Tak Percaya Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 20 October 2015

Masih tertinggal bayanganmu
Yang telah membekas di relung hatiku
Hujan tanpa henti
Seolah pertanda, cinta tak di sini lagi, kau telah berpaling
Biarkan aku menjaga perasaan ini, menjaga segenap cinta yang telah kau beri
Engkau pergi aku tak kan pergi, kau menjauh kau tak kan jauh
Sebenarnya, diriku masih mengharapkanmu..

Klik! Fira langsung menekan tombol off pada radio mininya. Ia tak kuat lagi mendengar lagu itu. Lagu itu mengingatkannya pada sosok yang ia cintai. Izza. Ya, Izza. Ia amat mencintai Izza, begitu juga Izza. Izza pernah bilang padanya jika diriya mencintai Fira. Namun entah mengapa, Izza mengkhianati Fira. Peristiwa seminggu lalu masih membekas dan terlihat jelas di pelupuk mata Fira.

Pagi itu, Fira berniat ingin mengunjungi rumah Izza. Ia ingin bertemu dengan Izza dan juga orangtuanya. Selaku pacar Izza, ia sudah kenal akrab dengan keluarga Izza. Tak hanya dengan orangtuanya, adik Izza pun, sangat dekat dengannya. Jadi tak heran jika semua teman Izza juga mengenalnya. Tak jarang pula banyak yang menyebut mereka berdua pasangan yang serasi.

Sosok Izza yang tinggi, sangat serasi jika dijejerkan dengan Fira yang tinggi semampai. Ditambah dengan kacamata yang bertengger di mata Fira, menambah anggunnya gadis itu. Di SMA-nya, Fira dikenal sebagai gadis yang aktif. Ia sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Seperti pramuka, OSIS, PMR dan masih banyak lagi. Tak heran, jika Fira sangat dikenal di SMA-nya. Tak sulit untuk mencari dirinya, karena tempat yang paling seringa ia sambangi adalah perpustakaan.

Begitu pula dengan Izza, ia seorang kapten basket sekaligus sepak bola. Banyak gadis-gadis di SMA yang menaruh hati padanya. Tak jarang pula Izza menerima surat gelap dari beberapa siswi yang tak ia ketahui. Hal itu, tak membuat Fira cemburu. Karena Fira sadar, tak selamanya apa yang Ia miliki akan abadi. Semua pasti akan kembali kepada-Nya.

“Hai, kok ngelamun sih? Lagi mikirin aku ya?” ucap Izza mengejutkan Fira. Hampir saja ia tersedak minumnya.
“Ih, apaan sih? Siapa juga yang ngelamun? Aku itu lagi nunggu makananku biar agak dingin” jawab Fira bohong tentunya. Karena sebenarnya, ia sedang memikirkan Izza.
“Udah lama ya nunggu aku?” tanya Izza.
“Lumayan, ini sampai es jerukku tinggal setengah” jawab Fira dengan senyum manisnya.

“Hehe, maaf. Tadi aku lagi ngangkat telepon di kamar mandi. Eh, maksudku aku tadi kebelet, lalu cepet-cepet ke kamar mandi.” Izza lupa. Ia telah keceplosan bicara. Fira pasti curiga, hal itu terlihat dari mata Fira yang menyipit melihatnya.
“Angkat teleponnya siapa? Kok sampe sembunyi di kamar mandi? Biasanya kan angkat telepon di depanku?” tanya Fira curiga.
“Itu, telepon dari tanteku yang ada di tangerang, katanya besok mau ke rumah, tapi aku gak boleh bilang sama Ayah dulu. Biar kejutan” jawab Izza berbohong. Tanpa Fira ketahui sebenarnya yang menelpon dirinya adalah Desi.

Ya Desi. Desi itu salah seorang siswi SMK MAJU JAYA. Letak sekolah itu sekitar dua ratus meter dari sekolah Fira dan Izza. Izza mengenal siswi itu ketika ia sedang mengantar adiknya ke tempat les privat. Di tempat les itu, Izza melihat sosok gadis yang memakai celana jins, kaos putih, dilapisi dengan bolero ungu. Rambutnya digerai begitu saja, dan dibiarkan dipermainkan angin yang berhembus. Desi tampak berbeda dengan Fira yang selalu memakai jilbab kemana pun dia pergi. Bahkan jika di rumah, Fira selalu memakai jilbab. Sekalipun Izza belum pernah melihat rambut Fira. Ia tak tahu, rambut Fira itu panjang atau pendek.

Lalu, tanpa pikir panjang, Izza mendekati Desi dan menyapanya.
“Hai, bimbingan di sini juga ya?” tanya Izza basa-basi.
“Oh, aku? Nggak kok, aku cuma nganterin adikku. Kamu bimbingan di sini?” tanya Desi. Di telinga Izza, suara Desi sangat merdu. Hingga ia melamun.
“Hey!! kok melamun sih? Lihatin apa?” tanya Desi menyadarkan Izza dari lamunannya.
“Oh, eh, gak kok. Aku juga nggak bimbingan di sini. Aku juga nganterin adikku.” Jawab Izza dengan cepat. Ia malu karena tadi sempat memandang Desi dengan pandangan seperti itu.
“Oh,” jawab Desi dengan singkat. Boleh juga nih cowok. Ganteng. Batin Desi.
“Kalau boleh aku tahu, nama kamu siapa?” tanya Izza.
“Aku, Desy, kamu?” jawab Desi seraya mengulurkan tangannya.
“Aku Fahrizza. Biasa dipanggil Izza aja.” Jawab Izza seraya menyambut uluran tangan Desi. Ada perasaan senang ketika ia menyentuh telapak tangan Desi. Permukaan tangannya sangat halus.

Semenjak ia menjalin hubungan dengan Fira, tak pernah sekali pun ia menyentuh tangan Fira. Jangankan gandengan saat jalan, menyentuh pun belum. Ketika ia ingin menyentuh atau berjabat tangan dengan Fira, selalu saja Fira bilang “Bukan mukhrim, Za” jauh berbeda denga Desi. Belum-belum saja, ia sudah mengulurkan tangannya ketika berkenalan tadi.
“Tuh, kan. Melamun lagi. Ada masalah?” lagi-lagi Desi membuyarkan lamunannya.
“Maaf, aku nggak melamun kok.” Jawab Izza dengan berbohong.
“Gitu, ya?” jawab Desi seraya menganggukkan kepalanya.
“Kalau boleh tahu, kamu sekolah di mana?” tanya Izza, Ia sudah bisa menguasai dirinya.
“Aku di SMK MAJU JAYA. Kalau kamu?” tanya Desi balik.
“Aku di SMA PURNA BAKTI. Kelas berapa?”

“Kelas sebelas. Eh, berarti sekolah kita deketan ya?” tanya Desi dengan sumringah.
“Iya. Paling dua ratus meter, kan?” tanya Izza memastikan.
“Iya, kamu..” tiba-tiba, Ifa adik Desi sudah berada di belakangnya.
“Kak, ayo pulang. Aku udah selesai nih” ajak Ifa dengan gaya kekanak-kanakannya.
“Iya, sayang. Ayo. Za, aku duluan ya?” pamit Desi pada Izza.
“Des, tunggu. Boleh aku minta nomor telponmu?” tanya Izza seraya memegang pergelangan tangan Desi. Desi hanya memandang pergelangan tangannya yang dipegang oleh Izza. Ia tak berontak sama sekali, seperti halnya Fira jika ada cowok yang memegang tangannya. Desi lanjut mengeluarkan senyum manisnya.

“Boleh, mana nomormu?” tanya Desi.
“Nih. Nomor kamu mana? Ntar ku telepon kamu ya?” pinta Izza.
“Oke.” Jawab Desi singkat sambil senyum.
“Ya udah, silahkan kalau mau pulang” ucap Izza dengan hati berbunga-bunga. Sampai ia tak sadar jika tangan Desi masih ia genggam.
“Bagaimana akau bisa pulang kalau tanganku aja masih kamu pegang?” tanya Desi dengan tawa yang renyah.
“Oh, iya maaf. Lupa” jawab Izza dengan muka merah padam. Bukan karena marah, tapi karena malu.
“Iya. No problem.” Tukas Desi.

Hari-hari selanjutnya, Izza dan Desi semakin dekat. Hingga hal itu terjadi, di sekolah, Izza tetap menjadi kekasih Fira, tapi jika di tempat bimbingan Ia menjadi kekasih Desi. Hampir tiga bulan hunbungan Izza dan Desi tak diketahui oleh Fira. Namun, naas sekali sore itu. Nampaknya Tuhan sudah berkehendak lain.
Sore itu, Fira berniat pergi silaturrahmi ke rumah Izza. Sudah hampir satu bulan Ia tak bertemu dengan adik Izza. Namun, sore itu, Izza tak berada di rumah. Ia sedang menjemput Desi ke rumahnya. Izza berniat mengajak Desi ke rumahnya lagi. Ini sudah kali ke empat Izza mengajak Desi ke rumahnya.

“Assalamualaikum” sapa Fira pada Iqbal adik Izza.
“Waalaikumsalam, Mbak Fira” jawab Iqbal seraya berlari menghampiri Fira.
“Mas Izza ada nggak, dik?” tanya Fira.
“Mas Izza lagi jemput pacarnya” jawab Iqbal polos. Deg!
“Pacar? Bukankah pacar Izza aku?” Tanya Fira dalam hati.
“Pacar Mas Izza yang mana, dik?” tanya Fira dengan bersusah payah menahan gejolak hatinya.
“Pacar Mas Izza kan sekarang ada dua. Mbak Fira sama Mbak Desi. Nah yang dijemput itu Mbak Desi” jawab Iqbal. Dengan santai.
“Jadi Mas Izza punya dua pacar, Dik?” tanya Fira memastikan.
“Iya, apa Mbak Fira nggak tahu?” tanya Iqbal balik.
“Mbak nggak tahu.” Tak begitu lama berselang, Izza muncul dengan seorang cewek cantik yang memakai hot pants serta kaos merah ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Izza kaget melihat Fira berada di rumahnya.

Tiba-tiba saja..
“Za, kau nggak nyangka kamu kayak begini. Kamu tega banget selingkuh di belakangku!” tegur Fira dengan air mata yang sudah menderas.
“Ra, aku bisa jelasin semuanya” ucap Izza dengan nada memohon.
“Ini siapa sih, yang? Temen sekolahmu ya?” tanya Desi.
“mungkin ini saatnya aku harus bicara. Desi kenalin ini pacar aku di sekolah. Dan Fira, kenalin ini pacar aku. Dia sekolah di SMK MAJU JAYA” jelas Izza dengan menunduk.
“Hah! Pacar kamu kayak gini?” ledek Desi ketika ia memperhatikan pakaian yang dikenakan Fira. “Pakaiannya saja kuno banget kok” ledek Desi.
“Bukan pakaianku yang kuno. Tapi pakaianmu. Lihat! Pakaianmu sangat kurang bahan” tukas Fira dengan nada marah.
“Ini tren, sayang” sombong Desi.
“Terserah. Za, mulai sekarang kita putus” ucap Fira dan langsung berlari meninggalkan rumah Izza. Ia menangis.
“Ra, maafkan aku. Aku udah mengkhianati kamu.” Batin Izza.
“Ya sudah. Ayo masuk, Des.” Ajak Izza pada Desi.

Tak terasa air mata Fira meleleh lagi mengingat kejadian itu. Sungguh tega Izza menghianati cinta tulusnya. Izza tega berselingkuh di belakangnya. Fira mengambil buku hariannya dan Ia menulis sesuatu di sana.

Cinta. Cinta itu bahagia, tapi menyakitkan. Saat kita mencintai kita bahagia, saat kita cemburu, kita terluka. Cinta itu tak harus memiliki. Itu bohong!! Semua orang ingin memiliki, bahkan terkadang merasa harus memiliki. Dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, kita pun akan merasa bahagia. Hahaha .. kata siapa?! Cinta itu menyakitkan! Sungguh! Ketika hati berbisik tentang cinta. Hanya mata yang memaknai kenyataannya

Senyummu yang indah menjadi sebuah dilema. Yang menutupi rasa yang ingin terucap. Maaf.. Bila semua rasa tak pernah ku katakan. Bila semua tak sempurna, seperti yang kau bayangkan. Aku hanya ingin kau tahu. Hari ini, aku akan tetap mencintaimu. Esok, aku akan selalu menjagamu. Dan, ku harap suatu saat nanti kau akan jadi milikku.

Cerpen Karangan: Nurafifah
Nama: Nurafifah
TTL: Kab.Semarang, 25 Mei 1997
Sekolah: SMK NU Ungaran

Cerpen Tak Percaya Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Kita

Oleh:
Dalam sebuah keterasingan aku berjalan kaku. Aku tak ingin menoleh sedikitpun ke belakang. Aku ingin terus menatap masa depan. Tapi di depan sana banyak sekali tikungan. Sebenarnya dalam hati

Man With Red Jacket

Oleh:
Aku berdiri di depan pintu kelas, sekolahku masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin aku yang terlalu cepat tiba di sekolah. Tiba-tiba pandanganku terfokus pada suatu objek.

Kamu dan Duniamu

Oleh:
Merekakah sahabat-sahabatmu? Tahu apa mereka? Apakah mereka selalu menemanimu setiap saat? Aku yang tahu kamu! Aku yang selalu menemani kamu ke manapun! Aku juga yang selalu merasakan apa yang

Kamu

Oleh:
Dia adalah Arka Zialianti, teman-temannya biasa memanggil gadis cantik itu Zee. Zee sekolah di salah satu sekolah swasta di daerahnya. Dia punya sahabat cowok, berperawakan tinggi, putih dan mempunyai

Jadi ini Akhirnya

Oleh:
Senja pun telah bergulir, berganti pekatnya malam berhiaskan gemintang perak menggantung di hamparan langit hitam. Sirius mulai menampakkan diri ditemani bola kuning bercahaya, rembulan. Drama manusia dikejar jadwal kian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *