Takdir Jodohku (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 18 December 2016

“Jadi wanita itu yang membuat dia meninggalkanku?” tanyaku pada seseorang yang mengintip di balik pintu bersamaku.
Dia mengangguk meyakinkan, aku berbalik melihat sepasang anak manusia yang sedang menunduk di hadapan para orangtua. Pria itu yah pria itu seharusnya pria yang mungucap janji suci denganku sebulan lalu tapi dengan kurang ajarnya dia kabur seminggu sebelum pernikahan itu terjadi. Sedangkan pria yang mengintip bersamaku sekarang adalah adik dari pria itu sekaligus orang yang menggantikannya mengucap janji suci bersamaku. Pria itu menarikku ketika ibu mertuaku berjalan ke arah kami.

“Apa kakakmu buta?” tanyaku ketika kami sudah berada di dapur.
Dia menatapku tak mengerti.
“Apa kau juga buta? Liat aku dan lihat wanita itu! ah aku merasa terhina”
“yah bagaimanapun penampilannya tapi wanita itulah yang dicintai kakakku, aku salut padanya yang berani memperjuangkan cintanya”

Apa yang dia katakan memang benar, wanita itu yah wanita biasa-biasa saja dengan dandanan sederhana tapi sanggup membuat seorang pria mempermalukan keluarganya. Mampu membuat seorang pria meninggalkan wanita yang dalam satu minggu akan menjadi istrinya. Ironi memang, seseorang yang dipuji orang-orang dengan kecantikannya dan berasal dari keluarga terhormat dengan mudahnya dicampakan hanya karena gadis seperti itu. Penghinaan yah aku merasa ini sebuah penghinaan, bukannya aku sombong hanya saja sekali lihat pun semua orang akan tahu jika aku jauh lebih cantik dari wanita itu.

Aku menghela nafas berat yah setidaknya aku beruntung aku belum mencintai pria itu hingga rasanya tak terlalu sakit ketika dia mencampakanku. Aku tak bisa bayangkan jika aku sudah menaruh hati padanya dan dicampakan begitu saja seminggu sebelum pernikahan yah mungkin aku sudah sakit jiwa sekarang jika itu yang terjadi. Aku melirik pada pria yang sudah menjadi suamiku dan sekarang dia sedang menatap penuh cinta pada seorang gadis yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah. Yah mungkin ini sudah nasibku dicampakan kakaknya dan dinikahi adiknya yang jelas-jelas mencintai wanita lain dan parahnya lagi wanita yang dicintai suamiku adalah putri dari salah satu pekerja di perkebunan milik keluarganya. Harus kuakui wanita yang dicintainya memang cantik apalagi jika dia terbungkus dengan kemewahan pasti dia akan semakin cantik sekarang saja dengan wajah tanpa make up dan pakaian murah dia sudah terlihat cantik.

Entahlah mungkin tuhan memberikan peruntungan buruk padaku mengenai masalah cinta. Aku terlahir dari keluarga terhormat dan diperlakukan bak burung dalam sangkar emas. Sejak kecil aku terbiasa menghabiskan seluruh waktuku di rumah dengan para pelayan yang melayaniku. Aku tak punya teman dekat karena aku ada dalam pengawasan keluargaku selama 24 jam, berangkat dan pulang sekolah aku tak punya waktu berbicara banyak pada temanku karena sopir dan mobil jemputan sudah menungguku. Pacar hah aku tak pernah memilikinya bahkan aku juga tak pernah merasakan jatuh cinta karena waktu remajaku kuhabiskan untuk belajar dan belajar memenuhi ambisi orangtuaku untuk menjadikanku putri mereka yang cerdas, anggun dan multi talenta.

Aku tak mengenal dunia luas secara langsung yah aku hanya bisa melihat dunia dari guru berkepala kotak dan internet. Orangtuaku benar-benar membesarkanku dengan cara kuno di mana wanita harus ada di rumah, melayani suami, mengerjakan
pekerjaan rumah meskipun berpendidikan tinggi. Meskipun aku dibesarkan dalam kemewahan tapi aku bisa memasak dan membersihkan rumah dengan baik karena aku bahkan harus mulai mempelajarinya sejak aku masih belasan tahun bahkan aku harus les memasak segala agar aku mahir memasak segala masakan dari berbagai negara. Itu gila dan tak masuk akal yah dan aku sudah melalui kehidupan gila dan tak masuk akal itu sepanjang 23 tahun aku hidup di dunia.

“Cincin itu tak akan mengeluarkan jin meskipun kau terus putar-putar”
Suara seseorang menyadarkanku dari lamunanku, aku menoleh dan baru sadar sejak tadi aku tak sendirian di sini, saking asyiknya meratapi nasib aku tak sadar dengan sekitarku juga dengan kebiasaanku memutar-mutar cincin di jari manisku.
“Ibu menyuruh kita menemui Kak Zean dan istrinya”
Aku mengangguk dan berjalan untuk menemui mereka tapi tiba-tiba Zhoumi menarik lenganku.
“Tiana… kau tak apa-apa menemui mereka?” tanyanya terselip rasa khawatir di suaranya.
Aku menatapnya bingung dan kembali berjalan tapi dia kembali menarik lenganku, mau tak mau aku kembali menatapnya, dia membuka mulut hendak bicara tapi dia menutup mulutnya lagi, dia terlihat ragu akan apa yang ingin dia ucapkan.
“Kau ini kenapa?” tanyaku penasaran.
“Itu… kau dan kak Zean…” ucapnya ragu.
“Aku dan kakakmu tidak memiliki hubungan apa-apa jadi jangan berlebihan bukankah sudah aku katakan, bagiku menikah denganmu atau kakakmu tak ada bedanya bagiku karena aku sama-sama tidak mengenal kalian” ucapku padanya sekaligus memberikan keyakinan pada diriku sendiri bahwa itulah adanya.

Aku menemui mereka dan disambut ramah oleh ibu mertuaku, sedangkan dua sejoli di hadapanku hanya melihat ke arahku sekilas dan kembali menunduk.
“Ini Zean kakaknya Zhoumi dan itu istrinya Dara, mereka baru pulang hari ini jadi tidak menghadiri pernikahan kalian sebulan lalu” ucap ibu mertuaku dan sukses membuat dua sejoli itu menegang.
Aku hanya tersenyum menanggapinya dan memperkenalkan diriku seolah ini pertemuan pertama kami seperti yang diinginkan mertuaku. Kedua orang itu hanya tersenyum canggung menanggapinya.
“Zhoumi, kakakmu dan istrinya akan tinggal bersama kalian disini” Ucap ibu mertuaku yang sukses membuat kedua putranya melotot kaget.
“Tapi bu…” ucap Zhoumi berusaha membantah.
“Tidak ada tapi-tapian sayang, rumah ini sangat luas jadi cukup untuk kalian tinggali berempat, ayolah biarkan mereka tinggal di sini biar kalian makin akrab sebagai saudara” ucap ibu mertuaku dengan senyumnya.

Canggung dan kaku itulah suasana di antara kami berempat sepeninggalan mertuaku, semua sibuk dengan pikiran masing-masing dan tak ada yang mau bicara duluan.
“Aku… aku minta maaf” ucap Zean memulai pembicaraan.
Aku hanya diam saja berusaha tak peduli sedangkan Zhoumi terlihat menatap ke arah kakaknya.
“Sudahlah kak, kita kan keluarga kenapa kita jadi canggung gini sih” ucapnya disertai tawa garing.
Hening… suasana kembali hening
“Ah…. aku benci situasi ini, kak ayo aku antarkan ke kamar kalian, pasti capek kan sudah perjalanan jauh” ucap Zhoumi mengakhiri keheningan sekaligus perkumpulan canggung ini

Dua sejoli itu menuruti ucapan Zhoumi dan ikut bangkit berdiri sedangkan aku hanya diam tak peduli. Sebelum mereka benar-benar pergi dari hadapanku kulihat Dara dan Zean menatap ke arahku. Aku hanya diam tak menanggapi tatapan mereka dan sibuk bermain smartphoneku. Tak berapa lama Zhoumi kembali dan menarik nafas berat, dia mendudukkan dirinya di sampingku sambil menyenderkan kepalanya di pundakku.
“Huh… tadi itu canggung sekali” ucapnya berat.
Aku hanya diam tak menanggapinya karena aku asyik dengan webtoon yang kubaca. Beginilah hubunganku dengannya sebulan masa pernikahan kami, aku tahu dia mencintai wanita lain bahkan dia sendiri yang mengakuinya di hari pernikahan. Aku tak bisa menuntut apapun padanya mengingat dia hanya jadi pria pengganti di pernikahan itu, ketika dia jujur jika dia mencintai wanita lain aku hanya diam dan tersenyum saja meskipun hatiku rasanya sakit yah wanita mana yang tak sakit jika pria yang sudah sah menjadi suaminya dalam beberapa jam mengatakan mencintai wanita lain. Tapi terlepas dari itu harus ku akui Zhoumi orang baik, meskipun dia terpaksa mwnikahiku dia tak pernah kasar padaku yah dia menjadi teman baik bagiku dan bersamanyalah aku bisa bersikap sesukaku tanpa peduli apa kata orang. Kami memang tak jadi pasangan seperti kebanyakan tapi kami berteman dengan baik, skinship diantara kami hanya sebatas berpegangan tangan atau saling bersandar tak lebih dari itu meskipun kami berbagi kamar tidur bersama.

Suasana canggung kembali meliputi di meja makan saat makan malam tiba, tak ada yang berniat memulai pembicaraan dan semua sibuk dengan makanan mereka masing-masing meskipun mata mereka terkadang saling lirik. Aku tak ambil pusing dengan keadaan ini tapi Zhoumi sepertinya sangat tak nyaman dengan keadaan ini.

“Bisakah kita tidak secanggung ini?” tanyanya memulai pembicaraan.
Aku hanya meliriknya sekilas dan melihat ke arah dua sejoli itu yang sepertinya kaget mendengar ucapan Zhoumi.
“Kita akan tinggal bersama mana mungkin kita canggung seperti ini?”
“Maaf… aku hanya bingung memualai pembicaraan darimana” ucap Zean melirik ke arahku.
“Yah kita bisa mulai dari mengomentari rasa makanan yang tersaji di hadapan kita, bukannya kakak suka jadi kritikus makanan?”
“em… makanan ini sangat enak jadi aku tak punya kritikan pada makanan ini” ucap Zean mulai rileks.
“Tentu saja makanan ini enak siapa dulu yang buatnya istriku” Ucap Zhoumi sambil tertawa tapi justru ucapan itu menbuat keadaan canggung lagi.

Dua sejoli itu menatapku dan menjatuhkan sendok mereka, aku menendang kaki Zhoumi agar berhenti tertawa. Zhoumi berhenti tertawa dan menggaruk kepalanya tak gatal, dia semakin frustasi karena suasana malah semakin canggung.

“Baiklah-baiklah mari kita selesaikan masalah ini sekarang” ucapnya memulai pembicaraan lagi.
“Kak masalah kakak dengan Tiana bisakah kita lupakan saja?” tanyanya.
Aku melirik tajam padanya dan mengisyaratkan agar Zhoumi untuk tidak membahasnya tapi Zhomi tak peduli meskipun aku yakin dia tahu dua sejoli yang ada di hadapannya sedang duduk tegang.
“Apa yang kakak lakukan pada Tiana memang salah tapi anggap saja itu masa lalu, Tiana sekarang istriku dan kami bahagia bersama jadi kalian jangan meraa bersalah padanya. Kakak dan Tiana bukan jodoh karena Allah sudah menyiapkan adik tampanmu ini sebagai jodoh Tiana” ucapnya sambil menggenggam tanganku.

Aku tahu dia sedang berakting karena aku tahu dia melakukan ini hanya untuk mencairkan kecanggungan di antara kami. Aku hanya tersenyum mengikuti alur perkataannya meskipun aku berharap yah seandainya saja itu nyata bukan hanya akting belaka.
Zean menatapku begitupun istrinya, mereka sama-sama meminta maaf padaku.

“Hei, sudahlah itu sudah berlalu sejak awal kita kan tidak memiliki hubungan apa-apa dan masalah pernikahan itu Zhoumi benar dialah jodoh yang Allah berikan padaku hanya saja mungkin jalannya tidak biasa” ucapku berusaha tersenyum.

Perlahan suasana di antara kami mencair setelah acara permintaan maaf itu, yah walau bagaimanapun aku tak berhak marah pada mereka meskipun orangtuaku mengatakan jika pertunanganku dan Zean sudah sejak kami kecil tapi tetap saja Daralah yang dicintai Zean. Yah mereka saling mencintai dan tentu saja mereka layak bahagia bukan? Aku hanya tersenyum tipis melihat interaksi Zhoumi dan Zean yang sudah dekat kembali dan ternyata Zhoumi juga mengenal Dara karena Dara adalah karyawan di pabrik textil milik ibu mereka.

Bukankah ini seperti drama? pangeran tampan kaya raya mencinrai wanita sederhana yah ini drama kehidupan yang sayangnya aku bukanlah pemeran utamanya. Aku memutuskan untuk tidur duluan dan meninggalkan mereka yang sedang mengobrol akrab. Hingga tengah malam Zhoumi belum kembali ke kamar, aku terbangun dari tidurku karena mendengar seseorang yang sedang berbicara. Aku berjalan menuju sumber suara dan ternyata itu dari kamar mandi. Aku mendekat hendak membuka pintu tapi aku langsung mematung ketika mendengar suara yang aku pastikan itu Zhoumi.

“Mia… aku mencintaimu dan akan selalu begitu jadi tetaplah di tempat yang dapat kulihat sebelum aku datang untuk menjempetmu, selamat malam sayang” ucap suara itu.

Aku menarik nafas berat yah aku tahu perasaan mereka tapi entah kenapa ada rasa sesak di hatiku ketika mendengar dia menyatakan cintanya pada wanita lain seperti itu. Aku menggeleng menghapus segala pikiran konyol yang membuatku ingin memilikinya. Aku berjalan menjauh dan kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurku.

Pagi hari kecanggungan di antara mereka sudah menguap entah kemana, mereka sudah bercanda gurau sedangkan aku hanya diam saja atau terkadang tersenyum menanggapinya. Aku mulai dekat dengan Dara karena kita sama-sama suka dengan aktivitas merajut, setelah mengenalnya aku tahu kenapa Zean mencintai wanita ini yah Dara orang yang berhati hangat, ceria, manja dan tidak jaim. Kalau dipikir yah sifat kami berbanding terbalik tapi kami cukup nyambung jika bicara ah bukan bicara sebenarnya tapi dia bercerita dan aku mendengarkan.

Suatu hari aku bertemu Mia saat berjalan-jalan dengan Dara dan ternyata mereka saling mengenal. Mia sepertinya bersahabat dekat dengan Dara karena mereka langsung bercerita heboh ketika bertemu dan mengabaikan aku meskipun sesekali Mia menatap sungkan ke arahku. Setelah pertemuan itu Dara menjadi sering membawa Mia ke rumah bahkan menawarkan Mia untuk menjadi pengurus rumah tangga di rumah kami karena Dara hamil muda jadi dia tak bisa bekerja terlalu berat. Dara memohon padaku dan aku hanya mengangguk padanya.

Mia resmi jadi pengurus di rumah kami bersama bi Irah, Dara dan Zean sepertinya sangat senang dengan keberadaan mereka tapi tidak dengan Zhoumi, sejak kedatangan Mia mukanya langsung mengeras entahlah dia marah atau apa tapi dia tak berbicara sedikitpun. Meskipun sudah ada dua pembantu tugas masak masih menjadi tugasku karena di dalam aturan keluargaku meskipun sudah ada pembantu suami harus tetap makan hasil masakan istrinya. Dibantu Dara, Mia dan bi Irah akhirnya kami masak bersama, moment masak bersama seperti ini mengingatkan aku akan suasana rumah ah… yah aku rindu rumahku, rindu kamarku dan rasa sepi di hatiku.

Makan malam, anggota keluarga kami bertambah dua, suasana makan malam terasa dingin buatku, bagaimana tidak dingin ternyata hanya aku orang asing di sini. Yah mereka berlima saling mengenal sebelumnya dan hanya aku orang baru di komunitas ini. Aku hanya tersenyum sesekali selebihnya aku hanya menjadi pendengar dari cerita mereka. Sehabis makan malam aku pamit duluan dengan alasan lelah meninggalkan mereka yang asyik berbagi cerita. Aku membaringkan diri di kasur menyesapi suasana sepi di sekitarku, kesepian yah itu menjadi temanku sehari-hari sejak dulu. Sebelumnya aku tetap bahagia dengan rasa sepiku tapi sekarang setelah aku melihat tawa dan canda orang di sekitarku membuatku mengasihani diriku sendiri.

“Kau sengaja menjadikan Mia pembantu di rumah ini?” tanya Zhoumi saat hanya tinggal kami berdua di rumah.
“Dara yang memintanya” ucapku cuek sambil membaca novelku.
Kalau dihitung-hitung ini pertama kalinya kami bicara berdua sejak kedatangan Zean dan Dara ke kehidupan kami.
“Kalau begitu kenapa kau tidak menolaknya?” tanyanya sedikit membentak.
“Kenapa aku harus menolaknya?”
“Jangan pura-pura bodoh kau tahu arti Mia bagiku apa kau ingin menunjukan perbedaan derajatmu dengan Mia bahwa kau nyonya dan Mia hanya pembantu” ucapnya sambil membentak.

Ini kali pertama ada yang berani berbicara dengan nada membentak seperti dia. Air mataku sudah membasahi pelupuk mataku, aku tak tahu apa sebegitu salahnya aku hingga dia membentakku seperti ini apalagi kata-kata yang diucapkannya benar-benar merendahkanku. Aku tak tertarik untuk berdebat dengannya jadi keputuskan untuk diam saja.

“Kenapa diam? apa dugaanku benar? hah aku tak menyangka jika wanita terhormat sepertimu sanggup melakukan hal rendah seperti itu” ucapnya sinis.
“Jaga ucapanmu, kalau kau tak rela wanitamu menjadi pembantu di rumah ini maka jadikanlah dia ratu di rumah ini” ucapku berusaha sedatar mungkin meskipun rasanya aku ingin menangis dan berteriak padanya.

Zhoumi melotot mendengar ucapanku, dia sudah membuka mulutnya hendak bicara tapi dia urungkan karena Zean dan Dara keburu datang. Aku kembali fokus ke novelku dan mengabaikannya, tidak aku bahkan tidak sanggup membaca satu huruf pun di novelku karena mataku berbayang oleh air mata yang sudah mendesak ingin turun. Aku tak sanggup menahan air mataku lagi jadi kuputuskan untuk membiarkannya mengalir saja. Aku menangis dalam diam di balik buku novel tebal yang menutupi wajahku sedangkan di hadapanku orang-orang itu sedang membahas kehamilan Dara dengan begitu bahagia.

Aku bukan peran antagonis disini tapi kenapa aku merana sendirian? Orang-orang disini yang menjadi keluarga baruku bahagia di hadapanku tapi aku seperti makhluk transparan yang menangis sendiran. Kehamilan Dara menjadi kabar mambahagiakan bahkan ibu mertuaku yang asalnya dingin pada Dara sekarang sangat perhatian padanya.

Pertanyaan tentang kapan aku menyusul hamil seperti Dara pun mengalir dan aku hanya tersenyum menanggapinya. Hubunganku dengan Zhoumi menjadi dingin setelah dia membentakku bahkan sejak hari itu kami belum pernah bicara meskipun kami tidur di kamar yang sama.

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerpen Takdir Jodohku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rapuh (Part 2)

Oleh:
Andre menggotong Tita menuju mobilnya kemudian ia membawa Tita ke rumah sakit yang sering dikunjungi Tita untuk berobat. Sesampainya di rumah sakit Andre langsung menghubungi Papa dan Mama Tita.

Kerikil Cinta

Oleh:
Hari ini hari pertamaku menginjakan kaki di kota pontianak, setelah pengumuman kelulusan tingkat SMU se nasional yang diadakan seminggu yang lalu. Ada rasa senang di hatiku karena sebentar lagi

Persahabatan Yang Adanya Cinta

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku menggunakan pakain abu-abu putih. Sungguh sangat menyenangkan karena masa SMA adalah masa dimana kedewasaan itu dimulai, masa dimana akan mengalami indahnya percintaan dan

Story About Him

Oleh:
– Cinta datang tidak terduga, bahkan kepada siapa kita tidak tahu. Cinta datang dimana saja dan kapan kita tidak tahu. Namun cinta merubah segalanya – Aku masih tidak percaya

Lafadz Cinta di Negeri Sunyi

Oleh:
Coffee maker di pantry itu menggemuruh. Sebentar lagi cappuccino kesukaan Rio akan siap. Selanjutnya, dia akan menuangkannya ke dalam cangkir. Kemudian menaburi bagian atasnya dengan coklat granula dan sedikit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *