Surga On Stage (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 19 January 2016

Dan dua minggu setelah itu aku mengetahui semuanya. Hokaido datang dengan jaket kaos lorek putih hitam dan celana putih, dia seperti bintang di pagi hari. Senyuman tidak pernah hilang dari bibirnya, dia menghentikan sepedanya dan memintaku untuk segera naik. Kita bersepeda keliling taman, dia mengayuh sepeda itu dengan santai. Tidak ada satu kata pun yang ke luar dari mulut kita, tetapi ajaib karena aku merasa telah bercakap-cakap banyak dengannya, aku merasakan bibirku ini tidak bisa berhenti tersenyum.

Dia menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah besar yang berwarna cokelat. Kami masuk ke dalamnya dan dia langsung mengajakku ke taman di samping rumah itu. Rumah itu begitu asri, banyak bunga dan pohon-pohon bonsai yang rindang dan indah. Ada ayunan dan ada joglo kecil. Dia mengajakku ke joglo yang terbuat dari kayu itu. Joglo kecil yang indah. Ada sebuah lukisan yang masih terpasang di penyangganya, sepertinya baru saja terselesaikan.

Sebuah lukisan perempuan berambut sebahu dengan seekor kucing yang sedang terluka. Kaki mungil kucing itu terlihat terbalut rapi dengan perban putih. Perempuan itu terlihat mengelus kepala kucing itu. Wajah sang perempuan dilukis dengan ekspresi yang sangat bersinar dengan senyuman yang indah. Rambut sebahunya yang diikat, dan kaos putih bergambar bola dunia itu sangat mirip dengan kaosku.

Aku perhatikan wajah perempuan itu. Aku menyentuh lukisan itu, aku hampir tidak percaya, Hokaido telah melukisku, dan lukisan itu sangat indah. Aku ingat bahwa hari itu saat aku membalut kaki kucing yang terluka di taman, dia mengarahkan Ipad-nya ke arahku, aku tidak pernah menyangka dia akan mengabadikan momen itu. Hokaido hanya tersenyum di sampingku.

“Seperti itulah kue lapis bagiku, bersinar dan baik hati.” pujinya padaku.

Aku tersenyum menatapnya, aku tidak bisa menggambarkan caraku menatapnya saat itu, aku hanya bisa merasakan perasaan sayang yang sangat besar dalam hatiku untuk Hokaido. Ingin aku abadikan kejadian saat ini dalam ukiran di batu yang tidak terhapus sampai puluhan bahkan ratusan tahun. “Tuhan, jika Engkau berkenan, jadikan Hokaido sebagai Jodohku. Aamiin..” Samar aku mendengar suara langkah sepatu hak tinggi sedang berjalan ke arah kita berdua.

“Alex…” suara merdu dan lembut perempuan itu membuat aku dan Hokaido menoleh ke arahnya.

Perempuan cantik dengan celana pendek dan atasan putih itu, berlari ke arah Hokaido dan jantungku terasa berhenti berdetak. Perempuan yang memiliki kecantikan yang hanya bisa aku lihat di TV ataupun drama drama korea itu, memeluk Hokaido. Aku diam termangu seperti melihat sebuah adegan romantis dalam drama korea, pikiranku tidak menentu, aku bingung, kejadian itu terlalu tiba-tiba. “Alex.” nama itu terasa sangat mengganggu di telinga dan pikiranku. Apa hubungan antara Alex dan Hokaido, kenapa perempuan itu menyebut nama Alex dan berlari memeluk Hokaido?

Hokaido spontan melepaskan pelukan perempuan itu. Perempuan itu terlihat kecewa. Hokaido terlihat sangat bingung, dan aku hanya menonton kejadian itu. Dia seperti tersengat listrik, dan memegang kepalanya. Perempuan itu terus melangkah menuju Hokaido, dan sesekali menyebut nama, “Alex..” Hokaido terus bergerak mundur. Aku tiba-tiba tersadar bahwa aku sedang tidak menonton drama korea. Sekarang adalah sebuah kenyataan. Aku memegang tangan Hokaido, dia memegang erat tanganku.

“Hokaido tidak nyaman dengan keberadaan anda, mohon anda segera pergi.” ucapku meluncur begitu saja dari mulutku.
Perempuan itu hanya menatapku bingung dan seolah ingin berkata, “Siapa lo, berani mengusir gue?”
“Cindy.. sebaiknya kau pergi dulu dari tempat ini.” teriak seorang perempuan yang agak berumur tetapi tetap terlihat cantik itu sambil berlari ke arah Hokaido.
“Tante?” Perempuan yang bernama Cindy itu seolah ingin protes.
“Please.. pergilah dulu.” aku bisa menyimpulkan perempuan yang dipanggil tante itu, adalah Ibu Hokaido.

Cindy pergi dari tempat itu dengan wajah yang terlihat kecewa dan tatapan terakhirnya padaku sulit untuk aku artikan. Aku dan Ibu Hokaido kemudian membawa Hokaido ke dalam rumah, kita dudukkan dia di sofa. “Ingatan apa ini Bunda?” Tanya Hokaido pada ibunya sambil memegang kepalanya. Perempuan itu lalu memeluk Hokaido. Saat itu aku hanya diam terpaku. Aku masih berusaha mencerna kejadian yang telah terjadi.

Hokaido yang selama ini terlihat bersinar dengan senyuman dan tatapannya yang sejuk, seolah sekarang menjadi muram. Dia merintih kesakitan, aku bisa merasakan hati Hokaido sedang menangis. Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak tega melihat Hokaido seperti itu. Saat itu aku merasa semua orang mengacuhkan diriku. Perempuan itu kemudian meminta seorang bibi untuk membantunya memapah Hokaido ke kamar dan memberinya obat. Aku tidak tahu obat apa itu, tapi setelah meminum obatnya Hokaido terlihat tenang dan tertidur. Aku hanya diam terpaku memandangnya tertidur.

Tidak ada mimpi yang bisa menjadi nyata. Apakah ini akan menjadi sebuah kesimpulan yang tidak bisa diubah? Setelah Hokaido tertidur saat itu, ibunya mengajakku ke luar dari kamar. Dia menceritakan sesuatu yang bagiku tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata. Dia memberikan setumpuk video milik Hokaido kepadaku.

“Alex… apakah kau tahu mengapa aku membuat video-video ini? Karena aku tidak ingin kau melupakannya. Bayangan peristiwa masa lalumu sudah mulai sering bermunculan saat ini Berjanjilah kau tidak akan melupakannya.” Dalam rekaman ini dia terlihat sedih.
“…aku tidak tahu siapa sosok perempuan yang sering muncul itu, ku mohon Alex jangan kembali, tetaplah menjadi Hokaido…” dia menangis.

Dadaku terasa sesak, aku sesengukkan. “Tuhan… Jika Kau berkenan, jangan kembalikan ingatanku. Aku ingin selalu menjadi Hokaido. Aku ingin selalu mencintainya… selalu ingatlah kau sangat mencintainya. Kau berhutang padanya, dia telah membuatmu terlahir kembali. Dia malaikatmu.” Di akhir rekaman itu dia terlihat menangis. Aku ingin waktu kembali ke masa lalu, aku ingin mencintai dia lebih besar lagi, aku ingin mengatakan aku juga sangat mencintainya.

Tuhan kembalikan waktu ini ke masa lalu. Aku masih teringat isak tangis ibu Hokaido saat menceritakan kecelakaan motor yang dialami Hokaido. Waktu itu dengan sangat marah Hokaido ke luar dari rumahnya dan mengendarai motornya dengan kencang. Menurut saksi mata yang melihat kecelakaan yang menimpanya, Hokaido tertabrak truk pasir yang melaju dengan kencang. Dia terpelanting hingga menabrak tiang besi dan akhirnya terjatuh di tumpukan kardus-kardus berisi makanan ringan di depan toserba dekat jalan raya, yang kebetulan baru saja diturunkan dari truk pengiriman barang. Tuhan telah melindungi Hokaido dengan kardus kardus itu hingga tidak ada benturan keras di bagian vital tubuhnya, kecuali kepalanya. Waktu itu Hokaido sempat koma selama hampir dua bulan.

Sudah berlalu dua bulan sejak Hokaido melupakanku secara total. Aku masih sering bertemu dengan dia karena bundanya memohon bantuan padaku untuk melindungi Hokaido dari Cindy, dengan membuatnya mengingatku. Dari cerita bundanya aku mengetahui bahwa Cindy bukanlah perempuan yang tulus mencintai Hokaido. Mereka berdua adalah sahabat sejak masa kanak-kanak dan sejak saat itu pula Hokaido selalu menyukainya.

Awalnya bunda Hokaido juga menganggap Cindy memiliki perasaan yang sama dengan Hokaido, tetapi kenyataannya tidaklah benar. Hal itu terungkap saat dia menikah lagi dengan seorang pemuda yang lebih muda dengannya, dan di luar dugaan ternyata di belakang dia dan Hokaido, Cindy dan suaminya menjalin cinta kasih. Dan sebelum kecelakaan itu terjadi. Hokaido mendengar dan menyaksikan sendiri suaminya dan Cindy sedang memadu kasih. Sehingga terjadilah pertengakaran yang sangat hebat antara suaminya dengan Hokaido.

Dan yang sangat mengagetkan adalah Cindy berkata bahwa sejak dulu dia tidak pernah mencintai Hokaido secara tulus. Cindy hanya kasihan dan Hokaido seperti Pohon emas yang akan sangat sayang apabila dibuang. Bunda Hokaido memang seorang pengusaha yang sukses. Bunda Hokaido adalah salah satu putri dari konglomerat di Surabaya. Tetapi karena sangat mencintai almarhum suaminya, dia telah dikeluarkan dari daftar warisan keluarganya. Bakat dan darah pengusaha yang diturunkan oleh orangtuanya, dengan modal beberapa ratus juta dari ibunya yang diberikan secara diam diam padanya, dia berhasil mengembangkan butik dan restoran elit di daerah surabaya.

Setelah mendengar perkataan Cindy, Hokaido sangat marah dan ke luar dari rumah dan saat itulah kecelakaan itu terjadi. Bundanya sangat menyesali kejadian pada hari itu. Dia hanya diam menangis sendiri di ruangan sebelah mendengarkan pertengakaran Cindy dan Hokaido. Sebenarnya dia sudah lebih dulu mengetahui perselingkuhan suami keduanya daripada Hokaido, tetapi demi menjaga perasaan Hokaido yang saat itu sudah bertunangan dan sangat mencintai Cindy, dia bersabar dan masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Hokaido.

Dan saat ini ingatan Hokaido sudah kembali tetapi ingatannya pada kejadian sebelum kecelakaan itu dan setelahnya tidak bisa dia ingat termasuk diriku. Dokter mengatakan hal ini terjadi karena kejadian menyedihkan sebelum kecelakaan itu adalah hal yang paling tidak ingin dia ingat. Saat ini dia hanya mencintai Cindy. Alex terlihat sangat berbeda dengan Hokaido. Alex terlihat begitu mewah, dia seperti seorang pangeran yang selalu memakai pakaian mahal dan mobil yang indah.

Sedangkan Hokaido lebih seperti pemuda sederhana yang memiliki ketampanan seorang pangeran. Alex berada di tingkatan kelas yang sangat berbeda denganku. Aku merasa sangat jauh dengannya. Aku juga baru mengetahui bahwa Alex 8 tahun lebih muda dariku. Yang tersisa sekarang hanyalah perasaan cintaku padanya sehingga aku sangat menginginkan dia berbahagia. Hidup bahagia dengan perempuan yang juga sangat mencintainya, dan perempuan itu bukanlah Cindy. Cindy tidak pantas mendapatkan cinta Alex yang tulus padanya. Dan dia tidak berhak menyakiti hati Alex, dimana hati itu juga letak hati Hokaido yang mencintaiku begitu besar.

Bunda Hokaido telah memintaku untuk menjadi salah satu staff di butiknya, untuk bisa dekat dengan Hokaido. Hampir setiap hari aku bertemu dengan Hokaido, kadang kita juga makan siang bertiga. Semua hal telah aku lakukan untuk membuat Hokaido teringat padaku. Termasuk mengajaknya melewati taman yang sering kita lewati. Sering aku merasa cemburu dengan perlakuannya pada Cindy.

Bundanya juga menunjukkan rekaman video itu padanya. Tetapi dia tetap tidak mengingat apa-apa, bahkan dia berkata, “Hokaido tidaklah nyata, siapa pun perempuan di dalam rekaman itu, dia hanya seperti satu episode dalam kehidupanku yang tidak nyata. Kenyataan adalah sekarang, aku hanya mencintai Cindy.”

“Apakah Mas Alex sama sekali tidak merasa bersalah pada perempuan yang disebutkan dalam rekaman itu?” pertanyaan itu muncul begitu saja. “Aku hanya bisa mengatakan aku sangat menyesal karena saat kehilangan ingatanku, aku telah mencintai orang lain selain Cindy. Dan aku sangat merasa bersalah padanya, pastilah saat itu Cindy sangat bersedih karena ulah bodoh Hokaido.” Aku sangat tidak menyangka Alex akan menjawab seperti itu. Sekarang aku benar-benar sadar Alex bukanlah Hokaido. Hati Alex bukanlah hati Hokaido. Hokaido hanyalah orang lain yang berwajah sama dengan Alex.

“Aku akan selalu memaafkanmu Alex.” suara lembut Cindy sangat mengagetkanku. Hokaido terlihat sangat bahagia. “Orang munafik sepertimu tidak pantas mendapatkan cinta Hokaido.”
“kau bicara padaku? Siapa Hokaido? Cinta palsumu itu?” Spontan aku menyiramkan air putih di gelasku ke wajah Cindy yang sedang duduk di depanku. Bunda Alex terlihat terkejut. Alex membalas menyiramkan air putih kepadaku.

“kamu jangan kurang ajar, dia adalah calon bosmu.” Cindy terlihat merajuk dan merayu Alex untuk tidak marah kepadaku.
“Aku juga akan bersikap begitu kalau seandainya aku dalam posisi dia, bukankah saat lupa ingatan kau sangat mencintainya?” Alex terlihat terkejut.
“jadi perempuan yang disebut di video itu adalah Zahra?” dia menatapku.
“bukankah tadi sudah aku katakan, apa pun yang terjadi di saat aku kehilangan ingatan bukanlah diriku sebenarnya. Aku minta maaf kalau aku tidak mencintaimu sekarang.”

“Hokaido.”
“mohon tidak memanggilku dengan nama itu.” protesnya.
“Terimalah kenyataan Zahra, Alex bukanlah Hokaido, kamu harus sadar itu.” sahut Cindy.
“Zahra mencintaimu dengan tulus lex, dan kamu juga mencintainya.”
“aku tidak pernah mencintai Zahra Bunda, dan mohon terimalah kenyataan kalau aku tidak mencintaimu Zahra.”
Keributan itu berakhir dengan Alex menggandeng ke luar Cindy.

Aku seperti perempuan paling bodoh. Setelah kejadian itu, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku di butik itu. Aku memberikan pengertian kepada Bunda hokaido bahwa apa pun yang terjadi antara aku dan Hokaido hanyalah seperti drama satu episode. Satu episode yang membuatku merasakan surga walaupun pada akhirnya hanyalah Surga On stage. Kamarku akan selalu menjadi istana bagiku. Aku bisa melakukan apa saja di dalamnya. Bernyanyi, menangis bahkan berdoa ataupun memaki Tuhan.

“..aku lelah, kenapa Engkau permainkan aku seperti ini. Kau memberiku cinta yang aku dambakan seumur hidupku. Tetapi Engkau telah mengambilnya dengan cara yang sangat menyakitkan seperti ini. Saat aku memohon kematian padaMu waktu itu, Kau menghadirkan Hokaido untukku, hingga aku merasa hidupku masih berharga untuk dijalani, dan selalu berdoa diberikan usia yang panjang. Dan sekarang saat aku ingin hidup lebih lama, Kau membuat satu-satunya alasanku untuk hidup melupakanku, Kau tidak pernah mendengarkan doa-doaku..” Hatiku memaki Tuhan dan aku membiarkannya.

Aku merindukan Hokaido yang selalu memahami dan mengerti isi hatiku tanpa aku mengatakannya. Aku merindukan smsnya, aku merindukan bersepeda dengannya di taman, aku merindukan tawa, tatapan, dan candaannya. Aku merindukan Hokaido yang telah menghilang begitu saja. “Tuhan… aku mohon kabulkan doaku yang satu ini. Jika kau tidak mengabulkannya, berarti kau benar-benar tidak pernah mendengarkan doa-doaku. Matikan aku saat ini… matikan aku, aku lelah.”

Dadaku terasa sesak, aku masih berharap bahwa apa yang dikatakan orang-orang itu benar, bahwa doa yang dilantunkan dengan air mata akan terngiang sampai langit ke tujuh. “Aku lelah… matikan aku Tuhan.” Berkali-kali aku mendengar Hp-ku berbunyi, aku menaruhnya di bawah bantal. Dia tetap berdering. Seperti ada kekuatan ajaib menarikku kembali ke alam sadar, dimana aku tidak sedang memaki Tuhan dan hanyut dalam kesedihanku. Aku mendengarkan baik-baik dering Hp-ku. Aku segera mengambil Hp-ku di bawah bantal. Nada dering itu adalah dana dering khusus untuk Hokaido. Aku melihat dan spontan aku menangis, aku melihat nama Hokaido muncul di layar Hp-ku.

“Halo.”
“Kue lapis datanglah ke taman…”

Aku langsung beranjak turun dari tempat tidurku. Mengambil jaket dan meluncur dengar motor maticku ke arah taman. Seperti ada ledakan kebahagiaan dalam hatiku. Jantungku meledak, berkali-kali aku mendengar klakson kendaraan ditujukan padaku, mungkin aku terlalu kencang, aku tidak begitu memperhatikan hal itu.

“Aku minta maaf terlambat mengingatmu.”
“bagaimana kau bisa mengingatku?”

“Foto dan semua sms yang telah kau kirimkan padaku. Terima kasih kau selalu mengirimi aku sms walaupun aku tidak pernah membalasnya. Aku menemukan HP ini secara tidak sengaja di sela-sela sofa mobil Cindy, aku bisa mengingat semuanya setelah aku melihat semua foto dan sms di HP itu. Semuanya datang seperti DVD yang diputar otomatis. Terima kasih kau telah sabar menunggu dan tidak meninggalkanku karena aku tidak mengingatmu. I love you kue lapis.”

Semua kenangan saat aku menulis semua sms itu muncul dengan sendirinya. Semua apa yang ada di hatiku selalu aku curahkan di sms dan mengirimkan kepada Hokaido. Saat mengirim sms itu, selalu aku selipkan harapan bahwa suatu saat Hokaido akan membacanya dan mengingatku kembali. Aku baru menyadari ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa kecilku itu. Aku segera memasukkan motorku ke tempat parkir.

Sambil sedikit berlari aku menuju ke arah Taman. Aku tidak sabar bertemu dengan Hokaido. Aku sudah melihatnya di seberang jalan depan taman. Dia memakai kaus putih dan jaket cokelat, dia benar-benar hokaido. Pemuda sederhana yang memiliki ketampanan seorang Pangeran. Dia berdiri dari bangku yang didudukinya, dia melangkah perlahan ke arahku. Kita saling bertatapan, dia tersenyum padaku. Aku berlari ke arahnya.

BRAK!

Aku merasakan sebuah benda keras menabrakku. Aku bisa merasakan tubuhku terpental, semuanya terjadi begitu cepat, hampir seperti mimpi. Aku bisa merasakan ada cairan yang mengalir dari arah kepalaku, aku kedipkan mataku, sayup-sayup aku melihat Hokaido berlari ke arahku. Aku tidak mendengar apa-apa, aku masih belum bisa membedakan apakah ini nyata atau tidak?

“Kue lapis.”

Panggilan Hokaido menyadarkanku bahwa semua ini bukanlah mimpi. Setelah panggilan itu, aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi.

The End

Cerpen Karangan: Nadhofah Umi
Facebook: Nadhofah Umi

Cerpen Surga On Stage (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Milikku

Oleh:
“Hai” Raya membalik tubuhnya menghadap orang yang baru saja menyapnya. Senyuman manis terukir di wajah gadis manis itu saat tahu siapa yang berdiri di belakangnya “Nata” Raya langsung memeluk

Hanya Menjadi Kenangan (Part 3)

Oleh:
Pada akhirnya Farra kini telah memberikan kesempatan kepada Rafly untuk yang kedua kalinya, kini hati Farra pun telah luluh kembali. Farra tidak menyangka jika ia sekarang telah menjalin hubungan

My Life But Actually Not

Oleh:
Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang mengharapkan sebuah ending bahagia dalam kehidupannya. Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing. Seseorang tidak menjadi pemeran utama dalam kehidupan orang yang

Tembok Kilometer

Oleh:
Orang bilang, cinta adalah anugrah terindah bagi manusia. Dengan bertemunya sepasang manusia yang tidak saling kenal awalnya, menciptakan pertemanan, menjalin kasih, lalu berpisah. Orang bilang, cinta adalah hal terkuat

Ketika Harus Ku Tinggalkan

Oleh:
Aku masih merenungi kejadian yang harus membuahkan pertengkaran semalam tadi. Akankah harus terulang kisah-kisah pahit tentang cinta yang tak pernah kunjung ku rasa bahagia. Entahlah, lagi-lagi aku harus menelan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *