Senja Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

Angin pantai yang cukup kencang sore itu membuat rambut gadis yang sedang menikmati senja melayang-layang seolah terpanggil oleh nyanyian arah angin. Namun, gadis itu tetap terpaku pada tempatnya duduk, di salah satu di antara ribuan kursi yang terjejer rapi di tepi pantai, yang entah bagaimana caranya telah disulap menjadi tempat untuk melangsungkan pernikahan.

Dia mengenal pengantinnya, pengantin prianya terutama, yang saat ini terlihat sangat tampan dengan mengenakan jas hitam formal dan entah bagaimana bisa sangat cocok dengan sang pengantin wanita yang mengenakan gaun putih elok dengan rambut yang disanggul ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.
Pikirannya melayang ke kejadian tiga tahun lalu. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat masih tak ada yang terluka. Sudah tiga tahun namun rasanya masih saja sama, sakit seperti selalu saat gadis itu mengingatnya.

Seorang laki-laki menggandeng lembut tangan gadisnya. Ia menuntunnya menuju sebuah perahu boat untuk mereka berdua. Senyum tidak henti-hentinya terpancar dari wajah gadis cantik itu. Rona merah pipinya pun semakin menjadi.
“Kau mau mengajaku ke mana Asa?” tanya gadis itu memecah keheningan yang indah.
“Kau lihat pulau itu Bi? Kita akan ke sana. Hanya kita berdua” senyum di wajah lelaki itu mengembang sempurna saat mengatakannya.

Mereka pun melaju ke pulau itu sambil sesekali tertawa karena bercanda. Hari yang sungguh sempurna untuk menikmati waktu berdua seperti ini, langit seolah mendukung dengan memberikan warna cerahnya. Mereka sampai di pulau itu. Pulau yang indah, tidak hanya mereka berdua ternyata, di sana banyak muda mudi lain yang juga menikmati pulau itu.
“Kita akan ke mana Asa?” tanya gadis yang tangannya tak pernah lepas dari genggaman sang pria.
“Berjalan-jalan. Saat nanti senja datang kita akan kembali ke pantai. Bagaimana?” tawar pria itu sambil melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul empat sore, itu artinya waktu mereka di pulau ini hanya tinggal satu jam lagi.
“Tidak terlalu buruk kurasa” jawab gadis itu sambil tersenyum simpul.

Waktu seakan berjalan lebih cepat ketika mereka bersama, sekarang pun mereka sudah kembali ke pantai. Sepasang kekasih itu tersenyum sambil memandangi senja di sebuah batu di tepi pantai. Dengan dua kopi hangat merk ternama.
“Apa menurutmu kita akan terus seperti ini Asa?” tanya gadis itu sambil tetap memandang ke arah senja, tidak peduli walaupun ada sepasang mata yang terus menatapnya lekat seakan takut satu kedipan saja dia akan kehilangan gadisnya.
“Kenapa kau tanya seperti itu Bi? Tentu saja kita akan selamanya seperti ini.” Jawab lelaki itu mantap tanpa keraguan bermakna di suaranya.
“Entahlah aku hanya takut itu akan terjadi” gadis itu meninggalkan senjanya dan beralih memandang sosok pria tampan yang selama dua tahun belakangan ini menjadikan dunianya berwarna membuatnya merasa nyaman hanya dengan berada di sampingnya seperti ini.

Denting lagu Sugar milik Maroon 5 yang mampir ke telinganya memaksanya kembali ke masa sekarang
“Kau baik-baik saja Bi? Apa kau ingin kita pulang saja?” tanya Adrina yang sekarang sudah duduk di sampingnya, mukanya terlihat khawatir.
“Sebentar lagi Adrina.” kata Bintang yang memaksakan senyumnya walau air matanya sudah mulai jatuh melihat kedua pengantin yang sedang menyematkan cincin itu. Hatinya teriris, perih.
Otaknya kembali memutar memori yang sudah lama ingin dihapusnya.

Saat itu senja muncul, entahlah tapi Bintang merasa senja kali ini berbeda, jauh lebih indah. Angkasa, kekasihnya sejak tadi duduk di sampingnya dengan gelisah. Seperti ibu-ibu arisan yang sedangan menunggu namanya keluar.
“Hei, Asa ada apa? Apa ada yang salah? Kenapa kamu gelisah seperti itu?” tanya Bintang yang ikut merasa gelisah karena tingkah Angkasa.
“Ehm. Tak ada, aku hanya mau bilang.” Angkasa menarik nafas mecoba menetralkan detak jantungnya. Merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan kotak merah berbentuk hati yang isinya adalah dua buah cincin yang terukir ‘A n B’ di dalamnya. “Bintang Putri Wijaya. Will you be my fiancé?” Bintang terdiam, terpaku lebih tepatnya. Kekasihnya, Angkasanya yang selama dua tahun ini menempati tempat paling spesial di hatinya, melamarnya menjadi tunangan. Hilang sudah ribuan kata-kata yang sudah dia siapkan untuk saat seperti ini.
“I .. I will” dengan satu tarikan nafas Bintang menjawabnya. Mereka kini tunangan, bukan lagi hanya sepasang kekasih.
Senyum tulus yang sangat lebar menghiasi wajah keduanya saat mereka bergandengan tangan memasuki rumah yang bisa dibilang mewah, namun tetap terkesan nyaman dan sederhana, rumah Angkasa.

Angkasa berniat memberitahukan pertunangan mereka kepada orangtuanya, karena itu lah sekarang Bintang dan Angkasa berada di dalam rumah ini. Bintang yang masih terlalu bahagia tak bisa memudarkan senyumnya walau hanya sebentar. Sedangkan Angkasa menyiapkan kata-katanya untuk memberitahu orangtuanya.

“Ayah .. Ibu aku mau bicara sesuatu yang penting” ucap Angkasa saat melihat kedua orangtuanya datang.
“Jadi sejak tadi sore, aku dan Bintang sudah resmi ber-” ucapan Angkasa terhenti ketika melihat perempuan cantik mengembangkan senyumnya saat mata sipitnya bertemu dengan manik mata Angkasa. Sedangkan Bintang yang tak tahu apa-apa hanya mencoba menerka-nerka apa yang terjadi.
“Kau berubah jadi lebih tampan Angkasa. Apa kau merindukanku?” tanya gadis sipit itu yang langsung berlari kepelukan Angkasa.
“Charol? Bagaimana kau bisa? Bukankah kau ada di London?” tanya Angkasa yang terkejut dengan kehadiran anak sahabat papanya itu.
“Aku sudah bilang bukan? Aku akan kembali setelah kuliahku selesai dan kita akan menikah.” Ucap gadis itu bangga dan tetap kokoh untuk tidak melepas pelukannya.
Bintang yang sedari tadi hanya diam, terkejut bukan main saat mendengarnya. ‘Apa yang baru saja gadis itu katakan? Apa dia dan Angkasa adalah kekasih jarak jauh? Jadi apa artinya lamaran Asa tadi siang untuknya?’ pertanyaan-pertanyaan negative terus muncul di kepalanya. Memaksa logikanya bekerja dan memproses apa yang sedang terjadi.
“M-maksudnya?” tanya Bintang dengan terbata. Angkasa menatapnya kaget. Angkasa baru sadar di ruangan ini juga ada Bintang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ehm tidak Bi, aku dan Charol hanya” ucapan Angkasa terpotong saat Charol membekap mulutnya dengan tangannya.
“Aku dan Angkasa adalah sahabat sejak kecil. Dan kedua orang tua kami juga sahabat. Jadi saat dewasa kami akan dijodohkan, tapi aku pergi ke London untuk kuliah dan Angkasa memilih untuk tetap tinggal disini mengurus perusahaan ayahnya. Jadi kamu siapanya Angkasa? Sekretaris?” terang gadis yang bernama Charol itu panjang lebar. Membuat oksigen disekitar Bintang seolah lenyap. Ia tidak bisa bernafas, sesak sekali disini rasanya. Pandangannya mengabur karena air mata yang sudah berkumpul. Yang ada di pikarannya saat ini hanyalah keluar dari tempat ini dan berlari sejauh-jauhnya.

Kakinya terus berlari, air matanya berjatuhan. Belum ada satu hari dia merasa kebahagiaannya lengkap, rasa bahagia itu seolah direnggut paksa oleh kenyataan yang sungguh menyakitkan. Siapa yang akan menyangka kalau Angkasanya sudah dijodohkan dengan orang lain. Dan demi tuhan! Apa yang dilakukan Angkasa dengannya selama dua tahun belakangan ini. Apa itu hanya pelarian?’ pikiran Bintang mulai menalar, hatinya perih sampai ia hanya ingin menenggelamkan diri di laut saat ini. Berharap ombak akan menyapu ingatannya. Bintang terus menangis dalam diam bahkan hatinya terlalu perih untuk dipaksa berteriak. Sampai sebuah suara mengusiknya, suara yang selalu ingin ia dengar saat malam tiba, suara yang selalu bisa menenangkannya.

“Bintang maafkan aku, aku bisa menjelaskannya” Angkasa terengah-engah mencoba menetralkan nafasnya. Bintang tak menjawab ia tetap diam dengan pandangan kosong.
“Bintang kumohon, jawab aku. Baiklah. Maafkan aku, aku salah. Saat bertemu denganmu, entah bagaimana aku melupakan segalanya, melupakan Charol bahkan. Tapi percayalah Bintang, tak ada dusta di antara kita selama dua tahun ini. Aku mencintaimu, aku tulus mencintaimu. Tapi aku tak bisa meninggalkan Charol, dia akan menyakiti dirinya bahkan bunuh diri jika aku bersamamu. Aku sudah berusaha menjelaskan padanya kalau aku mencintaimu, tapi dia tak bisa mengerti. Aku benar-benar minta maaf Bintang. Dan kau akan selalu menjadi Bintang untuk Angkasa.” Angkasa mencoba menjauh membiarkan Bintang untuk tidak tersakiti lebih dalam lagi.
“Kenapa kau memilih untuk bersamaku, saat kau tau bahkan kita tak bisa bersama. Mengapa kau melamarku, mengapa harus selama ini? Mengapa harus sejauh ini baru kau meninggalkanku Asa?” tangis Bintang mulai pecah membuat Angkasa mebalikan tubuhnya dan membawa Bintang ke dekapannya mungkin untuk yang terakhir kalinya.
“Aku mencintaimu, akan selalu begitu. Meskipun aku tak bersamamu rasa itu tak akan pernah hilang. Bukankah cinta tak harus memiliki Bintang? Begitu juga kita, tak peduli dengan siapa kita hidup, kau dan aku akan selalu berada dalam satu hati. Selamanya” Angkasa mengeratkan pelukannya begitu juga Bintang. Mereka tau setelah ini tak akan ada senyum yang mengembang tulus di wajah keduanya.

“Aku menyerah Dri, sudah cukup aku tidak kuat lagi. Kita pergi sekarang” ucap Bintang seraya menyeka air mata yang mulai berjatuhan di pipinya.
Dia berdiri hendak meninggalkan acara resepsi, matanya menangkap manik mata pengantin pria yang melihat ke arahnya. Bintang tersenyum, tulus, begitu pula dengan sang pria. Dan kini Bintang berjalan meninggalkan tempat resepsi, meninggalkan seluruh luka hatinya, menguatkan hatinya untuk tidak berbalik lagi.
Di depan rangkaian bunga yang disusun rapi terdapat sebuat papan yang bertuliskan
‘Happy Wedding Angkasa & Charoline’

Cerpen Karangan: Pungki Saputri
Facebook: pungki saputri
Nama: Pungki Saputri
Sekolah: SMAN 1 Lawang

Cerpen Senja Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Beri Aku Harapan Palsu

Oleh:
Mungkin terlalu besar jika aku berharap selalu ingin bersamamu. Mungkin juga terlalu besar jika aku berharap kau selalu ada bersamaku. Ku tutup buku harianku yang tergolong rahasia dan memasukannya

Penantian Dikala Senja

Oleh:
Sedih rasanya ketika melihatnya tertawa bahagia bersama sahabatku. Aku yang berusaha tersenyum melihat mereka, meski hatiku ditelan luka. Sebenarnya aku tidak tahu apa itu cinta, tapi aku tahu dan

Bukan Jalanku

Oleh:
Pagi ini teramat cerah, matahari menepis air mata dari langit yang telah lelah merintih semalaman. Aku pun ikut menepis luka yang baru kemarin kurasakan, luka yang sengaja digores oleh

Di Antara Kita

Oleh:
Kesya berulang kali memutar bola matanya. Jenuh. Satu hal yang menekannya kini. Entah berapa kali handphone-nya berbunyi, tapi ia acuhkan. Telepon, sms, bbm, dan teman-temannya telah memenuhi smartphone-nya kini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *