Senandung Detak Jantung (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 6 March 2014

Ivan menggenggam erat buket bunga mawar putih. Kakinya melangkah mantap dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sebuah rutinitas, Ia akan menemui seseorang setiap sore di bangku taman gedung itu. Seseorang yang ia cintai, namun bukan kekasihnya.

Seorang perempuan berambut panjang terurai itu telah duduk manis di bangku taman dengan baju biru khasnya. Ia tersenyum dengan membawa buket bunga yang diberikan Ivan di hari kemarin.

Ivan telah dihadapan perempuan itu, dan tersenyum padanya. Meskipun perempuan itu tak pernah membalas senyuman Ivan, Ivan tetap tersenyum tulus kepadanya.

Ivan duduk di sampingnya, memperhatikan keadaan perempuan itu. Semakin hari wajahnya nampak semakin pucat, Tubuhnya semakin kurus, dan ada garis hitam di bawah matanya.

“Kamu pasti tidak tidur lagi ya?” Tanya Ivan. Ia tahu, tanyanya tak akan terjawab oleh perempuan itu.

“Ini untukmu..”

Ivan mengganti buket bunga di tangan perempuan itu. Kali ini ia tersenyum kepada Ivan.
Ya, itu adalah satu-satunya hal yang dapat membuatnya tersenyum kepada Ivan, Bunga mawar putih. Itu pula yang membuatnya mengingat hal yang telah terjadi pada dirinya.

September, 2010.
Inka, Dari Akademi Kebidanan semester Akhir. Dia cantik dan pintar, juga termasuk mahasiswi yang aktif. Seluruh sudut kampus bahkan telah mengenalnya.
Inka berjalan di koridor dengan senyuman ramahnya.

“Hai, Inka..”

“Halo, Cantik..”

Sapaan demi sapaan berbalut pujian ringan telah menjadi sarapan telinganya sehari-hari, dan senyuman manis darinya adalah imbalan dari semua itu. Semua terdengar biasa, kecuali..

“Sayang!”

Inka membalikkan badannya dan melihat seseorang tengah berlari ke arahnya.

“Kakak? Kenapa di sini?” Meskipun heran, namun ia tetap tersenyum mendapati kekasihnya telah berdiri di hadapannya.

Kenneth Alexander, Seorang pemain violin yang mahir dan ternama. Lelaki lembut dan dewasa pilihan Inka.

“Aku hanya ingin memberikan ini.” Katanya sambil memberikan buket bunga mawar putih yang indah.

Inka tersenyum,

“Wah.. Terima kasih!”

Di antara senyuman kedua sejoli itu, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari salah satu sudut koridor. Tatapan mata itu tajam, namun bukan marah.

“Dua minggu lagi, kamu akan melihat hamparan bunga ini. Kamu suka?”

Inka mengangguk dengan semangat.

Inka memperhatikan tangannya yang tengah di genggam Kenneth di sebuah jalanan kota yogyakarta yang rapi dan indah.
Di lihatnya Kenneth yang tersenyum memandangi hamparan jalan ramai itu. Ratusan pasangan tengah berlalu lalang dengan romansanya.

“Jika kita tidak bersama lagi, Apa kamu akan tetap datang ke tempat ini?” Tanya Kenneth.

“Kamu ini bicara apa? Bukan kah kita akan segera bersama-sama selamanya?” Inka terlihat cemberut.

“Selama apapun kita bersama, pasti akan berpisah juga. Jawab saja pertanyaan ku.” Kata Kenneth sambil mencubit pipi Inka.

“Mana mungkin aku berani ke sini lagi tanpa mu?” Gerutu Inka.

Kenneth tertawa geli, kemudian mengelus punggung tangan Inka di genggamannya.

“Suatu saat nanti, akan ada kisah.. Di jalanan kota ini kita pernah berjalan bersama.”

Inka menatap Kenneth sendu,

“Kakak..”

“Jadi, kamu mau menikah dua minggu lagi?” Prista terkejut.

Inka hanya mengangguk kegirangan.

“Kamu kan belum lulus?”

“Hey, Aku pasti bisa melakukan keduanya.”

“Kenapa mendadak?”

“Sebenarnya, ini permintaan ku. Tapi, malam waktu aku memutuskan ingin menikah, Kenneth seperti berat. Apa mungkin dia tidak mencintai ku?” Inka meragu.

“Dia pasti sangat mencintai mu.” Prista meyakinkan, namun Inka menangkap ada kecemasan di wajah Prista, sahabatnya.

Lipstik itu telah memoles bibir manisnya, dan ia pun telah bersiap pada hari terindahnya.

“Inka, Kamu selalu terlihat cantik dengan apapun yang kamu pakai..” Puji sahabatnya, Prista.

Inka tersenyum,

“Ini bukan mimpi kan? Aku akan menikah hari ini?”

Prista mengangguk.

“Tapi aku minta maaf, ya.. Aku harus pergi.”

Inka mengerti. Yang ia tahu, Hari itu Prista harus keluar kota bersama keluarganya.

Satu jam sudah dari waktu yang telah ditentukan, namun Kenneth tak juga datang.

Dua jam, Inka mulai cemas.

Tiga jam, Kenneth tetap tidak bisa di hubungi.

Sampai pada enam jam kemudian semua nya batal. Inka menagis tersedu.
Masih dengan gaunnya, ia menghampiri Kenneth di rumahnya. Inka tak percaya, rumahnya begitu sepi. Tak ada tanda-tanda jika tuan rumahnya akan menikah. Tak juga nampak orangtuanya yang seharusnya telah datang dari washington untuk pernikahan Kenneth dengan Inka.

Inka telah melihat Kenneth di depan matanya, namun Kenneth tak menyadari kedatangan Inka. Ia sama sekali tak terlihat bersiap dengan pernikahannya, justru masih mengenakan baju tebal dengan syal di leher nya.
Kenneth duduk bersama seseorang. Tak terlihat jelas siapa dia.

“Akhirnya aku menjadi pengecut.” Kenneth memulai pembicaraan.

“Justru kamu tak boleh melakukannya agar tak ada yang tersakiti.”

Suara perempuan itu seperti suara..
Inka menyadari ada kaca yang dapat memantulkan wajah Kenneth, dan yang berada di sebelahnya adalah,

“Prista?” Inka mendekat,

Kenneth dan prista terkejut dengan kehadiran Inka.

“Inka?”

“Kamu terkejut dengan keberadaanku?” Inka menatap tajam, Matanya seketika merah.

Prista menggeleng pelan.
Inka memandang wajah Kenneth yang pucat,

“Kakak, kenapa wajah mu pucat? Kamu begitu terkejut karena aku sudah mengetahui semuanya?” Wajah Inka merah padam.

“Ka, Ini tak seperti yang kamu..”

“Tak seperti yang aku lihat. Kamu akan bicara begitu, kan? Iya, kan?” Inka memotong pembicaraan Prista dengan nada suara yang tinggi.

“Aku minta maaf!” Kenneth mulai membuka mulutnya.

“Aku mencintai Prista. Aku tidak akan meninggalkannya hanya demi kamu. Dari awal, aku tidak pernah berniat menikah dengan mu.” Ucap Kenneth.

Inka terkejut, sedangkan ia melihat Prista menangis. Kini dadanya begitu sesak, nafasnya terasa mengambang. Sebuah tamparan bagi Inka.

“Kalian ini tak pernah punya hati, Ya? Dua orang yang berarti dalam hidup ku..” Inka mengepalkan tangannya,

“Mulai sekarang, aku bukan sahabat mu!” Katanya, telunjuknya mengarah pada Prista.

“Dan mulai dari sekarang.. bagi ku, kamu sudah mati!” Kini Inka menunjuk Kenneth.

“Kenneth!!!” Seseorang berteriak memanggil Kenneth.

Valeryan Ivan, seorang mahasiswa kedokteran semester akhir yang tampan, kaya dan manja itu berteriak keras mencari sosok Kenneth. Sampai akhirnya ia temukan Kenneth berdiri di depan kolam renangnya.

“Kamu mencari ku?” Kenneth menyambut Ivan dengan senyuman.

Tetapi tanpa ia duga, Ivan memukulnya dengan keras hingga bibir dan hidungnya mengeluarkan darah. Kenneth jatuh tersungkur.

“Sudah ku bilang! jika kamu menyakiti gadis itu, aku yang akan merebutnya dari mu!” Kata Ivan dengan nada tinggi, kemudian melangkah pergi meninggalkan Kenneth yang masih kesakitan.

“Ivan! Jaga Inka sebaik yang kamu bisa!”

Ivan tak menghentikan langkahnya.

Inka berlarian di koridor rumah sakit dengan sisa-sisa air matanya sejak tadi.
Ia berhenti ketika melihat Prista telah duduk manis menunggu.
Inka menghampiri Ivan,

“Apa yang terjadi?”

“Entahlah, Tapi tadi dia di temukan pingsan di kamar nya.” Jelas Ivan.

Tak lama, Seseorang berseragam putih keluar dari pintu Unit Gawat Darurat.

“Maaf, Pasien ingin berbicara dengan yang bernama Prista.”

Inka menunduk, sedangkan Ivan menatap marah.

Prista memasuki ruangan itu dan melangkah pelan mendekati Kenneth yang terbaring lemah.

“Prista..” Panggilnya pelan,

“Seharusnya di saat seperti ini, Kamu ceritakan semuanya pada Inka dan Ivan, Adik mu.” Prista mulai menangis.

“Katakan, apa yang harus ku cerita kan pada mereka?” Tanya Kenneth.

Prista semakin menitikkan air matanya, Kenneth hanya tersenyum.

“Apa aku harus mengatakan, ‘Hai, aku sedang sakit. Bersiaplah untuk pemakamanku, ya..’ Begitu?”

“Harusnya kamu katakan, Bukan aku yang kamu cintai. Sebelum hari pernikahan kalian, Dokter memvonis usia mu yang hanya dalam hitungan jam, dan kamu tak ingin pergi dalam beberapa jam setelah pernikahan kalian!”

Lagi-lagi, Kenneth tersenyum.

“Prista, waktu itu kamu tak sengaja menemukan ku yang tengah kesakitan ketika menunggu Inka. Aku senang, bukan Inka yang menemukan ku dalam keadaan yang menyedihkan. Dan di saat kamu tahu aku sakit jantung, Tak sedikit pun kamu mengatakan pada Inka. Terima kasih..” Ucap Kenneth.

Prista hanya menunduk dan terus menangis.

“Aku tahu, Ivan mencintai Inka. Karena itu aku membiarkan Ivan salah faham. Setelah aku pergi, aku tahu jika Ivan akan menjaga Inka dengan tulus, meskipun di atas rasa dendamnya kepada ku. Kamu tahu? Sifat manja Ivan berubah jika ia sedang memperjuangkan Inka.” Kenneth tertawa kecil.

“Prista, Sekarang kamu boleh keluar. Katakan pada mereka, Aku minta maaf, dan sekarang Aku pergi dengan tenang.” Air mata terselip di antara senyuman Kenneth.

“Kenneth..”

Kenneth hanya tersenyum, kemudian memalingkan wajahnya dari Prista.
Prista mengerti, Kenneth telah selesai bicara dan ingin dirinya pergi.

Prista keluar dan menatap Inka. mengetahui Prista memandang ke arahnya, Inka memalingkan muka.

Prista mendekat pada Inka dan Ivan,

“Dia bilang, Dia telah pergi dengan tenang..” Ucap Prista yang juga tak dapat menahan tangis.

“Apa? Apa kamu bilang? Sekarang apa lagi, Prista?! Kamu bohong lagi?” Inka mencengkeram lengan Prista.

Pintu ruangan itu terbuka, Inka berharap Kenneth lah yang keluar dan membuktikan jika Prista berbohong.

“Kenneth!” Panggil Inka.

Kenneth keluar dengan bantuan dua perawat. Inka tahu, Kenneth telah dalam keadaan tak bernyawa. Sekujur tubuhnya telah tertutup kain putih.

“KENNETH!!!” Inka menjerit tak berdaya, Hanya itu yang ia bisa. Kemudian ia Pingsan.

Sebelum kau pergi jauh dari ku,
Dengarlah isi hati ku tentang diri mu
Yang selalu ku cinta,
Dan selalu ku rindukan..
Maafkanlah semua kesalahanku,
Ku buat kau menangis, pergi, dan berlalu
Meninggalkan diri ku
Dan takkan pernah kembali.
Dan akhirnya kesendirian hati ku
Menyadarkan diri ku bahwa engkaulah
Penguasa hati ku.
Engkau lah cinta sejati
Dalam hidupku kaulah yang terakhir yang selalu ku nanti sampai akhir nanti.
Dan kaulah satu-satu nya yang selalu ku rindukan
menghiasi ruangan hati ku
Sampai akhir nanti..
(Ungu ~ Penguasa Hati ku)

Batu nisan telah di tancapkan, jelas terukir nama Kenneth Alexander di situ.

Inka tak menangis lagi, Ia hanya terdiam menatap makam Kenneth di atas kursi roda nya.
Sejak Prista menceritakan semua nya, Inka merasa terpukul dan bersalah. Ia tak sanggup menopang beban mentalnya.

Bunga mawar putih yang di janjikan Kenneth, Bukan bertaburan di kamar pengantin mereka tetapi justru di atas makam salah satu dari mereka.

Inka menangis dalam bisu.

Cerpen Karangan: Oshin Sashela
Facebook: Oshin sashela hafshoh
Seorang penulis amatir yang sedang belajar secara otodidak. 🙂

Cerpen Senandung Detak Jantung (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbanan Cinta

Oleh:
Malam ini bulan bersinar terang diterangi beberapa cahaya bintang bertebaran dengan indahnya. Suara gemericik air dan dedaunan yang melambai membuat indahnya suasana di sepanjang pantai. Kami berdua berjalan ditemani

Semuanya Berujung Bahagia

Oleh:
Ku rasa, aku bukanlah manusia yang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Oleh karena itu, jagalah dia untukku. Ku serahkan dia untukmu, bukan berarti aku tak menginginkannya. Tapi, hanya karena kita

Sebatas Teman

Oleh:
Waktu berjalan bagitu cepat. Hingga dalam waktu 5 tahun rasanya sangat sulit untuk melupakan semua masa laluku. Apalagi sosok seseorang yang pernah hadir dalam hidupku. Pada suatu hari, aku

Senandung Hujan

Oleh:
Hari itu langit cerah tertutupi awan abu-abu kelam. Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menetes lama kelamaan semakin deras. Mendengar suara tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras,

Sujud di Kaki Senja

Oleh:
Lembayung senja menggantung di kaki langit, merah meronanya memancarkan aroma bahagia. Alunan angin bersenandung merdu. Kelopak mata Naura tiada berkedip menatap pemandangan syahdu itu. Hati dan bibirnya bertasbih. Senyuman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *