Perjuangan Menuju Jadian (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 October 2015

Hari jumat sudah menjadi jadwal wajib anak kelas X untuk mengikuti pramuka, saat itu anak kelas XI tengah menjalani prakerin, anak kelas XII baru saja menjalankan ujian nasional dan istirahat di rumah. Jadilah SMK-ku hanya dihuni oleh anak kelas X, sepi memang, tapi selama ada Nino, bagiku tidak akan sepi, sepertinya itu juga yang dipikirkan oleh Viona,
“Putra PSG tuh, jadi sepi nih,” godaku saat kami masih berada di luar kelas sambil menunggu Pembina datang untuk memulai kegiatan pramuka. Putra adalah Kakak kelas XI yang dulu dikejar-kejar oleh Viona dan kini jadi mantannya, tapi ku dengar mereka masih dekat dan ada tanda-tanda akan balikan.

“Ya nggak dong, kan masih ada Nino,” Vivi menyahut.
“haha iya dong, kan masih ada Nino,” Viona mendukung ucapan Vivi. Aku tersenyum.
“Kamu udah semakin deket ya sama Nino?” tanyaku, Viona mengangguk, tiba-tiba wajahnya berubah sumringah.
“Eh tahu nggak, semalem kan aku bilang I LOVE YOU gitu, tahu nggak dia bilang apa? dia bilang I LOVE YOU TOO loh,” ujarnya senang,
“Masa sih, cie-cie..” Vivi menggodanya,
“Terus kan aku Tanya beneran nih? dia jawab beneran lah, aduhh aku seneng banget,” Viona tampak begitu senang, Vivi lagi-lagi menatapku, dengan ekspresi dan arti yang sama.
“Boleh baca sms-nya nggak?” tanyaku, Viona dengan senang hati menyerahkan hape BB-nya padaku.
Ku baca obrolannya dengan Nino yang kini nama kontaknya sudah ada tanda love-nya.

Viona: “Nino, I <3 U" Nino: "I <3 U too..." Viona: "beneran nih?" Nino: "iya beneran" Viona tidak bohong, Nino benar-benar berkata I Love you too, aku juga cinta kamu, Nino juga cinta Viona!! ohh hatiku rasanya.. sakit. Ku serahkan handphone itu lagi padanya dan berusaha tersenyum, "Gaya kamu, selamat ya!" ujarku. --- Sabtu ini aku kembali latihan taekwondo, kali ini tanpa Vivi dan Erin karena mereka berdua ada urusan. Saat latihan berpasangan, aku berpasangan dengan Nino, kami berdiri berhadapan, saling berpura-pura menendang sesuai intruksi sabem (pelatih). Hingga sampailah pada tendangan up chagi Ollegol (tendangan ke depan dengan sasaran kepala) karena kakiku yang panjang, aku dengan mudah meraih mukanya, namun ternyata keterusan hingga, BUK, lalu BRUK. Tendanganku yang keras mengenai wajahnya sampai membuatnya ambruk. Semua langsung mengerumuninya, termasuk aku. Refleks, ku usap wajahnya yang baru terkena tendanganku. "Aduh maaf ya," Ucapku masih terus mengusap wajahnya, Nino memandangku tajam, aku terkejut dan baru sadar akan tindakanku. "Cie..cie.." para taekwondoin kompak menggodaku. Aku benar-benar malu. Nino langsung bangkit. "Aku nggak apa-apa kok," katanya, ia disarankan untuk istirahat dulu. Minggu-minggu ini osis mempunyai agenda yang penuh, untuk minggu pertama, adalah undangan untuk menjadi tim paduan suara di acara Hari jadi IPNU-IPPNU. Aku berada di posisi tepat di sebelahnya, ini ku sengaja agar aku bisa dekat dengannya, selesai acara pembukaan, istirahat pun tiba. Aku mendekatkan kakiku dengan kakinya hingga berdempetan, ku bandingkan kakiku yang mungil dengan kakinya yang besar. "Sepatumu ukuran berapa sih?" tanyaku. "kenapa emangnya? Bagus kan," sahutnya, dengan sengaja ia menginjak kakiku. "aduh, kaki kamu besar tahu," protesku, Nino tertawa, lalu badannya membungkuk, ku pikir ia lagi ngapain, rupanya sedang menalikan tali sepatuku dengan kursi di depanku, aku tertawa melihat sikapnya. Ia kembali menegakkan badannya dan tersenyum puas padaku. "Jail banget sih," gerutuku berpura-pura kesal, padahal.. senang. "Biar nggak bergerak terus," sahut Nino. Aku sangat menikmati suasana ini, sangat menikmati berada sedekat ini dengan Nino, meski dengan susah payah harus ku sembunyikan gejolak di hatiku. Nino menatap ke bawah, mungkin melihat sepatuku yang sudah berhasil diikatnya. "Nino, ikut aku yuk, ambil nasi ke rumahnya mas Irwan," Viona tiba-tiba sudah duduk di kursi depanku dengan menghadap ke arah Nino, merasa diajak bicara, Nino pun mendongak. Ia tidak menyahut, hanya sebuah anggukan kecil menjadi jawaban, ku lihat raut mukanya terlihat tegang. Mungkin ia grogi, akan segera jalan dengan "calon pacarnya." Aku berharap Nino menolak ajakan itu, tapi ternyata ia memang bersedia, ia meninggalkanku sendiri, tanpa berkata apa-apa. Aku mulai merasa cemburu, cemburu yang sangat wajar untuk ku rasakan. Usai acara, tim paduan suarapun dipersilahkan untuk makan dahulu, kami diajak ke sebuah ruang yang sudah disiapkan khusus untuk kami. Inilah yang membuatku senang menjadi tim paduan suara, selalu diistimewakan. Setelah makan selesai, kami masih berada di dalam ruangan tersebut untuk beristirahat dan bernyanyi dengan diiringi keyboard, di situ aku merasa Nino selalu mencuri pandang ke arahku, bukannya aku GR, tapi memang ia sempat ketahuan buru-buru memalingkan muka saat aku melihatnya, tapi ku pikir, mungkin ada sesuatu yang aneh pada penampilanku sampai ia terus mencuri-curi pandang. Setelah acara itu, aku dan Nino semakin akrab saja, meskipun itu hanya saat latihan, selain itu, dia cuek, ketemu di sekolah, dia nggak nyapa, melihat pun tidak, tapi aku maklum, dia memang masih pemalu. Mengenai hubungannya dengan Viona, kabar terbaru yang ku dapat mereka semakin dekat, bahkan bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa indo atau jawa kasar, tapi bahasa kromo inggil (jawa halus). Itu berarti mereka akan segera jadian, tinggal menunggu waktu. Satu hari suka, seminggu PDKT, seminggu semakin dekat, Viona memang hebat! Minggu ini agenda osis adalah istighosah bergilir yang diadakan dua minggu sekali, kali ini giliran di rumah temanku sesama osis bernama Lutvi, biasanya istighosahnya sore jam 3, tapi karena rumah Lutvi jauh, maka kami sepakat untuk mengambil hari minggu jam 9. Setengah 9 aku berangkat dari rumah dengan mengendarai motorku dan mampir dulu di POM, di jalan aku berpapasan dengan Angga dan Nino yang membawa sepeda sendiri-sendiri. "Ayo duluaann!" seruku mendahului mereka, dua cowok itu mengiyakan dengan kompak. Aku membelokkan motorku ke POM untuk mengisi sarapan motorku, tapi tak ku sangka, Nino dan Angga menungguku, jadilah kami berangkat bertiga. Sampai di sekolah - tempat yang digunakan untuk berkumpul- rupanya anak-anak osis yang lain sudah pada ngumpul, kami bertiga pun gabung dengan mereka. "Eh Nino, kamu disuruh jemput Viona di rumahnya," ucap Billy begitu melihat Nino, Nino mengangguk dan langsung balik kanan tancap gas, rumah Viona memang tidak jauh, hanya berjarak sekitar 100 m dari SMK, hingga tak sampai 5 menit, ia sudah kembali dengan Viona duduk di belakangnya dengan jarak satu kilan. Setelah merasa semua sudah berkumpul, kami pun berangkat, tapi ternyata Nino tidak boncengan dengan Viona, sepedanya dibawa Viona yang boncengan dengan Vivi, Nino sendiri memilih bocengan dengan Feno. Aku agak lega melihatnya, tidak harus merasa cemburu sepanjang jalan. Dua puluh menit kemudian, kami sampai di rumah Lutvi yang ternyata sangat pelosok dengan jalanan yang aduhai dalam membuat perut mual. Kami beristirahat sejenak sebelum acara dimulai, dan aku menunggu Nino yang belum kelihatan batang hidungnya. Ah itu dia, dia sudah sampai, Nino segera masuk ke dalam rumah, tapi kemudian ke luar lagi, dengan sengaja aku mengikutinya. Di luar, ternyata ia bertemu dengan Viona, Viona menyerahkan kunci sepeda motor Nino, dan cowok itu langsung berlalu melewatinya begitu kunci didapatkan, aku hanya termenung dengan pemandangan itu, mereka tampak sangat akrab saat di sms, tapi kalau ketemu langsung, kenapa jadi saling canggung gitu. Hmm mungkin saja karena Viona adalah cinta pertama Nino, wajar kalau ia masih kaku. Aku kembali masuk dan istighosah pun dimulai. Beberapa hari setelah acar itu, kami -aku, Vivi, Viona, kak Mala- tengah asyik ngerumpi di depan kelas, ku dengar Viona menanyakan nama seorang cowok pada Kak Mala, aku lupa namanya, yang ku ingat dari obrolan selanjutnya adalah Viona naksir dengan tetangga Kak Mala yang namanya tadi ditanyakan. "Terus hubungan kamu sama Nino gimana?" tanyaku merasa Viona mulai mempermainkan Nino. Ia angkat bahu. "Nggak tahu ah, nyebelin dia, dari kemaren aku nggak sms dan smsnya dia nggak aku bales," jawabnya. "Emang kenapa?" Viona hanya angkat bahu, aku jadi semakin geram, Vivi yang berdiri di sampingku menyolek punggungku, aku tahu maksudnya dan aku hanya meliriknya. Minggu kali ini osis mendapat undangan bazaar di SMA tetangga yang tetangganya agak jauh, SMA tersebut akan mengadakan acara disnatalis yang diisi bazaar dan pentas seni. Kami mendapat stand di dekat panggung. Aku tidak menyangka stand kami akan selaris ini, kami menjual makanan, jus, assesoris, dan kedai kopi, kedai kopi itulah yang membuat stand kami banyak yang mengunjungi. Karena semua sudah ada yang menghandle, jadilah aku hanya diam, duduk bersila bersama Nino dan Angga, kami ngobrol ngalor-ngidul. Sampai masalah datang, tampak Kak Mala si ketua OSiS kebingungan. "Aduh karpetnya kurang, pengunjungnya makin banyak lagi," katanya sambil mondar-mandir, Mbak Sisil, Kakak Viona yang merupakan ketua PAC Genteng organisasi IPPNU (ikatan pelajar putri nadlatul ulama) datang menengahi. "Di base came IPNU-IPPNU ada karpet, kamu pinjem aja, bilang sama mas Hasan aku yang nyuruh," ujarnya. Kak Mala mengangguk dan mulai mencari mana yang nganggur. "Windi, kamu nganggur kan, bisa kamu ambilin?" pintanya, aku mengiyakan dan langsung berdiri, ku tatap Angga dan Nino bergantian, ingin rasanya aku ngajak Angga, tapi aku malu dan sungkan sama Viona, karena bagaimanapun mereka punya hubungan dekat, yah meskipun sekarang Viona sendiri sedang sama cowok lain dari SMA ini. "Angga ikut aku yuk," ujarku akhirnya, Angga langsung bangkit berdiri, ia bingung mencari sandalnya sampai aku bosan menunggu. "Ya udah deh sama kamu aja yuk, No," kataku, aku sangat senang mendapat kesempatan ini, Nino segera bangkit dan berjalan menuju parkiran, aku mengikutinya, saat ku toleh, rupanya Angga sudah menemukan sendalnya. Kami sudah meluncur di jalan, suasana malam minggu ini begitu romantis bagi mereka yang pacaran, becak cinta juga sering kami jumpai, kami memperlambat laju motor agar bisa mengobrol santai, meskipun jarak duduk kami juga satu kilan. "Banyak juga ya becak cintanya," ucapku. "Iya, kamu pengen naik?" sahut Nino. "Itu kan punya orang, mana bisa?" ucapku lagi. "Kata siapa, itu becak cinta yang di alun-alun, jelas disewakanlah," timpal Nino. "Masa sih, menurutku itu orang bikin sendiri deh," jadilah obrolan kami seputar becak cinta yang memang sedang trend saat ini. Akhirnya kami sampai di base came dan telah mengambil karpetnya, kami pun kembali ke tempat bazaar. Dan ini, ku catat sebagai peristiwa boncengan pertama kali ku dengan Nino. Di tempat Bazaar, suasana memang semakin ramai, karpet yang aku dan Nino bawa digelar, aku pun kembali jadi pengangguran, ku dekati Vivi yang juga senang duduk-duduk. "Eh, Win, lihat deh Viona, ada pacarnya di sini malah enak-enakan sama cowok lain, nggak jaga perasaan Nino banget sih," Deg! aku tak percaya dengan apa yang Vivi ucapkan barusan, Viona.. dan Nino.. pacaran? "M-masa sih?" tanyaku dengan hati mulai berdenyut sakit. "Iya, dasar Viona bener-bener, kasihan kan Nino, dia kan baru pertama kali pacaran, eh udah diselingkuhin," ujar Vivi lagi. "Sejak kapan mereka pacaran?" aku semakin ingin tahu. "Kamu tahu pas di rumah Lutvi itu, katanya mereka udah jadian," "Oh.." hanya itu yang bisa ke luar dari mulutku, ternyata mereka sudah pacaran, tapi kenapa mereka nggak akrab sama sekali? itu membuatku bingung. Drrtt, "yank.." kali ini aku berminat untuk membalasnya, aku ingin mendapat pelampiasan. "iya yank." balasku, saat itu pun aku berpura-pura sibuk smsan dengan Fian, meski yang sebenarnya terjadi adalah sibuk untuk meredam nyeri dalam hatiku. Akhirnya aku menghadapi ujian MID semester genap, saat itu sedang jam istirahat usai ujian mata pelajaran pertama, aku dan Vivi duduk di dalam kelas sambil ngobrol ngalor-ngidul, Viona dan Billy juga sedang duduk ngerumpi di emperan kelas, hingga kemudian Nino melintas dan tampak olehku Viona memalingkan muka. "Eh Vi, Viona sama Nino itu gimana sih hubungannya, masih pacaran?" tanyaku. "Denger-denger sih mereka uda putus," sahut Vivi, aku terdiam, rasa senang mulai menyelinap di hatiku. "Masa sih, emang kenapa putus?" tanyaku lagi. "Viona cerita ke aku, katanya pas dia dijemput Nino waktu mau ke rumah Lutvi itu, dia kan boncengannya agak maju, eh sama Nino suruh mundur, Viona ngambek deh," jelas Vivi. "Cuma gara-gara itu?!" aku berseru tak percaya. "Iya, kamu kan tahu sendiri kayak gimana Viona, tapi biarin ajalah, begitu lebih baik, kasihan kan Nino harus disakiti," ucap Vivi lagi, tiba-tiba suasana berubah hening. Aku ingin mengutarakan sesuatu pada Vivi, suatu hal yang mungkin dialah orang pertama yang tahu. Ku dekatkan wajahku padanya. "Vi," lirihku, Vivi mendongak. "Kamu jangan bilang siapa-siapa ya?" pintaku, Vivi mengernyitkan dahinya, namun sedetik kemudian ekspresinya menunjukkan keingintahuan. "Sebenarnya.. aku juga sama Nino, dari dulu sebelum Viona suka sama Nino," ungkapku akhirnya, Vivi terdiam, ku lihat ekspresinya yang menurutku aneh, seperti ingin tersenyum atau entah apa itu, aku tak mengerti. "Emm, sekarang siapa ya yang nggak suka sama Nino, cowok polos, baik dan "mbeneh" kayak dia," ucap Vivi akhirnya, aku bernapas lega mendengar tanggapannya, karena menurutku itu ia berarti setuju dengan perasaanku. "Iya ya, Nino nggak pantes disakiti sama Viona, emang lebih baik mereka putus saja," kataku dengan mata menerawang. Begitupun Vivi, entah ke mana pandangannya tertuju. Akhirnya jam istirahat pun usai. Ujian mid semester berakhir. Kini sekolah sedang gencar-gencarnya melakukan promosi ke berbagai SMP untuk menarik minat siswa agar sekolah ke SMK-ku, maklumlah SMK swasta, PPDB kali ini seperti dibesarkan-besarkan. Anggota osis pun semakin sibuk melancong sana melancong sini masuk ke SMP-SMP didampingi guru untuk presentasi dan melambungkan SMK-ku dengan hal-hal yang serba baik. Kak Mala dan Billy yang merupakan Ketua dan wakil Osis jelas yang selalu diajak, tapi kebetulan sekali aku juga selalu diajak, kata Pembina osis kami, aku lumayan lihai dalam hal bicara di depan umum. Saat itu kebetulan Nino juga ikut promosi, karena mobil sekolah sedang tidak ada, jadilah kami 8 orang boncengan, dan kebetulan sekali aku boncengan dengan Nino, Viona juga ikut promosi, tapi aku enjoy saja, karena sekarang mereka sudah tidak berhubungan lagi. Saat hendak berangkat, dari jauh seseorang berseru. "Windiii, Rio cemburu niihh!" aku menoleh ke arah datangnya suara, ku dapati Angga tertawa dengan Rio yang duduk di sampingnya tengah tertunduk lalu bergegas masuk ke dalam kelas. Aku mengernyit, tak mengerti dengan maksud Angga, "Rio cemburu? Dengan siapa dan untuk apa?" Malam kembali menyapa, seperti malam-malam sebelumnya, dengan bintang bertaburan di langit, diiringi lagu-lagu sendu dan tangan yang sibuk sms-an, aku masih pacaran dengan Fian, kami sudah genap setahun, tapi hubungan kami masih sama seperti hari-hari yang lalu, sebenarnya aku ingin memutusnya, tapi yah.. aku belum menemukan alasan yang tepat. Inbox dan outbox-ku kini lebih didominasi oleh Nino, aku dan Nino memang semakin dekat sekarang, bahkan bisa dibilang PDKT. Nino: "kamu lagi apa sekarang?" Windi: "nih lihatin bintang, banyak banget bintangnya, kamu?" Nino: "sama, tapi di langit aku nggak lihat bintang tuh" Windi: "terus kamu lihat bintang di mana?" Nino: "di hatimuuu." Aku senyum-senyum sendiri membaca sms Nino, kami sudah sering seperti ini, saling menggombal dan merayu, tapi sampai sejauh ini, kami masih menganggapnya sebagai lelucon. Lelucon yang tidak lucu. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Rio, aku teringat padanya, saat itu aku sedang menyanyikan lagu buatanku yang ku buat tanpa instrument alat musik, memang aku asal menyanyi dan suaraku ku rekam di handphone. Rio mendengarnya dan entah mengapa ia tertarik pada laguku, ia pun meminjam handphone-ku untuk mengirim file suaraku tersebut, ia bilang ingin membuat nadanya dengan gitar, dan saat itu, aku merasa ada yang lain dengannya, ada yang lain dengan tatapannya dan sentuhannya di pundakku, aku tak ingin menghiraukannya. Namun teriakan Angga tadi siang mau tak mau mengusik kembali ingatanku padanya. Dua jam menjelang istirahat, kelasku mengalami jam kosong, aku tidak tahu apa alasan guruku waktu itu, namun yang jelas, hal ini kami-murid cewek di kelasku -manfaatkan untuk merumpi. Saat aku menoleh ke luar, ku lihat Angga tengah melintas di depan kelasku dengan Rio di sampingnya. Dan bisa kau tebak, Angga kembali berseru. "Windii, Rio suka sama kamu!" Rio yang berada di sampingnya langsung berbalik arah dengan muka malu, aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya. "Cie..cie!" seruan teman-temanku mulai bergema. "Rio suka sama kamu tuh!" ujar Viona. "Apa-apaan sih, becanda paling tuh si Angga," tukasku, meski dalam hati sebenarnya aku yakin jika itu benar, tapi kan di hatiku sudah ada Nino. Apalagi Rio, Angga, Nino ditambah Feno adalah teman sepermainan yang bisa dibilang sahabat, karena mereka sama-sama ikut ekstra taekwondo. Yah.. meskipun sejauh ini tidak ada satu pun temanku maupun temannya yang tahu tentang kedekatanku dengan Nino, dan aku pun tidak mau ada yang tahu. Jam istirahat pun tiba, saat itu aku tengah duduk-duduk di depan kelas bersama Vivi dan Viona. Mungkin aku harus meralat ucapanku, selama ini yang tahu kedekatanku dengan Nino adalah Vivi, aku sering bercerita padanya tentang apa yang kami obrolkan selama smsan. "Semalem aku sms-an sama dia -Nino- sampe jam setengah 11 loh, dia bilang.. bla.. bla.." ucapku panjang lebar mengulang apa saja yang aku dan Nino semalam bahas dalam sms-an kami, aku memang tidak pernah menyebut nama Nino selama bercerita jika ada Viona, Vivi hanya diam sambil mendengarkan ceritaku. "Semalem aku juga smsan sama dia, sampe jam 12 lebih," kata Vivi kemudian. Aku agak terkejut mendengarnya, tapi kemudian ku anggap biasa, karena aku tahu mereka juga teman satu ekskul dan mereka cukup akrab, Nino juga sering bilang kalau smsan dengan Vivi juga. "Kamu sms-an apa saja sama dia?" tanyaku kemudian. "Ah smsan biasa aja kok," sahutnya, aku penasaran dan meminjam handphonenya, tapi begitu tahu aku ingin melihat sms-nya ia langsung meminta hp-nya kembali. "Kenapa sih Vi, aku kan pengen lihat," ucapku. "Nggak ada apa-apanya Win, smsan biasa aja," tukasnya. "Terus kenapa nggak boleh lihat?" tanyaku mendesak. "udah deh, dia cuma buat kamu kok," Aku diam. Ada perasaan kesal yang diam-diam hinggap di hati, kalau tidak apa-apa kenapa musti dirahasiakan? Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin. Bersambung Cerpen KarangaNino: Wirdha Marissa Thanks for read. Salam hangat, RICIDA

Cerpen Perjuangan Menuju Jadian (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masih Ada Kesempatan

Oleh:
“Eh Dul kamu pernah nggak ngerasain, kamu suka sama cewek dan lagi deketin dia, eh nggak taunya dia udah punya cowok?” “Belum sih In. Pasti sakit ya?” “Rasanya hambar

Sendu Menyayat Luka (Part 1)

Oleh:
Ini kisah sepasang anak yang berada di persimpangan jalan hidupnya.. Ini kisah sepasang hati yang baru merekahkan kuncupnya.. Ini kisah yang berakhir sebelum semuanya dimulai.. Langit kota Palembang hari

Lebih Dari Sahabat

Oleh:
“Sini bukunya Ndi!! Balikin cepet!! Ihh.. Rendiiii…” Aku masih berlari mengejarnya. Rendi Pratama, sahabatku yang sangat menyebalkan. Tiap hari kerjanya mengusik hidupku. Ini nih contohnya, ngambil-ngambil buku orang. “Dasar

Pretty May (Part 1)

Oleh:
Karena tugas kantor, keluarga Baskoro harus pindah ke kota. Pagi itu mereka sibuk menata barang-barang di rumah baru yang akan ditempati. “May.. tolong rapikan kamar! Ibu mau membersihkan dapur

Cinta Bersemi Di Pramuka

Oleh:
“Nanda tunggu, pulang sekolah sekarang ngumpul pramuka kata Kak Nida, Ngumpulnya di kelas 8,” ucap seorang perempuan sambil memegang pundakku. “Oh iya Pril, Kan katanya jam 2 ngumpulnya, jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *