Malaikat Jiwa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Kala cinta terkhianati, tak mampu berbuat lebih selain menjerit dalam tangis.
2 Tahun sudah cinta terbangun dengan perjuangan, namun saat ini perlahan dinding cinta mulai goyah.
“Tuhan… cobaan apa lagi ini? 2 tahun sudah aku membangun cinta dengannya dan selama 2 tahun itu pula, dia mengkhianatiku.” Lirih seorang gadis yang tengah berdiri di atas balkon kamarnya. Nadia Angelina, itulah namanya.
Entah sudah berapa banyak air mata yang ia teteskan untuk meratapi hubungannya, yang tengah berada di ambang kehancuran.
Pikirannya terus saja berputar pada peristiwa sore tadi.

“Ka Bisma? Hei..! Kakak ngapain disini? Aku seneng deh kakak datang ke Panti. Kakak, pasti mau jemput aku, ya?”
“Hmmm… Iy-iya, Nad. Kakak mau jemput kamu.” Pria bernama Bisma ini adalah kekasih dari gadis bernama, Nadia.
Tak seperti biasanya Bisma mau datang mengunjungi panti. Biasanya ia selalu enggan bila di ajak bakti sosial di panti. Tentu dengan berbagai alasan.
“Ih… Tumben banget. Terus kenapa nggak kasih tahu dulu?”
Wajah Bisma nampak bingung, ia terus menggaruk tengkuknya.
Tiba-tiba saja seorang wanita cantik menghampiri mereka, “Bis, kita ke-”
seketika perkataannya terhenti kala melihat Nadia.
“Hai, Nad? lo, ngapain sama Bisma? lo kenal dia?” sambung wanita itu yang ternyata adalah Dea, sahabat Nadia.
“Iyalah, aku kenal sama kak Bisma, dia itu–” dengan segera Bisma memotong perkataan Nadia.
“Nadia itu sepupu aku sayang.”
DEG!
Apa yang pria ini katakan? Sadarkah ia akan apa yang diucapkannya?
Bisma merangkul pundak Dea.
“Kamu kok nggak pernah cerita sama aku, kalau Nadia ini sepupu kamu?” Dea menyipitkan matanya, penuh curiga.
“Hm.. Aku nggak pernah cerita, karena kamu kan nggak pernah nanya, sayang.”
Dada Nadia terasa tertindih beribu batuan besar, sakit rasanya. Buliran permata telah siap keluar dari persembunyiannya.
“Nad… lo, nangis?” Dea hendak mendekatkan diri pada Nadia, namun dengan cepat Nadia melangkah mundur.
“Enggak, gue nggak apa-apa. Oh ya, selamat untuk kalian!” nadanya terdengar penuh dengan kekecewaan.

“Jahat…!! lo, jahat..!! gue benci elo, Bisma Andreas! gue benci, elo!” Teriak Nadia.
Lihatlah wajahnya, kentara sekali gadis ini tengah frustasi.
“Maafin aku Nad..! plis, aku mohon jangan pernah benci aku. Aku tahu aku salah.” lirih seorang pria yang berada di ambang pintu. “Maaf…!” sambungnya.
“Ngapain lo kesini?” Ketus Nadia.
Tak seperti biasanya Nadia seketus ini dengan Bisma. Sebenarnya, wajar saja jika Nadia bersikap seperti ini. Hatinya sangatlah hancur Saat ini.
“Aku mau minta maaf sama kamu.”
Kini Bisma sudah berdiri tepat di belakang Nadia. Pria tampan ini terus memandang punggung gadis yang hatinya telah ia lukai.
Nadia tak bergeming, ia lebih memilih melihat pemandangan hampa di luar.
Glleeepp!! Bisma memeluk tubuh Nadia dari belakang.
“Maaf.. Aku mohon maafin aku!”
“Aku mencintaimu.”
Nadia masih tak bergeming. Tangan Nadia berusaha menyingkirkan lingkaran tangan Bisma dari pundaknya. Bukannya terlepas, justru pelukan Bisma semakin erat.
“Sudahlah kak, mending kakak pulang! dan lupakan kalau kita pernah kenal!” Nada bicara Nadia semakin dingin. Ia sama sekali tak ingin melihat wajah Bisma.
“Aku gak akan pulang sebelum kamu dengerin penjelasan aku.”
“Apalagi yang mau kakak jelasin? semua sudah jelas kan. bahkan sangat jelas!!”
“Aku cinta sama kamu, Nad. Percayalah!” Nadia membalikan tubuhnya. Mata senja itu menangkap wajah pria di hadapannya. Ada segurat kepedihan yang tergambar saat melihatnya.
“Kakak bilang, cinta sama aku? yang seperti ini kakak bilang cinta? heh..” Nadia mendengus kasar, “Kalau kakak cinta sama aku, kakak enggak akan pernah selingkuh! apalagi selingkuh sama sahabatku sendiri! Sakit kak, Sakit..” Tangisan Nadia semakin membuncah, suaranya semakin melemah.
“Aku benar-benar nggak tahu kalau dia itu sahabat kamu.”
“Kalau emang kakak cinta sama aku, putusin dia!”
“Maaf.. Aku enggak bisa putusin Dea.” Bisma menunduk, tak sanggup rasanya melihat gadisnya menangis.
“Oh… Ok kalau gitu. Aku yang yang akan pergi. Dan aku mohon kakak jangan pernah lagi datang dalam hidupku.”
“Enggak! kamu enggak boleh pergi. aku enggak bisa memutuskan kamu ataupun Dea. karena aku mencintai kalian berdua.” Nadia tak habis pikir dengan pria ini. Mengapa Bisma bisa menaruh dua cinta dalam satu hati?
Bisma meletakkan kedua tangannya pada kedua sisi pipi Nadia, berusaha mencari manik mata Nadia yang sedari tadi mengelak.
“Aku juga bingung dengan hatiku sendiri. Di satu sisi aku mencintaimu tapi di sisi lain aku selalu meras tenang jika aku bersama Dea dan aku menyayanginya. Berikan aku waktu untuk bisa menentukan siapa bidadari yang akan ku bimbing menuju surga kelak.” Bisma menitikan air matanya. Nadia melihat ada ketulusan dari setiap ucapan Bisma.
“Teruslah yakinkan diriku bahwa kaulah bidadari itu.” sambungnya.

Nadia melihat dirinya dari pantulan cermin. Terlihat matanya sembab dan memerah, karena semalam ia tak hentinya menangis.
“Sanggupkah aku berbagi cinta dengan orang lain? Huh..” Nadia menghelah nafas berat, membenamkan wajahnya diatas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja.
“Kok kamu diem disini aja sih sayang? Kita jadi kan perginya?”
“Iya, jadi ko kak.” yap, suara itu adalah suara Bisma. Memang semalam Nadia menyetujui permintaan Bisma untuk mendua. Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk Nadia. Ia harus merelakan Bisma mencintai sahabatnya.

Bisma membawa Nadia menuju danau. Disinilah tempat pertama mereka bertemu. Ribuan memori indah tengah berlarian di otak Nadia. Titikan embun sudah mulai menhiasi pelupuk matanya.
“Kamu kok sedih? Kenapa heumm..?” Bisma menyeka buliran permata yang terjatuh dari pelupuk indah Nadia. Tatapan pria ini sungguh dalam, dan mampu menenangkan hati gadis di hadapannya.
“Mungkin saat-saat seperti inilah yang nanti akan aku rindukan. Pasti susah untuk melupakan semua memori indah kita.” Nadia tersenyum getir. Ia benar-benar tak mampu membayangkan jika pada akhirnya pilihan Bisma jatuh pada Dea.
“Jangan pernah melupakan semua kenangan kita. Teruslah simpan dalam hati dan pikiranmu.”
“Untuk apa disimpan? Kalau itu hanya akan menyakitkan diri sendiri?” seketika Bisma terdiam, ucapan Nadia seakan mengunci bibirnya. Sedetik setelah itu, ia menarik tubuh Nadia ke dalam dekapannya.
“Aku hanya takut kalau akhirnya aku akan kehilangan kakak. Aku takut aku enggak bisa merasakan kehangatan pelukan ini lagi. aku takut enggak ada yang sayang lagi sama aku. Aku takut-”
“Sttt… Enggak! kamu gak boleh ngomong seperti itu lagi. Teruslah yakinkan hatiku bahwa kamulah yang terbaik. Jangan membuat hatiku semakin memihak pada Dea.” Isakan Nadia semakin terdengar nyata.
“Aku janji, akan membuat hati kakak yakin pada cintaku.”
Mereka saling terhanyut dalam hangatnya cinta dan getirnya kenyataan. Dekapan keduanya semakin erat, seperti mengisyaratkan bahwa meraka tak ingin kehilangan.

Dreeett..
Ponsel Bisma bergetar menandakan ada seseorang di seberang yang mencoba menghubunginya. Ia hanya melirik sekilas layar ponselnya, kemudia pandangannya kembali tertuju pada Nadia.
“Kenapa enggak diangkat?”
“Embbmm.. Enggak penting juga. Hari ini aku enggak mau ada yang ganggu kita, aku hanya ingin menghabiskan hari ini hanya denganmu.” Tangannya terulur mengelus rambut hitam panjang milik Nadia.
“Itu pasti Dea?” Tebakan Nadia sangat tepat! Yang menghubungi Bisma adalah Dea, kekasih kedua Bisma. Pria itu hanya mengangguk dan masih enggan menanggapi.
“Angkat aja kak, siapa tahu penting.”
“Udahlah biarin aja. Enggak ada yang lebih penting selain kamu.” Senyumanya terulas.
“Kak, kakak itu bukan milik aku seutuhnya. Separuh hati kakak itu milik Dea. Berlaku adillah pada keduannya.” Dengan rasa terpaksa akhirnya Bisma mengikuti perkataan Nadia. Ia beranjak menjauh beberapa langkah dari tempatnya semula.

Setelah beberapa menit akhirnya Bisma mengakhiri pembicaraan dengan Dea melalui ponselnya. Ia melirik sekilas, lalu memdekat kembeli ke tempatnya semula.
“Kenapa?” tanya Nadia cemas, saat melihat raut wajah Bisma yang mendadak muram.
“Tante Ani, masuk rumah sakit.” Sahut Bisma lesuh. Tante Ani adalah ibu Dea.
“Ya, Tuhan. Tante Ani masuk rumah sakit? Kenapa dia kak? Terus sekarang keadaannya gimana?” Bisma dihujani pertanyaa dari Nadia, jujur Bisma tak tahu harus menjawab apa, karena memang Dea tak memberi tahunya.
“Aku nggak tahu pasti keadaannya, tadi dea menangis dan dia cuma nyuruh aku buat ke rumah sakit.”
“Ya sudah, kakak pergi aja.” Bisma menaikan sebalah alisan. Seolah tahu apa yang dipikirkan Bisma Nadiapun menepuk pundak Bisma, “Aku akan jenguk Tante Ani, nanti. Kakak sekarang cepet kesana! Aku yakin Dea butuh kakak.”
“Aku antar kamu pulang dulu, ayo!” Nadia menggeleng.
“Temui dia! Dia lebih membutuhkan kakak. Aku bisa pulang sendiri kok.” ucap Nadia penuh ketulusan. Bisma mengecup puncak kepalanya, lalu berlenggang pergi, Nadia masih setia menatap punggung Bisma yang perlahan semakin menghilang.

Bersambung….
Bagaimanakah akhir dari kisah rumit mereka? Tunggu kelanjutanya guyss….

Cerpen Karangan: Istiqomah Nur Rizki
Blog / Facebook: kumpulan cerpen-puisi NR / Istiqomah Nur Rizky
Nama saya Istiqomah Nur Rizki, seorang penulis pemula. Umur saya 15 tahun. Tinggal di daerah terkenal dengan batiknya, yakni, Cirebon. Saya mencoba menulis untuk membagikan pikiran liar saya pada orang banyak, meninggalkan pesan di hati para pembaca.

Cerpen Malaikat Jiwa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Yang Terluka

Oleh:
“Apa? Kamu gebetan sama azkar? Gilaa kamu ituu pacarnyaa gilang sya” mia kaget sekali dengan ceritaku. Padahal aku biasa biasa saja “oh ayolah mi, aku juga butuh temen jalan

Risalah Hati (Part 3)

Oleh:
13 November 2015, Mt. Cikuray, 2821 MDPL 13.00 PM Aku dan kawan-kawan dari komunitas Lidi Rimba mendaki puncak Cikuray. 2821 MDPL aku tempuh dengan kawan-kawan komunitas Lidi Rimba. Diperjalanan

Menangis Dibalik Kesenyuman

Oleh:
Siang ini guru menyuruh kami untuk membuat sebuah lagu untuk sebagai pentas seni kami pun berbagi tugas untuk kelompok kami. Di kelompok kami ada silmi, dewi dan intan sedangkan

Hanyalah Sebatas Teman

Oleh:
Sinar mentari menyinari kamarku, rasanya aku malas sekali untuk bangun. Mataku masih terpejam dan berbaring di kamar tidur. Lalu, aku segera beranjak dari tempat tidurku. Setelah aku mandi dan

Sahabat Ku Saudara Ku

Oleh:
“satu… dua.. tiga.. empat… lima.. enam.. tujuh… delapan… dan sepuluh!!” ucap ku yang berada di depan rumah tetangga baruku yang baru pindah beberapa hari belakangan ini “mama aku berangkat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *