The Sadness Hill

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 May 2014

Aku memperhatikan mereka berdua. Dari sini mereka tampak begitu jelas untuk di lihat.
Dari sini aku dapat melihat bahwa mereka sedang duduk di sebuah bangku kayu. Ya, bangku kayu di taman sekolah kami. Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, agar tak ada yang tahu bahwa aku sedang mengawasi mereka.
Aku tidak bermaksud untuk menguntit mereka, aku hanya ingin tahu. Ya, aku hanya ingin tahu, juga ingin membuktikan tentang gosip yang beredar tentang mereka berdua. Gosip yang membuatku merasa terganggu akhir-akhir ini. Maka dari itu, aku ingin membuktikannya. Apa yang sebenarnya terjadi disini.

Seseorang menepuk bahu ku dari belakang. Dan aku spontan menoleh ke belakang untuk melihatnya. Siapa sih yang berani-beraninya mengganggu ku melakukan aksi pembuktian gosip terhangat di sekolah ini?
“Heh ngapain lu? Merhatiin si Bima sama Kalis yang lagi pacaran?” Ternyata yang menggangguku adalah Si mbem, alias Monika, sahabat ku. Dia disebut mbem karena dia mempunyai pipi yang berisi dan enak untuk dicubiti.
“Apaan sih Mon, aku gak merhatiin mereka. Aku cuma… em.. Kebetulan lewat tadi.”
Monika menatapku curiga. Seperti tak percaya dengan ucapan ku.
“Serius Mon.” Aku memandang Monika dengan wajah memelas, agar Ia ingin mempercayai ku. Tapi ternyata tidak. Karena setelah itu, dia berkata,
“Ah, udah gak usah bohong. Kelihatan dari wajah kamu, kamu tuh kaya gak ikhlas gitu lihat mereka. Hahahaa. Ini cuma gosip kok. Bima sama Kalis gak pacaran. Percaya sama aku ya, Fel. Udah gak usah dipikirin”
Aku hanya menatap Monika dengan diam. Monika sepertinya tau apa yang ada di fiikiran ku. Dan Monika juga seperti tahu, apa tujuan ku memperhatikan Bima dan Kalis sedari tadi disini. Lalu, akhirnya Monika mengajakku untuk meninggalkan tempat dimana aku memperhatikan Bima dan Kalis sedang berbincang-bincang di taman. Aku menurut. Sebenarnya, aku tidak mau. Karena, aku masih ingin memperhatikan apa yang mereka berdua lakukan. Lebih tepatnya, memperhatikan Bima.

Sekarang aku dan Monika sedang berada di kantin sekolah. karena istirahat masih terbilang panjang, kami memutuskan untuk memesan sesuatu sambil mengobrol. Monika memesan baso tahu dan aku memesan batagor kuah.

Pesanan kami tak lama kemudian datang. Monika, Ia langsung menyantap makanannya. Sedangkan aku, aku belum memakan batagor kuah ku yang masih panas. Aku memperhatikan ada seseorang datang menghampiri meja makan tempat kami berada. Laki-laki itu semakin mendekat. Dan Ia tersenyum lebar ke arah ku. Aku hanya menatapnya -yang sekarang- Ia sudah berada di depan meja ku dan Monika.
“Hey, kok kalian gak ajak aku buat makan bareng sih?” Laki-laki itu lalu terduduk di bangku tepat di depan ku. Aku hanya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaannya. Monika pun masih asik dengan baso tahu nya. Monika memang selalu tidak ingin diganggu saat sedang makan. Bahkan aku tidak tahu, Monika apa sadar bahwa di sebelahnya sudah ada seseorang? Huh.
“Loh, kok gak ada yang pada jawab?” Ia memandang ku. Aku lalu tertunduk berniat memakan batagor kuah ku. Tapi saat aku akan memakan batagor kuah ku, laki-laki itu merebut batagor kuah ku itu.
“Batagor kuah tuh, jangan kelamaan di makannya Fel. Kalau dingin tar gak enak.”
“Balikin batagor kuah nya! Jangan dimakan! Itu punya aku..”
“Hih, ke temen deket sendiri kok pelit sih Fela?” Aku hanya menatapnya kesal.
“Ya udah sini aku suapin yang pertama buat Fela. A Fela A” Ia menyodorkan sendok yang berisi batagor kuah ke arah ku. Aku memandang wajahnya. Ia terlihat benar-benar berniat ingin menyuapi ku.
“Mau gak nih? Lama deh ah. Pegel tauuu.” karena, aku fikir ini kapan lagi terjadi padaku, laki-laki itu akan menyuapi ku! Aku pun akhirnya membuka mulutku sedikit dan laki-laki itu mendekatkan sendok berisi batagor kuahnya ke dekat mulutku untuk menyuapi ku. Namun, tangan laki-laki itu sepertinya tersikut oleh sikut Monika, sehingga dengan seketika batagor kuah yang akan dimasukkan laki-laki itu lewat sendok ke mulutku jatuh.
“HAH! Jatuh! Monika! Tenang dong ngebaliknya! Kena seragam nih.”
Dalam, hatiku aku berkata, “Batal…”
“Loh, kok ada Bima? Udah lama Bim? Maaf gak tau, tadi kan di sebelah aku gak ada siapa-siapa.”
Kata Monika dengan wajah bersalah menatap Bima yang sedang membersihkan seragamnya terkena tumpahan batagor kuah.
“Maafin dia, Bim. Dia emang selalu serius kalau lagi makan” tambah ku sambil menatap Monika sedikit kesal, karena dia yang membatalkan acara suap menyuap antara aku dan Bima. Huh.
“Iya, gak papa kok. Lagian gak banyak tumpahannya kok.”
“Lagian, tadi kalian lagi ngapain sih? Suap-suapan ya? Hahaha” Seketika saat itu menjadi hening. Aku dan Bima tidak ada yang menjawab. Aku pun bingung mengapa di antara kita tidak ada yang mau meladeni kata-kata sepele Monika.
“Yeeeh, malah pada diem. Gak apa apa lagi, gak usah sungkan di depan Monika mah.” Kata Monika dengan nada seperti menggoda ku dan Bima. Tapi, di antara aku dan Bima masih belum ada yang mengeluarkan suara.
“Hey, kalian kenapa sih?” Monika menatap aku dan Bima heran.
“Fel, nanti pulang sekolah aku mau ajak kamu pergi. Tapi gak usah bareng Monika. Cukup kita berdua aja Fel. Mau ya ya ya?” Akhirnya Bima mengeluarkan suara.
“Loh, tuh kan. Kok aku gak diajak? Biasanya juga kan kita selalu bertiga.” Monika protes.
“Pokoknya lu ga gue ajak Mon! Gue mau berdua sama Fela. Ada yang mau diomongin. Udah jangan proteees, Mbemmm.” Bima mencubit pipi tembem Monika, dan lalu meninggalkan aku dan Monika. Mungkin karena takut Monika akan membalas mencubitnya.

Aku memperhatikan punggung laki-laki yang sudah menjauh dari tempatku berdiam. Ada apa dengan dia? Aku benar-benar penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bima mengajak ku pergi hanya berdua, saja.

Aku dan Bima sudah berada di tempat tujuan. Kata Bima sih ini baru tempat tujuan pertama kami. Sekarang, kami berada di depan sebuah toko kue. Manda’s Cakes and Bakery.
“Ngapain Bim kita kesini?” Aku bertanya pada Bima dengan heran.
“Pesen kue, Fel. Nanti kamu yang pilihin kuenya ya?”
“Buat siaaap—” Belum selesai berbicara, Bima langsung menarik tangan ku masuk ke dalam toko kue itu.
“Aduh sakit Bim, jangan tarik-tarik tangan. Aku bisa jalan sendiri.”
“Gak papa”

Aku dan Bima masuk ke dalam toko kue tersebut, sudah kesepakatan aku dan Bima bahwa aku yang akan memilihkan kuenya. Aku melihat-lihat kue-kue yang dipajang di etalase toko. Sedangkan Bima, aku perhatikan, Ia berdiri cukup jauh dariku. Dia sibuk dengan handphonenya, dan terkadang Ia tersenyum sendiri. Ada apa dengannya? Huh.
Akhirnya, aku menjatuhkan pilihan ku pada kue berbentuk Minnie Mouse. Bima pun setuju dengan pilihan kue ku, kue tersebut dipesan oleh Bima kepada Mbak-mbak di toko tersebut. Bima terlihat berbicara sesuatu kepada Mbak-mbak toko tersebut. Mungkin Bima ingin menambah tulisan atau lilin pada kue tersebut. Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya sekarang.

Kami menuju ke tempat tujuan kedua kami.
Selama perjalanan, aku dan Bima di dalam mobil tidak banyak berbicara. Tidak seperti biasanya. Biasanya, Bima selalu banyak berbicara atau bertanya padaku. Tapi sekarang, Ia hanya terdiam namun sesekali Ia mengecek handphonenya, dan mengetikkan sesuatu. Ini benar-benar membuatku bingung.

Kami sampai di sebuah toko bernama C&N. Toko itu semacam toko accesories serba ada namun branded. Bima tidak mengizinkan aku untuk turun. Kali ini, mungkin Ia sendiri yang akan memilih accesories -yang entah untuk siapa- itu.

Tak lama kemudian, Bima datang dengan membawa kotak kecil yang dibungkus seperti kado. Aku hanya memperhatikannya dengan heran. Sebenarnya untuk siapa bungkusan itu. Tapi aku mengurungkan niat ku untuk menanyakannya pada Bima, karena Bima lalu berkata sesuatu padaku,
“Yuk” kata Bima, lalu menyetirkan mobilnya ke tujuan selanjutnya. Bima tidak memandang ke arah ku Ia hanya terpaku ke arah jalan. Ia sepertinya ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuan ke tiga kami. karena, sekarang Ia sudah mengendarai mobilnya dengan cepat.

“Bim, kita mau kemana lagi sih sekarang?” Aku memandang Bima dengan heran. Namun Bima tidak menjawab ku.
“Bim, jangan ngebut-ngebut! Aku beneran takut nih Bim!” Suara ku sudah sedikit meninggi dan terdengar kesal. Namun, Bima tetap seolah-olah tidak mendengar.
“BIMAAAA!”
CKITTT. Mobil Bima berhenti.
“Kok berhenti sih Bim? Kamu nabrak ya? Tuh kan apa aku bilang jangan ngebut-ngebut Bim. sekarang kamu gimana coba harus tanggung jawaa—” Bima membekam mulutku. Dan Ia menatap wajah ku. Mata kami bertemu. Aku benar-benar… Gugup.
“Kita udah sampai, Fela. Ayo turun. Aku mohon kamu jangan bawel ya!” Bima menatapku dan tersenyum padaku. Aku melihat senyumannya. Oh, sungguh senyumannya benar-benar membuat jantung ku berdegup kencang. Namun, aku harap Bima tidak dapat mendengarnya.

Bima mengalihkan pandangannya dari ku. Dan aku pun mengalihkan pandangannya dari Bima. Bima membuka pintu mobilnya. Sebelum Ia keluar dari mobilnya, Ia berkata padaku,
“Fel, kamu yang bawa kue sama kotak kadonya ya. Terus kamu ikut aku. Yuk!”
Aku benar-benar tidak mengerti, sebenarnya kita akan mengunjungi siapa. Dan kado serta kue ini akan diberikan kepada siapa.

Aku membawa kotak kado dan kue itu. Dan sekarang aku keluar dari mobil Bima. Aku melihat ke sekeliling ku. Ternyata Bima membawa ku ke sebuah bukit yang um… cukup indah bagiku. Ini tempat yang cukup romantis.
Aku jadi ingat perkataan Bima saat di kantin tadi, Bima tidak ingin mengajak Monika karena akan membicarakan sesuatu denganku. Dan sekarang Bima membawa ku ke tempat romantis seperti ini? Apa mungkin Bima akan membicarakan sesuatu yang sudah lama aku nantikan?
Ah… tapi. Apa mungkin? Lalu, bagaimana dengan Kalis?

Kami berjalan cukup jauh. Dan akhirnya kami berhenti di suatu tempat.
“Fel, kamu tunggu disini aja ya. Sini bingkisan sama kuenya.” Bima berkata padaku sambil menjulurkan tangannya, tanda meminta barang yang sedang aku pegang untuk berpindah tangan padanya.
“Loh, kok aku disuruh tunggu disini, Bim?” Aku menatap Bima heran. Ia tidak menjawab ku. Ia meninggalkan ku dan sedikit berlari ke arah depan sungai. Dan di depan sungai itu aku lihat ada sebuah kursi kayu.

Aku memperhatikan Bima lebih seksama dari kejauhan. Dari tempat Bima menyuruhku untuk tetap tinggal. Ia sekarang seperti sedang mengetik sesuatu di handphonenya. Dan tak lama kemudian seseorang datang menghampirinya. Seorang gadis cantik, berambut panjang digerai, dan menggunakan dress berwarna cokelat selutut. Dan Bima langsung menyambut gadis itu dengan akrab. Lalu, mereka duduk di atas bangku kayu di depan sungai tersebut. Berbincang-bincang.

Aku memperhatikan wajah Bima yang senang melihat perempuan itu. Ya, Bima terlihat senang dengan perempuan itu. Bahkan mereka terlihat sering tertawa bersama.
Aku rasa… Perempuan itu Kalis. Kalista. Teman sekolah kami.
Jadi… Bingkisan dan kue itu untuk Kalis? Dan tempat romantis ini pun untuk Kalis?
Dan itu, berarti, gosip di sekolah antara Kalis dan Bima memang nyata. Aku rasa aku memang hanya teman dekat dan sahabatnya Bima. karena, Bima memang menganggap ku begitu. Aku benar-benar… Tidak memiliki harapan.
Lalu, apa gunanya aku disini Bim? Apa maksud kamu ngajak aku disini sih, Bim?

Aku memperhatikan mereka berdua. Sekali lagi. Dari sini mereka tampak begitu jelas. Lalu aku beranjak dari sana. Aku pergi meninggalkan seluruh lukaku disana. Meninggalkan Bima dan Kalis yang sedang berbahagia.

Cerpen Karangan: Filla Giani
Facebook: Filla Giani

Cerpen The Sadness Hill merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dilema

Oleh:
“Ttit… tit… tit… tit…” suara handphone ku berbunyi. “Hmmm… siapa ya yang ngesms ku, mungkin dari my chiby” kataku dalam hati sambil berjalan ke kamar untuk mengambil handphone. “Desta,

Jumat Kliwon

Oleh:
Rembulan malam bersinar remang “An katam gak lo?” Tanya Deni memecahkan keheningan malam “katam donk Andi gitu!” jawab Andi dengan begitu sombong. Saat Andi dan Deni asik berbicara tiba-tiba

Jomblo

Oleh:
Kring kring Suara alarm mengusik tidur cowok tampan yang akrab disapa Nizar, ia sungguh enggan bangkit dari atas ranjangnya, dengan setengah sadar cowok ini mencari dimana letak jam alarm

Berapa Nilai Ulangannya?

Oleh:
Di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga bunga mawar merah yang semerbak, terdapat dua orang lawan jenis yang terlihat sedang menikmati harinya. Pas coba lihat dari kejauhan, ternyata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *