Menanti Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 14 June 2016

Hidup akan terasa indah saat kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita terima, ikhlas dengan apa yang sudah terjadi. Sebagaimana manusia, aku tidak bisa melawan takdirku sendiri. Sesuatu yang telah terjadi melainkan takdir yang sudah tergambar pada garis tangan masing-masing. Namaku Naura, aku menempuh pendidikan di Australia, yaitu The Univercity of Queesland. Dengan lulus tes sleksi akhirnya aku terpilih dengan sahabatku yang sudah ku anggap keluarga kecilku, setelalah keluarga yang merupakan surga kecilku telah tiggal bersama sang pengcipta. Dan sekarang aku hanya bisa bersandar pada sahabatku yaitu Erna. Kami seperti seorang adik dan kakak, anak dengan ibunya dan kadang juga saudara kembar yang masih pada usia balita. Disinilah kisah hidupku dimulai dalam kesederhanaan, dan sejak pertama aku menginjakkan kaki di Australia atas segala Ridhonya dan ucapan Bismillah ku langkahkan kakiku.

“Assalamualaikum” ucapan salam yang di ucapkan oleh suara yang sudag tidak asing lagi. Ya… dia adalah Azam. Sahabatku selama di Australia yang juga merupakan teman sekelasku. Yang selalu menemaniku disaat Erna sedang sibuk dan tidak bisa bersamaku. Ia merupakan sosok pria yang sangat bak dan juga peduli terhadap sesaama. Kami bertiga merupakan sahabat yamng sangat akrab dengan dipenuhi keceriaan. “Walaikumsalam” aku membuka pintu dan menyuruh Azam untuk duduk dan menawarkannya minum. Biasanya yang menjadi tempat favorit kami bertiga yaitu taman di samping rumah. Disana tempatnya sangat sejuk, sehingga membuat suasana hati menjadi tenang. Aku mmebawa dua cangkir teh dengan merasakan kesejukan taman favorit kami. “Ra, nanti mama mengundang kamu makan malam, Erna sekalian juga diajak deh” .Azam mengajakku makan malam dengan menyampaikan pesan dari bu Ana. “Tapi Zam, secara mendadak? kalau Erna ada kegiatan lain gimana, aku gak mungkin kesana tanpa Erna juga kan” aku menjawabnya dengan sedikit senyuman kecil agar menolak dengan cara yang sopan. “Erna pasti bisa Ra, insha allah” ucap Azam dengan yakin atas segala sesuatu. “Aku bisa kok” suara Erna mengagetkan dengan keadaan berdiri di belakang kami. “Erna, kalau datang salam dulu, kok malah tiba-tiba ngagetin”. aku menggelengkan keapalaku dan sambil mencubit tipis tangannya dengan sedikit senyuman. “Aduh, maaf Ra, habis tawaran Azam yang gak bisa ngebuat aku sabar untuk menjawabnya, takut keburu ditolak sama kamu, hehe..”. Erna memeluk bahuku dengan membalas senyumanku dengan sifat balita Erna yang mulai kambuh lagi. “Ya sudah Ra, Na aku pamit pulang dulu ya, nanti aku jemput kalian jam 06.30”. Azam segera bermaitan pulang.

Tepat jam 06.30 Azam menjemput kami. Dengan mengenakan dress panjangku dan hijab kesayangku, begitu pula dengan Erna yang terlihatt cantik dengan hijabnya. “gimana sudah siap?” Azam melihatku denga tersenyum. Kami pun segera berangkat menuju ke kediaman Azam. Keluarga Azam juga berasal dari Indonesia namun sejak Azam masih duduk di bangku SMA mereka pindah ke Australia karena bisnis kerja pak Fadli. Beliau sangat pekerja keras sehingga mampu menopang kehidupan keluarganya sampai menjadi seperti sekarang ini.

Mobil pun sampai dan parkir di halaman rumah Azam. Rasa malu, takut juga bercampur menjadi satu. Baru saat sekarang ini aku makan malam bersama keluarga pak Fadli. Yang biasanya hanya bertemu dengan tidak sengaja sekarang bertemu pada sutu pertemuan. Bismillah, aku langkahkan kakiku perlahan dengan menggenggam tangan Erna yang berjalan dengan lambaian ketenangan. “Sudah Ra, tenang saja, niatan keluargaku baik, tidak usah khawatir ataupun merasa sungkan”. Ucap Azam berjalan di sampingku.

Selamat datang Naura, Erna ucap pak Fadli dan juga bu Ana. “Naura, Erna kalian sangat cantik” kata bu Ana. ibu Ana sudah seperti ibuku sendiri, karena sejak beliau mengikuti pengajian rutin yang diadan secara kecil-kecilan. “Terimakasih Bu, gimana kabar Bu Ana?”. Sembari aku menayakan kabar Bu Ana. “Alhamdulillah ibu baik-baik saja Ra, ayo silahkakn dinikmati hidangannya”. bu Ana mempersilahkan kami untuk segera menikmati hidangan makan malam tersebut. Di tengah makan malam itu berlanjut, rasa terkejut aku rasakan, tak hanya aku Erna sahabatku juga merasa sangat tetkejut, bu Ana membicarakan sesuatu yang benar-benar serius. “Naura, sebenarnya kami mengundang kalian makan malam ada yang ingin ibu sampaikan kepada Naura”. bu Ana berkata dengan melihat ke arahku yang berada di sampingnya. “ada apa bu, adakah sesuatu yang ingin bu ana sampaikan kepada Naura?”. Jawabanku penasaran denagan menyelingkan pertanyaan pada jawabanku sendiri. “begini Ra, Azam sudah cerita banyak tentang kamu, kami juga merasa kamu pilihan yang tepat uuntuk mendampingi Azam kelak dan di kemudian harinya, ibu dan bapak berharap kamu bisa menjadi bagian dari keluarga kami”. Ucap bu Ana menjelaskan dan memegang tanganku. Subhanallah bu Ana sungguh mengejutkankanku begitu juga Erna yang sangat terkejut. di sisi lain aku juga menyukai Azam. “tapi mengapa harus Naura, bukankah masih banyak wanita yang lebih berakhlak mulia dan jauh lebih dari kata sempurna”. Pertanyaanku dengan merasa heran. Lalu pak Fadli pun menjawab pertanyaanku “sekarang keputusan itu ada pada Naura, Azam memamng mengharapkan Naura, begitu juga dengan kami, bapak harap Naura dapat menjawab dengan ikhlas dan yakin pada pilihan Naura”. Pak fadli menambahi pernyataan atas apa yang telah disampaikan oleh bu Ana. “insha Allah jika Allah mengizinkan Naura, Naura juga siap untuk menjadi bagian dari bu Ana dan juga pak Fadli, seta mengabdi kepada Azam, dengan setia menemani Azam karena Naura juga menyayangi Azam”. Jawabanku juga sedikit mengagetkan kepada Azam, akan tetapi Azam tersenyum ke arahku dan begitu pula bu Ana yang terlihat bahagia sambil merangkulku dengan sedikit tawa kecilnya. Namun Erna entah mengapa ia berlari keluar meninggalkan kami, apa mungkin ia tidak menyetujui atas jawabanku atau ada maksud lain. Aku berpamit untuk mengejar Erna, yang ternyata Erna menangis, ia bersender pada sebuah tembok rumah Azam di luar, aku menghampirinya “Na, kamu kenapa, apa jawabanku tadi salah?”. Aku menanyakan hal itu degan berdiri di hadapannya “jawabanmu gak salah Ra, tapi aku yang salah, hanya saja ku tidak terlalu peka dalam membaca situasi, aku menyukai Azam, tetapi di sisi lain dia hanya menyayangimu begitupun kamu yang juga menintainya harapanku Azam menyukaiku tapi kenyataan tidak seperti itu”. Ucap Erna, dengan menangis dan benar-benar membuatku terdiam. “kenapa kamu tidak cerita semua ini dari awal Na, kenapa kamu menyembunyikan semuanya, bagaimana atas jawaban itu, seandainya kamu cerita dari awal aku akan menjauhi Azam”. Aku menangis dan menggenggam tangan Erna rasa bersalahku padanya sangat beasr. “aku sudah ikhlasin semua itu Ra, Azam akan tetap mejadi sahabatku, aku tidak apa-apa dengan jawabanmu, aku telah berada pada keputusanku jadi berbahagialah bersama dirinya”. Erna memelukku. Aku tidak meyangka Erna akan mengorbankan perasaannya untuk ku, aku tidak mungkin melupakan kebaikan Erna terhadapku atas segalanya yang telah ia lakukan.

Hari semakin berjalan dengan cepat, acara lamaranku berjalan dengan baik, serta wisuda ku selesai dengan sangat lancar tanpa suatu halangan apapun. Rencana untuk pernikahan sudah ditentukan oleh pak Fadli pada minggu depan acara itu akan segera di langsungkan. Erna juga sudah melupakan semuanya, ia tetap bersahabat baik dengan Azam. namun kabar dari indonesia pun datang bahwa Azam akan menghadiri suatu acara bisnis dengan rekan kerjanya. Pertama Azam menolak untuk datang akan tetapi aku merasa tidak apa-apa dengan Azam berangkat ke Indonsia. akhirnya mau tidak mau Azam harus berangkat. Keesokan harinya Azam pergi ke bandara denganku dan Erna. Setelah berberapa saat menunggu, pesawat tersebut akan segera berangkat. Aku segera mencium tangan Azam lalu Azam pun segera berangkat, berat rasanya akan ditinggal menjelang acara pernikahan. Setelah sampai di Indonesia kami menjalin hubungan dari via telfon maupun akun masingg-masing.

Genap lima hari sudah Azam di indonesia, ia mengabari ku bahwa hari ini kan segera pulang dan ia telah berada di bandara untuk segera berangkat menuju Ausralia. Rasa senang karena Azam akan datang di hari pernikahan kami yang menjelang kurang dua hari lagi. Aku bersiap untuk menjemput Azam, aku mengajak Erna utuk memenaniku. Langkah kaki ku berpaling untuk mengangkat telfon ternayata itu dari salah satu teman kelas ku. Ia memberi tahu ku untuk segera melihat program berita. Segera aku arahkan kepada chanel tersebut. Astagfirullah kaki ku tidak bisa menopang dengan kuat remot control di tanganku terjatuh, tubuhku rasaya tidak bisa lagi untuk berdiri, aku merasa benar-bemar terpukul, aku berteriak dalam tangisku. “Azam.. tidak, tidak mungkin ini tidak mungkin terjadi”. Kabar buruk yang tidak ku inginkan, menimpaku lagi. Pesawat yang dinaiki Azam kehilangan kendali hingga terjatuh sebelum mendarat. Erna berlari menghapiriku, dan ia merangkulku, ia juga merasa terpukul, aku merasa hilang arah, lagi-lagi orang yang aku sayang harus pergi jauh. Dengan sekuat tenagaku aku berlari menuju rumah sakit sesuai berita di televisi tersebut. Ternaya setelah aku sampai ternaya Pak Fadli dan bu Ana sudah ada di tempat itu dengan sengaja tidak memberi tahu ku. Azam telah pergi dan disanalah aku tak dapat menahan diriku, tangisku serta jeritku. Aku tak mempercayai ternayata Azam sudah tidak akan ada lagi di sampingku, acara bahagiaku yang akan berlangsung dua hari mendatang telah menjadi dukaku yang sangat dalam.

Tujuh hari sudah terlewati, aku merasa belum bisa menerima ini semua, aku memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia, segera aku berpamitan untuk kembali ke tanah kelahiran ku. Awalnya bu Ana sangat melarangku, namun pak Fadli memberitahu bu Ana bahawa kita tidak boleh kalah dengan ego kita, relakan semuanya, semuanya sudah ditentukan oleh sang pencipta. Sebelum kembali ke Indonesia aku berziarah ke makam Azam terlebih dahulu. Ratapan hati yang begitu meremukkan hati ini sungguh sangat merapuhkan langkahku.

Ya allah berilah ruang terindah untuk dia yang aku sayangi
Sayangi ia di sisimu, karena kini aku sangat jauh dengannya
Azam, jauh kita terpisah, dan ini bukan hanya karena waktu
Yang bisa ku sampaikan hanyalah rangkaian doaku yang semoga bisa menemanimu
Selamat tinggal, selamat jalan imam di akhiratku kelak
Aku menyayangimu
Sambut lah kelak di pintu surga

Pesawatku telah mendarat di tanah kelahiran, semoga dengan berada disini aku dapat lebih tegar lagi dengan menghadapi semuanya. Disinilah Erna masih menemaniku, sungguh ialah teman setiaku. Hingga pada suatu hari aku bekerja sama dengan sebuah perusahaan penerbit novel. Aku merasa dengan seperti ini keadaanku lebih baik. Sedangkan Erna bekerja menjadi sekertaris di suatu perusahaan yang tudak cukup besar. Dengan mengucap alhamdulillah dan Barakallah aku memulai semua ini dari awal lagi. Kesibukan ku membuat aku merasa lebih baik. aku menumpahkan semua curahanku melalui sebuah novel yang telah aku tulis dan sandaran bahu dari Erna. Setelah sekian lama genap dua tahun sudah aku berada pada posisi tersebut disanalah aku mulai membuka hati pada pria yang menyerupai Azam, dari sifat dan kepribadiaannya yang sangat mirip dengan Azam. Erna juga mendukung hubunganku dengannya. Ia sangat bahagia karena aku sudah tidak terpuruk dalam masa laluku. Pria itu bernama Irsyad, ia merupakan pria yang menyemangatiku dan juga berniatan untuk meng- ijabku. Karena aku sudah merasa yakin pada kuasa sang pencipta atas segala kehendaknya. Setelah berkenalan dengan keluarganya Alhamdulillah keluaga dari Irsyad merestui hubungan kami menuju jenjang yang lebih serius, dan menyuruh kami segera melakukan ijab agar terhindar dari fitnah. “mau aku temani untuk menjemput kebaya?”. tanya irsyad dengan simple namun ia sangat peduli padaku. “gak usah mas, aku ditemani Erna saja ya, kesibukanmu lebih penting”. Aku mengatakan hal itu dengan balasan senyuman dari irsyad. Hal seperti inilah yang ia suka tentang kemandirian ku.

Namun di tengah-tengan perjalanan naasnya taxi yang kami naiki mengalami kecelakaan. Posisiku sangat tidak memungkinkan, kakiku terjepit, aku hanya sadar sampai pada saat itu, tiba-tiba setelah aku bangun aku sudah berada di rumah sakit dengan di temani Erna, alhamdulilliah hanya sedikit perban di kepalnya. Disni juga ada irsyad dan keluarganya, mereka memandangku dengan raut muka yang sedih dalam ruangan itu. Akan tetapi aku merasa ada yang aneh pada diriku, kaki ku terasa sakit sekali namun juga terasa ringan. Aku membuka pelan-pelan selimutku dan ya allah, aku kehilangan kaki kiriku, aku menangis dengan tidak percaya. Awalnya aku tidak dapat menerimanya dan pada akhirnya aku sadar bahwa takdir kita tidak dapat kita lawan walaupun dengn cara apapun. Aku hanya ingin menenangkan diriku, aku hanya ingin Erna yang bersamaku di dalam ruangan ini, akhirmya Irsyad dan keluarganya menurutiku. “Na, aku boleh minta tolong sesuatu dan berjanjilah utnuk mengabulkannya”. Pintaku terhadap Erna dengan menggenggam tangannya. Erna menangis dengan hanya mengangguk. “menikahlah degan Irsyad, aku mempercayaimu bahwa kamu dapat mmembuatnya bahagia”. Aku menatap matamya yang tercengang dengan menangis menolak. “tidak, tidak mungkin Ra, yang harus menikah dengan Irsyad kamu Ra, bukan aku. Ini bukan jalan terbaik Ra”. Erna menggugahku. Akhirnya aku memamnggil Irsyad untuk masuk. “mas aku mohon kabulkan permintaanku, menikahlah dengan Erna, kalian akan bahagia, aku mohon dengan kalian ini permintaanku yang mungkin aku tidak akan meminta hal yang lain lagi”. Suasana menjadi hening, Irsyad tidak dapat menerimnya, ia menolak permintaanku. Namun aku juga menolak untuk menikah dengannya “aku mohon, kalian harus menikah, aku mecium tangan Irsyad dan Erna dengan menyatukan tangan mereka, jika kalian menyayangiku aku harap menikahlah”. Setelah melaui pertimbangan akhirnya mereka menyetujuinya. Pada esok harinya tepat hari jamat pagi mereka melangsungkan pernikahan di rumah sakit, aku merasa sangat senang karena Erna memakai kebaya yang akan aku pakai nantinya dan kali ini, hanya dengan cara ini aku membalas kebaikan Erna yang dulunya pernah mengorbankan perasaanya demi kebahagiaan ku. Pada saat itulah aku merasa tenang dan bahagia. Dengan menjalani hidupku yang akan indah pada waktunya tiba dengan restu Allah yang maha kuasa atas segalanya.
Membuat kebahagiaan dan tawa disetiap langkah hidup sangat berharga dan berarti. Perjalanan hidup bagai roda yang berputar. Semua akan melalui tahapannya masing-masing hanya dengan Keikhlasan dalam hati untuk menjalani hidup dengan apa yang telah ditetapkan dalam garis tangan yang sudah tergambar. Baik ataupun buruknya kita yang akan berperan dalam apa yang telah ditetpkan dalam sebuah skenarionya.
jangan pernah merasa lelah untuk menjalani kehidupan, semua akan terasa indah jika dijalani dengan hati yang ikhlas.

Cerpen Karangan: Soviya (Viviy)
Facebook: Viviy
Nama saya soviya yang biasa di panggil Viviy, daerah asal saya yaitu Situbpndo jawa timur. Saya menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, prodi S1 pendiidkan Geografi.

Cerpen Menanti Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kamu Yang Ku Tunggu

Oleh:
Nama ku Alisa, Ini pertama kalinya aku masuk di sekolah baru ku karena aku baru pindah sekolah kali ini aku menabrak seorang siswa lelaki *braakkk begitu kencangnya, aku dan

Sedikit Waktu

Oleh:
Kupandang langit penuh kabut yang menghantarkanku dalam kegelisahan. Bertanya pada embun, mengapa dia berubah? Gadis itu melangkahkan kakinya tergesa-gesa ia berusaha mengejar seseorang yang berada jauh di depannya. Dengan

Senandung Detak Jantung (Part 1)

Oleh:
Ivan menggenggam erat buket bunga mawar putih. Kakinya melangkah mantap dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sebuah rutinitas, Ia akan menemui seseorang setiap sore di bangku taman gedung itu.

Cafe Geino Demond

Oleh:
“Oke aku siap,” ucapku dengan baju yang berwarna pink dengan rok berwarna hitam, juga tas berwarna putih. “Mau ke mana, Ly?” Tanya Yolanda teman sekamarku yang baru saja ke

Aku yang Akan Jadi Cerminmu

Oleh:
Aku membuka mataku, namun rasanya berat sekali. Mungkin karena aku masih mengantuk. Iya, tadi malam aku pulang terlalu malam karena Anthony mengajakku ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *