Never Know My Heart

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Farel menghampiriku dengan senyumnya yang aku suka dan menjadi penghiburku saat aku sedih. Aku pun saat ini sepertinya, tersenyum yang juga ia sukai. Hatiku berdebar menantikan responnya saat ia mendengar kata-kata yang sudah aku persiapkan sejak tadi. Ia memegang pipiku yang berlesung pipit dengan kedua tangannya dan tersenyum bahagia, begitu pun denganku.

“Aku ingin mengatakan suatu hal ke kamu Farel.” Kataku dengan senyum yang masih melebar.
“Tapi sebentar, aku yang akan lebih dulu mengatakan sesuatu kepadamu. Ya?” kata Farel tidak sabar.
“Iya oke, aku nggak sabar dengar hal itu. Cepat!” pintaku pada Farel agar ia segera mengatakan sesuatu itu.
Dalam pikirku sudah tertanam kata-kata yang akan diucapkan oleh sahabat kecilku ini. “Aku menyukaimu, dan aku juga mencintaimu!” pikirku saat ini, seperti yang aku duga. Namun…

“Hel, Luna nerima aku jadi pacarnya Hel. Aku seneng banget sekarang.” Kata itu meluncur dari mulut Farel yang menatapku bahagia. Aku yang tadi bahagia, perlahan harus menahan sakit dan desakan air mata yang ingin keluar. “Kamu bahagia kan Hel, kalau aku akhirnya menyatakan perasaanku kepada orang yang aku suka.” Kata-kata dari Farel membuatku merasa hampa dan pikiranku kosong. “Hel, jadi aku harus bagaimana? Apakah aku harus ke rumahnya? Tapi apa yang akan aku bawa?” tanya Farel padaku sembari menggoyang-goyangkan badanku.

“Iya pergilah ke rumahnya sekarang… dan bawalah cincin yang kemarin kamu beli, pakaikan cincin itu kepadanya.” Kataku terbata-bata. “Sekarang Hel?” tanya Farel sekali lagi memastikan keyakinannya kepadaku.
“Iya Farel, pergilah sekarang ke rumahnya dan buatlah dia bahagia.” Kataku gemetar.
Tanpa pikir panjang lagi Farel bergegas merogoh saku celananya dan berlari pergi jauh-jauh-jauh dariku dengan membawa kebahagiaannya. Saat Farel menghilang di balik tikungan jalan, aku berusaha berlari ke arah yang berlawanan, ke tempat yang menjadi tempat favoritku dengan Farel.

Hujan mengguyurku saat berlarian di antara hujan, jalan-jalan yang ku lewati menjadi sedikit sulit namun bagiku tak ada yang lebih sakit daripada mengetahui kenyataan itu dibandingkan dengan terpeleset jalanan licin, terjatuh saat mencoba melangkahi batang pohon. Aku menangis sejadi-jadinya, berteriak memanggil nama Farel sekeras-kerasnya. “Aku terlambat Farel, aku terlambat. Kenapa tidak lebih dulu aku mengatakan perasaanku kepadamu. Kenapa harus kamu memilih dia? Aku memang tidak berguna, aku memang lemah.” Umpatku setengah berteriak di tengah derasnya hujan.

Di sekitar ruangan ini putih dan berbau obat-obatan rumah sakit. Di mana aku? Di rumah sakit? Siapa yang membawaku ke sini? Kenapa aku di sini? Ah iya. Seorang wanita paruh baya menghampiriku dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan bagi orang sakit.

“Ibu, sejak kapan aku di sini, dan siapa yang membawaku ke sini?” tanyaku datar.
“Sejak kemarin sore, Ibu minta tolong ke Ayahnya Farel untuk cari kamu dan ternyata kamu di tempat itu.” Jelas Ibu menyiapkan suapan untuk ku makan, “ayo Hel, biar Ibu yang suapin kamu. Dari kemarin sore kamu belum makan.”
“Kenapa Ibu mencariku? Seharusnya Ibu tidak usah mencariku, biarkan aku di sana.” Kataku bernada agak tinggi.
“Kamu di sana pingsan Hel, makannya Ibu khawatir sama kamu.” Jawab Ibu datar.
“Ibu tidak tahu, aku sedang apa di sana? Kenapa Ibu membiarkanku hidup? Kenapa nggak biarin aku mati saja sih Bu?” kataku marah, tanganku menyibakkan selimut dan berniat untuk pergi dari kamar ini.

“Kamu mau ke mana Hel?” cegah Ibu meletakkan mangkuknya dan tangannya menghalangiku untuk bangkit.
“Aku mau pergi Bu, kebahagiaanku sudah nggak ada lagi di sini. Biarkan aku mati saja Bu, aku ingin menyusul Ayah. Di sini sudah tidak ada yang membuatku bahagia lagi Bu.” Kataku marah dan menangis seperti kemarin. Ibu berusaha membuatku agar tidak pergi dan mengajakku untuk duduk kembali di ranjang kamarku dan memelukku dengan sayang.

“Rachel sayang. Kenapa kamu bilang seperti itu? Memangnya siapa yang tidak ada yang membuatmu bahagia? Ibu menyayangimu sayang dan selalu siap membuatmu bahagia.”
“Ibu bohong. Kenapa Bu, Farel tidak mengerti perasaanku? Aku kurang apa Bu untuk menjadi orang yang dia sayang? Aku sudah menjadi sahabatnya yang selalu menyayangi dan peduli kepadanya sejak dulu, tapi kenapa Farel tidak mengerti itu?” kataku tersedu-sedu membuat Ibu semakin larut dalam kesedihanku juga.
“Sudah sayang, Farel mungkin bukan untukmu.” Kata Ibu yang membuatku semakin terpukul dan semakin bingung antara pikirku dan keinginanku.

Semakin hari kondisiku semakin memburuk meski berulang kali Ibu berusaha mengobati penyakitku ini. Farel dan Luna terkadang menjengukku, dan itu membuat keadaanku semakin menurun.

“Bu, sudahlah Bu. Aku akan pergi sebentar lagi, Ibu nggak usah repot-repot menyembuhkan aku. Aku baik-baik saja kok.” Kataku lantas aku terbatuk dan mengeluarkan darah cukup banyak sehingga Ibu membantuku mengusap bibirku yang merah karena darah.
“Kamu jangan bilang seperti itu Hel, Ibu pasti akan berusaha mengobati kamu sampai sembuh ya?” Kata Ibu sedih tapi tidak dilihatkannya padaku.
Aku hanya menggeleng dan memegangi pipinya yang semakin keriput, “Bu, aku hanya ingin kita bahagia. Tapi tidak begini caranya.” Kataku mencoba tegar.
“Hanya begini saja Ibu bahagia Hel, asal kamu jangan mengatakan hal itu lagi.” Tolak Ibu. Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman yang ku paksakan karena sakit di dadaku terus memaksaku untuk banyak tidak bergerak.

Pagi ini pagi yang cerah, seperti hari-hari yang setiap hari aku lewati dengan Farel. Dan pagi ini, saat ini hanya aku dan Farel yang mengunjungi bersama di tempat yang sejak dulu menjadi favoritku. Awalnya Farel menolak permintaanku karena keadaanku masih sedikit kurang stabil, tapi ia sahabat sejatiku akhirnya ia menuruti apa yang aku minta saat ini.

“Sejak kapan ya kita berteman seperti ini? Aku sampai lupa saking senengnya bermain setiap hari sama kamu.” Kataku membuka pembicaraan di antara keheningan kita berdua. Farel tersenyum kecil, “Sejak kita sekecil ini nih, tapi jangan dibayangin kalau kita sekecil Pak Genta ya?” tawa Farel mengakhiri ucapannya.
“Hush, kamu ini jangan sembarangan kalau ngatain orang. Nanti orangnya tahu kan bisa gawat kita, bakal disuruh berdiri di tengah lapangan.” Tutupku lantas mengikutinya tertawa.

Gerimis tiba-tiba hadir menjatuhi badan mereka, Farel berniat untuk membawa Rachel pulang tapi lagi-lagi di cegah oleh tangan sahabatnya ini. “Farel, kita suka dengan hujan kan?” kataku tersenyum bahagia, Farel mengangguk, “Tapi kamu lagi sakit Rachel dan kamu harus segera kembali ke rumah sakit.”
“Aku nggak mau Farel, aku ingin tetap disini bersama kamu satu kali ini aja.” Kataku membuat Farel bingung menoleh kekanan dan kekiri mencari seseorang.

Ia melihat ku berdiri dan berjalan melangkah menjauh dari kursi rodaku, ia menuntunku melangkah ke depan semakin dekat dengan air danau ini. Kakiku serasa lemas dan tubuhku lemah, badanku terhuyung ke pelukan Farel yang berada di sampingku. “Ayo kita pulang Hel?” pintanya padaku.
“Nggak Farel, kamu dulu aku ajak pulang tidak mau sekarang aku yang nggak akan mau pulang sebelum kita berdua basah oleh air hujan ini.” Kataku mencoba duduk yang diikuti oleh tubuh Farel yang juga sedikit merendah mengikut badanku.

“Apa kamu tahu Rel? Ada seseorang yang menyayangimu sejak lama.” Kataku berusaha tegar dengan tatapan menerawang ke depan sedangkan Farel terlihat sedikit bingung tiba-tiba sahabatnya seperti orang yang mengigau.
“Siapa dia?” tanya Farel menyahutiku.
“Dia adalah orang yang selalu menemanimu berlarian dalam hujan, menemanimu saat dimarahi oleh Mama dan Papamu, dia adalah orang yang selalu mengutamakanmu di mana pun dan kapan pun kamu dan dia berada.” Terangku membuat air mata Farel yang mungkin sejak tadi ingin ke luar tapi ia tahan agar tidak terlihat olehku. Farel hanya diam memelukku dan memegang kepalaku, tangannya menopang tubuhku yang lemah.

“Aku hanya ingin kamu tahu, dia sangat menyayangimu dan mencintaimu. Dia hanya ingin kamu selalu bahagia dan selalu di sampingmu sampai kapan pun bahkan sampai akhir hayatnya.” Kataku meneteskan air mataku. Hujan dengan tiba-tiba deras dan mengguyurku dan Farel di tempat itu.
“Hel ayo kita kembali ke rumah sakit sekarang!” pinta Farel tapi aku terus menggelengkan kepala setiap kali Farel mengatakan hal itu kepadaku.
“Farel, aku menyayangi dan mencintaimu.” Kataku untuk terakhir kalinya lalu aku menutup mataku dan bergumam dengan menyebut nama Allah.

“Racheeeellll…” teriak Farel dengan keras dan dia memelukku dengan erat. Air matanya tak juga berhenti, dan dua orang berpayung lebar dari balik pohon besar juga ikut menangis terharu melihat sepasang sahabat yang sejati. Farel bangkit membopong tubuh sahabatnya itu menuju rumah sakit agar mendapat pertolongan secepatnya. Tapi Tuhan berkehendak lain, nyawa Rachel telah pergi dan kini hanya tinggal tubuhnya saja yang tidak berdaya.

Pemakaman Rachel yang diiringi gerimis menambah suasana haru di antara orang yang mengenalnya dekat. Terutama Farel yang selama ini ia tidak mengerti dan memahami perasaan sahabatnya ini. Saat acara pemakaman usai, Ibu Rachel menghampiri Farel dan memberikan sesuatu untuknya. “Farel, Rachel memberikan ini untukmu sebelum dia pergi bersamamu kemarin.” Lalu Ibu Rachel pergi setelah memberikan buku Diary Rachel untuk Farel. Lalu Farel pulang dengan Luna. Dan begitu sampai kamar rumahnya ia membaca isi Diary itu dari awal sampai akhir. Ia semakin meneteskan air matanya membaca Diary Rachel.

20 November 2015
“Meski sakit, aku tetap datang ke pertandingan basket kamu Farel. Karena aku ingin menjadi supporter nomor satu kamu. Tapi saat kebahagiaanku muncul, Luna datang lebih dulu dibanding aku Farel. Akhirnya aku sengaja mencari tempa duduk yang jauh. Mungkin kamu mengira aku nggak datang di pertandingan basketmu waktu itu. Benar kan? Hahahahaaa… aku tahu itu pasti terjadi.”

26 November 2015
“Kamu mengajakku ke supermarket, selama berjalan kamu memegang tanganku dan aku menyukainya. Di sana, kamu membeli sesuatu untuk orang yang kamu sukai Rel. Aku sangat senang waktu itu, bukan karena kamu mengajakku. Tapi karena kamu memakaikan cincin itu di jari manisku, aku bahagia karena pikirku cincin itu akan diberikan untukku. Tapi kebahagiaanku hilang begitu kamu menyebut nama Luna sebagai orang yang menjadi pemilik cincin yang baru kamu beli. Aku kege-eran, ku pikir orang yang kamu suka itu aku. Ternyata tidak.”

02 Desember 2015
“Aku merasakan dadaku sesak pagi ini, tapi aku akan berusaha tegar saat di depan kamu Farel. Aku hanya ingin terlihat sehat dan lebih semangat kalau kita sudah bermain bola basket daripada kamu Rel. Tapi tengah hari aku berlari pulang, karena dadaku sudah ingin membuatku pingsan. Tapi sebelum itu terjadi padaku, aku beralasan kepadamu kalau aku harus mengantarkan baju jahitan pelanggan Ibu.”

07 Desember 2015
“Aku sudah siap dengan hatiku, sudah siap menerima apa pun yang kamu katakan untukku. Aku merasa bahagia karena hari ini aku akan menyatakan perasaanku padamu Farel. Tapi, kamu bilang ke aku kalau kamu bahagia karena cinta kamu diterima oleh Luna. Aku sakit seketika itu, aku berlari dan tidak sadarkan diri tiba-tiba karena dadaku semakin sesak. Aku menulis Diary ini sesempatnya aku menulis, aku ingin kamu membacanya Farel di suatu saat. Agar kamu tahu, aku sangat menyayangimu.”

Air mata Farel tumpah seketika itu membaca Diaryku detik-detik kepergianku. “Aku sebenarnya juga menyayangimu seperti kamu menyayangiku, tapi aku terlalu lemah dengan perasaanku sendiri. Perasaanku ke kamu perlahan pudar dan aku lebih menyukai Luna. Maafkan aku Hel, aku tak pernah mengerti tentang perasaanmu.” Luna yang sedari tadi melihat Farel menangis, tangannya merengkuhnya ke dalam pelukannya. Mereka berdua sama-sama menangis dan berucap, “Rachel, maafkan aku karena aku tak memahamimu selama ini.”

Cerpen Karangan: Eviey Silvya
Facebook: Eviey Silvya
Evieysilvya[-at-]gmail.com

Cerpen Never Know My Heart merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bara Cinta

Oleh:
“Nada kita adalah sahabat sejati, jadi apapun yang terjadi kita akan tetap bersama iya kan?” ucapku pada sahabatku Nada. Aku dan Nada sudah bersahabat dari awal sekolah dasar hingga

Cinta Terlambat

Oleh:
‘Kamu akan menyesali semuanya, saat kamu tau yang benar-benar tulus mencintaimu pergi dan takkan pernah hadir lagi di hidupmu.’ — Aditya Arcakra Negara seorang pemuda tampan yang sangat cuek

Cintaku Kau Terlantarkan

Oleh:
“Ham, aku sayang sama kamu. Aku… Aku cinta sama kamu…” Kata-kata gadis cantik itu masih terlintas di pikiran seorang pemuda ini. Ya pemuda itu adalah Ilham. Ucapan dari sang

Cinta Tak Direstui

Oleh:
Pagi itu, kubuka facebook dan kumelihat ada sebuah permintaan pertemanan dari sorang gadis. Dan cerita asmara aku bermula pada saat aku “konfimasi” permintannya. Awalnya sih aku sedikit canggung padanya

Merindukan Mantan

Oleh:
Hari mulai gelap dan sebentar lagi sunyi dan rindu akan menghimpitku kembali seakan ia mengajariku menyiksa diriku sendiri mungkin bukan hanya aku yang merasakan perasaan rindu dengan seseorang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *