Mengenang 5 Tahun Silam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Semanngat pagi menghiasi hariku di pagi ini, disambut senyum mentari pagi yang membangunkan orang dari mimpi indahnya. Richa Amelia, itulah namaku, tapi teman-temanku sering memanggilku Icha. Aku memang masih duduk di kelas XI SMK Negeri di tempatku, sikapku yang tomboi membuat teman-temanku heran mengapa aku bisa dikagumi oleh kaum adam. Namun aku tak tertarik pada mereka yang mengejarku karena masa laluku yang membuatku setia menunggu dan mengisi hari-hariku dengan kenangannya.

Kembali pada 5 tahun silam, memang aku masih kecil untuk mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya, hiper aktif dan tak pernah diam itulah sifatku, aku tak minta dilahirkan sebagai seorang perempuan yang dibingungkan oleh yang namannya cinta. Aku ingin menjadi seorang laki-laki yang bisa bebas dengan dunianya, yang tak begitu banyak larangan seperti wanita. Tapi inilah yang digariskan Tuhan untukku, aku terlahir sebagai wanita. Hingga ku mengenal cinta saat usiaku masih terlalu dini untuk tahu itu.

Berawal dari sifatku memanng aktif, tak ku sangka bahwa banyak guru yang sangat menyayangiku, Mr. Imok, Mr. Pras dan lainnya. Hingga akhrinya ada guru baru datang di saat aku sudah menginjak kelas 6 sekolah dasar semester 2 dan sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Semester. Mr. Benny namanya, ganteng sih orangnya, gitu deh kata temen-temen, tapi mau seganteng apapun aku gak bakalan tertarik. Itu kataku dalam hati. Hingga dia masuk kelasku dan… OMG dia guru les tambahan Bahasa inggris. Oh No, aku sama sekali tidak menyukainya walau aku sering dapat sanjungan dari Mr. Imok kalau aku selalu cepat bila disuruh menghafal tapi aku tetap tidak menyukai bahasa itu, karena aku selalu disuruh duduk di depan menemani Mr. Imok mengajar.

Dia masuk kelasku, dan benar dugaanku. Dasar cewek-cewek centil, orang guru baru masuk aja udah digodain, pake ditanya udah punya pacar belum? Lagi. Memang sih guru itu 7 tahun lebih tua dari teman-temanku sih tapi beda 8 tahun dari aku, karena aku yang terkecil di kelas. Dari semua temen-temenku yang heboh, aku asyik bermain dengan Lutfi sahabat cowok satu-satunya dan paling mengerti aku. Tak ku hiraukan ia mengatakan apa, bertanya apa, bahkan memandangnya saja tidak.

Dan sampai akhirnya waktu les pun tiba. Bosan sekali berada di kelas itu, apalagi aku duduk paling depan, berdekatan dengan meja guru, hingga waktu mengerjakan tugas yanng diberi dia, tak sengaja aku dan ia bertemu di tatapan yang sama. Deg!! Aku terpaku dalam pandangan mata indah itu, mata hitam, lebar, bercahaya itu memaku mataku beberapa detik. Hingga Laila mengagetkanku. “hayo, mandangin apa kamu cha?” kata Ila membuyarkan lamunanku.
“gak mandang apa-apa, mandang soal tuh di papan, sulit banget tuh guru bikin soal.” jawabku berbohong pada Ila.
“biar pun soalnya sulit yang penting aku bisa duduk di depan sambil memandangnya.” jawab Ila senyum-senyum sambil memandang Mr. Benny.

Jam pulang pun tiba dan sampai lah aku di rumah, ku taruh tasku dan merebahkan tubuhku ke kasur kesayanganku, aku masih teringat sekali tentang kejadian tadi yang membuatku tak tenang dan tak bisa tidur, entah apa yang membuatku terus memikirkan dia yang sama sekali gak penting buat aku selain Allah, keluarga, dan sahabatku. Dalam tidurku aku terus terbayang mata indah itu yang membuatku beku beberapa detik, ku terbangun dari tidur siangku dan hatiku serasa galau. Tak seperti biasanya aku merasakan seperti ini. Rasa apa ini? Tanyaku polos dalam hatiku.

Pagi ini aku begitu semangat untuk pergi ke sekolah, entah apa yang membuatku jadi seperti itu.
“Doooor!!!!”
“Ila, Ima. Ngegetin aja sih kalian!”
“lagian kamu sih dari kemarin aneh banget, ngelamun mullu. Mikirin Dhika ya?” goda Ima padaku.
“ngapain coba mikirin Dhika.” jawabku kesel, karena aku dan Dhika bersahabat tapi beda kota.

“udah-udah, oh ya cha. Aku dapet nomornya Mr. Benny si guru baru itu loh.” kata Ila.
“Deegg!!!!” aku tiba-tiba terdiam. “kenapa dengan hatiku? Tak seharusnya aku begini, seharusnya aku bahagia bila sahabatku juga bahagia..” Tangisku dalam hati.
“minta nggak kamu? Lumayan lo…” kata Ila membuyarkan lamunanku.
“iya deh..” Ku catat nomor itu, dan ku coba bersikap biasa dan melupakan mata indah kemarin.

Teet.. teet.. teet.. bel pulang pun berbunyi, dan aku bersyukur hari ini dia tak mengajar di kelasku hari ini. Aku pulang dan.. huft cape banget banget hari ini. Ku rebahkan tubuhku di ranjang.. sekejab aku terlelap dan tak lama aku terbangun, aku lupa aku belum melaksanakan salat duhur, ku bergegas bangun, berganti baju, mengambil wudu dan melaksanakan salat duhur. Selesai salat aku merebahkan badanku lagi di ranjang. Aku tak bisa tidur lagi, aku sudah disegarkan dengan air wudu tadi. Oh ya, aku lupa bahwa tadi Ila kan memberiku nomor Mr. Benny.. ku ambil Handphone-ku, ku ketik nomor yang tercatat di secarik kertas kecil dan ku mulai mengirim sms padanya.

“assalamualaikum pak, ini saya Richa Amelia dari kelas 6..” Perasaan takut, bercampur was-was menghampiriku setelah ku kirim sms itu.

Beberapa menit kemudian.. dreet.. dreet.. hp-ku berbunyi. Aku kaget. Ku terbangun dari tidurku yang baru saja ku mulai. Dengan penasaran aku buka hp-ku dan..
“walaikumsalam wr.wb. iya ada apa cha?”
“tidak ada apa-apa pak, cuma iseng aja.”
“oh gitu, boleh Bapak tanya sama kamu?”
“boleh pak..”

“apa Bapak ini ngajarnya terlalu sabar ya?” aku terdiam sejenak melihat pertanyaan Mr. Benny, karena dia selama ini sangat sabar sekalli mengajar kami, memang semua murid perempuan di kelas sangat diam dan menurut, tetapi beda dengan anak laki-laki di kelas kami, mereka begitu benci dan bahkan bandel bila di uruh masuk ketika les.
“mungkin pak..” Jawabku singkat karena ku merasa bersalah karena aku juga lumayan bandel sih. Hehe.
“pak, saya tidur dulu ya sudah siang, nanti disambung lagi.”
“iya cha, selamat tidur..” Ada yang aneh dengan perasaanku ini, lega dan bahagia banget.

Pagi ini, aku bersemangat sekali, ku berangkat sekolah amat pagi. Seperti biasa aku tunggu sahabat-sahabat ku di taman sekolah, iya. Itu tempat paling favorit buatku dan tempat aku berkumpul dengan ketiga sahabatku, karena di taman itu banyak kupu-kupu yang indah dan selalu tercium bau melati yang begitu harum di setiap paginya.
“hey, udah lama? Tumben pagi.” sapa Ima dan Ila.
“iya nih, lagi semangat pagi ini.” jawabku dengan senyum termanisku di pagi itu.
“cie, yang lagi berbunga-bunga. Sama siapa tuh.” jawab Ima membuatku tersipu malu.

“oh ya cha, aku kemarin sms-an lo sama Mr. Benny.” kata Ila membuatku sedikit tegang, tapi ku mencoba masih tersenyum.
“oh ya? Waw bagus dong. Aku kemarin juga sms-an sih tapi cuma bentar aja.” jawabku.
“ya gitu deh ca, si Ila kan lagi jatuh cinta sama si guru baru itu.” kata Ima yang membuat hatiku semakin tak keruan dan aku hanya tersenyum aja.
“eh, kita taruh tas dulu yuk terus kita ke kantin.” ajak Ila.
“baiklah.” jawabku dan Ima serempak.

Aku, Ima, dan Ila pergi ke kantin bertiga karena Lutfi belum datang. Kku berjalan dan bercanda ria denngan teman2 ku dan pada sampai di depan UKS tiba-tiba Mr. Benny muncul dan bersandar di pintu UKS dan… “hay cha, mau ke mana nih.” mata itu, pipi chaby itu. Tak ku sangka pagi-pagi gini sudah ku dapatkannya, bikin aku nge-fly aja nih orang.

“saya mau ke kantin pak.” dengan malu ku menjwabnya. Dan aku langsung berlari menuju kantin.
Sontak Ila langsung kaget dengan sifat Mr. Benny yang begitu manis denganku. Sesampai di kantin Ila marah denganku. Disangkanya aku ada apa-apa dengan Mr. Benny. Ku katakan yang sesungguhnya dan memang aku tak ada apa-apa dengannya.

Aku pulang.. “Assalamualaikum… Ibu..” tok tok tok.. “bu…”
Kreek!! Pintu rumah pun dibuka Kakak sepupuku yang kebetulan menjaga rumahku.
“udah pulang?” sambar mbak Ayu.
“udah mbak, Ibu sama Ayah mana? Kok tumben gak ada di rumah.”
“Ibu, sama Ayahmu lagi di rumah Nenek, udah dari tadi pagi sih, mungkin habis ini juga pulang, ganti baju gih…” jelas mbak Ayu yang langsung menyuruhku ganti baju.
“iya.”

Tiin, tinn..
“itu pasti Ayah..” Sahutku dari kamar dan langsung lari ke luar.
“udah pulang kak?” tanya Ibu padaku.
“iya bu.”
“Icha, tadi ada sms tuh dari guru kamu si Mr. Benny itu, tadi sih Ayah balas dianya pakai bahasa inggris gitu, Ayah jawabnya juga pakai bahasa inggris kok dan Ayah ngaku itu kamu.” jelas Ayah panjang lebar padaku.
“oh ya yah? Hahaha. Lucu banget dong.” aku tertawa penuh bahagia, selain lucu aku juga gak nyangka aja kalau dia perhatian gitu sama aku, sampe berani sms aku duluan lagi.

Sejak saat itulah setiap sms dari dia ku tulis semua dalam buku diaryku, ku buat jadwal tentang ia setiap hari, tentang dia pakai baju apa sekarang, datengnya pukul berapa dan lainnya. Dan sejak itu pula aku mulai memendam rasa dengan dia… biarlah rasa ini ku pendam tanpa ada seorang pun yang tahu, aku tak akan pernah bisa menyakiti Ila karena dia sangat mencintai Mr. Benny. kataku dalam hati.

Pagi ini aku merasa tak sesemangat biasanya, semenjak rasa ini ada aku selalu merasa bersalah dengan Ila karena aku juga mencintai orang yang sangat Ila cinta. Sampai di sekolah aku tak seceria biasanya, muka datar yang aku tampakkan, sampai akhirnya Ila dan Ima datang, Ila kelihatan begitu bahagia, dia selalu menceritakan tentang smsannya setiap hari dengan Mr. Benny. entah itu mengada-ngada atau tidak tapi aku mellihat Ila lebih ceria dari biasanya.

Setiap hari aku dan Mr. Benny semakin dekat aja, dan yang tak ku sangka berminggu-minggu kemudian Ila kelihatan begitu sedih. “Ila, kamu kenapa kok sedih gitu? Tumben gak cerita tentang Mr. Benny.”
“aku sudah nggak sms an lagi sama dia cha, setiap aku sms dia, dianya gak pernah bales.”
“aneh banget, padahal dia setiap malam selalu sms aku, kalau aku yang sms pun dia selalu bales.” kataku dalam hati.
“sabar Ila, mungkin dia sibuk.”
“iya, makasih cha..”
“sama-sama.”
“ke UKS yuk cha nungguin dia, aku mau pura-pura sakit ah.”
“nih anak caper bnget.” kataku dalam hati, “iya deh aku anter.”

Setelah aku dan Ila di UKS tak berapa lama Mr. Benny datang. Aku yang mencari-cari buku di sebelah UKS dikagetin sama dia.
“Icha, pagi-pagi kok udah ada di sini?”
“iya pak, nemenin Ila ke UKS sambil nyari-nyari buku nih pak.”
“bagus deh. Emang Ila sakit apa?”
“kurang tahu pak, tanya ke Ila aja tuh pak.”

Mr. Benny langsung menuju UKS menemui Ila yang sedang berpura-pura sakit di dalam.
“Ila, kamu sakit apa? Pagi-psgi udah di UKS aja, kalau sakit kenapa masuk?”
“cuma pusing aja pak.” jawab Ila memelas.
“Ya udah istirahat dulu.”

Sepulang sekolah Ila dan Ima main ke rumahku, Tak ku duga ternyata Ila membajak Hp-ku, oh No. Smsku dengan Mr. Benny belum ku hapus, pasti Ila marah besar padaku.
“cha, pinjam hp kamu boleh ndak.”
“iy la, boleh. Buat apa emang?”
“buat telepon Mr. Benny dong, kan hanya kamu yang smsnya selalu dibales dengannya dan hanya kamu yang setiap subuh selalu dibangunkan dia untuk salat. Ya kan?”
Kata-kata Ila barusan membuatku tak enak hati dengannya, “iya silahkan.”

Satu jam lebih Ila bertelepon dengan Mr. Benny, bahkan aku yang ingin berbicara pun tak diperbolehkan oleh Ila, oh Tuhan… kuatkan aku, sabarkan aku, lapangnkanlah hatiku.
“sabar ya cha.” timpa Ima menguatkanku.
“iya ma, aku gak apa-apa kok.” jawabku menahan air mata.
“nih cha, pulsa kamu abis tuh..” kata Ila sambil memberikan hp-ku.
“iya la.”
“ayo ma kita pulang, aku pulang ya cha.”
“iya ma, la. Hati-hati ya.”
Sungguh aku gak pernah nyangka begitu bencinyakah Ila padaku? Padahal telah ku korbankan rasa ini untuk kebahagiaannya. Kuatkan dan sabarkan aku ya Allah..

Kring.. kring.. hp-ku berbunyi tanda telepon masuk..
“masih baru selsai adzan subuh, siapa sih ini jam segini udah telepon aku.” gerutuku.
“hallo, assalamualaikum. Siapa ya?” jawabku sedikit lemas karena masih mengantuk.
“walaikumsalam, ini pak Benny cha..”
“oh Bapak. Ada apa pak?”
“Icha udah salat subuh belum, kalau belum cepet salat.”
“iya pak.”
“ya sudah gitu aja, assalamualaikum.”
“walaikumsalam.” bagai mimpi memang dibangunkan seseorang yang kita cinta hanya ingin memastikan kita udah salat apa belum.
Tapi sudahlah, tak seharusnya aku terlalu menaruh rasa padanya.

Pagi ini ku tak begitu semangat, sama seperti mentari pagi yang enggan mengeluarkan sinarnya. Mendung! kalau mau hujan mah hujan aja jangan php. Gerutuku dalam hati. Ku tunggu-tunggu hujan tak kunjung datang, hingga akhirnya waktu les pun tiba dan hujan juga turun dengan derasnya.. Duuar!! Suara petir yang sangat menggelegar. Aaaaaaa!!!! Teriakanku menegangkan suasana. Ya, aku memang takut petir dan phobia gelap.

Tak terasa aku sudah ada di rumah sekarang setelah menjalani aktivitas yang begitu melelahkan. Tuut.. tuut.. hp-ku berbunyi dan.. woooh!! Mr. Benny…
“ngapain sih nih orang hujan-hujan gini sms segala, mana laper banget nih perutku.” batinku dalam hati.
Dan aku pun smsan sama dia sambil masak karena waktu itu hujannya deres banget, bikin laper.
“Icha, telur kamu gosong nih.” teriak Ibu.
“iya bu.” jawabku sambil meloncat ke luar.
Dan itulah yang membuatku selalu mengingat kejadian itu.. hujan dan telur gosong.

Hari ini aku begitu sedih, Mr. Benny marah denganku.. dan yang tak ku sangka ini semua gara-gara Ila. Dia diam-diam mengambil nomor baru Mr. Benny dari hp-ku tanpa sepengetahuanku. Dan alhasil Mr. Benny menuduhku menyebarkan nomornya. Di situlah mulai merenggangnya hubungan kami. Padahal tinggal sedikit lagi kami akan sedekat yang ku harapkan.

5 tahun sudah ku jalani ini sendiri, walaupun banyak yang menyatakan cinta padaku, tapi nama Benny tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, meskipun banyak yang menyatakan cinta padaku seperti halnya Lutfi sahabatku sendiri. Kan ku tunggu kamu sampai kembali. Walaupun harus ku lalui hari ku dengan bayang-bayangmu saja dan dengan jadwal keseharianmu dulu yang ku catat di buku diaryku yang telah tinggal lembar demi lembar. Pesan yang selalu ku kirim tak pernah kau membalasnya, kau membalasnya hanya di 2 hari dalam 1 tahun. Yaitu di hari ulang tahunmu dan juga hari raya idhul fitri. Tak apa bagiku. Itu pun sudah membuatku senang.. hanya 1 yang aku inginkan jika kau melihat ini Mr. Benny. Kabari aku jikalau engkau ingin menikah. Aku ingin pergi ke sana, aku ingin melihatmu bahagia dengan pilihanmu. Dan ku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya.

Cerpen Karangan: Ariska Dewi
Facebook: Ariska Dewinta Sari

Cerpen Mengenang 5 Tahun Silam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Di Masa SMA

Oleh:
Namaku Bastian. Aku kini tengah menempuh pendidikan di sebuah SMA swasta di Australi, Aku tinggal bersama nenekku. Aku termasuk anak yang famous di sekolah, selain baik dan pintar aku

Ada Apa Dengan Impian?

Oleh:
“Kamu punya mimpi apa Ka?” pertanyaan dari guru itu masih mengiar-ngiar di telingaku. Kini aku disini, di persimpangan jalan kota kretek yang penuh lalu lalang kendaraan beroda. Masih dengan

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Aku berjalan seorang diri, menerobos beberapa kerumunan orang di tempat ini. Entah kenapa, perutku terasa mual setiap kali aku melihat keramaian seperti ini. Aku juga tak tau, angin apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *