Penyesalan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 6 November 2015

“lo gak bohong kan, mana mungkin Alfa ngomong gitu sih.” sergahku.
“gue gak bohong kok, ngapain juga gue bohong. Alfa ngomong kalau dia itu udah sayang banget sama lo, waktu lo jadian dengan kak Aldi lo gak tahu kan kalau Alfa sakit hati. Lo tuh ya ibaratnya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.” Jawab Cindy panjang lebar.

Sahabatku satu itu memang buat nafsu makanku hilang, aku juga gak habis pikir kenapa kok Alfa curhat ke Cindy. Pantas aja akhir-akhir ada penelepon misterius semua sms-smsnya bikin aku penasaran dengan orang ini yang ternyata dia adalah Alfa sahabat baikku dari SMA.
“Loh kok bengong non, lagi mikirin kang Alfa ya?” ucapan Cindy mengagetkanku.
“Ya iya sih, gue bingung aja kenapa Alfa malah curhat ke lo sih.” tanyaku.
“gue juga gak tahu, atau mungkin dia udah gak tahan nahan semuanya jadi dia curhat ke gue. Masa sih lo gak nyadar dengan tingkah lakunya selama ini. Gue heran deh sama lo, ya udah ayo cepetan habisin makanan lo dikit lagi dosen masuk.”
“gue gak ada nafsu makan, lo aja yang ngabisin.” dengan cekatan Cindy langsung ngabisin makananku, nih anak kelaparan atau hobi makan sih. Sahabatku yang satu ini memang doyan banget makan tapi badannya tetep aja kurus, kebanyakan makan hati sih hehehe.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore tapi nih dosen masih betah ngomong ini itu, tiba-tiba handphone-ku bunyi ada sms masuk dari Alfa. Deg! kenapa perasaanku kayak gini ya.
“Beb lo lagi kuliah?” Alfa emang dari dulu selalu manggil aku dengan sebutan Beb.
“Iya nih Al, bentar lagi selesai kok. Emang kenapa?”
“gue tunggu di depan fakultas ya, gue mau ngomong sesuatu rahasia. Hehehe.”

Selesai kuliah aku pamitan ke Cindy pulang duluan buru-buru aku kedepan fakultas Alfa udah nunggu dalam mobilnya. Dalam perjalanan aku gak tahu harus ngomong apa tapi kok kenapa arahnya mau ke pantai sih wah jangan-jangan Alfa mau ngasih Surprise dan katakan cinta batinku.
“ngapain lo ngajak gue ke sini sih?” tanyaku.
“ada deh, yuk ke sana.” Alfa nunjuk restoran yang terapung di atas laut pemandangannya Subhanallah indah banget.

Tiba-tiba Alfa megang tanganku dan tatapannya lain dari biasanya. “Fa, sebenarnya dari kita sahabatan waktu SMA aku udah cinta sama kamu tapi aku takut ngungkapinnya karena kamu pernah bilang gak mau pacaran selagi masih sekolah. Aku sebenarnya gak ada rencana mau kuliah di UI tapi karena kamu ngomong mau kuliah di UI aku juga daftar di UI karena mau dekat sama kamu.” ucapan Alfa mengagetkanku aku terharu dengan kesetiaannya selama 5 tahun dari kami berdua kelas 1 SMA tanpa sadar aku meneteskan air mata.

“kenapa kamu gak ngomong dari dulu sih Al, aku juga sayang dan cinta sama kamu. Aku pacaran dengan kak Aldi sebenarnya aku gak pernah cinta sama dia tapi semua itu ku lakukan untuk melihat tanggapanmu, tapi aku lihat kamu setuju-setuju saja aku pikir kami gak ada hati sama aku. Makasih Al, aku terharu dengan kesetianmu selama 5 tahun ini.” jawabku panjang lebar.
“Iya beb, jadi mulai sekarang kita pacaran ya.” senyum Alfa melebar aku hanya menganggukkan kepala tapi air mataku semakin deras mengalir. “kamu itu ternyata kalau lagi nangis hilang cantiknya.” canda Alfa dan dia mengacak-acak rambutku.

Tak terasa hubunganku dengan Alfa udah 6 bulan, hari-hariku penuh dengan warna-warni bunga dengan kehadiran seorang kekasih yang seperti Alfa. Benar kata sahabatku Cindy, aku bakalan nyesal kalau nantinya menelantarkan orang seperti Alfa karena banyak cewek-cewek yang di kampus suka dengan pesonanya Alfa. Sepulang kuliah aku diantar Alfa dan tanpa ganti baju lagi aku langsung merebahkan diri di kasur empukku. Saat baru memejamkan mata, dering handphone mengejutkanku dan tertera nama Gilang mantanku dan sekaligus cinta pertamaku.

“Iya… .kenapa?” tanyaku.
“Dek lagi ngapain, gak kuliah, aku ganggu gak?” tanya Gilang bertubi-tubi.
“Gak lagi ngapa-ngapain, udah selesai kuliah gak ganggu kok.” jawabku seadanya.
“gimana kabarmu Dek, baik-baik aja kan.” tanya Gilang lagi.
“baik kok… kamu?”
“Baik juga. Ya udah ya Dek. Aku cuma pengen denger suaramu aja kok, aku masih sayang kamu. Maafin kesalahanku yang lalu ya.” ucap Gilang kemudian dan dia langsung mematikan telepon tanpa mendengar jawaban dariku.

Mendengar ucapan terakhirnya, aku terdiam. Kenapa tiba-tiba dia ngomong seperti orang yang tak punya dosa, di saat aku semakin sayang dia malah mengkhianati cintaku hanya karena mantannya ngajak balikan. Aduh kenapa tiba-tiba aku mikirin dia sih huuh, mataku mulai sayup-sayup. Aku kaget dengan bunyi handphone yang memekikkan telinga ku raih handphone-ku tanpa melihat siapa yang menelepon, yang aku tahu Alfa yang nelepon.

“Fa, aku lagi di depan rumahmu nih. Dari tadi mencet bel tapi gak ada yang bukain.” suara di seberang mengejutkanku mataku terbelalak baru ku sadari yang nelepon aku itu bukan Alfa tapi Gilang, aku seketika diam mikir gimana caranya ya supaya dia pergi aduh gimana nih. Dengan suara yang berat, “iya bentar.” jawabku dengan rasa malas, sejenak aku ke kamar mandi cuci muka dan menuju depan bukain pintu.

Melihat tampangnya seperti ada yang aneh tapi apa ya, lain dari biasanya. “tambah kece juga nih cowok.” batinku.
“Loh kok malah bengong, gak disuruh masuk nih.” ucapan Gilang mengagetkanku dan ku persilahkan dia masuk. Aku super bingung dibuatnya, kenapa tiba-tiba nih anak baru nongol setelah 2 tahun lalu dia mencampakkanku.

“Kamu ngapain ke rumah sih. Kalau pacar aku lihat bisa berabe nih.” ucapku. Seketika kulihat dia kaget dengan ucapanku barusan.
“kamu udah punya pacar?”
“Iya, aku jadian dengan sahabat baikku Alfa udah 1 tahun.” ucapku dengan sedikit berbohong. Ku lihat ada tampang kecewa di matanya, “salah sendiri lo campakkin gue dulu.” batinku.
“aku minta maaf soal kejadian yang dulu, aku gak ada niat nyakitin kamu. Aku mau balikan dengan mantanku dulu karena umurnya tidak lama lagi, aku hanya mau bahagiakan dia sebelum dia pergi. Dokter bilang dia kena kanker otak stadium 4, dokter memfonis umurnya tinggal 2 bulan. Aku mau ngomong dengan jujur tapi kamu gak mau mendengarkanku, aku mau bahagiakan dia tapi di satu sisi aku gak mau kehilangan kamu.” ucap Gilang panjang lebar.
“maafin aku udah mikir kamu yang nggak-nggak, kenapa kamu gak sms aja. Dengan begitu aku tahu persis kejadiaannya.”

“aku gak tahu harus buat apa Fa, pikiranku waktu itu kacau di saat kamu bilang hubungan kita tidak bisa dilanjutin lagi. Waktu yang bersamaan di saat aku mau ke rumah kamu aku dapat telepon dari keluarganya Angel mantanku kalau dia sedang sekarat, aku gak tahu harus gimana dan akhirnya ku putuskan untuk ke rumah sakit. Seharian aku di samping Angel, saat adzan Subuh Angel menghembuskan napas terakhir. Sebelum dia pergi dia ngomong supaya aku balikan lagi dengan kamu.”

Tanpa sadar aku menitikkan air mata, aku menyesal telah membenci Angel dan Gilang “Maafin aku.” hanya itu yang aku ucapkan. Tak berapa lama dia pamitan pulang mau ke Bandung dengan Mamanya, aku gak nanya ngapain di sana aku hanya bilang hati-hati di jalan. Dengan langkah gontai aku kembali ke kamar dengan rasa penyesalan yang besar. Aku juga gak munafik, jujur sebenarnya aku juga masih sayang dan cinta padanya.

Esoknya, saat aku bangun aku melihat handphone dan ternyata ada sms masuk dari Gilang, dia ngajak ketemuan di Cafe tempat biasa aku dan dia nongkrong. Setelah sampai di Cafe ku lihat dia pake kemeja pemberianku di hari Ulang Tahunnya yang ke-20.
“Fa, sebenarnya aku masih sayang dan cinta sama kamu. Kamu mau balikan lagi denganku?” Ucap Gilang yang serta merta mengagetkanku.
“Kamu serius, kamu kan tahu aku masih sama Alfa.”
“Iya Fa aku tahu, tapi aku juga tahu kalau sebenarnya kamu masih sayang kan. Kita bisa kok backstreet dari dia, aku janji akan nyimpan rahasia ini hanya untuk kita berdua.” Jawabnya mencoba meyakinkanku.

“Kamu yakin… soalnya aku juga gak mau ninggalin Alfa gitu aja. Kamu yakin semuanya akan baik-baik saja?”
“gak apa-apa kok kamu masih mempertahankan hubungan kalian berdua, aku janji semua akan baik-baik saja. Aku janji akan tanggung jawab kalau terjadi apa-apa.”
“Iya aku mau, tapi kamu janji ya akan jaga rahasia kita baik-baik.” yakinku
“aku janji buatmu.” Ucap Gilang sambil memelukku dan mencium keningku.

Udah 1 minggu aku backstreet dengan Gilang dari Alfa. Aku kadang merasa bersalah dengan posisinya Gilang sekarang yang rela jadi yang kedua hanya ingin menebus kesalahannya mencampakkanku dulu. Sebenarnya aku gak merasa nyaman sama Alfa pacarku, tapi perhatiannya Gilang membuatku luluh. Perhatiannya tetap sama seperti dulu. Tiba-tiba panggilan telepon untukku di layar tertera nama Alfa, aku kalang kabut gak tahu harus ngomong apa. Tapi Gilang mencoba meyakinku kalau semua akan baik-baik saja, dia menyuruhku mengangkat telepon dari Alfa.

“Ya sayang ada apa?” tanyaku.
“kamu lagi di mana sih, aku tanya ke Cindy dia bilang kamu gak masuk.” tanya Alfa yang mengagetkanku.
“aku tadi ke kampus kok, cuma Cindynya aja yang belum datang. Aku lagi di rumah teman sekarang.” Ucapku mencoba meyakinkannya.
“Oh ya udah, hati-hati di jalan ya sayang. Jangan lupa makan siang ya, see you I Love You.”
“iya-iya sayang, I Love You too.” jawabku, dan ku lihat Gilang senyum-senyum dan menarik hidungku. “Aduh sakit tahu.” candaku
“udah belajar bohong yaa, hehehe.” jawabnya.

Setelah 1 bulan aku backstreet dengan Gilang, semakin lama aku semakin merasakan bahwa sifatnya mulai berubah. Dia emosian dan mulai posesif serta temperamental. Aku mulai mencoba untuk lepas darinya tapi dia mengancam aku mau dilaporin ke Alfa kalau aku udah duakan Alfa. Mungkin ini balasan dari semua yang ku perbuat, aku mengkhianati orang yang udah tulus sayang padaku orang yang sangat sabar dengan tingkah lakuku yang mau menang sendiri. Aku dan Alfa udah 2 mingguan gak ketemu dia lagi ikut PKL di Makasar, aku merasa kesepian tanpa kehadiran Alfa di sampingku. Tiba-tiba handphoneku bunyi Alfa nelepon.

“Ya sayang kenapa baru nelepon sih?” tanyaku.
“Iya sayang maaf ya, aku sibuk banget nih.”
“ya udah, kamu hati-hati ya di sana jangan nakal. Aku kangen banget sama kamu.” gombalku.
“iya sayang aku juga kangen banget sama kamu, sabar ya sayang 1 minggu lagi aku balik kok. Tenang aja kok sayang, aku gak mungkin berpaling dari kamu kok, udah dulu ya sayang ntar aku telepon lagi. I love you.”
“Iya deh iya, I Love you too.”

Dua hari lagi ulang tahunku yang ke-23 dan anniversary yang ketiga tahun hubunganku dengan Alfa. Tapi Alfa gak bisa datang, dia lagi di Makasar gak dapat tiket pesawat bentar siang. Saat malam pesta ulang tahunku, yang datang duluan adalah Gilang dan dia langsung berbaur dengan Mama-Papaku sok akrab banget tuh anak huh.
“aduh kenapa sih nih Gilang di sini terus. Ya Allah jauhkan aku dari orang ini, aku gak mau kenal dia lagi.” gumamku dalam hati.

Satu persatu teman-temanku datang mengucapkan selamat padaku, tapi aku hanya mengharapkan sosok orang yang ku sayangi datang mengucapkan selamat. Saat acara tiup lilin akan dimulai teman-temanku yang di depan terdengar berteriak histeris disusul dengan bunyi tabrakan yang keras. Tiba-tiba gelas minuman yang aku pegang pecah, perasaanku tak tenang terbayang wajah Alfa. Saat aku berlari, aku melihat mobil yang terbalik di depan rumahku dan aku tercengang melihatnya. Ya Allah itu mobil Alfa.

“Syifa… Alfa.” Cindy langsung menghampiriku dan menarik tanganku ke arah mobil itu. Saat melihat apa yang ada di tengah-tengah mereka, seseorang terbujur kaku bersimbah darah sedangkan kedua kakinya tertindih mobil. Aku terkulai lemas sontak aku menjerit sambil meneteskan air mata.
“Alfa… bangun dong Al. Kenapa kamu bisa kayak gini sih. Bangun Al, banguun!!!” aku menjerit memangging-manggil nama orang yang paling ku sayang namun dia tetap terbaring lemah. Kepalanya mengeluarkan darah terus, aku gak peduli gaun pestaku kena darah. Beberapa detik kemudian mata Alfa perlahan terbuka, dia tersenyum seperti biasa dia mencoba meraih pipiku. Aku memegang tangannya dan meletakkan di pipiku.

“Selamat Ulang tahun sayangku, calon istriku. Maaf ya sayangku aku gak bisa menemani kamu merayakan ulang tahunmu dan hari jadi kita berdua. Aku sayang kamu selamanya sayangku.” ucapnya dengan terbata-bata.
Dengan susah payah dia mengeluarkan sebuah kotak bergambar Hello Kitty dari dalam mobilnya dan diberikan padaku. Dengan meneteskan air mata perlahan ku buka kado tersebut isinya sepasang cincin kawin dan kalung liontin dengan namaku dan Alfa. Aku menangis histeris memanggil nama Alfa, ternyata di hari ulang tahunku dan hari jadiku dia mau melamar aku.

“Al bangun dong jangan tidur dulu.”
“makasih ya sayangku, aku bahagia memilikimu walau hanya singkat. Jaga cinta kita ya sayangku, aku sayang kamu selamanya…” Setelah itu dia memejamkan matanya dan perlahan tangannya terlepas dari genggamanku.
“Alfaa…”aku menangis dan langsung memeluk Alfa.
Tak lama ambulans datang membawa jasad Alfa. Gilang mendekatiku dan mencoba menenangkanku.

“Udalah Syifa, Alfa sudah gak ada. Gak usah ditangisin seperti itu, aku masih selalu bersamamu.” Ucap Gilang. Dengan geram ku hempaskan tangannya yang memegang pundakku.
“Diam lo, gak usah lo sok menghibur gue. Pergi lo dari kehidupan gue, gue muak lihat tampang lo di sini tahu gak. Asal lo tahu, gue gak pernah harapin lo datang di pesta ulang tahun gue. Nyesal gue kenal dengan lo, selama ini gue terlalu takut dengan ancaman-ancaman lo tentang hubungan kita. Hubungan yang gue gak pernah impikan, nyesal gue khianati orang yang tulus mencintai gue demi lo yang berhati iblis. Puas lo skarang hah??!” aku memaki-maki Gilang di hadapan teman-temanku. Malam itu semua yang ku pendam ku keluarkan.

“Syifa…” Gilang mencoba membujukku.
“Pergi lo… gue gak butuh lo. Lo itu cuma bikin hidup gue hancur berantakan.” aku memalingkan wajah, enggan menatap wajahnya.
Gilang kembali menarik tanganku dan aku langsung menepisnya.
“gue bilang pergi… jangan harapin gue bakalan ngemis cinta lo. Dan jangan pernah ganggu hidup gue…” teriakku. ku tarik tangan Cindy dan memintanya untuk membawaku ke rumah sakit di mana Alfa dibawa.

“Al, maafin aku ya sayangku. Aku udah mengkhianati cintamu, aku menyesal dengan semua yang ku lakukan terhadapmu. Aku baru sadar ternyata kamulah Cinta Sejatiku selama ini, dan di saat aku ingin memperbaikinya kamu malah pergi meninggalkanku sendiri. Aku akan selalu menyimpan cinta ini hanya untukmu Al, aku janji. Istrahat yang tenang ya sayangku, semoga kamu tenang di sana diberikan tempat yang layak di sisi Allah aamiin. Doaku selalu dan selalu menyertaimu, simpan cintaku di tidur panjangmu yah sayangku calon suamiku. I Love You sayang.” bisikku di telinga Alfa saat aku telah berada di hadapan jasad Alfa.

Ku dekati wajahnya dan ku pandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang ku lakukan terhadapnya selama 2 bulan terakhir. Ku sentuh perlahan wajahnya yang telah dingin, wajahnya yang selalu dihiasi senyum hangat. Air mata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar air mata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya.

Aku menyesal selama ini sudah mengkhianati dia, aku menyesal di saat-saat terakhirnya waktuku hanya untuk Gilang sepenuhnya. Selama aku backstreet dengan Gilang aku jarang nelepon Alfa, dalam sehari aku hanya sekali nelepon dia. Dia tak pernah absen meneleponku mengingatkanku makan teratur. Hari-hari yang ku jalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini ku inginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari awal kepergiannya aku duduk termangu melihat handphone berharap dia akan meneleponku. Semua kebodohan itu ku lakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dengan tulus.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun dia sudah tidak ada. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku, akau marah karena tak ada lagi yang membujukku saat aku lagi ngambek. Tak ada lagi yang mengingatkanku salat meskipun kini ku lakukan dengan ikhlas, tak ada lagi yang ngomong, “Sayang, kamu tambah cantik kalau berhijab. Coba ya.” meskipun sekarang aku mulai membiasakan diri berhijab sebagai salah kewajiban seorang muslim. Aku tak pernah berpikir untuk mencari pacar lagi, banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku.

Sekian

Cerpen Karangan: Septian Dwi Anggriani Demolingo
Facebook: Iyhan Hadju Anggriany
Nama: Iyhan Anggriani

Cerpen Penyesalan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejora (Part 2)

Oleh:
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang dan untuk selanjutnya, apakah perasaan ini akan kembali terkubur atau akan tumbuh dan bersemi? Jawabannya hanya bisa diketahui melalui keputusan Syara, begitu

Dreams

Oleh:
Kurasakan hawa dingin ketika kulihat dia berada di depan kelasku. Si biang onar Rawson yang nyebelin. Sayangnya ternyata di dunia ini tidak hanya ada 1 Rawson, tapi 2! Bayangkan

Pembunuhan Berantai

Oleh:
Perkenalkan namaku Farah ainun nissa biasa di panggil Rara hari ini adalah hari pertamaku di Perguruan tinggi Sunny Hiill. Aku mempunyai empat teman yang akrab denganku sejak kelas 1

Cinta Berakhir Kematian

Oleh:
Pagi ini tidak bersahabat, langit yang biasa terlihat indah dengan sinar mentari indahnya, tiba-tiba enggan membagikan sinarnya pada bumi. Sehingga tampak mendung yang disertai gerimis. Membuat hati ini semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *