Tak Terbalaskan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 28 February 2015

Pagi ini terlihat sangat cerah. Matahari begitu semangat menyambut pagi ini, seperti gadis ini, ia bersemangat karena hari ini ia akan pergi ke sekolah diantar oleh sang kekasih.
“pagi pah” sapa gadis itu
“pagi juga, ayo sarapan dulu” tawar sang papa
“enggak deh pah, aku udah telat, aku pergi ya” pamit sang gadis

Wait? cuma papah? ya ibunda dari gadis itu telah meninggal dunia sejak 2 tahun yang lalu. Kematian yang tak wajar, sang ibunda dibunuh oleh seseorang, yang sampai sekarang belum diketahui siapa pelakunya.

“pagi sayang” sapa sang gadis pada kekasihnya
“pagi juga fan, udah siap pergi ke sekolah?” tanya sang kekasih
“siap bos!”ucap gadis

Ya, dia adalah Fani Yudhagrania, nama yang cantik bukan? orang nya pun cantik. Fani adalah gadis yang cantik, anggun, namun terkadang sifat tomboi nya keluar, baik, namun sayang sang ibunda nya telah tiada

Terlihat seorang gadis berdiri tegak, di depan gerbang sekolah. Seperti sedang menunggu seseorang saja. Benar saja gadis itu sedang menunggu sahabatnya yaitu Fani Yudhagrania.
“Pagi fan” sapa sang sahabat
“pagi juga din, yuk ke kelas” ajak fani

Ya gadis tadi adalah Pramudina Afrawati Narundana, cewek tomboi, baik, dan banyak dikenal oleh siswa di sekolahnya. Jelas saja, dia adalah mantan Ketua Tim Basket

Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa keluar dengan sangat tidak tertib menuju kantin untuk mengisi stamina nya. Berbeda dengan Pramudina yang akrab disapa dina ini ia lebih memilih untuk diam di kelas, karena baginya kantin itu membosankan, karena di kantin selalu banyak orang yang mojok. Termasuk sahabatnya! tapi Fani terkadang juga lebih memilih untuk menemani dina. Dan kali ini ia lebih memilih menemani dina ketimbang pergi ke kantin dan berdesak-desak disana
“tumben enggak ke kantin fan” tanya dina dengan logat khasnya
“lagi males aja “jawab fani santai
“kan biasanya waktu istirahat waktunya lo mojok sama bisma, lo berantem?” tanya dina sinis
“enggak, bentar lagi juga dia kesini.” ujar fani dengan logatnya
“Fani” sapa seseorang sedikit berteriak
“halo bis” sapa fani sedikit memeluk kekasihnya itu
“tuhan kuatkan aku!” batin dina, dan terlihat sedikit menahan tangisnya

Ya, pria itu adalah Bisma Karisma, cowok cool, terpopuler, pintar, baik. Dan itu membuat para wanita tertarik padanya, begitu pun dengan Fani dan Dina. Mereka berdua sama-sama menyukai pemuda itu. Namun dina lebih baik memendam semuanya

“tumben enggak ke kantin sayang?” tanya bisma
“lagi males aja bis, aku lagi pengen aja di kelas” tutur fani
“lo kok diem aja sih din? sariawan?” tanya bisma sedikit terlihat dimatanya rasa khawatir
“enggak!” dina segera meninggalkan tempat itu, baginya tempat itu terasa panas. Ia lebih memilih untuk berdiam diri di Perpustakaan, ketimbang harus melihat mereka berdua.
“sial! gue emang bodoh! dia itu milik fani, dina! lo nyadar dong!” gerutu dina saat berjalan menuju perpustakaan
“tau ah! kalo emang jodoh gak akan kemana!” lanjut dina

Siang ini dina pulang sendirian. Karena Fani lebih memilih pulang bersama bisma ketimbang dirinya, sungguh panas dina melihat itu semua. Siang ini terlihat gadis itu sedang bersantai di atas kasurnya, dan terlihat sedang mengotak-ngatik laptopnya. fuuuh, gadis itu sedang ngestalk twitter pemuda yang ia idamkan. Ya BISMA
“lo itu ganteng bis, baik lagi, tapi gue gak liat lo dari fisik atau apapun. Gue tulus sayang sama lo” ucap dina, berbicara sendiri
“kapan coba gue bisa tercantum di bio lo itu, menggantikan posisi fani” ucap dina berkhayal
“ah lo ngomong kejauhan din! bisma itu gak suka sama lo, secara lo sama fani cantikan lo! jadi bisma udah dibutakan sama si Fani” gerutu dina saat melihat foto bisma dan fani
Terlihat dina mengetik sesuatu, ternyata dina sedang ngetweet di account pribadinya. Seperti ini kira-kira isinya “Rasanya hari ini panas banget! Neraka udah bocor banget! *kipas-kipas* ” begitulah isinya, tak lama seseorang membalas tweet dina
“@Faaani: baru tau lo din, kalo jakarta panas? emang panas apanya? @pramudina : Rasanya hari ini panas banget! Neraka udah bocor banget! *kipas-kipas* ”
“@pramudina : hate gue panas! RT@Faaani: baru tau lo din, kalo jakarta panas? emang panas apanya? RT@pramudina: Rasanya hari ini panas banget! Neraka udah bocor banget! *kipas-kipas* ”
Akhirnya dina lebih memilih keluar dari account itu, dibanding harus beradu mulut dengan sahabatnya itu.

Esoknya, pagi itu saat dina menginjak lantai kelasnya. Terdengar samar-samar sebuah keributan, benar saja ternyata bisma dan fani sedang berantem. Terlihat wajah fani berlinangan air mata.
“Lo ingkar sama gue bisma!” lirih fani didasari dengan emosi. Terlihat bisma lebih memilih diam.
“Lo jadian aja sama sahabat gue sana!” ucap fani sedikit berteriak
“kok bawa-bawa gue sih fan?” tanya dina sedikit emosi. Dina saat ini terpancing oleh omongan nya Fani, tapi dina berusaha meredakannya
“halah, Lo anggap gue apa sih din? kenapa lo ga bilang kalo lo suka sama bisma” ucap Fani dengan penuh emosi
“lo ngomong apaan? gue ga mungkin khianatin lo fan! sekalipun misalkan gue sayang sama bisma, gue gak mungkin ngambil bisma dari lo fan” tutur dina sedikit berderai air mata di pipinya
“lo nggak usah bohong sama gue, gue benci!” ucap fani semakin emosi
“dan lo bis! kalo emang lo suka sama dina! bilang sama gue! jangan sembunyi-sembunyi gini. Di belakang gue kalian suka berhubungan” ucap fani sambil menunjuk muka bisma dan dina
“lo jangan asal nuduh dong fan! sekalinya kalo iya gue suka sama bisma gue udah bilang gak mungkin khianatin lo” ucap dina sedikit teriak namun dengan terisak
“lo bohong din! lo udah gak jujur sama gue, gue kecewa” ucap fani sambil berlari keluar kelas dan berderai air mata di pipinya

Kini di dalam kelas hanya ada Bisma dan Dina, tak ada percakapan di antara mereka. Dina lebih memilih merenung, dimana kesalahan dia, kenapa bisa sampai begini? Tak lama terdengar sorak riuh, di depan pintu.
“Happy birhtday dina, happy birthday dina”
“gue kira ini beneran tuhan!” batin dina
“tiup lilinnya, tiup lilinnya”
“sekarang lo tiup dulu lilinnya, jangan lupa make a wish” ucap fani
Terlihat dina memejamkan matanya dalam hati ia berkata “Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, semoga semuanya lebih baik lagi tuhan! Amin”
“sekarang lo potong kuenya dan potongan pertamanya lo kasih ke siapa” pinta fani
Kue pertama ia berikan pada fani, kedua untuk bisma, hufft padahal dina ingin sekali memberikan potongan pertama untuk bisma. fuuhh, sudahlah
“thanks ya fan, bis, temen-temen! gue ngira ini beneran” ucap dina penuh haru
“hehe itu ide dari gue din, tapi jangan sampe lo suka beneran ya sama bisma” ujar fani
“lo terlambat, gue terlajur suka” batin dina
Hanya terlihat sebuah anggukan dari dina

Hari berlalu demi hari, terlihat pasangan Fani dan bisma semakin hari semakin romantis. Tak pernah terdengar keributan apapun. Itu semua mampu membuat Dina sakit hati, dan terus membatin. Kini Dina termenung di pinggir danau yang sangat indah.
“Tuhan, perasaan hambamu ini sudah ingin meledak jika harus terus begitu. Bantu dina untuk kuat tuhan” batin dina, tak terasa air matanya menetes begitu saja
“sampai kapan tuhan, aku harus bertahan seperti ini. Rasanya sakit melihat semua itu” lirih dina dengan berderai air mata. Dina tak mampu mengontrol emosi nya.
“Gue Suka sama lo Bisma! Gue mau kita sama-sama, tanpa harus gue ngerusak hubungan lo berdua” teriak Dina sambil terisak
“jadi lo juga suka sama bisma din?” tanya seorang gadis dengan air mata yang jatuh ke pipinya, yang tak lain adalah Fani
“Fani” dina terlonjak kaget, dengan sedikit gugup
“iya gue fani, kenapa lo kaget? lo jujur sama gue!” ujar fani
“enggak gue enggak suka sama bisma fan” ucap dina
“lo bohong!” ujar fani
“enggak, gue emang gak suka sama bisma” jelas dina
“JANGAN BOHONGIN GUE PRAMUDINA” bentak fani, kali ini emosi nya tak bisa ia tahan
“OKE GUE EMANG SUKA SAMA BISMA, MAU APA LO HAH? GUE SUKA SAMA BISMA SEBELUM LO SUKA SAMA BISMA!” tutur dina dengan suara yang tak kalah tinggi dengan fani
“kenapa lo gak jujur sama gue!” tanya fani sedikit merendahkan suaranya
“JUJUR LO BILANG? GUE AJA GA TAU LO JADIANNYA KAPAN! DAN LO GAK PERNAH BERCERITA APAPUN KE GUE FAN! LO ANGGEP GUE APA? apa lo tau, saat lo berduaan hati gue panas fan, panas fan. Mungkin lo ga ngerasain itu. Tapi gue fan, gue ngerasa banget!” setelah emosinya melonjak, pecahlah tangis seorang pramudina. Fani hanya diam mendengar penjelasan dina
“gue sakit liat lo berduaan sama bisma fan! setiap hari gue cuma bisa ngekhayal dan ngekhayal! sekalipun gue suka sama bisma, gue gak pernah mau rusak hubungan lo berdua!” ucap dina dengan air mata yang mengalir deras di pipinya
“gue tau gue salah din! iya gue emang bukan sahabat yang baik, gue gak pernah berbagi cerita ke lo. Gue juga gak tau kalo lo suka sama bisma. Maaf kalo selama ini gue selalu buat lo panas din, kalo lo mau bisma, lo ambil aja asal kita bersahabat seperti dulu” tutur fani dengan air mata yang terus mengalir
“gak usah! cinta itu mulia, cinta itu tulus. Bukan paksaan Fan! gue rela bisma tetep sama lo! asal gue liat lo sama bisma bahagia, itu udah cukup buat gue seneng! besok gue pergi ke Jepang buat nerusin study gue disana, lo gak usah peduliin perasaan gue, gue udah kebal di kayak giniin” ucap dina sedikit sinis
“gue mohon lo jangan pergi din! oke gue rela pisah sama bisma asal lo jangan pergi!” mohon fani
“lo gak perlu putus sama bisma fan, gue akan tetep pergi jika lo putus juga! gue pengen ngelupain kenangan gue selama di indonesia.” tutur dina
“jangan pergi din, please din” mohon fani, kini ia berlutut di hadapan dina
“berdiri fan, gue akan tetep pergi! besok kalo lo mau liat gue, lo dateng jam 09.00 ke bandara” tutur dina sambil membantu fani berdiri. Fani hanya diam
“gue pulang” ucap dina dan berlalu pergi

Pagi itu tepat pukul 8, Dina sudah pergi ke bandara. Keputusan nya sudah bulat. Namun tiba-iba handphonenya bergetar, terlihat “calling Faniku”
“ya apa fan?”
“…”
“apa?”
“…”
“oke, sekarang gue nyusul kesana”
“…”
“gue bisa pergi kapan aja”
Pip

“keadaannya gimana fan?” tanya dina dengan raut wajah khawatir
“gue gak tau bisma masih ditangani dokter” lirih fani dengan pipi yang berderai air mata
“tuhan, cobaan apa lagi. Jangan sampe kejadian 2 thn lalu terulang kembali” lirih dina menangis sambil mengingat kejadian itu. Tiba-tiba dina merasa penglihatannya buram. Dan bruuuk!

Gadis ini perlahan mulai tersadar. Setelah seharian ia tertidur. Dina pun mengerjap-ngerjapkan matanya.
“din lo udah sadar? lo jangan tinggalin gue sendirian lagi” ucap fani dan tes, keduanya menangis
“gue baik-baik aja, bisma gimana? seengganya kalo bisma udah membaik, gue bisa dengan tenang pergi ke jepang” tanya dina dengan muka yang dibuat seceria mungkin. Fani hanya diam
“jawab fan!” bentak dina
“oke gue jawab. Bisma udh pergi ninggalin kita din, baru saja dimakamkan” tutur fani dengan pipi yang berlinangan air mata
“lo bohong sama gue fan!” ucap dina berteriak histeris
“ini nyata din, gue enggak bohong, ini buktinya. Dan bisma mau lo baca surat itu setelah lo liat kuburan bisma” ucap fani sembari menyerahkan surat berwarna merah muda itu
“anterin gue fan” pinta dina
“kondisi lo belum sehat din” lirih fani
“gue sehat fan, apa lo gak rela kalo gue liat tempat peristirahatan terakhir bisma?” ucap dina semakin ngawur
“bukan gitu din” lirih fani
“udah lah, lo gak ngerasain! betapa sakitnya gue, gue gak ada di samping bisma saat bisma meninggal, dan saat gue sadar bisma udah ninggalin gue selamanya. Lo anterin gue ya fan” mohon dina dengan wajah memelas dan berlinangan air mata
“oke gue anterin, tapi please lo jangan nangis lagi. Ngeliat lo nangis semakin ngebuat gue merasa bersalah, please lo jangan nangis di hadapan gue lagi!” mohon fani
“iya gue janji, ayo berangkat” ucap dina dengan semangat

Terlihat di hadapan dina dan fani tanah kuburan yang masih merah, dan bertuliskan Bisma Karisma. Seketika tangis dina pun pecah.
“lo jahat bis! lo tinggalin gue saat gue lagi tidur, walau lo gak bisa balas cinta gue ke lo. Tapi seengganya lo ga boleh pergi ninggalin fani sama gue” ucap dina, dan tangisnya semakin pecah
“udah din, udah” ucap fani sambil mengusap punggung dina
“lo baca surat ini” ucap fani yang ikut terisak, dan langsung menyodorkan surat
Lipatan demi lipatan dibuka oleh dina. ia sungguh penasaran apa yang sudah ditulis oleh bisma, apakah bisma akan meminta permintaan terakhir dengan cara dina harus menjadi pacar fani, menggantikan dirinya yang telah tiada. Tak mungkin

Dear, Ninot
Maaf ya aku selama ini enggak peka sama kamu, waktu denger dari fani bahwa kamu suka sama aku, aku seneng loh not. Tanpa aku sadari dan kamu sadari kita sama-sama suka. Maaf aku pergi enggak bilang-bilang, aku diculik sama eyang subur not, dan enggak akan dibalikin. Aku gak pamit, karena aku liat kamu tidurnya banget, kayak matahari kalo malem gak bangun-bangun. Aku mau kalian akur yah :). Jangan ribut karena masalah cowok lagi, cukup aku yang dibuat bingung sama kalian, harus pilih mana. akhirnya aku pilih pergi. Maaf banget yaa. Kutunggu kau di keabadian ninot

Bisma

Cerpen Karangan: Hannifah Dwi Septyani
Facebook: Hannifah Dwi

Cerpen Tak Terbalaskan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Terakhir Yang Indah Dari Mu

Oleh:
Pertemuan kami sesuatu yang tidak disengaja, walawpun kami satu kampus tapi berbeda jurusan dan kami pun tidak saling mengenal, awal perkenalan kami pada acara pentas seni di kampus yang

Masih Di Sini Menunggumu

Oleh:
Malam ini, aku duduk di atas batu di depan rumahku sambil menatap bintang-bintang dan rembulan, mengharapkan kau berada di sini menemanikuaku begitu bodoh. Menunggu cinta yang tak pasti, cintanya

Cinta Yang Lain

Oleh:
Masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Begitulah yang sering dilantunkan oleh mereka yang sedikit-banyaknya telah merasakan berbagai kisah dalam lembaran-lembaran ketika mereka berada dalam warna-warninya proses metamorfosa masa

Cinta Sesaat

Oleh:
Pagi itu secara tak sengaja aku bertemu dengan Lina yang sedang berjalan menuju jalan raya. Tanpa berpikir panjang aku langsung menghampirinya. Namun, ketika aku hendak memanggilnya ada sebuah mobil

Kutitipkan Dia Padamu Sahabatku

Oleh:
Malam ini di sudut kota seorang dara cantik berjalan menyusuri jalanan kota, air matanya menetes berbaur dengan hujan gerimis yang membasahi setiap sudut ruang di bumi. Hatinya sedang teriris

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *