita…” Jo berlari tak kalah kencangnya. Perutnya bergetar menahan ketakutan yang ia hadapi saat ini. Masita menyerah, ia tak sanggup berlari lagi. Cepat atau lambat Jo pasti akan menyusulnya. Ia memilih berhenti dan mengatur napasnya yang mulai kembang kempis.

“Masita..” kini Jo menggenggam tangan kekasihnya itu. Masita tersipu, tapi Ia harus menampik perlakuan itu. Hatinya kini diselimuti perasaan cemburu. “Aku bisa jelaskan,”
“Apa yang ingin kamu jelaskan? Dari dulu kamu memang tidak menyukaiku,” cewek itu masih belum berbalik.
“Kamu salah paham, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” Jo menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari kejadian kelilipan tadi sampai siapa cewek yang bersamanya itu. Masita mungkin memang tidak bisa percaya begitu saja. Tetapi melihat perlakuan pacarnya itu ia tidak kuat lagi. Hatinya kini mulai luluh.
“Sungguh kau tidak selingkuh?” Masita menatap wajah itu yakin. Sementara Jo tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tetapi membuat isyarat dengan kedua jarinya tanda ia tak berbohong, sambil mengatur napasnya yang tercecer sedari tadi. Nampaknya perang telah usai.

“Hei, lalu apa yang kau lakukan di sini? Segitu kangennyakah sampai menyusulku ke mari?” Jo keheranan namun senyum tipis tak bisa ia sembunyikan.
“Aku ikut tanteku ke mari, tapi cuma beberapa hari. Dan hari ini dibuka dengan kejutan kecil darimu,” Masita menjelaskan lantas berbalik membelakangi Jo.
“Masih ngambek nih? Jo harus ngelakuin apa biar kamu nggak ngambek lagi?”cowok itu berusaha menghibur. Memecah suasana yang mulai malam.
“Yakin kamu bakal ngelakuin apa aja?” Masita menantang. Sementara Jo cuma mengangguk pelan. “Kamu harus ngajak aku jalan keliling Perth, dan bilang Jo Love Masita,” terlihat senyum kemenangan muncul di raut mukanya.
“Gitu doang? Siapa takut!” Jo balik menantang.

Latihan kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Mr. Anderson membebaskan anak didiknya untuk bebas melakukan latihan apa pun. Jo memilih bermain-main ringan saja. Sparing dengan temannya adalah menunya sore ini. Di sasana ini memang Jo terlihat lebih unggul dari yang lain. Ia menguasai beberapa teknik bulutangkis dengan baik. Bahkan rencananya ia akan mengikuti turnament bulutangkis antar sekolah. Pukulan ke arah kiri lapangan menyudahi pertandingannya kali ini. Jo kemudian menepi. Diambilnya handuk dan dioleskannya ke seluruh tubuh yang bercucuran peluh. Tangannya mencari tumbler. Tapi ia tak juga menemukannya. Perasaan tadi ia tarus didalam tas ini kenapa sekarang nggak ada.

“Cari ini bos?” Tangan Gronya mengulurkan tumbler Jo ke arahnya. Jo heran kenapa tumblernya bisa di tangan Gronya.
“Thanks,” Jo meneguk tumbler itu cepat. Tenggorokannya terasa kering. Sedikit pengairan mungkin mengobati.
“Tadi malam itu pacarmu?” Tanya Gronya penasaran, berharap Jo mengatakan tidak.
“Oh, sorry ya soal tadi malam. Iya dia pacarku. Biasa, salah paham,” Deg hati Gronya seakan tercabik-cabik. Ia tidak kuat menahan rasa ini lagi. Belum usai masalah satu, masalah lain timbul silih berganti.
“Santai aja,” jawabnya kini cuek.
“Kamu nggak apa-apa? Oh ya waktu itu kamu mau ngomong apa? Aku nungguin nih,” Jo mendekatkan kepalanya dan bersiap memasang kuping ke arah Gronya.
“Gak apa-apa,”

“Bohong, waktu itu aku lihat matamu berbeda,” ucap Jo menyerngit. Gronya harus menyembunyikan perasaannya.
“Oh.. aku cuma mau bilang kalau sebenarnya Papah aku nggak suka aku main bulutangkis,” Gronya mulai menjelaskan. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia jelaskan. Tapi ia pikir tak ada salahnya juga. Gronya memang anak satu-satunya di keluarga tersebut. Ayahnya dulu suka sekali bulutangkis. Tetapi karena keseringan main. Ia terkena cidera paha yang cukup parah. Sampai-sampai harus operasi beberapa kali.
“Makanya pas kamu ketemu Papahku, aku langsung cubit kamu, biar nggak cerita aneh-aneh soal bulutangkis. Maaf ya soal itu,” Gronya menambahi, dia juga bilang kalau sebenarnya dia ikut latihan di sini diam-diam.

“Sebenarnya aku ikut nyanyi itu juga kepaksa, aku nggak suka nyanyi, Papahku yang minta,” Gronya menjelaskan tentang dirinya panjang lebar. Sementara Jo cuma bisa manggut-manggut. Terlihat air mata membanjiri kedua pipinya.
“Jangan nangis Gro, mungkin Papah kamu cuma pengen yang terbaik untuk kamu,” Jo menghapus air mata Gronya pelan. Gronya merasa sangat nyaman kali ini. Tak pernah ada seseorang yang memperlakukannya semanis itu.
“Besok kita jalan yuk.” Jo mengalihkan perhatian. Gronya hanya terpaku tanda mengiyakan ajakan itu.
“Aku tunggu di taman deket Swan River,” Ucap Jo yang berlalu pergi.

Gronya duduk tenang di bangku, matanya dimanjakan dengan pemandangan sekitar Sungai Swan. Hatinya berdebar-debar. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti. Jo benar-benar membutakan pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara menyahut.

“Gro..” Jo berlari menghampirinya, tapi kali ini ia tidak sendiri. Jo bersama cewek. Hati Gronya seraya pecah. Moodnya kini benar-benar turun.
“Sorry telat, oh ya kenalin ini pacar aku Masita, Masita kenalin ini temen aku Gronya,”
“Masita..” Masita menjabat tangan Gronya pelan. Sebenarnya ia minder bertemu cewek sebening Gronya. Awalnya saat Jo bilang kalu dia ngajak Gronya, Ia sempat illfeel. Tapi kalau ditolak, takutnya Jo malah kelayapan seenaknya sama bule Aussie itu.

Sementara Gronya nampak tak semangat sore ini. Awalnya dia berpikir hanya pergi bersama dengan Jo, tapi bagai pungguk yang merindukan bulan rasanya itu tak mungkin. Apalagi status Jo yang sudah jadi milik orang lain. Mereka menyusuri pinggir sungai Swan sore itu. Jo dan Masita terlihat mesra sekali. Apalagi Masita beberapa kali menyandarkan kepalanya di bahu pacarnya itu. Mereka asyik bercakap-cakap. Sementara Gronya terlihat sedikit gedeg. Apa coba motivasi Jo mengajak dirinya jalan-jalan sore ini. Bukannya menghibur justru bikin mood Gronya tambah jelek. Apalagi melihat Jo dan Masita asyik dengan dunianya sendiri. Puas berkeliling, mereka memutuskan mampir di kedai makanan.

“Kamu mau makan apa ay?” Tawar Jo pada sang pacar.
“Terserah kamu aja deh,” Jawab Masita manja.
“Gro, kamu mau makan apa?” Tanya Jo tak kalah lembutnya.
“Terserah, ngikut aja,” jawab Gronya singkat. Jawaban seperti mereka ini yang paling Jo benci. Emang ada makanan Terserah? Dasaar cewek.
“Ya udah aku pesen dulu yah,” Ucap Jo seraya pergi meninggalkan mereka berdua.

“Kamu udah lama temenan sama Jo?” Tiba-tiba Masita nyeletuk pada Gronya yang sedari tadi diam.
“Lumayan, kebetulan kita satu sekolah,” Jawab Gronya dengan sedikit senyum tipis mengembang.
“Jo gimana orangnya?” kini Masita seperti menyelidik.
“Baik kok. Kalian udah lama pacaran?” kini Gronya balik nanya, sebenarnya dirinya malas melontarkan pertanyaan ini.
“Udah 2 tahun,” jawab Masita pendek.
“Lama juga ya, semoga langgeng,” Gronya tersenyum. Walau dia sedikit ragu dengan perkataannya barusan.

Jo mengambil koper itu dari mobil. Koper ini berat sekali. Masita emang ribet kalau bawa barang. Hari ini Masita harus pulang ke Indonesia. Urusan tantenya di Australlia telah selesai. Rasanya ia masih pengen berlama-lama di sini. Menghabiskan waktu bareng pacarnya itu setiap hari. Jo hanya bisa mengantarkan Masita sampai Airport. Jo sebenarnya Juga rindu Indonesia. Tapi mau gimana lagi. Ia tak bisa berbuat banyak.

“Hati-hati non, jangan nakal,” ucap Jo pada Masita yang sibuk dengan barang bawaannya.
“Kamu yang jangan nakal, awas aja kalau ketahuan macem-macem,”
“Siaaap Komandan,” Ucap Jo sambil hormat seperti sersan yang tunduk pada panglimanya.
Mereka berdua terkekeh. Masita mulai berlalu. Tak ada tindakan lain yang bisa dilakukan Jo selain melambaikan tangan pada kekasihnya itu.

“Jo ada surat tuh,” Ucap papahnya yang melihat Jo yang baru bangun karena memang hari libur.
“Dari siapa Pah?” Tanya Jo sambil berjalan menghampiri surat itu.
“Dari Pak Pos,” Ayah Jo memang bener-bener gokil, ya iyalah dari Pak Pos, masa iya dari Pak camat. Mungkin ini surat dari Masita, dasar tuh cewek di zaman yang secanggih ini masih aja pakai surat. Kayak hidup di zaman Purba aja. Tapi ternyata tebakan Jo salah. Ini bukan dari Masita, tapi dari Gronya.

“Hai Jo, kamu pasti kaget aku ngirim surat ini. Sebenarnya aku mau bilang langsung sama kamu tapi kita sekarang jarang sekali ketemu. Aku harus pindah Jo. Papah mengajakku pindah ke Melbourne, katanya karir bermusik aku bakal bagus di sini. Awalnya aku menolak. Tapi seperti kata kamu, mungkin Papah emang pengen yang terbaik buat aku. Dan aku berpikir apa salahnya dicoba. Apalagi Perth mengukir kenangan pahit buatku. Dan sepertinya aku tidak akan kembali lagi ke sana. Mungkin di sini aku bisa mengukir kenangan yang lebih manis. Aku harus memulai semuanya dari nol. Terima kasih mau menjadi temanku selama ini. Maaf ya baru ngasih tahu sekarang. Gronya.”

Jo kaget bukan kepalang. Rasanya gejolak batin muncul dari pikirannya. Bagaimana bisa Gronya pergi secepat ini. Rasanya ini mimpi. Ini bukan kenyataan. Berulang kali ia menampik hal itu. Mungkin Jo memang punya Masita. Tapi Gronya berbeda. Rasanya ia juga tak bisa menampik kalau dirinya juga suka dengan Gronya. Cewek cuek yang penuh dengan segudang prestasi. Ia hanya bisa menyesali kepergian Gronya itu.

Satu tahu kemudian. Gemuruh supporter membajiri Sidney Olympic Park. Hari ini sedang berlangsung Final Kejuaraan Nasional Bulutangkis Australlia. Di nomor tunggal putra sedang berhadapan Jonathan Christie atlet asal Indonesia melawan Daniel Guda veteran asal Australia. Pertandingan berlangsung seru, kedudukan 19-15 di game kedua ini untuk keunggulan Jo sapaan akrabnya. Game pertama berhasil ia rebut dengan mudah 21-12 itu artinya dua poin lagi Jo akan mencatatkan namanya sebagai Juara Nasional Bulutangkis Australlia. Netting ciamik yang baru saja ia lakukan mengelabuhi Daniel. Match Point 20-15. Satu angka lagi dibutuhkannya untuk menyudahi perlawanannya hari ini.

“Whoaaa…” baru saja tipuan silangnya masuk di pinggir lapangan dan tak dapat diantisipasi dengan baik oleh Daniel. Game 21-15. Jo meluapkan euforia kemenangannya itu dengan berteriak girang.

Ladies and Gentlement we call the Winner of National Badminton Championship, give a big applause for Jonathan Christie. Ucapan speaker barusan diikuti riuh rendah supporter yang memadati Sidney Olympic Park. Jo naik ke podium. Rasanya senang bukan kepalang. Kalungan mendali ia dapati. Namun matanya tak henti menatap tribun VIP. Di sana berdiri seseorang yang sedari tadi menyemangati dirinya. Berbalut Jersey Ungu, ia nampak anggun sekali. Gronya, cewek itu kembali lagi. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kini?

Cerpen Karangan: Akhmad Suryanto
Blog: akhmadsuryanto.blogspot.com
Facebook: Akhmad Suryanto
Namaku Akhmad Suryanto. Mahasiswa Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang. Penyuka Thai Movies, fanatik banget sama yang namanya badminton. dan bermimpi pengen ketemu Taufik Hidayat.

Cerpen Love’s Coming (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rembulan Tanpa Cahaya

Oleh:
Aku bagai lilin kecil tanpa cahaya. Berlari-lari dari kenyataan yang begitu kelam ku rasakan kini. Dulu kau bagai madu yang terucap manis sekali di telingaku. Namun kini kau adalah

Istri Yang Tak Diinginkan

Oleh:
Aku sangat mencintaimu, dulu sampai sekarang dan mungkin selamanya. Perasaan itu masih sama meskipun berulang kali kau menghancurkannya. Tidak, bukan kau. Tapi aku sendirilah yang menghancurkannya. Kenyataannya aku yang

Hear Me? Miss Me?

Oleh:
Namaku Megumi, aku bersekolah di SMAK SSang Timur (Tomang). Aku mempunyai sahabat bernama Monica, yang biasa kupanggil Monik. Setiap hari aku selalu bersama-sama dengannya, apalagi kami petugas agenda. “Hmm…

Love Story

Oleh:
Perlahan aku membuka sebuah diary usang, aku yakin umur diary ini sudah lebih tua dari umurku. Tentu saja, diary usang ini milik Ibuku, bungkusnya masih tampak rapi, tulisan di

Separuh Aku, Kamu

Oleh:
Rasanya Karina ingin mencakar wajah perempuan itu. Namun Karina berusaha untuk menahan diri. Deliah tampak tenang di kursi kebesarannya. “Aku memang sangat mencintai Damian. Kau puas?” itulah jawaban Deliah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *