Paper

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 2 September 2016

‘Kau tahu kertas? Jika sudah diremas takkan bisa utuh lagi. Jika sudah terkoyak takkan bisa kembali seperti semula lagi. Begitu juga denganku, aku menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu. Aku menyesal tak menyadari aku juga mencintaimu, aku juga menyesal karena tak bisa melihat ketulusan hatimu dalam mencintaiku. Aku menyesal.’ – Alwan Prayudha.

11 Juni 2014
Ve Rosaline menatap Alwan yang kini berada di hadapannya. Dengan seorang gadis. Alwan yang melihat Ve mulai menyuruh gadis itu pergi. Lalu Alwan menghampiri Ve yang terdiam menyaksikan adegan mesra tadi.

“Hei! Sejak kapan lo di sini?” Alwan memandang Ve dari atas sampai bawah, Ve memakai rok merah selutut, dan baju lengan panjang berwarna biru. Ve tersenyum simpul. Ve adalah pacar Alwan, dia sangat mencintai Alwan, bahkan sampai rela diduakan oleh Alwan yang nyatanya seorang playboy.
“Sejak tadi. Sibuk?” Tanya Ve dengan suara tercekat.
“Yaa seperti yang lo lihat.” Alwan kemudian duduk di bangku yang ada di sampingnya. Gadis di hadapannya ini adalah gadis yang dipilih oleh mamanya untuk menjadi kekasih sekaligus pendamping hidupnya.
Meskipun cantik, tapi Alwan tidak tertarik dengan gadis ini. Alwan tahu bankan sangat tahu kalau Ve sangat mencintai dirinya.
“Inget gak ini hari apa?” Alwan memandang Ve remeh. Terkesan merendahkan. Lalu terkekeh.
“Ini hari Kamis. Kenapa?” Ve menunduk lesu. Lalu dia menggeleng kemudian pergi. Alwan yang tidak mengerti bergidik sendiri karena bingung.

‘Sampai kapan aku bertahan? Sampai kapan aku nunggu kamu buat mencintai aku? Jujur aku lelah, melihatmu tak peduli denganku membuatku lelah mencintai. Bahkan kamu lupa ini hari ulang tahun aku.’

Ve menunduk dengan tangisannya, ia seolah ingin melupakan seluruh hari yang dijalaninya. Ia lelah, sangat lelah. Lalu sebuah tangan laki-laki memberinya sapu tangan.

“Nih, hapus air mata kamu. Jelek tahu gak.” Ucapnya, Ve mengangkat kepalanya dan mendapati Mike berada di hadapannya.
“Mike…” lirih Ve.
“Tumpahin semuanya di pundak aku.” Ucap Mike sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dan seketika Ve menghambur ke pundak Mike. Menumpahkan tangisannya di sana dengan semua kesakitan batin yang selama ini dipendam sendiri olehnya.

‘Andai saja kamu tahu aku di sini nunggu kamu. Tapi cinta membutakan kamu buat tetap nunggu Alwan.’ Lirih Mike dalam hati. Hatinya sebenarnya terkoyak melihat gasis Yang dicintai menangisi pria Yang bahkan selalu menyakitinya. Dia mencintai gadis ini sepenuhnya. Tapi gadis ini malah memilih lelaki yang jelas-jelas telah membuatnya sakit hati.

Kemudian tanpa sengaja Alwan melihat adegan itu. Dia mematung, darahnya seketika beku. Dan entah mengapa ia merasa sesak melihat Ve yang terlihat seolah memeluk Mike. Sesak?

‘Kok gue nyesek gini ya? Nyesek gara-gara ngeliat mereka. Kok bisa?’ Alwan berusaha menepis semua perasaan anehnya kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan ketusnya.

Mike membujuk Ve agar makan. Sungguh, gadis ini terlihat sangat pucat. Ia bahkan menolak semua makanan dan menolak diajak ke dokter oleh Mike. Mike sampai kehabisan akal agar Ve mau mendengar bujukannya.

‘Alwan, ya Alwan.’
Mike merogoh saku kantung celananya. Mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang. Dia agak sedikit menjauh dari Ve.

“Ngapain lo telepon?”
“Ve sakit, dan dia gak mau makan sama sekali.”
Alwan terdiam sebentar merasakan sesak yang kembali menelusup dalam dadanya yang bidang. “Terus, urusannya sama gue apa?”
“Lo emang gak punya hati ya! Kali ini gue minta tolong dengan sangat sama lo, please lo ke rumah Ve sekarang dan bujuk dia supaya makan.”
“Huh… 10 menit lagi gue sampai!”
Alwan mematikan telepon sepihak. Mike sedikit lega karena Alwan mau datang membujuk Ve. Mike menatap Ve yang pucat pasi dan… sangat lemas.
“Ve makan ya. Nanti kamu tambah sakit.” Ve menggeleng lemah kemudian menutup sebagian wajahnya dengan selimut kuning miliknya.

Suara pintu itu berhasil mengalihkan pandangan Mike dan Ve Yang tertutup selimut. Sepintas Ve tersenyum tipis.
“Ve lo sakit? Udah makan?” Mike yang melihat keduanya pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan mereka berdua.
Ve hanya bisa diam, berusaha menekan perasaan gugupnya dengan susah payah. Mengapa Alwan tiba-tiba perhatian padanya?
“Nih gue bawain lo bubur. Lo belum makan kan? Gue suapin dah.” Alwan membuka bungkusan tersebut. Lalu mulai menyuapi Ve dengan, tulus.
Ia tersenyum menatap Ve yang melahap makanannya. Kenapa sekarang ia jadi sering takut kehilangan Ve? Why?

14 Juni 2014
“This’s my destiny. This’s my destiny.” Ve mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Entah kenapa.
“Ve kamu kenapa?” Ia berbalik menatap Mike, lalu menggeleng plan Dan tersenyun berusaha meyakinkan Mike bahwa ridak terjadi apa-apa.
“Kalau ada masalah cerita aja ya sama aku. Jangan dipendam.” Ucap Mike kemudian tersenyum.
‘Aku yang mengagumimu dalam diamku. Tak pernah kau tahu aku sangat mencintaimu lebih dari sekadar sahabat.’

13 Agustus 2014
“Ve lo mimisan lagi. Oke ini kedua kalinya gue lihat lo mimisan kayak gini.” Alwan khawatir, mengambil tisu lalu mengelap darah yang keluar dari hidung Ve. Setahu Ve, Alwan phobia darah. Tapi ini? Phobianya akan darah sejenak dilupakan untuk membersihkan darah itu.
“Ngomong-ngomong lo kenapa dan mau kemana? Ini kan masih jam sekolah, kenapa pakai baju biasa?” Tanya Alwan yang sedikit kepo. Tak seperti biasanya.
“Aku gak papa kok. Aku mau nganter surat ini ke kepala sekolah. Aku, mau pindah.”
Jlep.
Alwan kembali merasakan sesak. Oh Tuhan ada apa sebenarnya? Alwan hanya meng-oh kan saja kemudian pergi meninggalkan Ve yang bingung melihat perubahan sikap Alwan.
“Ve…” lirih Mike yang tiba-tiba ada di belakang Ve.

Mike mendengar Semua ucapan Yang dilontarkan Ve pada Alwan beberapa detik lalu. Dan itu berhasil membuat mata elangnya berkaca-kaca.
“Kamu mau pindah?” Tanyanya, suara yang semula tegar berubah menjadi bergetar. Apalagi disusul anggukan darI Ve, sontak membuat Mike memeluk Ve dengan erat, seolah ia takut kehilangan gadis ini. Ve membalas pelukan Mike sambil sesekali sesegukan.
“Kenapa gue jadi orang yang paling terluka di sini? Kenapa gue harus sesakit ini ngeliat lo pelukan sama Mike? Kenapa gue harus ngerasain sesak ini pas tahu lo mau pindah? Kenapa?”
Alwan, laki-laki itu melihat adegan peluk itu membuat hatinya entah mengapa tiba-tiba sangat sakit. Dia sakit! Dan, apa mungkin Alwan benar-benar telah jatuh cinta pada Ve?

02 Oktober 2015
“Udah setahun aja yaa. Terkadang gue berpikir kalau lo itu jahat, bohongin gue yang katanya mau pindah. Tapi ternyata lo masih di Indonesia jalanin pengobatan diam-diam buat penyakit kanker yang bahkan gue gak tahu. Tapi gue nyadar, gue bahkan lebih jahat. Udah bikin lo sakit hati, nyia-nyiain lo. Gue adalah orang terbodoh yang baru sadar kalau gue sayang sama lo, gue cinta sama lo dan takut kehilangan lo.” Ucap Alwan menatap pusara milik Ve. Menangis bukan pantangan lagi bagi Alwan. Ia menangis.
“Maafin gue yang gak pernah bikin lo bahagia, maafin gue yang gak pernah ngertiin keadaan hati lo. Maafin gue…” lirihnya sekali lagi, tangisnya semakin menjadi. Mengeluarkan Semua sesak yang singgah di dadanya, membuat tersiksa setengah mati.

Flashback On
01 Oktober 2014
Alwan membuka lembaran buku harian milik Ve yang tak sengaja ia temukan dalam loker milik Ve. Dia sengaja meminta kunci loker milik Ve dengan alasan ada barang yang tertinggal. Dia berhenti pada salah satu halaman dengan sebuah kertas terlipat. Dia mengambil dan membukanya. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Ini, surat vonis kanker. Ve? Kanker hati?

Di bagian area kanan terpampang jelas mama rumah sakit yang Alwan menjadi tujuan ‘pindahnya’ Ve dari sekolah.

Ia bergerak cepat menuju rumah sakit yang tertera di kertas itu. Dan ketika sampai, ia terlambat. Ve pergi. Ia kalah melawan penyakitnya. Kenyataan itu membuat Alwan harus mengecap pahitnya sakit hati.
Flashback Off

“Please maafin gue…” Alwan memegang tanah merah tersebut. Tanpa peduli celana panjang di bagian lutut yang ia pakai sudah sangat kotor. Miris.

Dia menangis sejadi-jadinya di sana. Meratapi Ve yang sudah pergi dan tak mungkin kembali. Merenungi semua kebodohan yang dia lakukan. Berkali-kali ia memohon kepada Tuhan agar mengembalikan sang waktu. Tapi itu tidak akan mungkin, sia-sia saja.

“Jangan sia-siakan orang yang tulus mencintaimu. Karena dia, bisa pergi kapan saja jika takdir berkehendak.” – Alwan Prayudha.

“Aku bertahan karena aku sayang. Meskipun sakit yang harus kulewati sendirian. Sampai takdirku menjemput, aku akan selalu mencintaimu.” – Ve Rosaline.

“Cukup mencintaimu dalam diam saja sudah membuatku bahagia. Setidaknya aku pernah membuatmu tertawa bahagia. Meskipun tak bisa milikimu.” – Mike Davin.

Cerpen Karangan: Sheny Dzalika
Facebook: Shenyy
Haii mama aku Sheny Dzalika. Cukup panggil Shen aja kok, hehehe… ingin kenal lebih dekat? Follow Instagram AKU @shenshen.dz atau berteman lewat Facebook -> Shenyy <- Terima Kasih.

Cerpen Paper merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Sejati

Oleh:
Pagi pun datang menyinari dunia.Tampak seorang gadis perempuan berpakaian seragam sekolah SMP sedang berjalan kaki. Dengan senyuman yang indah ia pun berjalan dengan wajah yang riang, gadis itu bernama

Terkenang

Oleh:
“Tidak terasa hampir 4 tahun lamanya kita menjalin asmara, saling melengkapi, saling mengerti, saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling mencintai …” (21.09) Hari ini tepat ditanggal terakhir pada bulan

Akhir Kisahku (Part 1)

Oleh:
Sang mentari mulai menampakkan diri, sinarnya yang berwarna kuning kemerahan kini mulai menyinari setiap sudut tempat. Seorang gadis kini tengah berdiri di hadapan cermin di depannya. Tampak ekspresi sumringah

Aku Rindu Ucapan Sayang Mu (Part 1)

Oleh:
Kring!!! Suara wekerku berbunyi beberapa kali tepat jam 07:00 memaksaku harus membuka mata padahal aku masih mengantuk karena semalam aku tidur larut malam demi main game online kesukaanku dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *