Perjuangan Menuju Jadian (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 October 2015

“Dia manis ya,” suara Viona terdengar mengusik perhatianku, ku tengok ia dan mencari ke mana arah pandangannya tertuju, aku tertegun begitu tahu apa atau lebih tepatnya siapa yang telah menjadi objek pandangannya. Nino, anak kelas sebelah yang berbeda jurusan dengan kami, anak tata busana, dia anak jurusan Teknik komputer dan jaringan. Viona masih melihatnya hingga Nino telah lenyap dari pandangannya,

“Kamu suka Nino?” tanyaku ragu, Viona menoleh padaku dan mengangkat bahu, di bibirnya tersungging sebuah senyum yang ku artikan “sepertinya iya.”
“Saingan sama aku!” entah setan dari mana yang tiba-tiba merasukiku hingga aku berkata sedemikian bodohnya. Kening Viona agak berkerut.
“Kamu suka dia?” tanyanya, aku menggeleng sambil tertawa, berusaha bersikap kalau itu hanya bercanda, padahal memang benar.
“Nggak mungkinlah, Windi kan udah terbiasa bareng sama Nino, kita kan satu ekskul,” Terdengar Vivi menyahut dari seberang bangku, huufftt Vivi menyelamatkanku, aku mengangguk mengiyakan.
“Aku sama Nino kan satu ekskul, udah terbiasa bareng, mana mungkin suka,” ujarku berdusta. Viona hanya mengangguk dan bel tanda istirahat usai telah berdentang.

Aku kembali terhanyut dalam alunan lagu-lagu bernuansa sendu yang ku play dari handphone, langit di sana tampak indah dengan ribuan bintang yang menghiasi, ini sudah menjadi aktivitasku jika malam tiba usai mengerjakan PR. Drrtt.. “Yank..” Sms dari Fian, pacarku, sudah hampir setahun kami menjalin hubungan, dan sudah dua bulan belakangan ini aku merasa bosan dengannya, akhir-akhir ini aku merasa sifatnya kurang cocok denganku, kami sangat jarang bertemu, setiap kali jalan aku selalu kelaparan, dia memang pelit! lengkap kan alasanku untuk merasa bosan dengannya, satu lagi, sejak tiga bulan yang lalu atau lebih tepatnya awal 2013 aku mulai menyimpan rasa pada seseorang, dia adalah Nino, cowok polos yang belum pernah pacaran telah berhasil mencuri perhatianku, meski selama ini kami hanya berstatus teman dalam ekskul dan organisasi yang sama, ekskul Taekwondo dan organisasi Osis.

Aku kembali teringat Sms Fian.
“Iya,” balasku.
“lagi apa?”
“nyantai, kamu”
“sama.” Smsan berakhir, memang selalu seperti itu, mungkin dia juga mulai bosan denganku, tapi dia bilang kalau tidak punya teman smsan selain aku, aku percaya saat itu sebelum aku tahu yang sebenarnya.

Drrt. Ada sms lagi, nomor baru yang tidak ku kenal. Aku lupa bagaimana isi sms-nya.
“siapa?” balasku.
“Nino.” Entah apa yang ku rasakan, aku merasa senang Nino sms padaku, meskipun yang ikut ingat itu bukan sms pribadi, namun sms pemberitahuan tentang ekskul kami. Aku tidak berniat membalasnya namun segera menyimpan nomornya agar menghuni daftar kontakku.

“Kenapa harus hujan sih, kan jadi nggak bisa pulang,” gerutuku kesal, hujan hari ini benar-benar deras, aku yang awalnya berada di depan kelas segera masuk karena hujan mulai menyentuh tubuhku. Di dalam, ku dapati Viona tengah berdua dengan Vivi, ku dengar mereka bicara.
“Minta nomornya Nino dong Vi,” pinta Viona, Vivi langsung menyodorkan handphonenya dan beralih menatapku sambil mengangkat bahu. Aku dan Vivi memang sama-sama tahu seperti apa Viona itu, baru beberapa bulan yang lalu ia masih gencar-gencarnya mengejar Kakak kelas, sekarang sudah beralih ke Nino. Aku hanya tersenyum kecut pada Vivi dan berbalik memunggunginya.
“Viona akan segera beraksi” batinku.

Ini hari Rabu, sudah menjadi jadwal latihan ekskul yang aku, Nino, dan Vivi ikuti. Akhir-akhir ini aku semakin semangat untuk latihan karena ada orang yang spesial di sana.
“Nino, diem di situ, aku mau praktek!” ujarku mengambil kuda-kuda, Nino yang tengah berdiri mematung segera ambil posisi. Aku melakukan tendangan dasar dulio chagi (tendangan samping), hanya dengan satu langkah ke samping Nino berhasil mengelak, ku coba lagi untuk yang kedua kali, lagi-lagi Nino berhasil mengelak dengan mundur satu langkah, aku mulai geram, akhirnya ku coba tendangan one step dulio chagi, (satu langkah ke depan lalu menendang, dilakukan dengan cepat) dan hasilnya, BUK. Berhasil! Nino memegangi pinggangnya yang mungkin saja sakit karena tendanganku yang lumayan keras. Aku tertawa mengejek dan segera lari karena Nino mengejarku, tapi tetap saja aku kalah cepat, Nino berhasil meraih kerudungku dan ditariknya hingga aku ikut tertarik ke belakang. Setelah puas, Nino tertawa mengejek dan berlari meninggalkanku.

“Awas kamu!” teriakku.
“Rasaaiiinn!” Nino menyahut dari jauh, aku pun segera berlari mengikutinya namun tidak berniat membalas, yang ku hampiri adalah Vivi dan Erin yang sedang ngerumpi karena ini memang waktu istirahat. Jadilah kami bertiga tidur telentang di tengah lapangan paping sambil memandang langit biru yang berselimut awan.
“Ngelihat langit dari sini bagus ya,” ujar Vivi.
“Iya ya, apalagi kalau malem, bintangnya banyak, wuihhh, pasti lebih so sweet,” Erin menambahkan.
“Kalau ada kesempatan pas ada acara nginep di sekolah malem-malem kita manfaatin aja buat ngelihat bintang dari sini,” ujarku pula, Erin dan Vivi mengangguk mengiyakan.

Hari ini kami anak tata busana harus lembur dulu, praktek rok yang kami buat harus segera selesai karena akan jadi bahan penilaian ujian MID semester genap tiga bulan lagi. Kebetulan sekali saat itu Nino masih di sekolah bersama Feno dan Angga, aku bisa melihatnya dari dalam lab tata busana, ia tengah berada di halaman depan kelas dengan motornya. Teman sekelasku Billy yang baru saja ngobrol dengan Nino cs memasuki lab.
“Nino mau ke mana sih, kamu suruh ke sini dong,” ucap Viona yang duduk di sampingku. Billy kembali ke luar lab.
“Ninoo.. Feno.. Angga.. sini dulu doongg..” Teriak Billy yang memang agak gemulai dengan nyaring, ketiga orang yang dipanggil itu tampak sedang mendiskusikan sesuatu. Jujur aku juga menunggu kedatangan Nino.

Melihat Nino tak bergeming di tempatnya, Viona meraih handphone-nya dan mengetik sms, tak lama kemudian Nino cs datang mendekat, tapi tidak menuju lab, melainkan halaman di depan lab. Aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Nino cs kembali berdiskusi, lalu dengan tiba-tiba mengemudikan motornya ke luar area sekolah. Ku lirik Viona, raut mukanya terlihat kecewa. Aku berpura-pura meminjam hape-nya untuk melihat isi file-nya, padahal yang ku ingin hanyalah sms-nya. Jantungku berdegup lebih kencang melihat nama Nino berada dalam sebuah obrolan, langsung saja ku buka isinya dan ku baca satu persatu.

Viona: “Nino, samean udah nyampe rumah? Maaf ya udah repot nganterin aku pulang.”
Nino: “udah, iya gak apa-apa kok.”
Viona: “udah ngantuk apa belum?”
Nino: “uda lumayan”
Viona: “ya udah samean tidur aja ya, biar besok nggak kesiangan, met tidur Nino”
Nino: “iya, samean juga ya, met tidur juga.”
Viona: “iya”

Viona: “Malem..”
Nino: “malem juga,”
Viona: “lagi apa samean?”
Nino: “nonton Tv”
Viona: “ohh, udah maem?”
Nino: “udah”
Viona “kok cuek sih balesnya,”
Nino: “maaf ya tadi aku ngantuk, aku minta maaf”

Viona: “mau ke mana sih?”
Nino: “ngga ada,”
Viona: “ke sini dulu dong,”
Nino: “iya,”
Nino: “aku pulang dulu.”
Sampai situ aku membaca sms antara Viona dan Nino. Ahh hatiku rasanya..

Drrt.. “yank..” Fian lagi! aku tak berminat untuk membalasnya. Kembali ku renungkan hubungan Viona dan Nino, baru beberapa hari mereka smsan dan sudah sedekat ini, bahkan bahasa yang mereka gunakan “samean” yang dalam bahasa Indonesia berarti kamu. Kata samean dalam bahasa jawa biasanya digunakan untuk menyebutkan orang yang lebih tua, orang yang dihormati, orang yang dianggap spesial, dan kepada pacar. Aku menebak mereka masih sebatas PDKT. Tapi kenapa hatiku sudah sesakit ini. Aku baru ingat kalau dua hari lalu anak kepala sekolah ulang tahun, beberapa siswa yang dekat dengan pak kepsek dan anaknya yang saat itu belum TK diundang, termasuk Viona dan Nino, dan ku ingat cerita Vivi kemarin yang katanya Nino pulang jam 12 malam dan kekancingan rumah. Vivi bilang Nino juga harus mengantar Viona dulu. Aku tak mau terlalu memikirkan, ku fokuskan kembali pada kegiatan mendedelku.

Malam datang lagi, aktivitas rutinku kembali ku jalani, kali ini lagu yang ku dengar tembang dari Negara tetangga yaitu Malaysia yang berjudul Merebut (entah merebut apa), langit di sana masih berbintang namun mulai tertutup awan.
“Kini engkau telah pergi, Aku sendiri.. Berteman sunyi..
Semoga derita ini.. Tak akan terjadi kedua kali.. Asaku terbang.. jauh melayang.. cinta yang indah.. kini telah hilang..
Hati siapa yang rela jatuh terkulai.. karena cinta.. Hati yang luka ohh pedih di dalam dada, tiada obatnya..
Pasti nanti kau kan mengalami.. Jangan tangisi cinta yang pergi..”

Begitu kira-kira isi liriknya, cukup sedih lirik dan nadanya, aku semakin terhanyut, saat aku menengok ke atas, langit sudah tertutup penuh dengan awan, angin mulai berhembus, aku buru-buru masuk ke dalam kamarku.
Drrtt. “Yank.” Hufft.. dia lagi.
Drrtt. Satu sms masuk, dari Nino, aku senang bukan main, tumben sekali. Buru-buru ku buka dan ku baca sms-nya.
“duh sepinya…” dengan semangat aku membalas sms-nya.
“Bakar pom bensin aja, biar rame”
“Enak aja, nanti dipenjara tahu,”
“nggak apa-apa dong, kan enak makan gratis”

Smsan kami berlanjut hingga waktu menunjukan pukul 21.00. Saat itu aku berpikir untuk menanyakan sesuatu.
“Kamu nggak smsan sama Viona?” tanyaku.
“Iya ini smsan,” balasnya. Aku hanya menarik napas dan berusaha tenang.
“kamu suka ya sama Viona?” tanyaku dengan getir.
“Ah enggak kok, dia udah punya pacar,” ada perasaan lega membaca balasannya, namun kemudian aku berpikir kalau mungkin ia hanya menutup-nutupi.
“jangan bohong deh, Viona suka loh sama kamu,”
“masa?”
Pukul 22.30 sms-an kami berakhir, aku tak menyangka aku bisa sms-an selama ini dengan Nino, semenjak malam itu, aku jadi sering sms-an dengannya.

Bersambung

Cerpen KarangaNino: Wirdha Marissa
Thanks for read. Salam hangat, RICIDA

Cerpen Perjuangan Menuju Jadian (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rangga (Part 1)

Oleh:
“Nunggu mulu, emang gak cape apa tuh hati?!” Tanya Rara sahabatku. Dengan santai ku menjawab, “Gak tuh, Nunggu kan gak sambil lari larian.” Kudengar Rara mengerang sebal. “Kalo lo

Serial Niken (Sepatu Kaca Cinderella)

Oleh:
Semalem niken dan angeline ngambek minta dibikinin opor ayam. Alhasil pagi ini mama sinta terpaksa bela belain ke pasar bareng tania. Tapi dari tadi mama ngeluh, secara harga harga

Ku Hanya Butuh Kasih Sayangmu

Oleh:
Mentari telah memancarkan sinarnya, menyambut milyaran manusia. Seberkas cahaya yang masuk melewati kaca jendela kamar mampu menyilaukan mata seorang lelaki muda yang biasa disapa Raka. Pemandangan nan indah yang

Perhatian

Oleh:
Wanita berparas cantik rupawan wajahnya seperti Nirwana yang sangat indah. Wanita itu bernama Zainab, dia yang selalu memberi motivasi kepadaku untuk menjadi yang lebih baik lagi. Zainab ialah orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *