The Crazy Boy (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Gokil, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 April 2019

Aku mendengar samar-samar ada orang yang sedang bernyanyi dengan suara pelan, dan… sangat merdu. Rasanya nyaman banget, dan lagunya juga asyik.
Oh Tuhan… kucinta dia
kusayang dia
kurindu dia
inginkan dia…
utuhkanlah rasa cinta di hatiku…
hanya padanya..
untuk dia..
Aku menggeliatkan kepalaku, aduhh… suaranya kayak suara malaikat, dan dinyanyikan dengan penuh penghayatan.

“Udah, bangun. Nanti ilermu nempel di bajuku” dan suara tenang itu merusak segalanya.
Aku setengah kaget, serta merta aku langsung menegakkan kepalaku dan mengucek-ngucek mataku. Ini malu-maluin. Sumpah!! Ternyata dari tadi aku tidur di bahu si ninja gila, dan dia sudah bangun. Dan suara yang tadi itu… ah, mungkin cuma mimpi.
“Sudah puas tidurnya? Dasar tukang tidur! Kalo mau tidur sembarangan bawa bantal aja atau sekalian sama bedcover-nya” ishhh… dasar. Kan dia yang duluan nyender-nyender di bahu orang, kok skarang jadi aku yang salah..?
Udah-udah momennya nggak usah dilanjutin, sebbbelll.

“Hey iler… mau ke mana?” aku berbalik dengan wajah kesal, ngapain sih dia manggil-manggil aku iler di depan banyak orang. Jadi malu kan.
“Bukan urusanmu, rambut ketek!” ketusku. Dia berlari pelan ke arahku dan spontan merangkul pundakku.
“Eh apa-apaan, lepasin. DON’T TOUCH ME!” tegasku. Dia melepaskan rangkulannya “Ayo kita makan iler” ajaknya dengan wajah dipolos-polosin.
“He, siapa yang kamu panggil iler!”
“Ya kamu lah, siapa lagi.”
“Aku nggak ileran!!”
“Masa sih, tapi kamu ileran kok. Nggak nyadar ya” spontan aku mengusap sudut bibirku dengan jari telunjukku memastikan nggak ada iler di sana. Wait… ya ampun otak kambingku muncul lagi deh..
“Dasar rambut ketek!” semburku.
“Hey kok aku dipanggil gitu”
“Karena ketek kamu berambut” jawabku sekenanya.
“Siapa bilang, ketekku mulus gini kok. Kalo nggak percaya nihh liat. Nih nih” katanya sambil menyodorkan ketiaknya ke kepalaku. Dasar sinting.
“Heh.. nggak mau ketek kamu bau”
“Masa sih, bau-an ketek kamu tuh!”
“Emang kamu pernah nyium ketek aku? Dasar alien mesum!”
“Mesum? Aku anggak mesum, aku nggak sudi nyentuh-nyentuh kulit dekilmu itu. Ihhh” dasar! Dia membuang muka jijik setelah mengucapkan kata-kata itu. Kalo aja sekarang aku hidup di tahun 129 sebelum Masehi tanpa undang-undang HAM aku pasti sudah menusuk-nusuk keteaknya itu pake rambutnya Limbad.
Dan orang-orang yang ada di kelas cuma terbengong-bengong melihat tingkah kami. Aku masih bisa mendengar gumaman mereka saat aku dan Si kacang melewati pintu kelas. “Dasar pasangan aneh…”

Aku menolehkan kepalaku ke arah pintu kantin dan mendapati sebuah pemandangan indah. Amboi… di sana berjalan dengan pelan dan pasti, Adam. Adik kelas yang ganteng, tenang, alim, pinter, baik, lembut, penyayang, rajin senyum, rajin menabung, dan nggak sombong. Itu baru yang yang namanya LAKI-LAKI SEJATI. Nggak kayak si ninja gila di hadapanku ini —yang sedang khusyuk menikmati mie pangsitnya.

Aku masih menatapnya, caranya berjalan, senyum-senyumin orang yang nyapa, pokoknya menantu idaman semua ibu-ibu dehhh… wait! Bukan berarti aku ibu-ibu yang ngincer dia jadi menantu ya! Catet tuh!

Eh… aku mau kasih tau satu rahasia besar, siap-siap ya
DIA SUKA AKU.
Nggak percaya? Nggak percaya? Aku aja nggak percaya. Dari mana aku tau? ya taulaah! Dia kan sering mengirim sinyal-sinyal cinta. Kalo nggak ada si ninja gila di depanku ini dia pasti udah jadi pacarku. Soalnya…
AKU JUGA SUKA DIA.

“Hai Masha”
Oh no!! Demi semua utangku pada ninja gila. Adam menyapaku! Dia tersenyum padaku! Dia dadah-dadah ke aku!
aku baru akan membalas sapaan itu saat…
“Udik” ninja gila itu nyeletuk dengan suara tenang tapi langsung membuatku menoleh padanya dengan kesal. Dia mengangkat kedua alisnya kemudian bergumam “Apa?”
“Belum pernah disapa ya?” dia tersenyum mengejek, “Kampungan banget pake nganga gitu. Norak. Ndeso.”
Sumpah yah ni orang! Pengen banget aku jedotin kepalanya ke tembok Cina.

Walaupun sapaan perdana itu tidak membuahkan hasil, malamnya Adam mengirimkan pesan padaku lewat facebook seperti yang memang sering kami lakukan selama ini. Melanjutkan chat yang tertunda.
Adam: “Dia itu pcr kamu?”
Me: “Dia siapa?”
Adam: “Anak baru yg populer i2?”
Me: “Iya”
Kalo nggak ingat utang, aku pasti udah jawab nggak!
Adam: “Tp kok ada yg aneh ya?”
Me: “Aneh apaan?”
Adam: “Denger2 dia lgsg ngakuin km sbgai pcrnya pas prtama kali dia msk. Emangnya kalian kenal d mn sih?
Me: “Oh kami dah lama kok knl di sosmed”
Terpaksa ngarang deh…
Adam: “Kt jg dah lama knl d sosmed tp smpe skrng blm JADIAN jg”
Speechless…
Itu tadi sinyalnya kuat banget. Penuh malah. Aduh mesti ngomong apaan nih???

Nervous. Baru pertama kalinya aku masuk ke perpus dengan jantung ngedangdut, berdebar-debar kayak gendang. Mau tau kenapa?
Adam mengajakku ketemuan di perpus pada jam ini, jam istirahat. Setelah bisa bebas dari sipir penjara (ninja gila) dengan satu trilyun alasan yang bisa bikin para anggota DPR mabok, disinilah aku celingak-celinguk mencari Adam.

“Sst…sstt” Oh itu dia Adam. Dia menyuruhku mendekat dengan isyarat tangannya supaya para pelanggan perpus nggak demo.
Dia membawaku ke rak buku paling pojok. Kami berdiri berhadapan, kikuk, canggung, salah tingkah.
“Sori. Mau bicara apa ya?” aku berusaha memulai pembicaraan dengan sok cool. Dan dia keliatan banget lagi gugup, dia jadi terlihat salah tingkah dan pipinya sedikit memerah.
Jangan-jangan… jangan-jangan…
“Mm… aku… aku… aku su…”
Trdtttttttttttttttttt….
Bel masuk bunyi yang berarti jam istirahat udah kelar. Yah… Adam kan belum nerusin kata-katanya. Kan penasaran. Bukan cuma aku yang kecewa, Adam kelihatan super kecewa. Dia menghembuskan napas lelah.

“Mm… kayaknya aku masih punya waktu 1 menit deh” kataku berusaha mengurangi kekecewaan di wajahnya sambil menghitung waktu di arlojiku, dan sebagai responnya dia langsung tersentak seperti berusaha menyusun kata-kata secepat kilat.
“Aku… aku suka—“
Sekali lagi pernyataan itu diinterupsi, kali ini oleh suara ponselku tanda SMS masuk.
From: ninja gila
Pak Bondan dah dteng. Buruan!!
Mati dah! Raja naga sembur udah dateng. Kalo telat dijamin mukaku bakal banjir bandang oleh semburan ujannya Pak Bondan
“Aku minta maaf Dam. Pak Bondan udah sampe kelas. Lain kali aja ya”

Gagal maning. Gagal maning.
Kapan sih aku bisa deket sama Adam.
“Aku suka…”
Kira-kira lanjutannya apa ya? Kalo aku anggota JACAN (jones alay cabe-cabean) pasti pikiranku langsung mengarah ke ‘aku suka kamu’
Tapi berhubung aku adalah Masha yang super manis, imut, dan nggak neko-neko aku nggak bisa memprediksi kata-kata lanjutannya. Mungkin…
“Aku suka… kakak kamu” eh tapi aku nggak punya kakak.
“Aku suka… tulisan kamu, rapi. Kamu mau nggak bantu aku nyatetin bahasa indonesia. Soalnya Bu Tin nggak suka kalau nyatet pake tulisan cakar ayam” itu masuk akal banget. Bisa aja kan dia mau minta tolong, makanya jadi nervous, nggak enak. Tapi tunggu deh! Bukannya tulisan aku lebih parah yah dari cakar ayam. Ganti-ganti. Ini imposible. Lagian kan dia nggak pernah liat tulisan tangan aku.
“Aku suka… poni kamu. Kriuk-kriuk gitu. Gimana sih caranya? Aku mau tau barangkali nanti temen-temenku rambutnya mau digituin juga. Kan lumayan duitnya, bakal jajan di sekolah” iuhhh… kalo gitu kelanjutannya aku nggak mau lagi deh kenal sama dia.
“Aku suka… Transformer. Kamu udah nonton nggak filmnya. Aku koleksi lho semua serinya” ini pasti dia nggak ada kerjaan banget.

Hujan sudah reda. Dan kami yang hampir ditumbuhi lumut saking lamanya nunggu tuh hujan berhenti, melangkah ke parkiran. Ada lumayan banyak siswa di belakang kami yang juga rela menunggu daripada mesti pulang sambil basah-basahan.
Si ninja gila berhenti, menoleh padaku dan menengadahkan tangan. Minta apaan sih? Oh aku tau!
Aku merogoh saku rokku dan mengambil selembar uang 2000 lalu menyimpannya di telapak tangannya. Dia mengerutkan kening, heran. Dia emang minta uang kan buat bayar parkir. Ya kali aja isi dompetnya uang gede-gede semua.
“Kamu kira aku pengemis apa? Aku mo pinjem hp kamu. Hp aku low-bat” aku nyengir kuda lalu mengambil hp di tas ranselku.

5 menit ninja gila masih saja mengutak-atik ponselku. Alhasil berdirilah aku dengan congek di sampingnya.
PLUP
Bunyi itu cukup keras sehingga aku langsung meenundukkan kepala ke arah genangan air di depan kami.
PONSELKU!!!!! ITU PONSELKU!!
Ceroboh banget sih. Ponselku dijatuhin di genangan air kotor? Tangannya besar gitu masa nggak bisa sih megang ponsel dengan benar.

Aku membungkukkan tubuh dengan tangan panas dingin. Mengecek apakah ponsel itu masih bisa diselamatkan. Nggak ada harapan! Nggak ada harapan. Genangan airnya cukup dalam, “Kamu tuh gimana sih! Kok Hpku bisa jatuh…” omelan kesalku berhenti di udara ketika aku mendongak dan mendapati muka paling seram yang pernah kulihat.
Wajah itu seperti wajah seekor naga yang siap meluluh-lantahkan semua yang ada di sekitarnya. Wajah itu mengeras, mata cokelatnya menjadi kehitaman dan pandangannya tajam seperti akan mengirisku dan mencincangku sampai hancur. Bibirnya menipis membentuk garis lurus dan badannya kaku.
“Jadi kamu selalu chat-chat-an sama cowok lain setiap malam?!” suaranya mendesis, rendah tapi begitu tajam.
Dan sumpah! Bulu kudukku langsung merinding dan kakiku tiba-tiba saja gemetar.
Dengan gerakan cepat dia meraih kedua bahuku dan meremasnya kuat sampai terasa sakit. “APA MAKSUD KAMU HAH?!!”
Suara itu. Suara mautnya yang mengalahkan petir di siang bolong kembali terdengar. Lebih tajam dari saat pertama kali kami bertemu. Aku mendengar langkah-langkah sepatu di sekitar kami terhenti dan semua mata terpaku ke arah kami.
“KAMU MEREMEHKAN AKU?! KAMU PIKIR SELAMANYA AKU NGGAK BAKAL TAU APA YANG KAMU LAKUKAN DI BELAKANG AKU?!!”
Sedikit lagi aku akan muntah karena tubuhku terus diguncang dengan keras. Seolah aku boneka yang tidak punya rasa sakit.
“Dengar! Kamu pacarku. Dan kamu nggak bisa berbuat seperti itu tanpa izinku! Ngerti!!” kali ini suarannya tidak lagi menggelegar. Rendah tapi menusuk, sarat akan ancaman seperti menegaskan bahwa aku tidak punya hak atas diriku sendiri. Bahwa dia sudah membeliku dan aku seutuhnya adalah budaknya. Remasannya pada bahuku pun semakin mengeras.
Sudah cukup!! Kemarahan berbulan-bulan yang coba aku kubur kembali bangkit. Aku sudah lelah diperlakukan seenaknya. Dengan sekuat tenaga aku mencoba melepaskan bahuku dari cengkeramannya. Tapi begitu sulit karena dia sepertinya sudah dikuasai oleh kemarahan sampai aku harus menghentakkan tubuhku dengan keras.
“UDAH CUKUP!!!” Aku meneriakinya tidak kalah ganasnya.
“KAMU NGGAK PERNAH DAN NGGAK AKAN PERNAH JADI PACARKU KARENA AKU NGGAK PERNAH MENGANGGAP HUBUNGAN INI!! KAMU BUKAN SIAPA-SIAPAKU. JADI STOP MENDIKTE AKU SEPERTI AKU BUDAK YANG UDAH KAMU BELI!!!” Jeritku sekuat tenaga di hadapannya. Menumpahkan seluruh kekesalan dan kemarahan yang bersarang di ubun-ubunku.

Kami saling menatap tajam beberapa saat seperti bersiap saling membunuh satu sama lain. Tanpa aku sangka tiba-tiba saja seperti ada sebuah batu besar yang memukul bagian terdalam dari diriku. Kenapa terasa sakit? Ada satu ruang yang terasa begitu sakit sehingga mataku ingin menumpahkan air mata. Sakit sekali. Dan aku tidak bisa bernafas karena menahan sakitnya dan juga air mataku yang terasa ingin tumpah.

Aku berbalik dan berlari secepat mungkin. Mencegah siapapun juga melihat air mata yang sudah meleleh di pipiku. Kepalaku terasa pening. Pandanganku kabur oleh air mata sampai aku tidak sadar aku sudah duduk di halte yang lumayan jauh dari sekolah. Aku menangis terisak-isak sambil memegangi dadaku yang entah kenapa terasa seperti membatu.
Aku menepuk-nepuk dadaku untuk mehilangkan sakitnya tapi tidak berguna. Aku menepuknya semakin keras dan keras tapi tetap saja sakit. Tetap saja terasa berat seperti dadaku sudah dibelah dan ditanami batu yang sangat besar lalu dijahit kembali.

Aku mendongak kepada seseorang yang tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku yang ingin memukul dadaku lebih keras, kalau perlu meninjunya. Ternyata orang itu adalah Adam. Dia memandangku dengan sarat kecemasan. Ia meremas tanganku dengan lembut -seperti ingin memberikan kekuatan- setelah ia mendudukkan dirinya di sampingku dan menghadapkan tubuhnya padaku.
Dan aku melihat itu. Melihat betapa ia ingin menenangkanku dan melindungiku. Aku, dengan wajah yang masih basah dengan air mata, menyandarkan keningku di bahunya. Mengistirahatkan kepalaku yang pening. Ia mengelus-elus punggungku dan menepuk-nepuknya lembut seakan berkata ‘aku ada di sini’

Setelah beberapa lama kami masih dalam posisi seperti itu. Isakanku sudah berhenti tapi air mataku belum menyerah. Adam mengangkat kepalaku dari bahunya. Merangkum wajah basahku, menatapku sejenak lalu menghapus air mataku perlahan dengan ibu jarinya. Kurasakan sentuhan halus itu hangat dan menghilangkan pening di kepalaku.
“Ssshhh… jangan nangis. Kamu nggak pantas nangis buat cowok kasar kayak dia” dia masih menghapus air mataku yang belum berhenti menetes sambil menatap mataku. Dan tiba-tiba saja dia menghela napas berat, “Ini semua salahku. Dia pasti salah paham sama aku. Aku minta maaf. Aku janji aku nggak akan ganggu kamu lagi”
Aku menatap matanya dan menggeleng. “Aku nggak suka dia. Dia bukan pacarku” kataku dengan suara serak dan lirih yang membuatnya memicingkan mata. “Apa maksud kamu? Bukannya selama ini kalian pa…”
Aku menginterupsinya dengan menggelengkan kepala lebih cepat sampai terasa pening lagi. Aku tidak bisa menyimpan ini lagi. Aku menceritakan semuanya pada Adam.

“Jadi dia cuma manfaatin kamu!” wajah Adam mengeras setelah mendengar kalo aku terpaksa jadi ‘kacung’nya karena kasus motor itu.
Aku terisak kembali, “Aku bego! Aku bodoh. Cuman karena uang 5 juta aku mau dipaksa gitu aja. Cuman karena utang itu aku rela diperlakukan seenaknya”
Kali ini Adam yang menggeleng, “Nggak. nggak. Kamu nggak bodoh. Dia aja yang suka manfaatin kelemahan orang lain. Kasih aku waktu 1 minggu buat balikin uang itu ke dia. Aku bakal bebasin kamu”
“Nggak. Kamu nggak perlu ngelakuin itu”
“Nggak perlu gimana? Kamu nggak mau bebas dari dia?”
“Tapi darimana uangnya…” kataku lirih, terdengar putus asa.
“Aku bisa pinjem ke orangtuaku atau ke temen-temenku. Kamu nggak usah khawatir”
Aku menggeleng. Aku tidak mau merepotkan Adam. Dia berdecak melihat kekeraskepalaanku, meraih bahuku dan mengelusnya lembut.
“DON’T TOUCH HER!” Seruan itu menginterupsi kami. Kami menoleh dan mendapati Mars sedang duduk di atas motornya dengan tegang. Wajahnya masih mengeras.
“She’s mine” desisnya dengan mata yang menatap tajam ke arah kami.

Adam bangkit dan berjalan ke arah Mars. Punggungnya terlihat tegang dan langkah kakinya kaku. “Dia bukan milik siapa-siapa. Lo nggak berhak mengklaim dia seenak jidat lo. Dan elo…” ia menegaskan telunjuknya tepat di depan wajah Mars yang memerah menahan marah kemudian melanjutkan “Nggak bisa nyuruh-nyuruh dia kayak babu apalagi membentak-bentak dia kayak tadi”
“Gue pacarnya. Apa urusan lo?” aku yakin Mars berusaha sebisa mungkin menahan amarahnya sampai urat-urat dilehernya menegang.
Adam tertawa sinis “Dengan duit 5 juta lo pikir lo udah bisa jadiin dia pacar lo seutuhnya?”
Mars terkesiap. Dia turun dari motornya dan menatapku tajam dengan pandangan menuduh yang sangat kental. “Jadi kamu ceritain semuanya ke dia?” kilatan kejam dimatanya kembali. Dia melngkah mendekatiku tapi Adam menghalanginya dengan tubuhnya.
“Gue akan balikin duit lo secepatnya” dia lalu meraih tanganku untuk berdiri dan melangkah ke tepi jalan dimana sebuah bus berhenti di sana. Adam menuntunku menaiki bus itu tapi…

“Tunggu!” seketika kami menghentikan langkah. “Gue yang akan anter dia pulang”
Adam mendengus jengkel “Lo pikir dia masih mau pulang bareng lo?” mars menatap Adam dengan tatapan membunuh. Adam mengangkat bahu “Well, kita tanya aja kalo gitu. Sha… kamu mau pulang bareng aku atau dia?”
Aku menatap Mars dengan ketakutan yang kental lalu beralih ke Adam. Menatapnya dengan memohon. “Lo liat kan dia nggak mau dianter pake motor super mahal lo itu”

Dan kami pun berlalu. Aku menaiki bus dengan Mars yang masih mematung di tepi jalan. Aku berharap semuanya selesai sampai di sini.

#Aku berharap masih ada yang mau baca part selanjutnya soalnya semuanya belum selesai sampai di sini. Masih ada part 4. Dibaca ya…

Cerpen Karangan: Herlisa Cikis
Blog / Facebook: Herlisa Cikis

Cerpen The Crazy Boy (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Sepotong Roti

Oleh:
Menurut sebagian orang roti hanyalah sebuah makanan yang dapat mengganjal perut di saat lapar. Tapi tidak dengan Leo, menurutnya roti adalah makanan yang membuatnya bertemu dengan cinta pertamanya, memang

Kerikil Cinta

Oleh:
Hari ini hari pertamaku menginjakan kaki di kota pontianak, setelah pengumuman kelulusan tingkat SMU se nasional yang diadakan seminggu yang lalu. Ada rasa senang di hatiku karena sebentar lagi

Perselingkuhan di Dunia Maya

Oleh:
Ah, aku lupa nama account Facebook-mu yang membuat kita berkenalan. Seingatku, aku yang menyapamu duluan di ruang komentar, mungkin kala itu aku terpaksa melakukannya di tengah kebosananku berada di

Maukah?

Oleh:
Pertemuan pertama kita saat duduk di kelas 9 Ingat pertama dulu, kau duduk di sampingku Aku juga ingat, kamu adalah orang yang paling tak ku suka dulu. Kamu banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “The Crazy Boy (Part 3)”

  1. moderator says:

    Ada yang mau baca kok… ^_^ kakak nantikan ya cerita istimewa buatan herlisa selanjutnya… ^_^

  2. Aikalie says:

    Kaa part 4 nya cepeet aku ga sabar. Oh iya klo bisa part 4 tamatin yh biar ga nunggu lagi hehe. Juga aku milih MaMa atau Mars-Masha

  3. Aikalie says:

    Ka lanjuut tapi part 4 nya harus Mars and Masha yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *