The Second Time (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Sesudah sarapan dengannya aku pun kembali ke meja kerjaku. Kita saling beraktifitas dengan pekerjaan masing-masing. Ketika aku sudah mulai bekerja handphoneku tiba-tiba berbunyi ternyata Andy yang meneleponku dia berniat untuk bertemu denganku sepulang kerja nanti di tempat kemarin kita bertemu. Aku bingung harus bagaimana karena Rama selalu mengantarkanku pulang sampai rumah. Aku tak tega kalau harus membohonginya lagi. Tapi di satu sisi aku juga ingin bertemu dengan Andy.
“Oke nanti jam 5 sore kita ketemuan di sana lagi ya” ucapku pelan takut Rama mendengarkan obrolanku dengannya. Aku terus saja berpikir agar bisa mencari alasan agar bisa bertemu dengan Andy. Sampai akhirnya aku harus berbohong kalau ada pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini. Awalnya Rama tak percaya tapi Sindy ternyata paham terhadap maksudku itu. Dan dia juga membantuku untuk menyakinkan Rama. Syukurlah…

“Ini terakhir kalinya ya aku bantuin kamu berbohong. Awas jangan pakai hati ingat ada Rama yang sayang banget sama kamu” Sindy mengirimkanku sebuah chat bbm.
“Iya Sindy sayang” aku membalas chat bbm darinya.

Aku pun menunggu Rama untuk pulang terlebih dahulu baru aku keluar kantor untuk menemui Andy. Rama pun tampak khawatir ketika berpamitan denganku, “Nanti naik gojek/grab bike aja ya. Soalnya aku khawatir kalau kamu pulang sendirian. Nanti kalau udah sampai rumah kabari aku ya” ujarnya yang membuat hatiku luluh. Aku pun menjawabnya, “Iya sayang. Kamu juga hati-hati ya jangan ngebut-ngebut”. “Oke nduk, aku pulang duluan ya” bicaranya sambil mengelus rambutku.

Entah mengapa rasa ini datang kembali. Detak jantungku berdetak tak beraturan, aku merasa grogi ketika harus menemui Andy yang sudah berada di warung makan tempat kita janji bertemu tadi. Senyumannya pun mengembang ke arah tempatku berada. Kita pun larut dalam obrolan. Sikapnya kini jauh berbeda dengannya enam bulan lalu. Tak ada lagi sikap cuek dan kaku yang ku temuinya lagi. Kini dia terkesan untuk mendominasi obrolan kami. Sekali-sekali aku juga mendapatinya yang mencuri pandangannya ke arahku.

“Kamu tuh beda ya sekarang?” tanyaku
“Beda kenapa?” ucapnya penasaran
“Sekarang kamu udah nggak kaku lagi”
“Kaku? Ah itu cuma perasaan kamu aja kali. Lagian waktu itu kamu nggak mau kenal aku sih” bicaranya
“Gimana mau kenal kalau kamunya cuek gitu. Kan males kalau mau kenal kalau orangnya cuek”
“Bukanya kamu yang nyuwekin aku duluan” protesnya
“Masa?? Ah perasaan kamu aja kali” aku membalas mengkritiknya.
“Ya udahlah nggak selesai-selesai kalau main salah-salahan. Itu kan masa lalu kan masih ada masa depan yang bisa kita perbaiki” Andy tampak yakin dengan ucapannya itu sambil menatapku lekat.
“Eist… udah ah ayo kita makan dulu udah laper nih” aku berusaha mencairkan kegugupanku ketika dia menatapku.

Hampir satu jam kita larut dalam obrolan. Aku pun memutuskan untuk pergi ke masjid dekat sana karena waktu sholat magrib telah tiba dan aku pun bermaksud untuk pamit pulang tapi Andy terkesan menahan agar aku tidak pulang terlebih dulu.
“Ya ampun belum puas nih ketemu kamu. Udah sih sholat bareng aku aja apa perlu aku yang mengimami kamu” ledeknya
“Eaa.. modus apa gimana nih?” tanyaku
“Modal” ucapnya singkat
Aku tak menghiraukan ucapannya. Aku pun segera berjalan menuju masjid. Tapi Andy menarik tanganku.
“Sya, harusnya kamu tanya aku begini ‘lah kok modal sih?’ ” aku tertawa geli ketika Andy menginstruksiku agar aku mengikuti ucapannya itu dan aku pun mengikuti pintanya.
“Lah kok modal sih?” ucapku sambil menertawainya ketika ku melihat mimik mukanya yang terlihat kesal.
“Iya modalin buat ngehalalin kamu” ujarnya tak bersemangat karena aku baru sadar kalau ternyata dia ingin mencoba merayuku.
“Hahahaaa oh ternyata ceritanya mau ngerayu gitu” Aku terus saja menertawainya. Sementara dia hanya menganggukan kepala dengan lemasnya.

Aku pun menuju masjid dengannya untuk sholat magrib terlebih dahulu. Setelah itu aku memutuskan untuk menyetujui permintaanya agar menemuinya lagi. Kita seperti tak kehilangan obrolan yang harus kita obrolkan. Justru kali ini aku mulai merasa nyaman berada di dekatnya.

Angin malam mulai terasa menyentuh tubuhku aku pun melirik jam di tanganku. Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Maka kali ini aku benar-benar harus pamit untuk pulang. Andy pun menyetujuinya, awalnya dia berniat ingin mengantarku pulang tapi aku menolaknya. Aku lebih memilih naik ojek online saja. Dan lambain tangannya memisahkan akhir pertemuan kita.

Waktu kian terasa singkat tak terasa dua minggu lagi aku akan mengakhiri masa penantianku. Aku akan menikah dengan Rama. Proses menuju pernikahan memang terasa sulit ada saja perselisihan pendapatku denganya tapi kita selalu bisa untuk menyelesaikannya. Aku merasa beruntung memiliki Rama karena dia yang selalu sabar menghadapi sikapku yang tekadang kurang dewasa dalam menghadapi masalah. Dan sudah sebulan ini aku tak lagi berhubungan dengan Andy. Sudah kuputuskan kalau aku tak mau menyecewakan Rama. Kukubur rasa kekagumanku dulu, kusingkirkan anganku bersamanya. Aku sudah dipilih dengan seseorang yang dengan tulus mencintaiku. Aku tak mau merusak segalanya.

Kali ini kita akan fitting baju pengantin untuk terakhir kalinya untuk memastikan kondisi pakaian tersebut. Aku pun terkagum melihat Rama yang terlihat gagah ketika mencoba pakaian adat jawa lengkap dengan blankon di kepalanya. Sementara aku mencoba kebaya adat jawa juga. Setelah kami rasa tak ada masalah dengan pakaian tersebut kami memutuskan untuk pamit dari sana. Sebelum pulang aku memutuskan untuk ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli kosmetik. Sementara Rama memilih untuk menungguku di luar karena aku hanya sebentar saja di sana. “Resya!!” aku merasa ada yang mencolekku dan ternyata dia Andy. Aku langsung bingung karena sudah sebulan ini aku tak menanggapinya. Aku lebih fokus ke acara penikahanku. Aku tak mau melukai Rama dengan kehadirannya.
“Eh kamu Ndy” ujarku terlihat panik
“Kemana aja kamu aku bbm, whats App, telepon nggak ada jawaban. Kamu mau ngejauhin aku ya” ucapnya kesal
“Hmm.. maaf ya tapi…” entah mengapa lidahku terasa kelu sulit rasanya untuk menjelaskan ini semua.
“Tapi apa?? Kamu tahu selama ini aku mencintaimu dalam diam. Sikap cuekku dulu sebenarnya untuk menutupi rasa ketertarikanku. Waktu itu juga aku menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan perasaanku terhadapmu. Andai kamu tahu bagaimana rasanya ketika aku harus kehilanganmu. Aku menunggu kabar kamu setiap saat” tuturnya dan dia tak peduli ketika itu aku dan dia seperti ada di sebuah adegan film.
Aku terdiam membeku di sana. Aku tak menyangka kalau dia merasakan hal yang sama denganku dulu. Tapi bedanya kini aku tak menaruh rasa cintaku padanya. Aku hanya merasa nyaman sebagai seorang teman. Aku tak tega melihat raut wajahnya yang terlihat lesu dan suaranya yang terdengar parau.
“Aku juga mengangumimu dalam diam tapi itu dulu. Aku bahkan tahu rasanya menunggu tanpa ketidak pastian. Dan menginginkan sesuatu yang ku yakini hanya aku yang merasakannya. Seandainya waktu itu kamu tak secuek dulu mungkin akan lain ceritanya tapi maaf sekarang aku sudah memiliki seorang pendamping hidup. Aku mencintainya dan tak ingin melukainya” aku berusaha tegar ketika aku tak kuasa melihat sekumpulan air mata di sudut matanya itu.
“Kamu tak ingin melukainya tapi kamu melukaiku Sya” ucapnya nanar
“Maaf Ndy aku tak ada maksud seperti itu. Dan cinta itu butuh ketegasan. Dua minggu lagi aku akan menikah”
“Apa?? Apakah mungkin aku bisa menerima ini semua?” ucapnya tak terima
“Maafkan aku” ujarku lirih lalu membalikkan badanku tapi ketika ku membalikkan badan aku sudah melihat Rama berdiri mematung di belakangku.
“Rama?” ucapku kaget
“Kenapa harus pihak pertama yang selalu tersakiti?” bicaranya dengan tatapan tajam memperhatikanku dan Andy.
“Sepertinya kamu salah paham yang” aku berusaha mengklarifikasinya.
“Sewaktu kamu mengingau menyebut pria lain selain aku, aku bisa terima. Dan aku juga sempat memata-mataimu ketika saat itu kamu membohongiku. Kamu bilang lembur padahal kamu menemui pria lain. Waktu aku ingin memberikanmu kejutan dan aku menjadi marah terhadapmu karena aku merasakan ada hal janggal yang kurasakan aku masih bisa menerimanya juga. Tapi ketika saat ini aku melihatmu menemuinya lagi aku sudah tak lagi mempercayaimu. Batas kesabaranku sudah mencapai puncaknya. Hatiku hancur aku tak bisa menikahimu jika hatimu bukan untukku. Aku tak tahu seberapa dalamnya kau mencintainya tapi yang pasti kali ini aku kecewa dan benar-benar tersakiti olehmu” ucapnya detail dan tak memberikanku kesempatan untuk menjelaskannya
“Aku seseorang yang ada di masa lalu dan di masa depannya. Aku mencintainya dan dia pun begitu. Kamu telah merebutnya dariku” aku tak menyangka mengapa Andy tiba-tiba berbicara seperti itu dan semakin memperkeruh suasana.
Tanpa pikir panjang Rama pun meninggalkanku di sana bersama pria yang kini ku benci. Aku tak menyangka Andy bisa berubah menjadi setega ini. Merusak anganku bersama calon pendampingku. Membuat segalanya terasa sia-sia. Entahlah aku lemas tak berdaya yang aku inginkan hanya melampiskan amarahku kepadanya.
“Puas kamu sudah merusak semuanya!!!” bicaraku lalu menamparnya dan segera berlalu meninggalkannya. Sementara dia hanya tersenyum licik melihat ke arahku.

Sejak kejadian itu aku jadi susah berkomunikasi dengan Rama. Setiap kali aku menelpon dia tanpa mau mengangkatnya begitu pun di saat aku menghampirinya di kantor dia selalu menjauhiku. Sulit untukku menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Aku menjadi terpukul ketika harus menerima kenyataan ini. Semua rancangan yang kami buat bersama harus melebur tanpa tujuan. Aku berusaha untuk memperbaiki ini semua dan aku tak mau membuat orangtuaku kecewa. Aku berharap masih ada sedikit harapan untuk membuat ini semua menjadi baik.
“Yang, kamu yakin untuk menyudahi ini semua. Berbagai rancangan yang sudah kita susun bersama kamu rela menghancurkannya. Meskipun begitu perasaan cintaku tak berkurang sedikit pun terhadapmu. Aku akan selalu menunggumu sampai kamu siap menemuiku lagi” aku mengirimkannya chat bbm kepadanya. Aku sudah pesimis karena sudah kehilangan komunikasi dengannya. Dan benar saja dia hanya membaca chat itu tanpa membalasnya. Kini aku pasrah apapun yang terjadi nantinya.

Kartu undangan sudah dibagikan, baju pengantin pun sudah siap. Aku tak yakin jika pernikahan ini bisa terlaksana karena sampai mendekati hari pernikahan Rama tak kunjung menghubungiku. Aku pun selalu mengurung diri di dalam kamar. Aku tak bisa menerima kenyataan kalau pernikahan ini akan batal.

Hari itu pun datang hari dimana seharusnya aku berbahagia. Tapi ini justru aku harus pasrah terhadap apapun kenyataannya nanti. Aku ikhlas jika nantinya aku tak berjodoh dengannya. Aku terus saja menutup mataku. Aku tak sanggup melihat kenyataan pahit ini. Sampai akhirnya penata riasku menyuruhku untuk membuka mataku dan seketika aku melihat kehadiran Rama di belakangku. Aku tak pecaya kini dia sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Di sampingnya pun terlihat Andy dan Sindy yang sedang memperhatikanku. Seharusnya dia tak berada di saat ku sedang dirias tapi dia hanya ingin menjelaskan kalau dia ternyata salah sudah tak mempercayaiku. Aku pun menerima penjelasannya.

Kini Rama tampak tegang ketika sedang mengucapkan ijab kabul di hadapan ayahku. Aku pun berdebar mendengarkan. Tapi akhirnya ketegangan itu terbayarkan sudah di saat Rama mampu mengucapkan ijab kabul dengan mantapnya. Kali ini kita pun akhirnya sah sebagai pasangan suami-istri. Terpancar rona bahagia di wajah kami.

“Aku bahagia memilihmu sebagai istriku” ujar Rama sambal mencium keningku. Air mataku pun menetes penuh haru.
“Jangan nangis nanti make up kamu luntur” ledeknya
“Aku hampir putus asa kalau nggak ada kamu” bicaraku lirih
“Iya maaf ya kalau aku udah buat kamu khawatir. Andy sudah menjelaskan itu semua. Dia juga sudah mengikhlaskanmu untukku. Terima kasih ya Ndy” bicaranya ke arah Andy ketika dia bersalaman dengan kami di panggung resepsi.
“Iya aku juga minta maaf hampir aja kalian gagal menikah karena aku. Tapi aku sadar kok kalau cinta itu harus dikejar bukan ditunggu. Semoga kalian bahagia selalu ya” kini Andy tampak ikhlas melihatku bersanding dengan Rama.
“Iya Ndy, cinta itu tak harus selalu di tunggu dan lain kali lebih peka ya” ledek Rama yang entah mengapa melirik ke arah Sindy yang sedang berada di belakang Andy. Sindy tampak sedang memperhatikan Andy.
“Ya Ram, nanti kalau aku sudah menemukan jodohku pasti aku akan undang kalian. Minta do’anya aja ya semoga segera dipertemukan”
“Amin” entah mengapa Sindy tampak antusias mengucapkannya. Dan kami pun tertawa memperhatikannya yang tersipu malu ketika Andy menatap kaget ke arahnya.

Akhirnya kisah kami berakhir dengan kebahagian. Mengiklaskan seseorang memang sangatlah sulit terlebih seseorang itu pernah kita cintai. Tetapi apakah mungkin kita harus memaksakan seseorang yang tak mencintai kita. Dan cinta itu terkadang butuh ketegasan. Jika kita mencintai seseorang nyatakanlah sebelum semuanya terlambat.

Selesai

Cerpen Karangan: Retno santi finarsih
Facebook: Retno santi finarsih
Jika para pembaca mau membaca kumpulan cerpen saya bisa di Follow :
wattpad: Retnoshanty
Blog: Retnoshanty.blogspot.com
Instagram: Santy.retno
Terima kasih

Cerpen The Second Time (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary of a Secret Admirer

Oleh:
Nemyca Jelivia, wanita berjilbab yang akrab dipanggil Nem. Kini ia menduduki bangku kelas IX di salah satu SMP di kotanya yang terbilang unggul untuk saat ini. Nem memang hobby

Heart to Hurt

Oleh:
Aku menikmati peran ini, bukan sebagai pemeran antagonis, atau pengemis cintanya Maurer. Hanya saja, aku terlanjur terjun pada jurang yang membuatku nyaman. Meski pada kenyataannya aku tak benar-benar bebas.

Ini Hati Bukan Halte

Oleh:
“Aku gak nyangka, kepercayaan aku kamu sia-siain gitu aja” “Tapi Kay, maafin aku” “Gak Nik, kamu pernah nyakitin aku tapi aku maafin, terus aku udah kasih kepercayaan ke kamu

Dilema Berakhir Indah

Oleh:
“Vo, tadi aku ketemu sama kak Al”. Aku hanya membalasnya dengan senyuman manisku. “Kamu mau nolongin aku nggak?”. “Emang mau nolongin apa?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari novel yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *