The Difficult Of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 6 May 2017

Inilah kisah perjalanan cintaku, sangat rumit hingga aku tidak bisa memulai dari mana, mungkin aku akan memulainya dari pertemuan kami di tahun 2011.

Reuni 2011
“Baiklah teman-teman selamat datang pada Reuni Akbar SMA Bina Bakti, saya selaku MC mengucapkan selamat menikmati pesta ini.” Ucap Agus selaku MC.
Yap, aku baru saja mendarat di Palembang, karena selama ini aku berada di Jogya untuk meneruskan sekolahku, dilihat dari penampilanku, aku sudah banyak berubah, mulai dari wajahku karena aku sudah pandai memakai make up hingga penampilan badanku, aku sudah mulai berubah karena dirinya.

“Bunga…” Sapa Aldo.
“Oh hai Do. Kamu apa kabar?” Tanyaku bersemangat, karena sudah lama aku dan dia tidak bertemu, dan kami juga sudah lama lost contact.
“Baik.” Balasnya singkat. Aldo memperhatikanku seksama. “Wah Bunga, kamu udah banyak berubah” Kata Aldo kembali.
“Ah enggak juga, mungkin penampilanku aja yang berubah, tapi, aku masih tetep sama (perasaanku masih sama)” Balasku tersenyum.
“Bungaa…” Sapa temanku kembali, dia Wardha dan sedang bergandeng tangan dengan seorang laki-laki.
“Oh Wardha..” Balasku sembari memeluknya. “Wah ini siapa?” Tanyaku menarik perhatiannya.
“Oh ini, dia pacarku” Balas Wardha. Deg… jantungku berdebar pacar? Aku refleks menatap Aldo yang sepertinya sedang mengalihkan perhatian. Bukankah mereka?. Ini adalah hal baru untukku. Aldo terkenal sangat mencintai Wardha, entahlah apa yang terjadi selama aku tidak ada.
“Oh yah, kami akan menikah seminggu lagi” Seru Wardha sembari memberiku secarik undangan. Aku mengambilnya ragu. Lagi-lagi aku melihat kearah Aldo. “Ya sudah aku ke teman yang lain yah” Salam Wardha dan melambaikan tangannya. Aku hanya membalasnya singkat.

“Do…” Panggilku. Aldo melihat ke arahku, ada raut sedih di wajahnya.
“Ada apa Bunga?” Ucap Aldo berusaha tersenyum.
Jangan bahas Bunga dia sedang sedih
“Emm. Enggak jadi.” Balasku sembari tertawa kecil mengejeknya. Dia hanya membalasku dengan tersenyum ringan.
Do aku masih sama, mungkin yang berubah dari diriku hanya penampilanku, tapi hatiku masih sama.

“Drrt… Drrt” Handphoneku bergetar. Ah nomor tidak dikenal.
“Bunga ini aku Aldo, bisa pergi ke kafe biasa sekarang gak?. Aku jemput kamu”
Ada apa sebenarnya?

“Tinn… Tinnn…” Suara Klakson mobil di depan rumahku.
Astaga dia cepat sekali. Aku segera pergi ke dapan rumah. Dia berdiri didepan mobilnya. Dia tersenyum ke arahku, aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan.
“Ayo masuk” Ujarnya membukakan pintu mobilnya.
Sejak kapan dia seperti ini?. Ah sudahlah mungkin dengan perempuan lain dia sudah biasa seperti ini, jangan terlalu diambil hati.
Aku memasuki mobilnya.

Sunyi, tidak ada percakapan di antara kami. Ada apa sebenarnya? Bukankah kita selalu bisa mencairkan suasana. Suasana macam apa ini?
“Sudah Sampai” Kata Aldo datar. Aku hanya mengangguk.
Aku dan Aldo memasukki kafe itu.
“Wah udah lama aku gak ke sini” Ujarku membuka pembicaraan.
“Aku juga, sejak kamu pergi ke Jogya, aku juga gak pernah ke sini lagi” Balas Aldo
“Kita duduk di sana aja” Ucapku menunjuk ke arah meja yang biasanya kami tempatnya. Aldo hanya mengangguk. Aku lekas duduk di sana dan diikuti oleh Aldo.

“Bunga…” Panggil Aldo pelan.
“Ya?” Balasku yang tadi memperhatikan jendela menjadi menatap mata Aldo. Deg.. jantungku berdebar.
“Sudah berapa lama yah kita berteman?” Tanyanya klise. Aku tertawa.
“Hitung sendiri, kita udah temenan sejak kelas 8 SMP. Yah hitung sendiri” Balasku dan aku kembali fokus kearah jendela.
“Bunga aku serius” Ucap Aldo dengan nada yang membuatku bingung. Aku kembali menatapnya.
“Kita udah temenan 10 tahun, tapi kita udah lost contact selama 4 tahun” Balasku dan kembali fokus ke jendela.
Aldo meraih tanganku. Dan membuatku kembali menatapnya.
“Bunga, will you marry me?” Ucap Aldo sejurus.
Deg… Jantungku kembali berdetak kencang. Ahh dia hanya bercanda. Aku memutuskan mengalihkan pembicaraan. Aku melepaskan tanganku dari genggaman Aldo.
“Ah sebenarnya ada apa sih antara kamu sama Wardha. Bukannya sebelum aku pergi, hubungan kalian baik-baik aja?” Ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Bunga aku serius” Kata-kata Aldo berhasil membuatku terdiam. Aldo menatapku dalam. Dan refleks aku membalas tatapannya. Tidak, tidak ada cinta di mata Aldo untukku.
“Do, aku gak pengin jadi pelampiasan kamu, aku tau kamu masih cinta sama Wardha, aku tau itu” Balasku
“Bunga aku serius, aku ingin nikah sama kamu.” Ucap Aldo berusaha membuatku percaya. Aku hanya terdiam. Bukankah ini hal yang selalu aku inginkan?.
“Baiklah” Balasku untuk memastikan Aldo. Aldo tersenyum lalu memelukku.

Kalian mungkin tidak mengetahui bagaimana cerita cintaku, hingga Reuni tahun 2016 ini, kami sudah menikah selama 5 tahun, dan kami sudah mempunyai satu anak. Anak kami bernama Rasha Arjuna.
Reuni 2016
“Baiklah teman-teman selamat datang pada Reuni Akbar SMA Bina Bakti, saya selaku MC mengucapkan selamat menikmati pesta ini.” Ucap Agus selaku MC.
Aneh aku merasa kembali ke tahun itu. Dimana aku dan Aldo saling bertemu.

“Bunga… Aldo…” Sapa seseorang. Dia Wardha. Aldo mengalihkan wajahnya
“Hai Wardha” Sapaku kembali. “Btw, suami kamu mana?” Tanyaku refleks. Dan sepertinya aku salah bertanya.
“Emm. Bunga aku boleh ngomong sama Aldo?” Pinta Wardha ragu.
“Baiklah.” Ucapku tersenyum dan lekas meninggalkan mereka. Tapi Aldo segera menahanku. Dia menggenggam tanganku.
“Bisa gak Bunga tetap di sini?” Tanya Aldo sinis ke Wardha. Aku melepaskan genggaman Aldo.
“Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian.” Ujarku dan aku lekas pergi.

Aku menghampiri Agus yang tak jauh dari tempatku tadi. Dan berbincang-bincang ringan dengannya.
“Kamu udah nikah Gus?” Tanyaku.
“Udah dong, udah punya anak dua” Balasnya. Tanpa sadar mataku selalu menuju ke arah mereka. Sepertinya belum membaik Aldo selalu mengalihkan wajahnya. Apa dia masih mempunyai rasa yang sama?

Aldo menghampiriku dan Agus yang sedang asik berbincang.
“Apa kabar bro” Ucap Agus sembari mengepalkan tangannya ke arah Aldo. Dan Aldo membalasnya.
“Btw, beruntung yah lo bisa dapetin Bunga. Ati-ati loh. Gue bisa ambil Bunga dari lo. Siap-siap aja” Ucap Agus menggoda Aldo. Aldo refleks merangkulku.
“Ambil aja kalo bisa.” Tantang Aldo, lalu tersenyum menatapku.
Apa perasaanmu sudah milikku semuanya?

“Aku pulang…” Seru Aldo. Aku melihat kearah jam dinding pukul 01.30. aku tertidur di sofa tanpa sadar.
“Baru pulang? Kamu lembur lagi?” Tanyaku membawakan tas Aldo menuju ruang tamu.
Aldo terduduk di sofa. Sepertinya dia sangat lelah. Aku lantas menyusulnya ke ruang tamu. Dan duduk di sebelahnya. Aldo menaruh kepalanya di pahaku.
“Bunga, apapun yang terjadi kamu harus percaya padaku” Ujar Aldo menatapku dalam.
“Ada apa sebenarnya?” Tanyaku sembari mengelus rambutnya lembut.
Aku melihat airmata Aldo mengalir. Ada apa Aldo? Ceritakan padaku?. Aku menahan pertanyaanku dan membiarkan Aldo terisak. Kemudian dia langsung memelukku. Parfum perempuan? Apa ini maksudnya? Aku membiarkannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ikut terisak.

“Ting… Tong…” Suara bel rumah menyeruak ke segala ruangan. Aku bergegas membukakan pintu.
“Hai Bunga…” Seru Wardha.
“Oh hai Wardha” Balasku bersemangat.
“Boleh masuk?”
“Tentu”

Wardha memasuki rumah dengan memperhatikan secara seksama. Dia juga melihat foto-foto keluarga yang terletak di ruang tamu.
“Ternyata kalian bahagia yah!” Seru Wardha. “Seandainya aku gak ngelepasin Aldo waktu itu. Mungkin aku juga bahagia.” Lanjut Wardha, dan berhasil membuatku bingung.
“Sekarang aku akan ambil Aldo kembali, Aldo milikku, hanya miliku.” Ucap Wardha menatapku sinis.
Apa maksudnya? Apa parfum itu?
“Apa maksudmu? Ingin merebutnya kembali? Bukankah itu salahmu sendiri?” Balasku
“Itulah maksudku, aku takkan melepaskannya lagi.” Ucapnya tertawa.
“Apa? Dia suamiku, dan akan tetap menjadi suamiku!” Suaraku meninggi.
“Suami? Ya, memang dia suamimu, tapi apa kamu pernah melihat cinta di matanya untukmu?” Sejurus kata-kata Wardha berhasil membuatku terluka, aku terdiam.
“Apa kamu tau? Selama ini suamimu pulang malam. Bukan karena dia lembur, tapi dia bersamaku!!” Seru Wardha. Aku terduduk lemas, dan mulai terisak.
Jadi ini maksud perkataanmu semalam Aldo?
“Sudah ya, aku hanya memperingatkanmu. Aku pergi” Ucap Wardha seraya pergi.
Aku menangis sekencang-kencangnya.
“Ahhhhhh…”

Tak lama Wardha pergi Aldo pulang dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat, khawatir. Dia menghampiriku.
“Jangan mendekat!!!” Seruku tetap menangis. Aldo masih berusaha mendekatiku.
“JANGAN MENDEKAT!!!” Teriakku. Aldo terdiam.
“Apa ini maksud perkataanmu semalam? Apa dia yang punya wangi parfum itu? Jawab aku. Jawabbb!!!” Teriakku kembali. Aldo mendekat. Lalu memelukku. Aku meronta, tapi tenagaku tak cukup kuat untuk melawan pelukakannya.
“Maafkan aku, maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf” Ucap Aldo lirih. “Sebenarnya Wardha direktur baru di perusahaanku, dia batal menikah, dan dia berusaha mendekatiku kembali. Aku sudah berusaha jelaskan padanya, aku sudah punya kehidupan, tapi dia selalu memaksa, dan selalu membuatku kerja lembur. Maafkan aku” Jelas Aldo. “Rasaku untuknya sudah hilang, tidak ada lagi untuknya, tidak akan pernah ada lagi” Ucap Aldo kembali, dan memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya.
“Kenapa jadi begini?” Tanyaku terisak.
Hingga saat itu hubunganku dan Aldo masih baik-baik saja. Sampai akhirnya…

“Permisi… ruangan bapak Aldo Arjuna di mana?” Tanyaku pada salah satu staf.
“Ibu ini siapa?”
“Saya istrinya.” Sejurus, orang-orang langsung melihat ke arahku, berbisik-bisik, raut wajah mereka menunjukkan rasa kasihan.
“Oh di lantai 3 Bu” Balas staf tersebut.

Aku menaiki lift yang menuju lantai 3. Di dalam lift orang-orang sibuk membicarakan Aldo dan Wardha. Ada apa ini?
“Kalo diliat-liat, Pak Aldo sama Bu Wardha cocok banget yah, coba aja mereka jadi pasangan.” Ucap salah satu pegawai. Dan disetujui oleh pegawai lain.
Degg.. jantungku berdegup, sakit sekali.

Aku memasuki ruangan Aldo. Aku melihatnya, aku melihat Wardha memeluk Aldo dengan manja. Aku terdiam. Apa ini benar-benar nyata? Sakit sekali, sakit.
Aku berlari berlari sekencang-kencangnya. Aku tak menghiraukan mereka yang menatapku aneh. Air mataku terus mengalir.
“Ahhhhhh…” Aku ingin berteriak seperti itu.

Hari itu juga aku memutuskan untuk pergi dari rumah.
Aku sudah pergi…
Jauh…
Bersama anakku…
Rasha Arjuna
Berkali-kali Aldo meneleponku. Banyak sekali pesan suara yang ia berikan, hingga aku muak sendiri.
“Bunda, kenapa kita pergi?” Tanya anakku polos.
“Gak papa sayang, kita cuma pergi sebentar” Balasku meyakinkannya.

Aku sudah seminggu di Jogya, tepat dimana aku menuntut ilmu, selama aku kuliah di sini, aku juga kerja dan berhasil mengumpulkan sedikit uang dan membelikannya rumah. Ya, di sinilah aku akan tinggal bersama anakku.
“Tok… tok.. tok” Suara orang mengetuk pintu rumahku. Aku bergegas dan melihatnya. Aku membukakan pintu itu.
“Sia…pa..?” Aku terkejut, Aldo? Refleks aku menutup kembali pintu itu, tapi Aldo berhasil menahan pintu itu.
“Bunga dengarkan aku!!!” Seru Aldo lirih.
“Enggak… pergiii…” Teriakku. Aldo menahan pintu itu sehingga terbuka. Aku menyerah dan langsung masuk ke rumah. Aldo menahan lenganku.
“Bunga… dengarkan aku.”
“Apa lagi? Aku sudah tinggalkan surat cerai untukmu” Ucapku singkat
“Bunga apa kamu yakin?” Tanya Aldo ragu.
“Aku sangat yakin Aldo. Sangat-sangat yakin. Untuk apa aku hidup bersama orang yang tidak pernah mencintaiku?” Aku menatapnya dalam.
“Apa maksudmu?” Tanya Aldo terkejut
“Jangan pura-pura gak tau Do, aku tau semuanya, aku tau semuanya, kamu menikahiku hanya untuk menjadi pelampiasanmu, kamu tidak pernah mencintaiku, kamu lebih sering tidur di ruang kerjamu dan memeluk fotomu bersama Wardha. Apa aku tidak tau?. Apa aku bodoh?. Yaa. memang aku bodoh. Dan kalaupun kamu tidur di kamar. Kamu selalu mengigau memanggil nama Wardha. Aku sakit Aldo sakit sekali.” Aku terisak, sangat terisak. selama pernikahan kami, aku tidak pernah melihat cinta di matanya untukku.
“Apa artinya aku? Aku hanya ibu dari anakmu! Bukan istrimu!” Teriakku. Aldo hanya terdiam.
“Aku tidak berarti di dalam hidupmu. Jadi untuk apa aku terus berada di hidupmu. Untuk apaaa?”
“Bunga… maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku memang pernah berfikiran seperti itu. Tapi, sekarang berbeda” Balas Aldo lirih.
“Selama ini aku selalu menyangkal kalau aku mencintaimu. Tapi setelah kamu meninggalkanku. Aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar mencintaimu. Kalaupun ajal akan memisahkan kita aku berharap aku yang mati duluan. Dan setelah itu baru kamu. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu!!!” Ucap Aldo dan langsung memelukku. Aku terdiam. Dan kembali menangis. Aldo juga ikut menagis.
“Itu bener Bunga. Maafkan aku!” Ucap seseorang, dia Wardha. “Dia sangat setia sekaligus cinta sama kamu! Maafkan aku!” Ucap Wardha kembali.
Aku membalas pelukan Aldo dan kemudian terisak. Tapi kali ini karena aku merasa bahagia.
Seperti inilah jalan cintaku yang sudah di tentukan oleh Tuhan untukku. Bagaimanapun aku bahagia.

The End

Cerpen Karangan: Sinta Nabila
Facebook: facebook.com/ashilla.2001

Cerpen The Difficult Of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kelopak Mawar (Part 2)

Oleh:
Malam Yuni tidak pernah tenang, semenjak kehadiran Deden di kehidupannya. Terkadang dia menyesal memberikan pria itu kesempatan untuk hadir dalam hidupnya, tapi terkadang dia juga berpikir mengusir pria itu

Kebohongan Dan Kejujuranmu

Oleh:
Malam yang panjang dilalui Lila dengan hati yang dipenuhi segala perasaan yang membebaninya. Dia dihadapkan pada suatu pilihan yang sulit ketika dia begitu mencintai seorang laki-laki yang selama hampir

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Siska berangkat mewakili sekolahnya untuk Perkumpulan Muda Mudi seKabupaten. Disana di bertemu banyak sekali perwakilan dari sekolah sekolah sedaerahnya dan ada cowoknya juga ganteng ganteng lagi, apalagi mentornya. Disana

Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 2)

Oleh:
“Naniyaaa!!” Teriakan tepat di telingaku membuatku terlonjak kaget bangun dari tidurku. Aku membuka setengah mataku yang benar-benar masih berat karena merasa baru tidur. Wajah Davin tampak tepat di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *