Semuanya Milikmu Kembaranku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 7 June 2016

Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih bener atau enggaknya. Benar-benar membosankan, pelajaran kesukaan aku, fisika tertinggal karena aku harus nganterin cewek sok lemah itu.
“Ampun deh, si salsa sok lemah bingits. Pake mau pulang segala, harus dianterin segala lagi, bt in banget.” Gerutuku dalam hati. Memang sih rumah salsa tidak jauh, tapi tetep aja bikin cape, aku harus ngambil motor ke belakang lah, terus markirin lagi di belakang. Kan jaraknya lumayan, bikin aku ngos-ngosan.

Bel istirahat berbunyi, aku berjalan lewat gerbang depan, karena gerbang belakangnya pake dikunci segala. Ketika aku akan melapor ke guru piket untuk tanda tangan bukti aku datang lagi ke sekolah, aku melihat sang pujaan hatiku. Terlihat wajahnya pucat, dia terlihat ditemani oleh seorang laki-laki, dia adalah teman sekelasnya. Aku berdiri di dekat pintu, melihat apa yang akan sang pujaan hatiku lakukan. Hasil analisis ku mengatakan kalau dia akan pulang karena sakit. Lalu aku bergegas menghampiri guru piket.
“Ibu maaf saya renita, mau tanda-tangan tadi udah nganterin salsa temen sekelas ke rumahnya, sakit bu.” Ujarku panjang lebar kepada ibu dea yang kebetulan sedang piket. Namun dia tidak menjawab, hanya mengangguk lalu memberikan buku dan pulpen.
Sebelum aku menandatanganinya aku bertanya kepada guru matematikaku itu..
“Bu maaf mau nanya, laki-laki itu mau pulang atau mau kemana?.”
“Iya, dia sakit, mau izin aja katanya mau pulang.”
“Oh gitu, terus bu kenapa dia duduk? katanya mau pulang.”
“Lagi nunggu temennya lagi ulangan harian.”
“Oh gitu ya bu, kasian tuh kayanya dia engga kuat. Gimana bu kalo saya aja yang nganterin dia, gimana bu?.”
“Sebentar ibu tanyain dulu.”
Yesss, kalo ibu membolehkan aku bisa dekat dengan adit. Misikupun dimulai…

Tak lama ibu dea datang
“Iya re boleh, tapi hati-hati ya jangan ngebut.”
“Siap bu, makasih bu.”
“Ehhh sebentar ini tanda tangan dulu.” Ujar bu dea…

Aku menghampiri adit yang tengah duduk lesu dengan wajah yang pucat.
“Hey.”
“Iya?” Katanya
“Lo tunggu di satpam, gue mau ambil motor dulu. Ibu dea nyuruh gue nganterin elo.” Uacapku yang sksd *sokenalsodekat
“Oh gitu, tapi kan aku dianterin sama temen sekelas aku. Beneran sama kamu?.”
“Ya udah kalo gak percaya gue pergi aja ke kelas, byeee.” Aku pun berdiri, tapi adit menarik tanganku pelan. Rasanya aku akan pingsan saat itu karena saking nerpousnya…
“Tunggu, iya aku percaya.” Ucapnya tersenyum datar. Senyumnya bikin aku klepek-klepek..
“Lo duduk noh di depan pos satpam.”
“Iya.” Ucapnya.

Segera aku mengambil motor dengan berlari, karena takut dia akan kecewa karena lama menungguku.
“Ayo hey. Panas nihh.” Ucapku teriak karena udara panas.
Dia pun berjalan, namun jalannya sangat lamaa sekali, seperti kura-kura. sebelum naik aku menghentikannya “stop” kataku membentangkan tangan kiriku di dadanya.
“Apaan sih kamu?”
“Kamu, kamu. Jalannya lama amat sih bikin gue kepanasan aja. Dasar kura-kura lo.”
Dia sama sekali tidak menjawab, malah menurunkan tanganku yang membentang di dadanya.

Rumahnya tidak jauh hanya sekitar 2 km. Sampailah di rumah yang cukup mewah. Dia pun turun dari motorku..
Dia tidak mengucapkan terimakasih kepadaku, entah apa yang ia pikirkan.
“Hey tunggu” aku menghampirinya “sama-sama adit.” Ucapku kembali, dan tersenyum sinis kepadnya.
“Maaf aku lupa, terimakasih maaf sudah merepotkan.” Ujarnya
“tak masalah, duluan ya.”
“Eh sebentar.”
Aku pun mendekatinya, apa dia mau menembakkku. Ahhh, mana mungkin dia langsung menembakku.
“Apa?” Ucapku menikan alis
“Kenalin aku aditya.” Dia menyodorkan tangan kanannya.
“Oh, aditya. Gue renita.”
“Aku tau, yang olimpiade fisika itu kan?”
“Yoi, gue duluan ya.”
Dia hanya mengangguk. Sumpah, aku sangat senang sekali dia tau kalau aku renita.

Semenjak kejadian itu, adit selalu tersenyum kepadaku dan itu membuatku sangat senang sekali. Misiku sedikit mulai sukses. Misi untuk menjadi pacarnya, hahayyy. Hari itu, hujan turun dengan deras… Aku menuju tempat parkir, disitu hanya ada beberapa motor yang tersisa. Tadinya aku akan menunggu hujannya reda, tapi sudah lebih dari setengah jam hujannya tak kunjung berhenti. Jadi, aku memutuskan untuk pulang. Kebetulan hari itu aku lupa memakai helm, tapi daripada aku harus menunggu hujan yang tak kunjung reda, jadi aku memaksakan.

Motorku berjalan pelan, karena jalanannya sangat licin. Aku melewati tempat yang amat seram, yaitu pemakaman china. klaskon ku pun terus dibunyikan, karena agar ada bising, sehingga aku tidak terlalu takut. Terlihat motor yang terdampar di pinggir jalan, aku mengenal motor itu, motor ninja berwarna merah dengan plat nomor 2860, itu adalah motor aditya. Aku segera turun, dan segera mengangkat motornya yang cukup berat, setelah itu, aku segera menghampiri adit.
“Apa yang sakit?” Ucapku khawatir
“Enggak re, cuma tangan Kiri aja.”
“Gimana dong, gue harus bawa lo kemana?” Ucapku menangis
“Ko kamu cengeng sih, kan kamu terkenal itu karena kamu itu kaya cowok, masa cowok nangis sih. Apaan lagi, orang aku baik-baik aja kok, gak akan mati inih” capknya tersenyum
“ngomong apaan sih lo? Gue, gue suka sama lo, gue takut lo kenapa-napa” menangis makin keras
“Ihhh, udah jangan ngomongin Yang ke gituan. Itu rumah aku, tuh di depan, kamu lupa apa?” menunjuk me arah rumah yang berwarna putih dan tersenyum.
“Jangan senyum, yooo naik motor aku aja. Motor kamu disimpen di sini aja. Entar dibawa supir kamu atau siapa ke.” Ucapku panjang lebar. Adit hanya mengangguk.

Sampailah di rumahnya, ibunya segera membawanya me rumaha sakit, ibunya sangat baik kepadaku, dia banyak mengucapkan terimakasih kepadaku, dia meminjamkan helm adit karena aku tidak memakai helm. Aku pulang dengan wajah berseri-seri, saudara kembarku langsung bertanya kepadaku
“Kamu kenapa, lagi seneng ya Re” ucapnya tersenyum kepadaku
“Iya nan, gue seneng banget. Camer gue baik banget.”
“Oh gitu, aku ikut senang re.”
“Makasih nan, aku sayang Kamu.” Aku pun memeluknya. Saudara kembarku bernama nandira, nama kita memang tidak mirip, kita tidak kembar identik, sekolah kita berbeda, gaya kita beda, tidak Akan Ada yang yang menyangka kalau kita kembar.

Selama satu minggu, adit tidak masuk sekolah. Kata teman-temannya tangannya di gift, jadi masih belum bisa sekolah.
*Via line
Renita: gws ya dit
Adit: Makasih re, oh ya re jacket Kamu ketinggalan.
Renita: Iya sma-sama, boleh diambil sekalian mau ngejenguk. Oh ya helm kamu juga ada di aku. Beleh kesana?”
Adit: boleh, sini aja.

Aku pun segera menaiki motorku, sampailah di rumah sang pujaan hati.
ibunya mengantarku ke kamar adit, kami pun berdua di dalam satu ruangan.
“Ditt”
“Iya re.”
“Gue mau nerusin yang seminggu kemarin.”
“iya sok aja, aku lupa tentang apa ya?”
“Gini dit, aku malu bilang kaya gini, tapi ini penting untuk aku. Aku suka sama kamu, dari pertama liat kamu pas mopd.”
“Maaf re, aku udah punya pacar.”
“Iya tidak masalah, aku hanya ingin mengutarakan apa Yang Selama ini ada di hatiku.” Ucapku tersenyum, menahan air mata yang akan menetes.
Dia hanya mengangguk Dan tersenyum
“Dittt” ucap seseorang mengetuk pintu
“Masuk Nan.” Ucap adit.
Masuklah seorang gadis yang amat berbeda dengan diriku, Dia sangat feminim, berbeda dengan aku yang tomboy. Dia adalah nandira, kembaranku.
“Nandira?” Ucapku melotot
“Renita?” Ucapnya
“Kalian udah sailing kenal ya, re ini nandira pacar aku.”
Terlihat nandira Yang sudah berkaca-kaca, aku pun seperti itu. Dia tahu kalau aku akan pergi ke rumah cowok yang aku suka, tapi ia tidak tahu kalau adit yang tak lain adalah pacarnya yang aku maksud. Dia menghampiriku, lalu memelukku. Tapi aku langsung melepaskan pelukannya. Dan pergi meninggalkan mereka.

Aku mengurung diri di kamarku, bundaku terus mengetuk pintu, Dan bertanya Apa Yang terjadi. Tak lama, Ada seseorang Yang mengetuk pintu, nadira lah yang mengetuk pintu dan memanggil-manggil namaku. Aku membuka pintu itu, Dan mencoba untuk lari. Tapi ibu Dan nandira memegang tanganku, tidak membiarkan aku pergi.
“Lepasin gue!!” Ucapku sinis kepada nandira
“Maafin aku re, aku tidak tahu kalau itu…”
“Stop jangan ungkit-ungkit ini lagi. gue lelah, ayah ayah jemput aku.” Ucapku menangis histeris
“Ada Apa ini, Kamu seperti anak kecil renita.” Ucap ibuku yang sepertinya marah melihatku berkata kasar kepada anak kesayangannya.
“Ya aku emang beda dengan nandira. Dia cantik, Dia model, dia di sayang bunda, nah aku, aku cuma cewek tomboy, dan satu lagi aku cuma disayang ayah. Dan ayah kemana? Dia udah pergi bun, lalu siapa Yang menyayangiku?”
“Tidak, bunda juga sayang sama Kamu re, sama kaya bunda sayang sama nandira” berbicara dengan menatapku dan meyakinkanku.
“Beda bun, Beda. Nandira selalu mendapatkan semuanya, semua orang menyukai dan menyayanginya, ibu, dan satu lagi cowok yang aku sukai juga mencintai nandira. Lalu Apa Yang aku dapatkan?” aku pun memasuki kamar dan menguncinya.

Tak lama suara ibu Yang berkata “tolong, tolong, bi irah, renita tolong nandira.”
Aku pun segera membuka pintu kamar, terlihat nandira yang sedang terdampar di lantai, dan bunda yang sedang menangis.

Di rumah sakit
“Bun. Aku akan donorin hati buat nandira.”
“Tidak, tidak boleh.”
“Bun, tolonglah. Aku kan anak laki, pasti aku baik-baik saja” ucapku tersenyum. Bundaku pun menyerah, dan menbolehkannya.

Tibalah, waktu dimana hatiku akan diberikan kepada saudara kembarku, nandira. Sebelumnya Adit datang kepadaku memberiku semangat dan meminta maaf atas semua yang terjadi, karena nandira sudah menceritakannya kepada adit. Sebelumnya aku menulis surat untuk nandira, bunda dan juga adit.
“Nandira maafin ucapanku itu ya, aku sayang banget sama kamu.
Bunda, bunda milik nandira bukan milik aku, jadi bunda harus jagain dia ya, kan aku milik ayah aku. Jika aku pergi bersama ayah jangan bersedih ya.
Dan satu lagi adit, kamu juga sama harus jaga kembaranku ya, aku cinta sama kamu, kalau hati ini aku donorkan, maka aku akan merasa dicintai oleh kamu.

Bunda, adit, jaga nandiraku dan jangan sedih ya!!! Selamat tinggal.

Renitaaa..”
Aku menitipkan surat itu kepada seorang suster.

Aku sudah tenang di alam sana. Aku punya ayah. Bunda dan adit adalah milkmu, nandira.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany
Maaf kalau ceritanya jelek. Masih belajar.. follow ig aku ya @renitamelviany_17

Cerpen Semuanya Milikmu Kembaranku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Let’s Break Up

Oleh:
Gadis itu terus menundukkan kepalanya dan berulang kali meremas tangannya yang ia tautkan. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya lalu mendongakkan kepalanya dan memandang pria yang kini sedang asyik memotret

Seperti Waktu

Oleh:
Aku pikir kita akan terus bersama, tawamu, canda yang setiap hari kau buat, hadirmu di setiap hariku, aku pikir itu akan selamanya, dan jujur saja aku sudah berharap. Waktu

Kado Terakhir Dinda

Oleh:
Pagi ini seperti biasa, aku berangkat sekolah diantar oleh supirku karena kedua orangtuaku khawatir jika saat aku sedang menyetir penyakitku kambuh lagi. Namaku Reand Dirgantara, umurku 17 tahun. Aku

Senja Merah Jambu

Oleh:
Kata orang, sahabat itu adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Gila segila-gilanya, malu semalu-malunya, namun satu hal yang tidak pernah bisa dilakukan, yaitu marah semarah-marahnya.

Tak Mengizinkan

Oleh:
Namaku Shila, saat ini aku masih pelajar SMA kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku adalah anak satu satunya dari orangtuaku. Oleh karena itu, orangtuaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *