Purnama Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

“Teengg, teengg, teengg,” suara bel masuk berbunyi.
Suara ribut anak-anak sangat terdengar jelas dari luar kelas, sibuk dengan obrolan mereka masing-masing. Namun berbeda denganku, yang bagaikan sebuah patung di tengah kota, tenang diam bisu di antara keramaian.

“hai,” terdengar suara seorang laki-laki yang menyapa. Dia adalah teman sekelasku, dia orangnya cukup baik dan humoris.
“oh hai juga den,” timpalku dengan senyum.
“kebiasaan deh kamu, gabung dong sama kita ngobrol bareng.. haha,”
“hmm iya lain kali ya den,” tiba-tiba suara langkah sepatu terdengar, dia pasti Bu Niken, “eh ada guru tuh, buruan balik ke mejamu sana,” suruhku.

Dan benar, gurunya masuk ke kelas kita. Semua siswa langsung terdiam karena beliau adalah guru yang bisa dibilang killer. Pelajaran pun dimulai, ya semua terlihat bosan mendengarkan penjelasan sang guru. Dan setelah 2 jam akhirnya selesai juga dan waktunya pulang. Anak-anak berhamburan ke luar tapi aku ke luar paling akhir, aku harus menunggu seseorang. “hai,” seseorang mengagetkanku dan muncul dari belakang pintu, dia pacarku dan dengan kebiasaannya yang selalu mengagetkan orang. Kita telah menjalani hubungan selama 3 bulan, memang hubungan kita masih baru karena kita kenal saat masa orientasi siswa baru dan dia adalah seniorku.

“Dari mana aja sih, kok lama banget?” Tanyaku.
“maaf ya sayang, tadi ada urusan di OSIS bentar,” ujar Angga.

Selama ini hubungan kami datar, kadang aku merasa bosan dengan hubungan ini tapi aku sadar dia orang yang baik meskipun dia orangnya cuek dan membosankan. Aku iri dengan temanku yang pacarnya selalu membuatnya tertawa bahagia, sedangkan aku ya beginilah hubungan kita. Kami selalu menghabiskan waktu di perpustakaan, entah perpustakaan sekolah maupun kota. Angga memang anak kutu buku yang pintar, banyak anak-anak yang merasa iri denganku karena aku bisa mendapatkannya.

Ya memang aku beruntung bisa pacaran dengan anak paling smart di sekolah, tapi aku merasa bosan. Akhir-akhir ini aku lebih dekat dengan teman sekelasku yang bernama Deni itu, semenjak kami mendapat tugas kelompok berdua. Aku merasa hidupku berubah lebih menarik semenjak aku dekat dengannya, dia banyak membuatku tertawa dan aku lebih bisa membuka diriku untuk berbaur dengan banyak orang.

“Biipp biipp,” suara hp tanda ada sms. Hmm ternyata dari Deni.
“hai, besok kan minggu.. kamu ada acara nggak? kalau nggak ada aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, dan aku jamin kamu bakal happy di sana, gimana?”
Entah kenapa aku tersenyum mendapatkan sms darinya. “Boleh, mau ke mana kita? kamu jemput aku kan?”
“Ya pokoknya ada, kalau aku kasih tahu kamu nggak surprise dong.. haha iyalah, jam 9 pagi.. oke?”

Keesokan harinya kami pergi bersama, dia mengajakku ke Kebun binatang. Meskipun aku pernah ke sini dengan Angga tapi kali ini rasanya berbeda, entah kenapa hati ini nyaman sekali tanpa ada rasa canggung di antara kita. “naik perahu yuk,” ajaknya sambil menarik tanganku.
“haa apaan sih? nggak mau takut,” tolakku, tapi dia terus meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Akhirnya kami naik perahu bebek berdua.
Di situ perasaanku mulai ada yang aneh. “aku tahu kamu udah punya pacar, tapi apa salah kalau aku punya perasaan ke kamu?” tiba-tiba dia mengagetkanku dengan pertanyaannya.
“maksud kamu?”
“hehe udah nggak usah dipikirin, anggap aja aku nggak pernah ngomong kayak gitu oke!” aku menurut dengan apa yang dimintanya, tapi dalam hati aku masih berpikir maksud yang dikatakannya.

Entah kenapa sejak hari itu dia nggak pernah masuk sekolah, aku mencoba menghubunginya tapi nomornya nggak pernah aktif. Harusnya aku nggak pernah jalan sama dia, aku masih punya Angga yang masih setia sama aku. Aku benar-benar orang yang jahat. “Gita, kamu ngapain di sini kamu nunggu aku? kenapa nggak sms dulu” Tanya Angga padaku.
“emm iya aku lupa nggak sms kamu.. maafin aku ya,”
“Git, kenapa kamu nangis? kenapa juga kamu harus minta maaf?” tanpa sadar ternyata aku menangis dan ini adalah pertama kali aku nangis di depannya. Aku nggak mampu menjawab pertanyaan Angga. Menangis di pelukannya untuk pertama kalinya, aku tahu dia pasti bertanya-tanya kenapa aku seperti ini.

Keesokan harinya ada sebuah pesan dan ternyata dari Deni, saat itu aku senang akhirnya dia menghubungiku lagi setelah beberapa hari menghilang. Dan isinya dia mengajakku pergi lagi. Entah kenapa aku nggak bisa menolak ajakannya itu, mungkin karena banyak yang ingin aku tanyakan sama dia. Kali ini dia mengajakku ke sebuah taman, kami duduk berdua di bawah pohon dengan angin yang semilir menenangkan.

“kamu selama ini ke mana den?” aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.
“sepertinya ada yang khawatir nih..” bukannya jawab malah ngeledek dianya.
“aku serius den.. semenjak kita jalan kemarin kamu menghilang gitu aja dan nomor kamu juga nggak aktif,”
“meskipun aku menghilang selamanya, kamu nggak akan merasa kehilangan kan? kamu masih punya Angga, pacar kamu.” Deg! seketika jantung ini seperti mau berhenti mendengar apa yang diucapkannya barusan. Bahkan sekarang ini nggak terpikir sedikit pun tentang Angga.

“apa aku terlalu egois, mencintai orang yang udah punya pacar? hah.. tapi kamu tenang aja, aku akan pergi kok aku nggak akan ganggu hubungan kalian,” setelah mengatakan itu, dia beranjak pergi meninggalkan aku sendiri di taman. Aku bingung kenapa air mata ini jatuh dan hatiku terasa sakit. Apa yang aku rasakan ini?
“Deniiii,” aku berlari ke arahnya dan memeluknya seerat mungkin, seperti nggak membiarkan dia pergi. “aku nggak mau kamu pergi den.. hiks hiks,”

“buat apa kamu mencegah aku git? kamu mau nyiksa aku dengan membiarkan perasaan ini. Keputusan aku udah bulat git, aku nggak mau ganggu hubungan kalian, jadi biarin aku pergi oke cantik,” ucapnya sambil melepas pelukanku dan pergi menjauh tanpa melihat ke arahku lagi. Dan ini adalah terakhir kali aku bertemu dengannya, karena setelah itu dia nggak pernah masuk sekolah lagi.

Dan setelah kejadian itu pula hubunganku dengan Angga mulai renggang, entah kenapa aku mulai menjauh darinya, aku nggak ingin menyakitinya tapi aku bisa bilang yang sebenarnya tentang perasaanku saat ini. Hari ini aku ke rumah sakit untuk menjenguk bibiku yang sakit. Ketika aku melewati sebuah ruangan perasaan ini tiba-tiba aneh, akhirnya aku berhenti tepat di depan pintu itu. Aku mencoba mengintip lewat kaca pintu itu, dan aku tahu kenapa perasaanku aneh seperti ini, ku buka pintu itu dengan air mata terbendung yang tak bisa ku tahan lagi.

“Deni,” tubuh ini rasanya tak bisa lagi berdiri, saat itu juga tangisan ini mulai menjadi.
“hiks hiks Deni, kenapa? kenapa? hiks hiks,” orang itu hanya menatapku dengan sedih, mungkin karena rahasia yang dia simpan telah terungkap dengan mata kepalaku sendiri.
Aku menghampirinya dan memeluknya dengan derai air mata yang tak henti-hentinya, begitu pun dengan Deni yang menangis lemah di atas kasur rumah sakit. Butuh waktu lama untuk mengakhiri tangisan ini. Kami duduk di taman rumah sakit itu seperti ketika kami di taman waktu itu, namun kali ini dia bersender di pelukanku dengan tubuh yang begitu lemas.

“kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit parah sih, den?”
“aku baru ngilang beberapa hari aja kamu khawatir, iya kan.. haha,”
“kamu tuh yaa, aku serius den.. hiks,”
“Emm maaf ya, ya aku mau lihat kamu nangis seperti tadi.. ngelihat kamu nangis seperti tadi bahkan lebih sakit daripada sakit karena penyakit ini. Jadi jangan pernah nangis seperti tadi ya. Aku udah cukup menderita sama kanker ini tahu, jadi jangan nambahin sakit lagi ya, hehe senyum dong,”

Meskipun dia sakit tapi dia masih berusaha buat aku senyum. Kamu hebat den. Sejak itu, aku rajin ke rumah sakit tiap hari dan aku selalu menunjukkan senyum padanya meski sebenarnya aku takut, takut kehilangan dia. Tapi sebelum ke rumah sakit hari ini aku menemui Angga lebih dulu.

“Ga, makasih ya untuk selama ini aku minta maaf harusbya aku bilang ke kamu sejak awal,” aku memberanikan diri untuk jujur dengan Angga.
“aku tahu kok apa yang kamu bicarakan. Aku bukan orang bodoh yang nggak bisa melihat ke mana arah hati kamu git, orang itu Deni kan? harusnya aku mengalah dari dulu maaf ya!” ungkap Angga sambil memegang pipiku yang telah basah akan air mata.
“Angg.. Angga,” tangisku mulai menjadi di dalam pelukannya, perasaan akan bersalah padanya terus mengalir di hati ini, namun aku kagum dengannya yang telah berbesar hati menerima pengkhianatan ini.

Sejak hari itu, hubunganku dengan Angga sudah berakhir. Aku lebih menghabiskan waktuku dengan Deni, meskipun dia sakit tapi dia sama sekali tidak memperlihatkan sakitnya di depanku. Dan itu membuatku semakin khawatir dengannya, aku takut kehilangan dia. Suatu hari dia mengajakku pergi jalan ke tempat pertama kali kita jalan bareng.

“kamu ingat di sini kita pertama kali jalan bareng, aku pengen mengulang kenangan kita di sini git,” ujarnya. Dan aku pun hanya tersenyum sebagai jawabanku.
“aku pengen sebelum aku nggak ada, seenggaknya aku ngasih kamu kenangan indah buat kamu git,”
“kamu ngomong apa den, umur kamu tuh masih panjang!” balasku. Saat dia berkata seperti itu, rasanya tubuh ini lemas tak sanggup untuk bertahan, tapi aku sadar aku harus kuat di depannya.
“udah nggak usah sedih, aku baik-baik aja kok, hehe,”
“mmm iyaa. Yaudah kita pulang yuk, nanti kamu kecapean lagi.”

Malam itu, perasaan ini sangat tidak nyaman. Tapi aku nggak tahu kenapa ada perasaan sedikit takut dan khawatir. Saat aku masih terhanyut dalam perasaan itu, tiba-tiba hp-ku bergetar. Dan ternyata itu dari mamanya Deni. Dia bilang keadaan Deni saat ini sedang kritis. Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi ke Rumah Sakit tempat ia dirawat. Saat aku sampai di depan ruangannya, terlihat seluruh keluarganya tengah menangis terisak. Saat itu pula ibunya menatapku dengan wajah yang sedih, dan aku tahu bahwa Deni telah meninggalkan dunia ini.

Kala itu aku teringat dengan perbincangan kita di taman sebelum kondisinya buruk.
“menurut kamu, bentuk bulan apa yang kamu suka?” Tanyanya yang begitu aneh, nggak biasanya dia bertanya semacam itu.
“emm apa yaa mungkin sabit,” jawabku.
“kenapa?”
“karena bentuknya indah, apalagi bulan sabit yang masih baru, hehe,”
“kalau aku suka sama bulan purnama, karena dia begitu memancarkan cahaya yang indah pada malam hari. Dan aku pengen seperti purnama yang akan selalu menerangi orang di sekitarku, meskipun aku udah nggak ada,”

Dan malam ini tepat saat bulan purnama, bulan yang sangat ia suka hingga napas terakhirnya.

Cerpen Karangan: Nisfi Syahriyah
Facebook: Nisfi Syahriyah
Mahasiswi English Literature

Cerpen Purnama Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Always Love You

Oleh:
Pada hari itu seorang gadis terlambat masuk sekolah setelah melewati pekan liburan. Gadis itu bernama Evita Wulandasari Bunga Zainal siswa dari SMA ternama di jakarta. Saat sampai di sekolahnya

Seribu Untaian Kata

Oleh:
Sampul indah yang tak berisi pikiran ku mengenai derita yang sedang kujalani, melangkahkan kaki sedikit demi sedikit membayangkan segala hal yang akan kulalui nantinya dengan sepasang sendal kecil yang

Maafkan Aku Vino

Oleh:
“Kenapa sih lo itu gak pernah bisa jauhin gue? Sehari aja, lo gak deketin gue!”, teriak Alya “Gimana gue bisa jauhin lo Al, dari kecil kita emang dijodohin. Jadi

Tentang Hermes

Oleh:
“Telah kupakai jubah kegelapan, dan telah kukubur nama kebaikan di dalam kerak bumi.” Wajah Arumi mengkerut heran ketika membaca tulisan ini yang ada dalam buku catatan harian kekasihnya, Hermes.

My Brother My Lover (Part 1)

Oleh:
Kini semuanya menjadi sulit. Saat tanpa sengaja hati kami saling terpadu dan berpilin menjadi satu. Sebuah ikatan status yang membelenggu kami, membuat hubungan kami berlabuh pada satu jalan yaitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *