Tak Terduga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Namaku Rara Michela. Aku duduk di kelas 2 SMA tepatnya di Jurusan Fisika. Sekolahku salah satu sekolah favorit di kotaku. Karena Papaku orang Belanda dan Mamaku orang Indonesia aku memiliki gen dari keduanya. Kulitku putih, pipiku tirus, dan hidungku mancung. Seperti biasanya pagi ini aku menunggu Dea sahabat terbaikku di taman depan Sekolah. Dea sedikit pemalu jadi Dea memintaku untuk menunggunya kemudian kami berjalan bersama ke kelas. Yaah walaupun kami beda kelas. Dea anak Biologi. Tapi kelas kami letaknya sebelahan. So why not! Dea kapan sih kamu tidak kesiangan terus. Kalau kamu bukan sahabatku, udah ku tinggal deh dari tadi.

Menunggu memang membosankan. Ku lirik jam tanganku.
“Kurang 5 menit lagi masuk nih” Ucapku.
Ku tundukan kepalaku, pandanganku tertuju pada rumput-rumput dekat sepatu hitamku.
“Rara maaf yaah lama”
Aku kenal suara itu, kepalaku otomatis terangkat.
“Itu hal biasa”
“Rara, jangan marah” Wajah kepanikan Dea membuatku tak dapat menahan ketawa lagi.
“Hahaha Dea aku becanda”

“Kebiasaan deh! Jail” Dea mencubit pipiku.
“Aww.. Jangan dicubit De nanti aku tembeb kayak kamu hahaha”
“Rara” pipi Dea memerah.
“Tuuhh kan jadi kayak tomat. Hahaha”
“Udah Ra, yuk masuk kelas bentar lagi bel nih”
“Mengalihkan pembicaraan”

Kami berjalan menyusuri koridor Sekolah. Sepanjang jalan Dea menceritakan novel yang ia baca tadi malam. Itulah mengapa Dea selalu datang siang ke Sekolah. Yaah gitu begadang bersama novelnya. Aku sering menemani Dea ke toko buku bukan sekedar menemani aku juga yang membayar novel-novel itu. Gak tahu sudah berapa puluh novel yang aku belikan untuk Dea. Tapi aku ikhlas memberinya pada Dea, aku juga tahu bagaimana ekonomi keluarga Dea. Dea cewek pendiam tetapi saat bersamaku Dea berubah 180 derajat jadi Cerewet! Haha. Mungkin karena kita telah bersahabat dari SMP.

“Rara nanti istirahat aku ke kelas kamu yah”
“Kok ke kelas? Emangnya gak ke kantin?”
“Tadi Mama bikinin makanan siang buat kita. Jadi kita makannya di kelas aja”
“Oohh.. Sering-sering aja Dea! Hehe”
“Nanti tunggu aja di kelas”
“Oke!! Ehh tunggu kenapa harus di kelas? Kenapa gak di kantin atau taman gitu? Pasti mau ketemu cowok es yaah?” Godaku kepada Dea. Seketika pipi Dea memerah. Itulah hobiku menggoda sahabatku ini.
“Apaan sih Ra … U..udah deh aku ke kelas dulu. Daah Rara” Aku hanya tersenyum.

Jam Istirahat. Mana Dea kok belum ke kelas, batinku. Di kelas sepi hanya ada aku dan cowok es. Penasaran yaah cowok es itu siapa? Hehe. Aku menyebutnya cowok es bukan karena dia terbuat dari es. Lebih tepatnya hatinya yang terbuat dari es. Iya! Dia cowok tercuek di Sekolahku. Tidak tidak bagiku dia cowok tercuek di Dunia. Tidak heran kalau dia berada di kelas. Tidak seperti anak-anak lain yang menikmati jam istirahat di kantin atau di taman sekolah. Cowok es itu memang aneh. Nama aslinya Miko. Tapi ada panggilan khusus dari Dea. Koko! Haha yaah udah lama Dea naksir cowok ini. Aku juga gak ngerti kenapa Dea bisa suka sama dia. Tahu deh!

“Rara”

Aku terkejut. Dia cowok es memanggilku kesambet apa nih anak. Seingatku terakhir kami berbicara waktu kenaikan kelas. Itu pun hanya aku yang berbicara menanyakan letak kelas Fisika. Dia hanya menunjukkan tanpa berucap. Ku pikir awalnya dia bisu. Tapi setelah sekelas dengannya aku jadi tahu seperti apa dia. Dan sekarang dia memanggilku.

“Ra..” Suaranya lebih meninggi memanggilku. Membuyarkan keherananku.
“Ehh iya. Kenapa?”
“Gak ke kantin?”
“Enggak nih. Lagi nunggu Dea”
“Memangnya gak berani ke kantin sendiri? Mau aku temenin?”
What!! nih cowok kenapa? Salah makan apa? Mau nemenin aku ke kantin? Aku merasakan perubahan 180 derajat darinya. Seperti Dea. Iyaa dia..

“Ra, mau gak?”
“Ehm.. Makasih mik. Emang rencana gak ke kantin kok. Tadi Dea bawa makan siang. Terus ngajakin makan bareng di kelas.”
“Oh gitu. Tapi mana Deanya? Keburu jam istirahat habis nih. Gak sempet makan nanti”
“Bentar lagi mung.. Nah itu Dea”
“Ra.. Maaf yaah lama tadi..”
“Baca novel lagi?”
“Bukan Rara. Tadi disuruh Bu Pisca ngantar buku”
“Udahlah Dea jelasinnya nanti aja. Cacing di perutku udah demo nih”
Dea hanya tersenyum. Kami pun mulai menyantap makan siang buatan Mama Dea.

“Ehh.. Miko mau makan bareng?” Ajakku.
Dia hanya menggeleng. Keningku berkerut. Loh tadi nih anak gak gini. Kok jadi es lagi? Apa tadi lagi cair yah?
“Ra kenapa?” Tanya Dea keheranan.
“Enggak kok De gak apa-apa”
“Kok tumben ngomong sama Koko? Kan kamu anti banget sama dia?”
“Ciee cemburu..”
“Apaan sih Ra?”
Aku hanya tersenyum. Dea melanjutkan makannya. Aku sengaja tidak bercerita pada Dea apa yang terjadi pada Miko.

Pulang Sekolah. Aku pulang sendiri. Dea pulang duluan dia bilang ada janji dengan Mamanya jadi pulang cepat. Karena besok aku piket kelas. Jadi aku pulang lebih lama untuk membersihkan kelas. Aku lebih memilih untuk jalan kaki ke rumah. Mama bilang lebih baik diantar sopir pribadi kami. Tapi aku menolaknya. Aku lebih suka berjalan seperti ini lagi pula jarak antara rumahku dengan sekolah tak terlalu jauh.

“Rara” Ada seseorang memanggilku. Aku pun mencari arah suara itu. Dan…
“Miko”
“Tumben sendiri Dea mana?”
“Ehh Dea tadi pulang duluan”
“Bareng yaahh.. Lagian kita satu arah kok”
“Boleh. Eh tapi emangnya kamu tahu rumahku di mana?”
“Tahu”
“Tahu dari mana?”
“Aku tahu semua tentang kamu Rara”

“Hah? Maksudnya?”
“Yaahh aku tahu. Aku tahu rumah kamu hobi kamu. Dan aku juga tahu tempat apa yang kamu sering kunjungi”
“Apa?”
“Kamu suka ke dua tempat. Kamu suka ke toko buku, tapi itu karena kamu nemenin Dea. Dan tempat favoritmu di danau deket taman kota”
Tahu dari mana dia? Apa selama ini dia mengikutiku? Tapi untuk apa dia mengikuti? Tidak, tidak jangan-jangan dia bisa membaca pikiranku?

“Kok bengong Ra? Gak usah heran gitu aku punya alasan untuk ini”
“Alasan apa?”
“Aku suka kamu”
DEG!! aku diam terpaku. Aku mencerna kembali kata-kata yang baru ku dengar dari Miko. Aku suka kamu? Apa maksudnya? Suka jenis apa yang Miko maksud?
“Udah nyampe rumah kamu nih Ra. Yaa udah aku duluan yaah Ra. Daah Rara” Miko tersenyum dan berlalu dengan meninggalkan segudang pertanyaan.

Minggu Pagi. Pagi ini aku berencana pergi ke danau. Aku suka tempat ini karena suasana di sini dapat menenangkan pikiranku. Semenjak kata-kata Miko seminggu yang lalu aku masih selalu memikirkannya. Bagaimana tidak? Dari awal memang aku suka padanya karena sifat misteriusnya membuatku tertarik padanya. Wajahnya tampan, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih. Dan rambutnya berponi seperti emo. Di ujung poninya berwarna silver. Perfect deh!

Tapi 3 bulan yang lalu Dea bercerita bahwa dia menyukai Miko. Aku tahu Dea tak pernah menyukai makhluk yang namanya cowok. Dan aku pun tak pernah tahu apa itu cinta tapi sekarang aku tahu apa itu cinta ketika bersama Miko. Karena itu ku tutup semua perasaanku pada Miko. Aku tak ingin nantinya karena cowok persahabatan yang telah kami jalani selama 5 tahun akan Kandas begitu saja.

Bersambung

Cerpen Karangan: Nilot Dewi Gayatri
Facebook: Nilott Dewii Gayatrii
Nama Lengkap: Nilot Dewi Gayatri
TTL: Demak, 02 April 1999
Sekolah: SMA Negeri 1 SUKAMARA
Kelas: XI IPA 1

Cerpen Tak Terduga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Bahagiakan Dia

Oleh:
Mungkin tiada kata yang bisa ungkapkan ketika kelunya lidah. Seperti halnya Takuya ketika dia bertemu cewek idamannya selama ini. Apalagi kalau si cewek idaman mendekat dan mengajaknya sekadar mengobrol.

Hello, Goodbye (Part 2)

Oleh:
“INI, Mas, kembaliannya,” ucap seorang penjaga kasir di sebuah toko buku. “Hmmmmm,” gerutu seorang pengunjung, sembari menyodorkan telapak tangan kanannya. Sementara tangan kirinya, memegang sebuah buku; di mana empat

Bukan Segitiga Bermuda

Oleh:
Matahari benar-benar menyombongkan dirinya siang hari ini, dan akulah salah satu korban dari sengatan sinarnya. Belum lagi sendi-sendi kakiku yang sejak tadi sudah berunjuk rasa agar aku berhenti berjalan.

Jangan Beri Aku Harapan Palsu

Oleh:
Mungkin terlalu besar jika aku berharap selalu ingin bersamamu. Mungkin juga terlalu besar jika aku berharap kau selalu ada bersamaku. Ku tutup buku harianku yang tergolong rahasia dan memasukannya

Rekoin (Part 3)

Oleh:
Ku melangkahkan kakiku dengan ragu, aku gugup jika bertemunya di kelas karena teman-teman pasti bertanya-tanya jika aku tak seperti biasa yang selalu masuk ke kelas bersama Ihsan. Aku memasuki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *