Pilih Kamu Atau Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Di SMA Bangsa ada seorang siswa baru yang bernama Silvy. Dia cantik, berkulit putih, rambutnya panjang. Di SMA itu ada dua orang laki-laki yang menyukainya, mereka bersaudara, namanya Fariz dan Rifky.
“Bang kayaknya gue baru aja jatuh cinta deh.” kata Rifky.
“Eh, apa’an loe. Masih kecil kok udah cinta-cinta’an.” kata Fariz.
“Bang gue udah SMA, jadi gue bukan anak kecil lagi bang.” kata Rifky.
“Ya terserah loe deh, gue juga ngrasain hal yang sama Rif.” kata Fariz.
“Sama siapa Bang?” kata Rifky.
“Ada deh. Loe sendiri?” kata Fariz.
“Kasih tau nggak ya? Enggak ahh…” kata Rifky sambil meninggalkan Fariz.

Ketika berjalan ke kelas Rifky bertabrakan dengan Silvy.
Bruakk…
Semua buku yang dibawa Silvy jatuh ke lantai, Rifky pun meminta maaf dan membantu Silvy membereskan bukunya…
“Maaf ya, aku nggak sengaja tadi.” kata Rifky.
“Enggak apa-apa kok, justru aku yang salah, aku terlalu banyak membawa buku ini.” kata Silvy.
“Oiya kita belum kenalan, aku Rifky.” kata Rifky.
“Aku Silvy.” kata Silvy.
“Ohh ternyata cewek ini namanya Silvy.” kata Rifky dalam hati.
“Aku bantu bawain ya.” kata Rifky sambil membawa separuh buku yang dibawa Silvy.
“Nggak usah, takut ngrepotin kamu.” kata Silvy.
“Enggak apa-apa kok, aku nggak merasa direpotin.” kata Rifky.
“Ya udah deh.” kata Silvy.
Rifky dan Silvy berjalan menuju ke kelas…
“Silvy aku tadi kaget loh.” kata Rifky sambil berjalan.
“Kaget kenapa Rif?” kata Silvy.
“Aku fikir tadi aku nabrak bidadari, eh ternyata adiknya bidadari yang aku tabrak.” kata Rifky menggombal.
“Bisa aja kamu.” kata Silvy malu.

“Lah itu kenapa adek gue jalan sama orang yang gue sukain?” kata Fariz dari kejauhan.
“Jangan-jangan mereka ada hubungan spesial nih, ah jangan sampe deh.” kata Fariz.

“Kamu anak baru ya?” kata Rifky.
“Iya.” kata Silvy.
“Kamu kok bawa buku sebanyak ini? Buat apa?” kata Rifky.
“Ya aku kan anak baru, belum punya jadwal pelajaran, jadinya semua buku aku bawa.” kata Silvy.
“Apa nggak berat?” kata Rifky.
“Ya berat sih.” kata Silvy.
“Ehh, udah sampe nih.” kata Rifky.
“Ohh ini kelasnya.” kata Silvy.
“Iya, kamu mau duduk dimana?” kata Rifky.
“Dimana ya?” kata Silvy.
“Sama aku aja ya.” kata Rifky.
“Ok deh.” kata Silvy.

Pelajaran pertama pun dimulai, pelajaran pertama ini sangat dibenci oleh Rifky, ya apalagi kalau bukan MATEMATIKA, pelajaran itu seolah-olah monster yang mengerikan bagi Rifky. Tetapi lain untuk Silvy ia sangat gemar dengan pelajaran tersebut.
“Cantik banget nih cewek, abang gue tau gak ya?” kata Rifky sambil memperhatikan Silvy.
“Kenapa Rif?” kata Silvy.
“Enggak apa-apa kok, aku cuma mau nanya soal nomer 5 tuh gimana sih cari X nya?” kata Rifky.
“Ohh ini. Gini caranya…
7X- 2 + X + 14 = 180
8X + 12 = 180
8X = 180 – 12
8X = 168
X = 168 : 8
X = 21
Begitu Rif.” kata Silvy.
“Wah kamu ini selain cantik pinter juga ya.” kata Rifky.
Silvy hanya tersenyum…
“Aku tau sekarang, kalau misalnya
9 X 7i > 3 (3X – 7u)
9X – 7i > 9X – 21u
-71 > – 21u
I <3 U Bener gak?” kata Rifky sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kamu lucu deh.” kata Silvy. Tak lama kemudia pelajaran pun selesai... “Silvy, ke kantin yukk...” kata Rifky. “Oke.” kata Silvy. Di kantin... “Kamu mau pesan apa?” kata Rifky. “Hmm, bakso aja deh.” kata Silvy. “Minumnya?” kata Rifky. “Es teh.” kata Silvy. “Ok, aku pesenin dulu ya.” kata Rifky. Silvy pun mengangguk... “Hay...” kata Fariz. “Kamu siapa ya?” kata Silvy. “Aku Fariz, kamu?” kata Fariz. “Aku Silvy.” kata Silvy. “Oh, udah pesen makanan?” kata Fariz. “Udah.” kata Silvy. “Abang?” kata Rifky yang tiba-tiba muncul. “Ngapain loe kesini bang?” kata Rifky. “Dia cuma mau makan bareng kok.” kata Silvy. “Tuh dengerin.” kata Fariz. “Kalian bersaudara?” kata Silvy. “Iya.” kata Rifky. “Kalian satu kelas?” kata Fariz. “Iya, bahkan semeja.” kata Silvy. “Wah enak dong.” kata Fariz. “Enak apanya bang.” kata Rifky. “Iya enak lah, kan kamu duduknya deket sama bidadari.” kata Fariz. “Kalau itu sih so pasti bang.” kata Rifky. “Silvy kamu + aku sama dengan apa coba?” kata Fariz. “Enggak tau.” kata Silvy. “Kamu + Aku = Cinta.” kata Fariz. “Ehh, ternyata abang gue bisa ngegombal.” kata Rifky. “Ya bisa lah.” kata Fariz. Dipercepat... Bel pulang sekolah pun berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas, “Silvy pulang bareng aku yuk, itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena kamu udah membantu aku mengerjakan soal Matematika itu.” kata Rifky. “Hmm, boleh.” kata Silvy. Walaupun Fariz dan Rifky bersaudara, mereka tetap berangkat sendiri-sendiri memakai motor kesayangan mereka. “Udah siap?” kata Rifky. “Udah.” kata Silvy. Di perjalanan Silvy dan Rifky asik bercanda, tak lama kemudian mereka sudah berada di depan rumah Silvy. “Rumah kamu yang mana?” kata Rifky. “Yang itu.” kata Silvy sambil menunjukkan rumah yang bercat warna biru, dan dihiasi dengan taman kecil yang indah. “Mau mampir dulu?” kata Silvy. “Hmm, kapan-kapan ya Sil, aku pulang dulu takut dicari’in sama abang.” pamit Rifky. “Ohh, iya deh. Thank’s ya Rif.” kata Silvy. “Iya sama-sama.” kata Rifky. Hari pun berlalu dengan cepat, malam ini adalah malam minggu. Tulitt... tulalitt... tulitt... tulitt HP Silvy berdering, “Telepon dari Rifky? ada apa ya?” kata Silvy. “Halo.” kata Silvy. “Halo, Silvy kamu datang ke Taman Bunga malam ini pukul 20.00. Aku tunggu.” kata Rifky. Tutt.. tut.. “Haa? sekarang masih jam 18.30. berarti masih ada waktu buat beres-beres.” kata Silvy. Tulittt... tulalitt... tulitt.. tulitt “Siapa lagi?” kata Silvy. “Halo...” kata Silvy. “Silvy, ini aku Fariz. Aku tunggu kamu Di Taman Bunga malam ini pukul 20.00. dandan yang cantik okey.” kata Fariz. Tutt... tutt... “Aduhh, ada apa ini?” kata Silvy. Waktu pun terus berjalan... “Udah hampir jam 20.00.” kata Silvy. “Aku harus cepat kesana.” kata Silvy lagi. Di Taman Bunga.. “Wah kok terang banget, ada apa nih?” kata Silvy. --- “Bang ngapain loe kesini?” kata Rifky. “Gue mau nembak Silvy, loe sendiri ngapain?” kata Fariz. “Gue mau nembak silvy juga.” kata Rifky. “Lohh?” kata Fariz. “Kira-kira Silvy pilih siapa ya bang?” kata Rifky. “Gue lah, gue kan ganteng.” kata Fariz. “Biar Silvy aja bang yang nentuin dia mau milih siapa.” kata Rifky pasrah. “Oke deh.” kata Fariz. --- “Nah itu dia mereka.” kata Silvy. “Rifky, kak Fariz.” kata Silvy. “Silvy.” kata Rifky dan Fariz. Silvy pun menghampiri Rifky dan Fariz... “Ada apa kok nyuruh aku ke sini?” kata Silvy. “Aku sayang sama kamu Silvy, kamu mau nggak jadi pacarku.” kata Rifky to the point. “Hah?” kata Silvy. “Aku juga sayang sama kamu Silvy, kamu mau nggak jadi pacarku?” kata Fariz. “Kalau kamu mau pilih Rifky, kamu peluk dia. Tapi kalau kamu mau pilih aku, kamu peluk aku. Sekarang semuanya terserah kamu.” kata Fariz lagi. “Hmm, oke.” kata Silvy. “Aku mau pilih...” kata Silvy. “Rifky.” kata Silvy sambil memeluk Rifky. Dan Rifky pun membalas pelukan dari Silvy. “Makasih ya.” kata Rifky. “Maaf ya kak Fariz, aku pilih Rifky.” kata Silvy. “Iya gak apa-apa kok.” kata Fariz dengan wajah kecewa. “Abang gak apa-apa kan?” kata Rifky. “Iya gue gak apa-apa kok, jaga Silvy baik-baik ya.” kata Fariz. “Iya bang.” kata Rifky. TAMAT... Cerpen Karangan: Talitha Salsabilla Facebook: Talitha Salsabilla

Cerpen Pilih Kamu Atau Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Terindah

Oleh:
Mungkin senja tidak ingin menunjukan keindahannya lagi. Mungkin pelangi pun juga begitu. Sudah 3 hari hujan turun di Solo. Ini hari pernikahanku. Namaku Reni. Tidak banyak yang menarik dariku.

Rahasia di Pantai Pandawa

Oleh:
Terik matahari memudar bersamaan dengan jarum jam ini terus berputar. Matahari semakin condong ke barat diikuti tiupan angin yang semakin kencang. Rambutku yang terurai terbang mengikuti arah angin. Mataku

Empat Belas

Oleh:
Desir angin mulai terasa dingin di sekitar tempatku berpijak. Dedaunan yang gugur, perlahan mengiringi Zian yang sudah bersiap untuk meninggalkan kampung halaman. Aku melambaikan tangan dan terus menatap di

False Sense (Part 1)

Oleh:
Banyak orang bilang bahwa masa paling indah adalah masa SMA! awalnya aku tak menghiraukannya, namun pernyataan singkat yang kuabaikan kebenarannya tersebut pun mulai aku akui kebenarannya! Ya.. Tak terasa

Aku, Dia, Destiny Kita

Oleh:
Aku tidak tahu dengan yang namanya philophobia. Aku takut mengungkapkan ini. Ini hanya lelucon jika, mereka mendengarnya. Aku hanya bisa terpojok di sudut jalan palsu. “Dia” Dia memperalatku dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *