Pedihnya Cinta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 September 2015

“Bukan pertemuan yang aku sesali”

Aku rasa itu kalimat yang cocok buat menggambarkan diriku. Aku nggak tahu entah dia menyukaiku atau tidak, sama sekali aku nggak tahu! Tapi yang pasti, aku masih terus mengingat kejadian setahun yang lalu saat aku bertemu dengannya untuk kali pertama. Pertemuan itu masih tergambar jelas di memoriku. Pertemuan yang berawal dari kerja kelompok di rumah sahabatku yang akhirnya mempertemukan aku dan dia. Ya, tentu saja cowok manis yang kebetulan juga sekolah di tempat yang sama denganku, yang setahun terakhir ini selalu menjadi objek utama pandanganku ketika duduk-duduk di depan kelas. Sebut saja dia Fery Eko Indrawan.

Memang, aku sangat amat menyadari bahwa ini hanyalah perasaan sepihak. Eko tidak mungkin memiliki perasaan yang sama denganku, karena memang Eko nggak tahu kalau dialah yang membuatku tidak pernah absen ke sekolah. Sekalipun aku sakit, aku selalu datang ke sekolah untuk melihat senyum manisnya. Ini hari pertama dalam minggu ketiga bulan agustus. Aku sengaja datang lebih awal dan langsung duduk di depan kelas, karena aku tahu 5 menit lagi Eko akan datang. Ya, aku tahu persis jadwal kedatangan Eko ke sekolah.

Hari-hariku di sekolah saat jam ke luar main selalu aku habiskan untuk memerhatikannya dari kejauhan saja. Kebiasaan itu terus berlanjut dan terus berlanjut hingga 4 bulan lamanya. Hingga akhirnya, aku merasa kalau dia mulai mengetahui bahwa aku selalu memerhatikannya setiap saat. Memang benar kata pepatah, “sepandai-pandai apa kita menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga” Begitu juga dengan perasaanku terhadap Eko, bertahap-tahap dia mulai mengetahuinya, tapi dia hanya diam aja dan tidak ada respon sedikitpun.

Kecewa tentu ada aku rasakan. Tapi ya mau gimana, ini memang bukan salahnya Eko, karena memang dia tidak tahu sama sekali tentang perasaanku padanya. Asyik termenung, aku dikejutkan oleh suara Vivi yang memanggil namaku serentak memegang pergelangan tanganku bermaksud akan mengajakku masuk ke dalam kelas. Ternyata dia hanya hendak meminjam catatan bahasa prancisku, setelah aku memberikan catatanku padanya, aku pun kembali berjalan ke arah pintu kelasku bermaksud akan duduk-duduk lagi di depan kelasku untuk melihat Eko. Tetapi tak disangka-sangka, di saat aku tiba di dekat pintu, mendadak Eko masuk ke kelasku dan spontan menabrakku.

“Aduuhh!!” gerutuku sambil memegang jidatku.
“Maaf maaf! Sakit ya? Maaf, aku nggak sengaja” ucap Eko dengan nada penuh penyesalan.
“nggak apa-apa kok. Cuma sakit sedikit aja.” Jawabku ragu.
“Oh, sekali lagi maaf ya? aku buru-buru, mau pinjam kamus. Bentar lagi gurunya masuk, aku takut aja kalau ntar dihukum. Kalau gitu aku ke kelas dulu ya.” Ucapnya dan langsung berlari-lari kecil ke kelasnya.

Sesaat aku belum menyadari bahwa ternyata jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aku rasa ini semua karena kali pertamanya aku berbicara langsung dengannya. Sangking dag-dig-dugnya jantungku, aku tidak menyadari kalau ternyata guru sudah datang dan tepat berada di hadapanku. Spontan aku langsung bergegas ke tempat dudukku.

Sejak kejadian di pintu kelasku itu, hubunganku dengan Eko menjadi lebih akrab dari sebelumnya. Eko menjadi lebih sering menyapaku dan sering mengunjungiku bila aku duduk di depan kelasku. Hal itu terus berlanjut seiring dengan berjalannya waktu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, akhirnya kedekatan kami membuat Eko mulai merasakan perasaan seperti yang aku rasakan. Eko mulai mencintaiku dan berani mengatakannya kepadaku. Sejenak aku terdiam saat dia menyatakan cinta padaku, aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya diam dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sejenak suasana menjadi hening. Namun keheningan berubah saat Eko memegang lembut pipiku.

“Kenapa kamu tidak menjawab apa-apa? Apa kamu tidak menyukaiku?” tanya Eko sedih.
“Oh, bukan bukan gitu. Aku justru sangat senang kamu bisa menyukaiku dan menyatakan cinta di tempat yang indah ini. Hanya saja, aku belum bisa menjawabnya sekarang.” jawabku
“Nggak apa-apa kalau kamu belum bisa jawabnya sekarang. Aku ngerti kok, mungkin kamu masih meragukan aku.” ucap Eko dengan raut sedih.
“bukan gitu Eko, aku cuma mau berpikir dulu aja. Aku akan beri jawaban ke kamu 3 hari lagi. Gimana?”
“Oke, aku setuju. Aku tunggu jawaban dari kamu, semoga jawaban kamu tidak mengecewakan aku ya Ra.”
“Hmm..” jawabku sambil tersenyum.

Tiga hari berlalu setelah Eko menyatakan cinta padaku. Aku berjanji padanya akan menjawab pertanyaannya hari ini, tepatnya sepulang sekolah nanti. Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Tapi yang pasti, perasaanku sangat bimbang. Memang seharusnya aku tidak begitu, seharusnya aku senang cintaku sudah terbalas. Namun entah mengapa hatiku sudah 3 hari terasa sangat gelisah.

“Rara, ra” sorak Eko dari kejauhan sambil berlari ke arahku.
Aku tak menjawab sedikit pun, aku hanya tersenyum tipis ke arahnya.
“Hai ra, mau ke mana?” tanya Eko.
“hmm ya mau mencari kamu lah” jawabku sambil menggaruk kepala.
“Waah, senangnya hatiku, ternyata masih ada seseorang yang mencari-cariku” ucap Eko sumbringah.
“Ciiusss?” tanyaku bergurau.
“Ahh, kamu becanda aja, jadi gimana? Udah bisa jawab sekarang?”
“yaa oke.” jawabku tersenyum.
“oke? maksud kamu, kamu nerima aku jadi pacar kamu?”
“Iyaaa”

Setelah aku menjawab pertanyaan yang sudah aku janjikan akan menjawabnya hari ini, aku dan Eko pergi bersama-sama ke kantin sekolah. Semua orang melihat kami jalan berdua sambil tercengang-cengang. Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku dan Eko. Tapi aku tidak terlalu ambil pikir apa yang mereka pikirkan tentang kami. Aku justru berpikir kenapa aku menerima cinta Eko tadi. Aku sangat merasa bersalah dengan yang aku lakukan hari ini.

Dua bulan sudah hubungan aku dan Eko berjalan. Semua kami jalani dengan hubungan yang baik. Aku sangat berharap, saat berakhirnya hubunganku dengan Eko nanti juga dengan cara yang baik-baik juga. Meskipun aku tahu itu semua mustahil jika Eko mngetahui semua tentang aku. Aku tak pernah membayangkan perjalanan cintaku akan sedemikian rumit.
“Ahhh, sudahlah, kenapa aku menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti!” jawabku dalam hati. Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu rumahku.

“Permisi…” sorak seorang laki-laki dari arah depan rumahku.
“Ya, tunggu sebentar” jawabku sambil berlari-lari kecil dari kamar.
Aku sangat terkejut saat aku membuka pintu. Ini semua di luar pemikiranku, aku tak pernah berpikir Eko akan senekad ini datang ke rumahku tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Biasanya Eko tak pernah bersikap nekad seperti ini.

“ahh, kamu ko, ada apa? kok datang ke sini tidak memberitahu dahulu?”
“kan suprise tapi kelihatannya kamu tidak menyukai kedatanganku” jawab Eko.
“nggak kok aku suka kok. Suka banget malah” jawabku dengan senyum yang dipaksakan.
“Suka bagai mana? kalau suka kok nggak disuruh masuk ya?”
“ohh, iya. Aku lupa. Masuk ko, silahkan”

Sambil masuk ke rumahku, Eko terus melihat-lihat sekeliling rumahku. Dan aku pun membiarkan ia melihat-lihat sendiri isi rumahku, aku pun kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan segelas minuman. Saat aku membawakan minuman itu aku melihat Eko memperhatikan sebuah foto di meja sudut rumahku.

“Mampuuusss aku” ucapku dalam hati.
“eh, kamu ra. Ini foto siapa? kok kelihatannya kamu mesra sekali dengannya?”
“oh itu, itu, itu, ha itu foto aku dengan sepupuku”
“ahh, masa? kok nggak mirip ya?”
“namanya juga sepupu, ah sudahlah, kamu minum aja dulu”
“oh gitu ya? Ya udah, kamu ganti baju gih sana. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan.”
“oke, kamu tunggu di sini dulu ya, oh ya, minumannya jangan dilihat aja, diminum dong” jawabku.

Setelah selesai menukar baju, aku dan Eko pun pergi ke suatu tempat yang dirahasiakannya itu. Ternyata Eko mengajak aku bermain-main game di suatu mall. Tapi, sedang asyik bermain aku dikejutkan oleh suara yang menyebut namaku sambil memegang pundakku. Aku terkejut dan spontan langsung melihat ke arah orang yang menyentuhku itu, ternyata dia Bayu anggara pacarku.

“Ra, kamu nggapain di sini? Dan cowok ini siapa?” tanya Bayu dengan penuh rasa penasaran.
“oh, aku lagi main-main aja. Ini teman sekolah aku bay” jawabku tanpa pikir panjang.
Ternyata Eko pun juga ikut penasaran tentang siapa sebenarnya pria yang terlihat begitu akrab denganku saat ini. Tiba-tiba saja Eko angkat bicara.
“Ra, ini sepupu kamu yang di foto tadi ya? kok nggak dikenalin sama aku? Aku kan pacar kamu?”

Aku sangat terkejut dengan ucapan Eko itu, aku tidak menyangka dia akan mengucapkan itu. Aku sangat panik, aku binggung harus mengatakan apa pada Eko maupun Bayu. Tamatlah riwayatku kali ini.
“Aku pacarnya, bukan sepupunya!” ucap Bayu yang secara tiba-tiba itu.
Mendengar itu semua, Eko langsung berbalik arah dan pergi tanpa berbicara sepatah kata pun padaku. Aku sangat merasa bersalah dengannya, tapi aku juga sangat merasa bersalah pada Bayu. Akhirnya tanpa pikir panjang Bayu mengajakku pulang dan mengantarku sampai rumah. Di jalan aku mengira Bayu akan memutuskanku, tapi Bayu hanya mengatakan,
“Udahlah, semua udah terjadi juga kan? Nggak ada yang perlu disesali, nggak perlu juga minta maaf. Aku udah maafin kamu kok, walaupun aku kecewa sama kamu. Tapi aku mohon, lain kali jangan diulangi lagi ya!” ucap Bayu.

Semalaman aku nggak bisa tidur karena kejadian ini, rasa bersalah menghantuiku semalaman. Aku tidak sabar menunggu esok pagi tiba. Dan aku harus meminta maaf pada Eko, walaupun aku tahu berat buat Eko untuk maafin aku.

Pagi menjelang, aku berangkat ke sekolah dengan perasaan penuh harap, ya tentu saja aku berharap Eko mau mendengar semua penjelasanku dan mau berbaik hati buat memaafkanku. Di gerbang sekolah ternyata aku bertemu dengan Eko. aku bergegas berjalan ke arahnya dan menarik tangannya.
“Eko, aku tahu kamu marah dan kecewa sama aku. Tapi please, kamu mau ya maafin aku? Ini semua nggak seburuk yang kamu pikir, aku ngelakuin ini karena sesuatu hal” ucapku dengan penuh harap.

Eko melepas tarikanku dan berkata,
“Udahlah, nggak ada yang perlu dimaafkan. Kalau dibilang kecewa, tentu aku kecewa sama kamu. Kalau dibilang marah, tentu aku marah sama kamu. Tapi, setelah semalaman aku berpikir, aku rasa nggak ada gunanya aku menyimpan dendam sama kamu. Aku udah maafin kamu sekarang”
“makasih ko, kamu memang cowok yang baik” ucapku.

Setelah itu, Eko langsung pergi dari hadapanku. Memang dia mengatakan sudah memaafkanku. Tapi, sangat jelas dari wajahnya ada raut kesedihan dan kecewa. Aku pun melangkah ke kelasku setelah kepergian Eko itu. Namun, 1 minggu sudah kejadian itu berlalu, tapi aku tidak pernah melihat Eko sekalipun di sekolah ini. Aku merasa heran dan aneh, kenapa Eko tidak pernah terlihat. Rasa penasaran itu pun membawaku melangkah ke kelasnya dan menanyakan kepada seorang temannya. Tapi ternyata, temannya itu mengatakan bahwa Eko sudah pindah sekolah sejak 3 hari yang lalu. Aku sangat terkejut, kini rasa bersalahku padanya pun semakin besar. Tak pernah ku sangka semuanya akan menjadi sedemikian.

Cerpen Karangan: Reni Rahma Yani
Facebook: dinda_ajjhaa[-at-]ymail.com
Nama aku Reni, aku tinggal di Duri Riau. Semua cerpen-cerpen karya aku adalah kisah nyata. Baik yang aku alami sendiri maupun orang-orang di sekitar aku. Bagi yang baca kasih jempolnya ya, biar aku lebih semangat lagi nulis cerpen yang selanjutnya. Yang pengen kenal atau berteman dengan aku, kalian bisa buka facebook aku. (dinda_ajjhaa[-at-]ymail.com) “_”

Cerpen Pedihnya Cinta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Admirer Line

Oleh:
Sudah seminggu berlalu, namun hubungan Alena dan Rasya belum ada perkembangan. Gadis itu memeluk bantal makin erat, mukanya sengaja dibenamkan dalam bantal. Seandainya, Rasya merupakan cowok yang perhatian dan

Hanya Sebuah Angin

Oleh:
Matahari menyinari halaman sekolah yang dipenuhi para siswa. Mereka akan segera melaksanakan upacara sekaligus pengumuman para juara dalam Lomba Pionering yang berlangsung dua hari yang lalu. Upacara berlangsung dengan

Password 360 derajat

Oleh:
“Wijaya, kerjakan soal ini dulu!” suruh guru matematikaku membuyarkan lamunanku. “Iyah Bu, ada apa?” Jawabku tak tahu apa yang dikatakannya. “Silahkan keluar dari kelas saya, sekarang!!!” bentak guru matematikaku.

Fly High (Part 1)

Oleh:
Bagi sebagian orang, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Begitu pula saat mereka mempunyai pengalaman yang pahit misalnya dibully. Mereka enggak akan menginjakkan kaki di sana. Ingin lari sekencang-kencangnya. Terbang

Everything Has Changed

Oleh:
Hari-hari terus berlalu, tanpa sadar ini sudah memasuki tahun ketiga aku mengenalmu, pikiranku melayang pada saat kita pertama kali, tepatnya di lapang sekolah saat itu kita sudah memakai seragam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *