My First And Last Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

Langit malam ini begitu gelap, menutupi bintang-bintang yang biasa ku sapa. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi malam ini, menimbulkan sebuah melodi menyayat hati. Aku menengadah menghadap langit yang segelap hatiku saat ini, membiarkan air hujan bercampur dengan air mata. Aku tidak tahu harus apa, aku hanya bisa menangisimu. Hujan belum berhenti membasahi tubuhku, dan seperti enggan berhenti menyanyikan melodi ini.

Aku mulai merasakan dinginnya malam, ku rasakan dinginnya menusuk tulang. Tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dinginnya hatiku saat ini. Aku merasakan sepi yang semakin mencekam, tapi bukan di luar sini, melainkan di dalam hatiku. Aku memejamkan mataku untuk mengingat senyum manismu dan hangatnya pelukmu. Bagaimana bisa hatimu menyakiti hati setulus hatiku? Kau terlalu jahat untukku. Kau memaksaku pergi darimu, benar-benar memaksa, tanpa mempedulikan sakitnya hatiku.

“Bintang, di mana pun kau berada tolong sampaikan padanya, aku merindukannya, aku mencintainya, dan aku menyayanginya.”
“Bintang? Di mana ada bintang?” Seseorang muncul dari belakangku, membawa payung putih transparan yang menghalangi pandanganku ke langit. “Cris?” Seseorang itu adalah Cristopher, teman sekelasku. “Sedang apa kau di sini? Dan lihatlah dirimu, kau sangat basah. Kau bisa sakit nanti.”
“Ha..” Aku tertegun mendengar perkataannya, apa benar dia mengatakan itu? Ada apa dengannya? Apakah dia sedang sakit? Biasanya dia hanya diam saat bertemu denganku, kenapa tiba-tiba baik?

“Hei… kenapa? Aku salah ngomong ya?”
“Eng.. enggak.. ngapain kamu di sini?” Aku mencoba terdengar biasa, tapi lebih terdengar sinis.
“Cuma jalan-jalan” Pandangannya beralih dariku.
“Jalan-jalan? Hujan-hujan begini? Sendiri lagi”
“Gak salah tuh ngomongnya? Dirimu sendiri kayak orang gila tahu gak? Udah cewek, malem-malem hujan-hujanan, ngomong sendiri lagi. Aneh,” Pandangannya beralih menatapku. Bukannya marah, aku malah memeluknya.

Hening.

“Maaf.” Aku melepaskan pelukanku. Aneh, kenapa dia membalas pelukanku?
“Kau ada masalah ya?” Tanyanya sambil menatapku tajam. Aku mengangguk lemah. “Ikut aku!” Dia menyeretku ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri.
“Aku basah” Aku menolak masuk mobilnya. “Masuk saja, lagi pula aku juga sudah ikut basah setelah kau peluk tadi” Katanya seraya membukakan pintu mobil untukku. Aku pun masuk. Beberapa detik kemudian Cristopher sudah duduk di sampingku.

“Sekarang ceritalah, aku akan mendengarkan ceritamu” Kadang aku merasa aneh dengan anak ini, dia bisa saja tiba-tiba baik seperti ini dan kadang dia bisa sangat dingin kepadaku.
“Aku baru putus Cris” Aku menoleh ke arahnya. “Putus? Sama siapa? Bukannya kamu gak punya pacar Ry? Atau mungkin ternyata kabar-kabar yang beredar di sekolah akhir-akhir ini tentang dirimu sama Acse pacaran itu bener?” Mendadak tatapannya jadi serius. “Iya bener, kita emang pacaran tapi backstreet. Dan aku gak tahu siapa yang nyebarin berita tentang aku pacaran sama Acse”

“Oh my God.. aku kira itu cuma gosip dan aku pikir pacarnya Acse itu Bhila, sahabatmu” Air mataku mulai menetes.
“Aku tahu, Acse gak pernah nganggep aku, dia gak pernah ngehargai aku, dia malah ngaku ke temen-temen kalau Bhila ceweknya. Yang paling bikin sakit itu kenapa Bhila mau diakui jadi ceweknya Acse? Sedangkan dia tahu aku pacarnya Acse”

“Udah, kamu gak perlu nangis, Hillary yang aku kenal gak cengeng tahu. Cowok kayak gitu gak perlu ditangisin, seharusnya kamu seneng udah putus sama dia, dia gak pantes buat kamu. Kamu gak perlu sedih, aku bakal bantuin kamu move on dari dia, dan aku akan balasin rasa sakitmu. Lihat aja besok, sekarang aku anterin kamu pulang, bajumu sangat basah” Aku hanya diam mendengar dia berkata seperti itu, kali ini dia benar-benar aneh.

“Tin… tin…” Aku melihat sebuah mobil hitam metalik yang semalam mengantarku pulang telah terparkir di depan gerbang rumahku. Aku segera ke luar dan membuka gerbang rumahku.
“Cris ngapain di sini?” Cristopher turun dari mobilnya dan membukakan pintu untukku.
“Bukannya aku udah bilang kalau mau bantuin kamu balas dendam sama Acse?”
“So?”
“Udah masuk aja, nanti kita telat”

Beberapa menit tidak ada pembicaraan antara aku dan Cristopher, lalu aku memutuskan mulai membuka pembicaraan.
“Jadi, apa rencanamu?”
“Rencana buat balasin dendammu?”
“Iya lah, emang rencana apa lagi? Hidupmu kan gak pernah punya rencana”
“Haha, lucu” Tersenyum kecut ke arahku.
“Jadi, apa rencananya?” Aku mengulangi pertanyaanku. “Lihat aja nanti” lirikannya tajam.
“Kita gak akan nyakitin Acse kan?” aku menaikkan alisku. “Mungkin”
“Jangan dong.. dia gak boleh kenapa-kenapa” Cristopher hanya diam, seperti biasanya. Baru saja aku mau bertanya lagi, tapi kita sudah sampai di sekolah. Cristopher memarkirkan mobilnya. Sebelum turun dari mobil, Cristopher mengatakan. “Ry, ikut aja ya sama rencanaku, jangan berontak”

Baru saja aku buka mulut untuk tanya maksudnya apa, dia sudah turun dari mobil duluan. Dia membukakan pintu untukku. “Makasih,” Ucapku. Kami berjalan menuju kelas dengan banyak mata melihat ke arah kami. Para fans Cristopher. Yah, siapa orang di sekolahku yang tidak tahu Cristopher, dia sangat famous. Di salah satu lorong aku melihat Acse sedang berbicara dengan Bhila. Berdua. Cristopher memegang tanganku. “Ini saatnya,” Dia tersenyum licik ke arahku. Dia melingkarkan lengannya di pundakku dan mengajakku berjalan melewati Acse dan Bhila. Ia berbisik, “Ry kamu bersikap santai aja, anggap aja kita kakak adik biar gak tegang”

Aku mencoba bersikap santai seperti yang dikatakan Cristopher meskipun hatiku sangat sakit melihat Acse dan Bhila berdua. Kami berjalan perlahan, semakin mendekat, dan mendekat. Berhenti. Apa ini? “Hei Acse katanya kemarin mau kenalan sama cewek gue?” Cristopher mengatakan ‘cewek gue’ dengan menatap ke arahku. Aku menatapnya tajam.
“Kamu sekarang pacarnya Cristopher Ry?” Bhila mengatakannya dengan nada berat dan dia terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Deg.

Aku baru ingat, Bhilla salah satu fans berat Cristopher. “Iya, dia pacarku” Cristopher menjawab pertanyaan Bhila sebelum aku sempat mengangguk. Acse hanya diam. “Ya udah Acse gue ke kelas dulu” Acse hanya tersenyum tanpa berkata apa pun sejak kami bertemu pagi ini. Aku dan Cristopher berjalan menjauh dari mereka.
“Cris kamu gila ya!? Kamu tahu kan Bhila sahabatku, dan kamu juga tahu kan Bhilla suka sama kamu?” Aku mengangkat salah satu alisku. “Iya tahu.. terus kenapa? Kamu takut nyakitin dia? Itu kan tujuan kita? udahlah Ry, sahabat gitu buat apa? Kamu terlalu baik sama dia.”

Aku memandang hujan dari balik jendela kamarku. Hujan malam ini tidak sederas hujan semalam, tapi bintang masih tertutup awan hitam. Aku bersandar di tembok kamarku dengan memeluk lutut, mencoba menahan diri untuk tidak berteriak, berteriak karena lelah dengan sandiwara ini. Dua bulan bersandiwara sebagai pacar Cristopher, cukup menyakitkan. “Sampai kapan sih Cris kita akan pura-pura pacaran gini? Sakit tahu gak, aku gak bisa move on dari Acse, percuma,”

“Drrt.. drrt…” Aku menatap handphone-ku. Panggilan masuk. “Acse?” Cepat-cepat aku meraih handphone-ku dan mendekatkannya ke telingaku.

“Halo?” Suara seseorang yang tidak asing.
“Halo” Suaraku gemetar, bahkan juga tanganku.
“Ini Hillary?”
“Iya, ada apa?”
“Em.. Ry, kamu sekarang pacaran sama Cristopher ya?”
“I-iya… bukannya beberapa hari lalu Cristopher udah bilang ya sama kamu?”
“Iya, cuma memastikan aja. Udah berapa lama pacaran?” Pertanyaan macam apa ini?
“Baru beberapa hari. Acse, udah dulu yah, tugasku masih banyak. Bye” Aku langsung mematikan telepon tanpa menunggunya mengatakan ‘bye’ juga kepadaku. Hatiku berdegup kencang.
Kenapa dia tiba-tiba meneleponku? Dia sepertinya benar-benar tidak rela salah satu mantannya berpaling darinya. Dasar playboy.

Aku duduk di sebuah bangku panjang di depan perpustakaan sekolahku bersama Bhila. Aku melihat ke arah lapangan bola volly sekolah. Ku lihat Acse sedang berbicara bersama teman-temannya. Lalu dia berjalan ke arahku dan Bhila, dengan pandangan dan senyuman yang mengarah padaku dan Bhila juga. Sangat tampan. Dia benar-benar layak disebut prince charming. Dia semakin dekat. Semakin dekat. Tiba-tiba terlihat Cristopher berjalan ke tengah lapangan, dan berhenti di tengah-tengah lapangan. Dan tanpa rasa malu dia berteriak.

“Woy… semuanya!!!” Sontak semua orang yang sedang berada di dekat lapangan mengarahkan pandangannya ke arah Cristopher, termasuk Acse yang jaraknya sudah tidak kurang dari 3 meter dariku. Dan suasana menjadi hening. “Hari ini gue mau bilang, kalau selama ini gue sama Hillary cuma temenan.. Kita cuma pura-pura pacaran” Dia berhenti bicara. Lalu melihat ke arahku dan mulai berjalan mendekatiku. Pandanganku beralih ke Acse. Dia memandangku juga, memberikan tatapan kecewa. Mungkin dia kecewa karena merasa telah dibohongi. Tatapan yang sama diberikan Bhila padaku. Sekarang Cristopher berdiri di depanku, dia menarik tanganku dan mengajakku ke tengah lapangan. Dia berteriak lagi.

“Selama ini gue cuma pura-pura sama dia” Aku sudah tidak tahan. Air mataku mulai turun. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Hanya bisa tertunduk. “Tapi, mulai hari ini, aku mau… kita benar-benar pacaran. Kamu mau kan jadi pacarku?” Cristopher berlutut di hadapanku. Di sekelilingku mulai ramai dengan suara orang-orang yang mengatakan “terima” berulang-ulang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Aku tidak tahu harus menerima atau menolaknya. Aku mendengarkan kata hatiku yang ku rasa sedang tidak bisa berkompromi dengan otakku. Hatiku berkata bahwa mencintai Acse, sementara itu otakku berpikir ini saat yang tepat untuk melupakan Acse dan mulai mencoba mencintai orang lain yang lebih baik.

“A.. aku…” Aku mulai mencoba berbicara meskipun terbata-bata dan dengan suara yang ku rasa seperti suara seseorang yang sedang dalam situasi berbahaya. Suasana mulai hening kembali. “Aku…mau jadi pacarmu.” Cristopher berdiri dan memelukku. Aku hanya terdiam tanpa membalas pelukannya. Aku tidak percaya dengan apa yang telah ku katakan. Aku menerima cintanya? Kenapa secepat itu aku memutuskan? Apa aku gegabah? Kali ini otakku menang, tapi otakku bahkan tidak dapat menentukan perasaan yang sekarang harus ku rasakan, apakah aku harus senang, atau aku harus menyesal karena telah menerima Cristopher.

Aku memandang langit di balik jendela sebuah cafe, dengan seseorang yang sedang duduk di hadapanku. Seseorang yang selama ini tidak pernah ku duga akan berada di depanku lagi. “Jadi sebelumnya hanya akting?” Pandanganku berpindah kepada seseorang yang biasa ku sebut ‘prince charming’ yang sekarang duduk di hadapanku. “Akting yang bagus…” Dia mengatakan kata ‘akting’ dengan tersenyum kecut tanpa sedikit pun melihat ke arahku, tatapannya mengarah lurus ke gelas berisi milk shake di meja yang ada di depannya.

“Lalu, apa urusannya denganmu?”
“Apa urusannya denganku? Tentu saja itu urusanku. Kau tahu? Aku masih menyayangimu!!”
Deg. Kata-kata itu seperti menusukku tepat di luka basah yang beberapa waktu lalu telah dibuatnya di hatiku.
“Menyayangiku katamu? Bukankah dirimu hanya menganggapku sampah hidupmu? Bukankah selama ini kamu lebih memilih Bhila? Ke mana saja kau selama ini? Kenapa baru sekarang berkata menyayangiku? Selama ini aku menunggumu, tapi hanya luka di hati yang aku dapat!!”

Tanpa terasa, aku sudah menaikkan suaraku dan telah membentaknya dengan suara yang cukup lantang dari biasanya, sontak orang-orang yang berada di dalam cafe memandang ke arahku dan Acse. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Air mataku turun, Acse segera meminta maaf kepada orang-orang yang memandangi kami dan segera menyeretku ke luar cafe. Dia membukakan pintu mobilnya untukku dan menyuruhku masuk ke mobilnya.

“Hil, kita ke taman ya” Dia menoleh ke arahku sambil menyalakan mobilnya. Aku tidak ingin menjawab, bahkan untuk melirik ke arahnya. Beberapa menit di perjalanan tidak ada percakapan antara aku dan Acse, kami menjadi lebih canggung dari biasanya yang juga cukup canggung. Saat aku ingin berbicara kepada Acse, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah perempatan, dan dengan cepat sebuah mobil hitam metalik yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri kami menabrak kami, sebelum aku sempat mengatakan sepatah kata pun kepada Acse, tapi sebelum mobil itu menabrak kami, dengan cepat Acse memelukku.

Aku baru datang ke sekolah setelah satu setengah bulan yang lalu mengalami kecelakaan dengan Acse. Dan sampai sekarang aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan Acse. Yang membuatku kecewa adalah, kenapa Cristopher tidak pernah datang ke rumahku untuk sekedar menjengukku. Yah mungkin saja dia takut punya pacar cacat setelah kecelakaan itu. Aku berharap dapat bertemu dengan Acse di sekolah, tapi, aku belum melihatnya pagi ini. Mungkin dia belum benar-benar sehat. Dan, Cristopher, di mana dia? Aku juga belum melihat dia pagi ini. Aku melihat jam tanganku, pukul 6.45 tapi mereka berdua belum juga muncul.

“Hillary?” Aku menoleh ke arah suara. Sahabat penikung. “Udah sehat? Ngapain di sini?”
“Udah sehat kok. Em.. nungguin Cristopher sama Acse” Bhila tersentak dengan jawabanku, dan mukanya terlihat bingung. “Ry… kamu beneran nungguin Acse sama Cristopher?”
“Iya”
“Kamu belum tahu apa amnesia sih?” Apa maksud pertanyaannya? Aku jadi bingung sekarang.
“Aku gak amnesia kok. Kenapa tanya gitu? Aku gak tahu apa emang?”
“Kamu benar-benar gak tahu ya? Orang-orang yang kamu tunggu, mereka gak akan ke sini lagi Ry..”

“Hah? Mereka pindah sekolah?”
“Ry, kecelakaan yang kamu alami sama Acse dan Cristopher itu..”
“Tunggu, Cristopher?” Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bhila.
“Ry…. mobil yang kamu sama Acse tumpangi itu ditabrak sama mobilnya Cristopher dari arah kiri. Dan kamu satu-satunya korban selamat di kecelakaan itu” Aku membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar. ‘Satu-satunya korban selamat?’ Sedangkan Acse dan Cristopher juga terlibat dalam kecelakaan itu. Itu artinya Acse dan Cristopher.

“Kamu gak bercandakan Bhil?” Bhila menggeleng. Air mataku meleleh, turun perlahan. “Tapi, bagaimana bisa? Acse di sebelah kanan, sedangkan aku di sebelah kiri, seharusnya aku yang mati, bukan Acse!”
“Aku gak tahu Ry. Sabar ya… sekarang kita ke kelas aja, bentar lagi udah bel”
Aku teringat saat itu Acse memelukku, mungkin karena dia ingin melindungiku.

Setiap hari aku selalu berdiri di depan gerbang sekolah sebelum mata pelajaran pertama dimulai, menunggu dua orang yang tidak mungkin ku temui lagi. Hari-hari yang ku lewati jadi berubah sejak aku tahu Acse mati karena melindungiku. Dan sekarang aku juga tahu bahwa selama ini Cristopher tidak pernah menjengukku karena dia telah mati. Aku menjadi pribadi yang pendiam, dingin dan tertutup. Bahkan saat di rumah aku selalu menyendiri di kamar, menangis, meratapi kisah ini, tapi tidak pernah mencoba melupakan Acse dan cintaku untuknya, aku membiarkan cinta ini mengalir dengan sendirinya hanya untuk aku nikmati sakitnya.

Dan aku pun mulai merasakan bahwa cinta ini perlahan tapi pasti membunuh kepribadian dan psikologisku. Ku biarkan saja, untuk menebus rasa bersalahku kepada Acse. Aku tidak tahu kapan kepribadian dan psikologis ini akan benar-benar mati oleh cinta, karena hanya waktu yang menentukan. Dan mungkin tidak lama lagi aku akan akrab dengan obat penenang saat aku mengingat Acse sebagai cinta pertama dan terakhirku.

Cerpen Karangan: Alfinatuz Zuhro Hilda Faradina
Facebook: Alfinatuz Zuhro Hilda

Cerpen My First And Last Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Di Antara 6 Sahabat

Oleh:
Luviandanietha adalah sebutan dari persahabatan kami, yang diambil dari kami masing-masing dan disusun serta disambung sehingga terbentuklah nama itu. Luviandanietha terdiri atas enam orang yaitu Luna, Virgo, Anta, Dava,

Fajar Dan Kenangannya

Oleh:
Suasana pagi ini tak seperti biasanya. Kali ini, kuhabiskan pagi di hari minggu untuk pergi jogging bersama alin, sahabatku, di alun-alun kota kami. Sengaja kami keluar rumah sebelum matahari

Posesif (Part 2)

Oleh:
“Lizz,” Nessa memecah keheningan tiba-tiba yang muncul di antara mereka berdua. “Ya?” “Seandainya Ari bilang kalau dia suka sama lo gimana?” ‘Deg’ Lizzie menghentikan langkahnya, ucapan Nessa memenuhi pikirannya.

Memutar Waktu

Oleh:
Gavin termangu menatap danau kecil di taman. Dulu ini adalah tempat favoritnya dan Reina untuk menghabiskan senja. Sekarang sudah tak bersisa, kenangan itu hilang selamanya bersamaan dengan meledaknya sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *