Terima Kasih Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 30 June 2015

“Jujur. Terkadang melakukannya adalah sebuah keharusan. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku melakukannya”.

Itu adalah kata pembuka yang sangat tidak asik untuk didengarkan saat senja yang indah itu akan menghilang dari langit kemerahan.
Kami sama-sama hanya diam menatap hamparan laut yang luas tanpa batas itu, berharap waktu berhenti agar percakapan menyakitkan ini tidak terjadi. Namun Adjie membuat lamunan ku terhenti.

“Kejujuran apa? Jangan bilang kamu itu sebenarnya adalah bidadari dari surga dan sekarang kamu harus kembali ke kayangan dan meninggalkan aku disini. Yah, aku jadi sedih dong gak akan ada teman berdebat hal spele lagi.”

Kata-kata yang khas, ucapan yang manis dan selalu saja ekspresi lucu di wajahnya yang tenang dan dewasa itu mampu membiusku untuk tersenyum tulus kepadanya. Dia, Adjie Saputra. Orang yang sangat jail yang pernah aku kenal, dia jarang sekali serius kalau diajak bicara. Aku kadang kewalahan meladeni tingkahnya yang lucu dan jail itu. Dia yang membuat wajah ini selalu tersenyum, dia yang selalu membuat hati ini tenang dan dia yang membuat aku sadar rasa ini hadir untuknya. Adjie sosok sahabat yang baik dan juga bisa merangkap sebagai kakak bahkan supir… hahaha. Tergantung kebutuhan, Adjie selalu bisa menjadi apa saja untukku.

“Bukan. Bukan itu yang mau aku bilang Ji. Tapi, aku mau bilang kalo sebenarnya aku belum mandi. Puas?!!!”

“Tuh kan, pantes aja dari tadi pas aku jemput kamu sampai kesini agak gak enak sih baunya. Tapi syukurlah kamu sudah jujur ke aku. Makasi ya, aku gak jadi kehilangan bidadari aku deh.”

“Adjie… Kapan sih kamu bisa serius kalo ngomong sama aku?”
“Tunggu sampai tinggi kamu bisa ngalahin tinggi aku dulu. Bisa? Yah payah ah.. pasti gak bisa lah ya. Sejak kapan Faya nya Adjie bisa tinggi.”

Faya Anastasia. Itu nama aku. Iya aku memang kurang dalam hal ukuran badan apalagi kalo dibandingin sama ukuran badannya Adjie yang tinggi dan kurus itu.

“Aku udah beli obat peninggi badan kok. Tunggu aja nanti aku kalahin tingginya kamu.”
“Oh ya? Obatnya mempan gitu?”
“Mempan lah. Kamu tunggu aja nanti aku kalahin tingginya kamu.”
“Emang udah minum berapa kali?”
“Emm… baru semalem sih.”
“Ya ampun Faya.. selalu aja ya. Kalo mau tinggi itu olahraga, gak pake obat-obat gitu. Nanti kalo kamu over dosis gimana? Terus itu belinya emang dimana? Pasti di online shop yang kamu lihat-lihat kemarin kan? Itu gak ada jaminan kesehatannya Fay. Aneh-aneh aja ah.”

Ini adalah salah satu hal yang membuat aku sadar ketika rasa ini hadir, perhatiannya. Adjie kalo diikutin ajang pencarian cowok paling perhatian sedunia, aku jamin dia bakalan menang. Sikap dewasanya dan bagaimana cara memperlakukan seseorang yang disebut wanita gak diraguin lagi. Adjie sangat menghargai dan menyayangi wanita yang ada di sekelilingnya. Semenjak ia ditinggal Ayahnya 10 tahun silam, Adjie memang hanya tinggal dengan Ibunya, karena itu ia selalu menjaga dan menyayangi wanita satu-satunya yang ia miliki saat ini.

“Iya bawel, ah.”
“Itu tadi katanya mau ngomong jujur, kamu seriusan mau ngomong itu?”
“Iya serius.”
“Duhduhduh.. Faya nya Adjie cemberut. Senyum dong.”
“Gak ah, udah males. Dibecandain mulu deh.”

Kriiinnggg… Kringgg…

“Tunggu sebentar ya Fay, aku angkat telpon dulu.”
“He’em.”

Tanpa menanyakan siapa yang menelponnya kepada Adjie, aku sudah cukup tau itu dari siapa. Ya siapa lagi kalo bukan dari Dila, pacarnya Adjie. Iya, Adjie memang sudah punya pacar. Hal ini juga yang membuat aku ingin hilang kesadaran ketika selesai menerjemahkan rasa itu. Adjie sangat menyayangi Dila. Bahkan dulu ketika mereka sempat berpisah, Adjie dengan sabar menunggu Dila dan memperjuangkan Dila untuk kembali dengannya. Dila selalu mempunyai kesempatan untuk memiliki Adjie seutuhnya sementara aku, aku gak akan pernah bisa mendapatkan kesempatan merasakan bagamaimana rasanya dicintai dengan sebegitu besarnya.

“Daaarrr!!! Yang ngelamun disamber gledek baru tau rasa.”
“Apaan sih, Ji. Anak SD banget tau.”
“Ih, sinis amat.”
“Biarin deh. Eh.. itu muka kenapa? Asinnya ngalahin air laut itu deh.”
“Ih bilang-bilang asin emang pernah nyicipin muka aku?”
“Muka kamu itu diliat aja emang udah asin, Adjie. Udah deh gak usah ngalihin omongan, Dila kenapa lagi?”
“Yee.. kok kamu tau yang nelpon itu Dila? Emm pasti nguping ya? Ngakuu deh.”
“Adjie, aku udah berapa lama sih kenal kamu? Tanpa aku nguping, aku udah tau itu pasti telpon dari Dila pacar tersayang kamu itu.”
“Emm iya deh iya Faya si peramal yang lagi cemburu.”
“Ih siapa yang jadi peramal? dan siapa juga yang lagi cemburu.”
“Kalo marah berarti cemburu.”
“Ji… kamu lagi gak pengen cerita apa-apa sama aku?”

Adjie hanya bisa diam. Sekali lagi memalingkan wajahnya menjauh agar tidak bertatapan dengan ku. Melihat laut dan langit yang semakin gelap di sore itu. Aku dan Adjie selalu senang menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar duduk melihat senja itu hilang dari cakrawala dan mendengar hempasan ombak yang sedikit-sedikit mengenai kaki kami.
Adjie selalu bisa menyembunyikan ceritanya, tapi dia gak akan pernah bisa menyembunyikan keresahannya yang selalu gampang terlihat di wajah tenangnya itu. Karena itu aku selalu bisa menebak jika Adjie sedang sedih dan ia selalu saja menyebut aku dengan sebutan “peramal”.

“Adjie…”
“Aku gak apa-apa kok Fay.”
“Ji.. aku tanpa kamu minta selalu cerita tentang ini itu, senang dan sedih. Rasanya gak adil kalo kamu gak pernah mau cerita sama aku. Teman macam apa aku yang gak pernah bisa ada saat temannya sedih walaupun hanya sekedar menjadi pendengar.”
“Kamu ngomong apaan sih, Fay. Kamu sekarang ada di sebelah aku. Itu artinya kamu ada buat aku, saat aku sedih juga kamu selalu ada.”
“Tapi kamu gak ngomong kamu sedih kenapa. Kamu gak mau ceritain itu ke aku.”
“Fay, kamu selalu tau kapan aku ngerasa sedih. Aku yakin tanpa aku cerita kamu pasti tau apa alasannya. Kamu kan peramal jitu.”
“Tapi peramal juga manusia kan? Bisa aja salah ngeramal dan pasti butuh penjelasan juga.”
“Aku yakin kamu peramal yang gak pernah salah Fay. Kamu selalu benar. Fay, aku rasanya pengen tidur dan gak bangun-bangun lagi deh.”
“Kamu ngomong apa sih Ji. Gak lucu tau.”
“Aku seperti orang yang terkubur, Fay.”
“Kamu ke kubur dimana sih? Sini aku gali.”
“Fay, pernah gak sih kamu ngerasain diabaikan oleh kesempatan? Sia-sia rasanya memiliki kesempatan tapi gak sesuai dengan pengharapan. Kadang hidup ini gak adil ya?”
“Bukan hidup yang gak adil, tapi kita sebagai yang menjalani hidup yang gak bisa bersikap adil dengan hidup kita. Kita adalah penentu hidup kita akan seperti apa walau sang Sutradara sudah merencanakan. Kamu yang membuat diri kamu diperlakukan tidak adil oleh hidup.”

Sebenarnya Adjie benar, tanpa ia cerita aku selalu tau apa alasan wajah tenangnya itu bisa berubah seketika. Aku selalu mengerti dia. Aku memang tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahuinya secara utuh. Dia hanya akan bisa bersedih ketika merasa sakit dengan orang yang ia sayangi, tepatnya sangat ia sayangi.

“Fay.”
Tiba-tiba saja Adjie memalingkan wajahnya dan menatap lurus kepadaku. Matanya benar-benar berbicara dalam, sangat dalam. Ia menatapku penuh arti seakan meminta jawaban dengan segera.
“Iya…”

Tatapan mata Adjie gak seperti biasanya, seperti ada sebuah rahasia dan pertanyaan yang akan tersampaikan melalui mata itu. Tapi apa? Malah aku yang sekarang bertanya. Apa arti tatapan itu Ji? Jelaskan secepatnya.

Warna kemerahan langit sudah hilang dengan sempurna, digantikan dengan titik-titik kecil terang yang mulai bermunculan menambah kesunyian malam ini. Udara semakin dingin, masuk hingga ke tulang yang dilapisi sedikit daging dan kulit ini. Tatapan itu juga semakin dingin terasa di hati. Adjie masih diam dan terus menatapku. Tanpa mempedulikan sekeliling ia seperti perenang profesional yang terus menyelami setiap titik di mataku.

“Faya gak mau ngomong jujur lagi?”
“Tadi aku udah jujur kan, aku belum mandi.”
“Aku tau, sebenarnya bukan itu yang Faya mau bilang. Sekarang aku gak perlu nunggu Faya tinggi dulu buat bisa serius karena aku tau itu bakalan lama banget terjadinya. Hehe.. Faya tadi mau jujur apa ke Adjie? udah siap nih.”

Wajah itu lagi-lagi dengan tenangnya berkata seperti itu. Itu adalah kata-kata terserius yang pernah Adjie ucapkan, walaupun tetap ngolokin aku sih. Mata itu semakin memberontak menagih jawaban dengan cepat.

“Faya takut.”
“Fay, aku gak akan berubah jadi macam hutan yang suka sama daging tipis kamu itu.”
“Adjie kalo masih ngolok aku, aku gak akan mau ngomong.”
“Yah anak SD banget sih. Iya deh iya.”
“Oke, aku jujur sekarang. Mungkin udah waktu yang tepat.”

Adjie sedikitpun gak memalingkan wajahya dari wajahku.

“Aku suka sama kamu. Aku suka cara kamu tertawa, aku suka cara kamu senyum, aku suka cara kamu jailin dan godain aku. Semakin lama yang lainnya datang. Aku sayang sama kamu. Aku sayang dengan wajah tenang kamu, aku sayang dengan wajah khawatir kamu, aku sayang dengan segala perhatian dan segala cara kamu memperlakukan aku dengan istimewa. Semakin jauh yang aku takutnya akhirnya muncul. Faya minta maaf sama Adjie, tapi aku cinta sama kamu. Aku mencintai kamu tanpa alasan apapun.”

Ya Tuhan, apa yang baru saja aku katakan? Aku baru saja terjun dari atas tebing curam. Faya, apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu baru saja mengutarakan kata cinta kepada sahabatmu sendiri dan kepada seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih?
Ombak bawa aku, bawa aku hanyut ke tengah lautmu sekarang juga.

“Sejak kapan Fay?”
“Aku gak tau. Aku sendiri yang merasakan gak tau. Maafin aku.”
“Maaf untuk apa?”
“Karena sudah mencintai kamu.”
“Gak pernah ada kata maaf karena mencintai, Fay. Apa rasa ini sudah ada sebelum aku memutuskan kembali dengan Dila?”
“Sudah jauh sebelum itu.”
“Lalu kenapa kamu diam?”
“Aku pernah belajar akan apa arti sebuah kata cukup dan aku memutuskan merasa cukup hanya dengan menjadi sahabat dan orang yang selalu ada di sisi kamu tanpa melalui hubungan istimewa”.

Jawaban ku membuat Adjie memalingkan wajahnya. Kembali menatap hamparan laut yang membentang tanpa ujung seperti apa yang ada dalam pikiran aji saat ini, tak berujung.

“Fay, coba jelaskan apa maksud kamu sudah merasa cukup? Bukannya jika kita mencintai seseorang kita harus memperjuangkannya? seperti aku memperjuangkan Dila?”
“Adjie, kamu saat itu memperjuangkan Dila, lalu apa sepantasnya aku memperjuangkan seseorang yang tidak memperjuangkan aku tapi memperjuangkan seseorang bukan aku?”
“Aku semakin gak paham dengan apa yang kamu bicarakan Fay.”
“Adjie, kadang lebih indah rasanya hanya menerka dan meraba bagaimana rasanya disayangi dan dicintai orang seperti kamu. Aku sudah memutuskan untuk cukup hanya sekedar menerka tidak untuk memiliki karena aku takut kecewa jika pada akhirnya kamu tidak memilih aku dan semua khayalan istimewa aku tentang kita hilang begitu saja. Dalam banyak kesempatan jauh lebih menyenangkan mengenang sesuatu yang sepantasnya terjadi tapi kita tidak membuatnya terjadi, meski kita bisa dengan mudah membuatnya terjadi.”

Adjie kembali hanya terdiam mencoba mengartikan segala ucapan yang aku keluarkan.
Ia hanya menatap kosong. Aku bingung, kenapa tiba-tiba Adjie seolah-olah berharap dulu aku mencegah hubungannya dengan Dila kembali? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Kalo kamu dikasi kesempatan untuk merasakan dengan nyata disayangi dan dicintai oleh aku, apa kamu mau?”
“Aku gak mau Ji.”

Aku menjawab dengan pasti jawaban ini. Karena aku yakin jawaban ini adalah yang paling benar untuk saat ini dan esok. Namun jawaban ini membuat Adjie heran.

“Loh, kamu sebenarnya cinta sama kau apa gak sih Fay? Kamu mempermainkan aku?”
“Adjie, kamu bukan monopoli yang bisa aku mainin dan kalo beruntung dapat kartu kesempatan dari kamu. Aku sudah bilang, aku sudah merasa cukup dengan semuanya dan aku gak membuat kesempatan aku untuk bisa merasakan disayangi dan dicintai kamu menjadi nyata. Aku cukup mengharapkannya dan mengenangnya dengan istimewa.”
“Apa kamu gak merasa sakit melihat aku sama Dila selama ini?”
“Hanya patung yang tidak merasakan itu Ji. Tapi aku belajar satu hal, Melepaskan pergi sesuatu atau seseorang itu memang menyakitkan, tapi ketahuilah bertahan denganya boleh jadi berkali-kali lebih menyakitkan.”

Aku sesungguhnya sudah ingin menangis mengatakan segalanya. Sekian lama aku menyaksikan kebersamaan Adjie dengan Dila, sekian lama aku hanya bisa menatap tanpa memiliki, dan sekian lama aku merasakan sakit ini sendiri berusaha berdamai dan mengenang Adjie menjadi yang terindah dan sekarang aku membuka luka lama itu kembali.

“Aku juga belajar akan satu hal Ji, aku belajar untuk melepaskan maka hati menjadi tenang lalu aku belajar melepaskan lalu berdoa yang lebih baik kan datang.”
“Jadi sekarang kamu mengharapkan yang lebih baik dari pada aku. Berarti kamu gak benar-benar mencintai aku Fay.”
“Terkadang perempuan itu lebih baik bersama orang yang menyayanginya dari pada bersama orang yang dia sayangi.”
“Tapi aku juga sayang sama kamu Faya, bahkan… bahkan aku juga cinta sama kamu.”
BYUUURRR!!!

Entah dari mana langit yang tadinya cerah beribu bintang seketika menurunkan hujan di malam itu dan di pantai itu. Aku seakan membeku mendengarkan pernyataan yang baru saja dikatakan Adjie. Apa yang baru saja ia katakan? Ia mencintaiku juga? Tidak- tidak mungkin. Lalu selama ini, dia tidak mencintai Dila? Aku semakin tidak mengerti.

“Maksud kamu apa Ji? Lalu Dila?”
“Semenjak kepergian Dila dan aku mulai mengenal kamu lebih jauh, aku berharap kamu pengganti Dila untuk aku Fay. Aku nyaman ketika sama kamu. Aku selalu berharap waktu berhenti disitu dan membiarkan aku bersama kamu. Kamu seakan menggali tempat aku mengubur diri bersama dengan semua kenangan aku dan Dila. Tapi lama kelamaan kamu mengubur ku kembali disitu sebelum aku sempat bangkit dan berdiri di hadapanmu. Melihat hal itu aku pasrah Fay, aku diam dan akhirnya memutuskan memanggil Dila untuk menggalinya. Seandainya aku tau kamu masih sanggup menggalinya, aku akan bahagia mempertahankan kamu Fay.”
“Kamu kurang sabar menunggu aku Ji. Karena yang ada dalam benak mu saat itu hanya Dila yang mampu, bukan aku. Sekarang semuanya sudah terjadi. Kamu telah memilih Dila dan aku sudah memutuskan untuk cukup.”
“Tapi Fay, gak segampang itu”.
“Ji.. waktu itu selalu berbaik hati. Serahkan saja semuanya kepada waktu.”

Hujan dan pantai itu menjadi saksi ketika keputusan itu sudah diucapkan itu tandanya pilihan itu sudah dibuat dan harus dijalankan. Kita adalah penentu hidup ini akan adil atau tidak untuk kita. Dan saat ini aku sudah merasa hidup ini adil karena memberi aku waktu untuk membuat keputusan mengungkapkan segala kejujuran tentang perasaanku. Kini aku semakin ikhlas melepasnya dan semakin yakin untuk memutuskan cukup bersamanya.
Terima kasih waktu yang selalu berbaik hati.

Cerpen Karangan: Resti Annisa Anatasya
Facebook: nisaanatasya / Resti Annisa Anatasya

Hai..
Aku Resti Annisa Anatasya..
ini adalah cerpen pertamaku, tapi banyak tulisan juga yang sudah aku buat. Masih terbilang amatir memang.
Kalo berminat, silahkan mampir aja di blog ku http://nisanatasya.blogspot.com .
Kalo mau tanya-tanya boleh langsung via line: nisaanatasya facebook: Resti Annisa Anatasya atau twitter: @nisanees.
Terima Kasih. Semangat Penulis!

Cerpen Terima Kasih Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
Namaku Fadara Anastasha. Semua orang sering memanggilku Dara. Aku ditakdirkan menjadi wanita yang memiliki kekurangan. Aku Lumpuh sejak lahir dan tidak akan bisa berjalan selamanya. Entah kenapa aku sangat

But I Love You

Oleh:
Ayu’s POV Aku menyibak tirai kamarku lalu kubuka jendela kamarku. Aku memandang ke luar, tepatnya ke arah kamar Adin yang ada di seberang kamarku. Kami bertetangga sejak kecil. Dan..

Because of Love (Part 1)

Oleh:
Ketika engkau membuatku jatuh cinta, Engkau mengajariku keindahan dari keceriaan, Mengajariku cara menikmati matahari tenggelam, Cara meresapi kemerduan dari kerinduan, Dan cara tersenyum, tertawa dalam kebersamaan. Tetapi saat engkau

Istri Yang Tersakiti

Oleh:
Hay namaku Eka aku berusia 22 tahun saat ini aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Saat ini hidupku memang berkecukupan tapi kurasa kebahagiaan ini kurang

Anakku Bukan Anakku (Part 1)

Oleh:
Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *