Takdir Jodohku (Part 2)

Judul Cerpen Takdir Jodohku (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 18 December 2016

Hari ini perayaan 4 bulanan kehamilan Dara, semua orang sibuk menyambutnya suka cita dan aku pun sibuk di dapur membantu para pelayan. Mertuaku sibuk membanggakan Dara pada teman-temannya karena akan memberinya cucu, aku hanya tersenyum tipis melihatnya yah baru beberapa bulan lalu dia menjelek-jelekan Dara di hadapanku dan sekarang dengan mulut yang sama dia menyanjungnya juga. Miris memang tapi inilah realita hidup bukan? Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Mia yang menatap penuh harap ke arah yang sama denganku.

Aku tersenyum miris melihatnya, karena kehadiranku dia tak bisa seperti Dara, yah semua karenaku ah tidak kenapa karena aku? aku juga tak pernah berharap menjadi penghalang kebahagiaan orang lain. Orangtuaku datang juga ke perayaan ini dan bukannya melepas rindu yang ada mereka mengadili dan mengguruiku karena aku tidak bisa seperti Dara. Di antara kemeriahan perayaan aku hanya berdiri seperti orang asing di tengah orang-orang yang berstatus keluargaku. Ketika orangtuaku akan pulang aku meminta izin untuk ikut mereka tapi Zhoumi melarangnya dan sesuai ajaran aku harus menuruti perintah suamiku.

Aku hanya diam di tengah perayaan ini, seseorang duduk di sampingku dan tersenyum padaku.
“Kenapa duduk di sini sendirian?” tanya Zean.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, terlalu malas rasanya untuk bicara.
“Apa kamu masih marah padaku?” tanyanya.
Aku hanya menatap heran padanya.
“Marah? kenapa aku marah padamu?” tanyaku tak mengerti.
“Soal kepergianku seminggu sebelum pernikahan itu, apa kamu tidak marah padaku?”
“Kita tidak terlalu dekat kenapa aku harus marah?”
“Inilah yang membuatku merasa bersalah, aku mengecewakan semua orang saat itu dan hanya kamu satu-satunya orang yang bersikap biasa saja setelah bertemu lagi denganku, tidak mengutukku, marah padaku bahkan tak ada kemarahan ataupun kebencian di matamu ketika melihatku”
“Lalu aku harus apa? memakimu begitu?” tanyaku heran.
Zean tertawa mendengar ucapanku, aku tak tahu apa yang lucu tapi dia tertawa dan terus berbicara banyak padaku. Dia menatapku sangat lekat lalu menyentuh puncak kepalaku.
“Kamu sangat cantik, cantik sekali aku menyesal tidak mengenalmu lebih awal” ucapnya sedih.
Aku hanya diam mendengar ucapannya, entahlah aku bingung melihat tingkahnya yang tiba-tiba bersikap aneh begitu.
“Kamu pantas bahagia Tiana, jika kamu lelah datanglah padaku” ucapnya sambil berlalu.
Huh… lucu sekali ucapannya, datanglah padaku jika lelah, dia sungguh gila bagaimana tidak, apakah dia tak sadar dialah yang memasukanku ke takdir ini, seandainya yah seandainya orang lain yang bertunangan denganku mungkin aku tak perlu menjalani drama memukan ini.

“Apa yang kau bicarakan dengan kakakku?” tanya Zhoumi
“tidak ada” jawabku malas
“Aku tahu kalian berbicara berdua lama sekali, sampai Dara kelimpungan mencari suaminya. Memangnya apa yang kalian bicarakan hingga selama itu?”
“Tanyakan saja padanya, aku lelah jadi jangan ganggu aku” ucapku sambil berlalu.

Sejak malam itu, Zean menjadi sering mentapku bahkan dia kelimpungan ketika istrinya bertanya apa yang dia lakukan. Zhoumi juga mulai bersikap baik untuk meminta maaf padaku, tapi aku mengabaikan kakak beradik gila yang mengacaukan hidupku. Aku bertekad untuk mundur dari kehidupan gila ini bahkan aku sudah melepaskan cincin nikahku dan tinggal menunggu waktu melepas statusku. Aku juga mulai mendekatkan Mia pada mertuaku yang sering bolak-balik ke rumah menengok menantunya yang hamil. Mia wanita yang luwes, dibantu oleh Dara sebentar saja dia sudah dekat dengan mertuaku bahkan ayah mertuaku bilang jika dia memiliki satu anak lelaki lagi dia tak keberatan jika Mia jadi mantunya. Entahlah rasanya sakit sekali mendengar perkataannya tadi, ‘yah tentu saja gadis itu akan jadi menantu keluarga ini jika aku tak ada’ ucapku miris dalam hati.

“Apa aku makhluk transparan bagimu?” tanya Zhoumi saat aku akan tidur dan melewatinya begitu saja.
“Ah, maaf…” ucapku sekenanya
“Bicaralah padaku, bukankah kita berteman? kenapa lama sekali kau mendiamkanku hanya karena aku membentakmu” gerutunya
Aku menarik nafas menetralkan perasaanku, yah kami berteman dan saatnya aku berbuat baik untuk temanku.
“Baiklah… kau mau membantuku?” tanyaku berusaha bersahabat.
“ckck… butuh bantuan saja baru deh mau ngomong” cibirnya tanpa ada kesinisan di dalamnya.
“ya… kau mau bantu atau tidak?”
“baiklah, apa yang harus kubantu?”
“Ajak Mia berbelanja besok dengan ibumu”
“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.
“Ibumu mengajak kita belanja untuk membeli kado pernikahan anak sahabatnya besok, aku akan pura-pura sakit jadi kau harus mengajak Mia untuk menggantikanku”
“Kenapa kau melakukan itu?” tanyanya heran.
“Yah tentu saja untuk lebih mengakrabkam mereka”
“Kenapa harus mengakrabkan mereka?”
“Yah… kenapa kau jadi bodoh begini? Apa efek tidak berbicara padaku mengecilkan volume otakmu? oh ya ampun kau ini… kau tahu aku mendekatkan mereka tentu saja untuk membantumu, Mia akan jadi mantu mereka kan? jadi kita harus mendekatkan mereka agar orangtuamu menyukainya jadi saat kita berpisah mereka akan langsung setuju jika kau mau menikahi Mia karena mereka sudah menyukai Mia sejak sebelumnya”
Zhoumi hanya diam tak berkomentar dan membaringkan tubuhnya membelakangiku.
“Bagaimana kau setuju tidak membantuku?” tanyaku
Zhoumi hanya diam saja.
“Aish… dasar tidak sopan dia yang memintaku bicara padanya dan sekarang dia yang mengabaikanku”

Paginya setelah baikan dengan Zhoumi, dia kembali merecoki di dapur, aku berusaha mengabaikan sikapnya yang tiba-tiba mendadak manja seperti anak 5 tahun. Dia terus bergelyutan manja di punggungku meskipun berulang kali aku melepaskannya, bukan apa-apa di rumah ini bukan hanya ada aku dan dia tapi ada mereka juga sedang memandang risih ke arah kami. Aku tak tahu ada apa dengan dia hanya karena aku membahas apa yang aku tawarkan tadi malam eh dia malah jadi begini.

“Nah baby boyku sekarang duduk” ucapku pada koala yang dari tadi namplok di punggungku.
Dara tertawa mendengar ucapanku tapi 3 orang lainnya hanya diam tak merespon. Selama sarapan Zhoumi juga terus ngoceh kagak jelas hingga terpaksa aku jejeli mulutnya dengan makanan agar dia diam, tapi orang berpikir mungkin aku terlihat seperti sedang menyuapinya. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Zhoumi yang mendadak seperti ini dan juga cincin kawinku yang entah siapa yang pasang telah melingkar lagi di jari manisku. Ketika ibu mertuaku datang belum aku sempat bicara Zhoumi sudah menarikku untuk siap-siap.

“Yah kau ini kenapa? kesambet?” tanyaku heran.
“Sudahlah tak ada waktu berdebat” ucapnya sambil mendorongku agar segera ganti baju.

Selama belanja tangan Zhoumi terus saja bertengger di pinggangku, aku terus-terusan melepaskan tangannya tapi dia malah tersenyum dan kembali menyimpan tangannya di pinggangku. Aku hanya menghela nafas melihat tingkahnya, di saat aku akan mundur dia malah bersikap seperti ini dan membuat hatiku kembali serakah ingin memilikinya. Melihat matanya yang menatapku dan senyumannya yang tertuju padaku sukses membuat hatiku menghangat yah harus kuakui aku menyukainya, menyukai senyum dan tatapan matanya yang tertuju padaku seperti saat ini hanya saja yah aku harus kembali ke kenyataan jika aku tidak akan pernah memiliki dia seutuhnya.

“Kenapa kau bersikap aneh seperti ini sejak tadi?” tanyaku ketika berjalan menuju rumah.
“aneh seperti apa?” tanyanya sambil mengayunkan tangan kami yang bertautan sejak tadi.
“Yah seperti ini, berpegangan tangan bermanja-manja itu seperti bukan kau”
“Memangnya apa salahnya suami bermanja-manja pada istrinya? itu wajar kan?” tanyanya sambil memandangku.
Aku melepaskan genggaman tangannya dan berhenti berjalan.
“Kita sama-sama tahu hubungan apa yang kita miliki, jadi hentikan ini tidak lucu” ucapku ketus.
“yah kenapa marah, kita kan memang suami istri, jadi gak apa-apa dong aku bermanja-manja padamu” ucapnya menggodaku.
“Zhoumi hentikan…”
“Yah aku suamimu dan 3 tahun lebih tua darimu, masa kau hanya memanggilku nama saja.” gerutunya.
“Sudahlah itu tak penting, sekarang sebaiknya kau fokus saja pada tujuan kita, kau harus lebih mengakrabkan Mia dengan keluargamu hingga dia bisa diterima jadi mantu di keluargamu setelah kita berpisah”
“Apa maksud dari perkataanmu?” tanya Zhoumi dengan raut wajah mengeras.
“Mari kita akhiri semua lebih cepat, dan kembalilah pada wanitamu” ucapku tercekat.
“Akhiri? apa yang harus diakhiri?” tanyanya tajam.
“Yah tentu saja pernikahan kita apalagi”
“Tidak akan ada yang berakhir di antara kita termasuk pernikahan kita”
“Kau tidak boleh egois, sampai kapan kita akan begini kau menikah denganku tapi mencintai Mia, apa kau tidak kasihan padanya?”
“Berhenti membawa nama orang lain di perbincangan kita, aku tak ingin membahas hal ini lagi” ucapnya sambil berlalu.
“Kita harus membahasnya dan segera mengakhiri semua ini” teriakku.
“Tak akan ada yang akan kita akhiri” ucapnya sambil kembali ke hadapanku.
“Apa salahku padamu? hingga kau ingin terus menyiksaku seperti ini?” tanyaku mulai parau.
“Aku tak bermaksud menyiksamu, aku justru ingin mengajakmu memulainya dari awal bersama-sama hanya kau dan aku” ucapnya sambil menagkap pipiku.
“Hentikan, kumohon kau sudah keterlaluan” ucapku mulai terisak.
“Aku serius, bukan ingin mempermainkanmu”
“Hentikan!!! jangan pernah mengatakan omong kosong yang tak bisa kau pertanggung jawabkan” ucapku melepaskan diri darinya.
“Aku tidak bicara omong kosong, aku tak bisa mengakhiri ini karena kurasa aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu”
Aku mematung mendengar ucapannya, air mataku tak bisa kubendung lagi, bagaimana mungkin dia mempermainkanku hingga sejauh ini, apa dia tidak tahu pernyataan cinta adalah hal sensitif bagi wanita.
“Pembohong…” ucapku sinis.
“Aku serius Tiana AKU MENCINTAIMU” teriaknya.
“HENTIKAN… mana mungkin kau mencintaiku, jelas-jelas beberapa bulan lalu kau membentakku karena aku memperkerjakan wanitamu” ucapku dingin.
Zhoumi terus bicara jika dia mencintaiku dan meyakinkan pernyataannya dengan segala perasaan yang dia raakan saat bersamaku, tapi aku berusaha untuk tak peduli dan pura-pura tuli. Sejujurnya hatiku begitu bahagia jika dia benar-benar mencintaiku tapi pada kenyataannya itu semua dusta belaka beberapa hari lalu bahkan aku masih melihatnya saling menatap dan berbicara berdua dengan Mia mana mungkin aku percaya sekarang dia tiba-tiba menyatakan mencintaiku.

Aku terus berjalan menuju rumah dengan linangan air mata dan langsung masuk ke kamarku, aku tak menghiraukan orang-orang rumah yang menatap aneh ke arahku. Aku menangis di balik selimut sendirian, melampiaskan rasa sesak yang menyerang dadaku.
“Dia istriku, wanitaku jadi jangan ikut campur” itulah kata yang kudengar dari sayup-sayup pertengkaran di luar, aku tak tahu kenapa mereka bertengkar tapi aku tak terlalu peduli karena aku lelah yah terlalu lelah untuk bisa memikirkan hal lain. Aku menutup mataku menghapus kejadian berat yang terjadi hari ini dengan tidur.

Pagi hari suasana sarapan begitu dingin, aku tak tahu apa yang terjadi tadi malam hingga Zean dan Zhoumi saling tatap dengan tatapan marah dan Dara tampil dengan mata sembab yang menunduk sejak tadi. Mia dan si bibi juga diam menunduk, yah mereka tinggal di sini pastilah mereka tahu yang terjadi tadi malam. Aku melirik mereka satu persatu, kebetulan Zean sedang menatapku jadi sepersekian detik kami saling menatap sampai suara sendok yang dijatuhkan Zhoumi mengalihkan perhatianku.
Zhoumi menarikku berdiri, dan menggenggam tanganku.

“Wanita ini miliku, jadi berhenti memperhatikannya” ucapnya sinis.
Aku tak mengerti maksud ucapannya, tapi melihat suasana yang tak bersahabat aku tak berani bertanya. Zhoumi menarikku untuk masuk kamar dan menyuruhku untuk mengemasi barang-barang kami ke dalam tas.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanyaku berusaha sebersahabat mungkin.
“Kita akan pindah, kita tak bisa lagi tinggal bersama mereka di sini” ucap Zhomi sambil mengeluarkan barang-barangnya dari lemari.
“Kenapa?”
“Kenapa? kau ingin tahu alasannya?”
Aku refleks mengangguk.
“Alasannya karena aku tak ingin istriku tinggal seatap dengan pria yang tertarik padanya juga dengan wanita yang membuatnya tak percaya padaku” ucapnya dingin.
Aku menatapnya tak mengerti tapi dia tak peduli dan memasukan barang-barangmya asal ke koper. Aku menarik tangannya untuk berhenti dan membimbingnya untuk duduk berhadapan denganku.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku lembut.
Zhoumi menatapku lalu menarikku ke pelukannya, setelah selesai menelukku dia menghujani wajahku dengan ciuman lalu kembali memeluku. Aku hanya bengong menerima perilaku anehnya, lama kami berpelukan sampai akhirnya dia melepaskan pelukannya dan mencium bibirku sekilas. Aku terbelak tapi tak berani berkomentar karena melihat wajahnya yang terlihat lelah. Dia kembali mendekatkan tubuhnya padaku dan meletakkan kepalanya di pundakku.
“Tiana… Percayalah padaku apapun yang aku katakan aku nencintaimu” ucapnya lirih.
Aku hanya diam saja membiarkan dia bertindak semaunya meskipun aku penasaran setengah mati akan apa yang terjadi tadi malam. Zhoumi kembali menarik nafas berat dan menatap ke arahku sebelum akhirnya dia mulai bercerita. Semalam saat aku sudah masuk kamar dia bertengkar dengan kakaknya dan saat dalam keadaan sama-sama emosi Zean mengakui jika dia menyukaiku dan tak sanggup merelakan aku untuk Zhoumi. Zean juga mengaku jika kedatangan Mia ke rumah ini juga rencananya untuk menguji Zhoumi. Zean menyesal telah mencampakan aku demi Dara tanpa sempat mengenaliku terlebih dahulu.

Zhoumi menidurkan kepalanya di pahaku sambil bercerita, dia juga mengatakan Mia memang benar wanita yang pernah dia cintai tapi rasa cintanya luntur begitu saja setelah Mia tinggal bersamanya disini. Saat Mia yang selalu dia lihat dari jauh ada di depan matanya justru hatinys malah ketar-ketir karena aku memperlakukannya seperti makhluk transparan dan tak mau bicara dengannya karena insiden pembentakan itu ditambah lagi dia sering melihat Zean memandangiku dari jauh membuat hatinya semakin panas.

Dia terus bercerita mencurahkan isi hatinya padaku entahlah aku percaya atau tidak dengan ucapannya tapi hati kecilku menyuruhku untuk percaya padanya jadi kuputuskan membiarkan waktu saja yang menjawab kebenaran ucapannya. Dia terus bercerita termasuk tentang hubungannya dengan Mia yang tak pernah berstatus apapun meskipun sering mengucapkan kata cinta. Dia terus bercerita sambil tiduran di pelukanku hingga suara ketukan pintu mengganggu kegitan kami.

Mia berdiri di ambang pintu sambil menunduk, dengan terbata-bata dia minta maaf padaku karena sudah membuat kesalahpahaman antara aku dan Zhoumi. Aku hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Mia, sudah kukatakankan jika Mia gadis cantik dan tentu saja aku tak tega memarahinya lagipula dia tak salah apapun karena akulah orang ketiga yang sebenarnya tap sekali lagi takdirlah yang membuat kami dalam keadaan ini. Tak berapa lama Mia pergi pintu kembali di ketuk.

Zean dan Dara berdiri di hadapanku dan Zhoumi langsung lompat memeluk pinggangku, Zean juga pamit dan minta maaf karena dia akan tinggal sementara di rumah mertuanya untuk menyambut kelahiran anak pertamanya. Aku mencegah kepergian mereka sedangkan Zhoumi aku tebak masih kesal pasa kakaknya jadi dia tak berkata apa-apa. Seperti mengerti keadaan Zhoumi, Zean akhirnya langsung pamit pergi. Kini tinggal kami berdua ah tidak juga sih karena masih ada si bibi yang ada di dapur.

Zhoumi memandang ke arahku dan mengecupku singkat, ah entahlah bagaimana perasaanku sekarang terlalu rumit untuk dijelaskan namun yang pasti aku akan berusaha percaya pada Zhoumi, suamiku sekalligus keluarga baruku. Aku tak tahu pilihan ini benar atau tidak tapi aku akan berusaha percaya takdir akan membimbingku ke jalan yang benar terlepas dari jalan terjal yang menyakitkan akan menyiksa jiwa dan raga.

THE END

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerita Takdir Jodohku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jooo, Samijo

Oleh:
“Joo…” suara mesra terdengar. “Ya, Mi…” Jo menjawab sambil tetap menyantap pecel lele kesukaannya. “Jo, kamu tahu. Mmm… sudah lama aku menaruh perhatian dan tertarik sama kamu. Kamu mau

Wanna Be With You

Oleh:
Setangkai mawar tak akan pernah menjadi setangkai melati. Tapi apa mungkin hatimu akan berubah menjadi milikku? Entahlah, aku tak tahu. Biarlah waktu yang akan menjawabnya – Erza “Kenapa?” Suara

My First Love

Oleh:
Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan. Sebab cinta tidak datang dari bibir, lidah atau pikiran, melainkan hati. DEAR DIARY Aku ingin merasakan cinta yang sebenarnya Aku ingin merasakan

Me And You

Oleh:
Di sini aku berdiri, menatap indahnya langit dan bumi. Di sini aku memulai semuanya. Di sini aku mendapat banyak pelajaran berharga. Di sini juga aku bertemu mereka berdua. Dua

Ayah Atau Pacar

Oleh:
Nama gue Tyas, tahun ini usia gue 23 tahun. Gue kuliah jurusan hukum semester 7. Tadi waktu di kampus, dosen ngasih tugas ke kami untuk membuat sebuah makalah tentang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Takdir Jodohku (Part 2)”

  1. Zhen Ni says:

    Kalau sudah baca cerpen karya kakak itu seperti kisah nyata dan bisa mempermainkan emosi. Terus berkarya ya kak, biar aku bisa baca :v

  2. fika says:

    aku selalu suka dengan cerita-cerita Kak Nina… Di tunggu karya terbarunya 🙂

  3. Rina says:

    Gilakkk.. Benerbener kalo cerpen buatan nina best bangett…

  4. Nana says:

    Bagus cerpennya, aku suka

  5. siti zahra says:

    cerpen kakak bagus banget aku suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *