The Second Time (Part 1)

Judul Cerpen The Second Time (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 9 January 2017

Pagi ini hujan menguyur ibu kota Jakarta. Rasa malas masih bergelayut di tubuhku. Malas rasanya beranjak dari tempat tidur. Tapi seketika bunyi mesin motor membuatku mengintip ke arah luar dari jendela kamarku. Ternyata Rama sedang memarkirkan motornya. Ku ambil segera handuk yang berada di kamar mandiku ketikaku melihatnya sudah lepek terkena hujan.

“Kamu nggak bawa jas hujan yang?” aku pun membasuhkan handuk ke pundaknya yang basah terkena hujan.
“Tadi nggak hujan nduk eh pas setengah jalan mulai turun hujan, mau balik ke rumah males ya udah lanjut aja deh” ujarnya dengan panggilan kesayangannya terhadapku.
“Kasihan. Ya udah masuk ke dalam rumah yuk. Sekalian kamu buka jaket kamu biar nggak masuk angin nanti!” Aku mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
“Aduh perhatian banget sih” ucapnya sambil mencolek daguku.
“Ih pakai nyolek-nyolek lagi. Udah yuk masuk!” aku pun menarik tangannya agar segera masuk ke dalam rumah.
“Eh-eh tunggu dulu… Kayanya kamu belum mandi ya?” Dia mengendus-ngendus ke arahku.
“Hehe iya. Tadi abis sholat subuh aku tidur lagi eh malah keblablasan” jawabku santai
“Ampun deh untung aja sayang kalau nggak udah aku bawa ke tempat laundryan kamu. Ya udah cepetan mandi keburu macet nanti. Kita kan mau nyetak undangan” dia langsung memberikan handuk yang berada di pundaknya ke arah tanganku sambil mendorong badanku agar segera ke kamar mandi.

Rama handoyo adalah tunanganku. Kita sudah menjalin pertemanan sekitar setahun lalu dan sekitar 3 bulan yang lalu dia melamarku. Rasa haru dan senang berkecamuk di hatiku. Aku tak menyangka seorang pria yang awalnya hanya kutemui di sebuah angkutan umum dan berkembang menjadi seorang teman kini menjadi calon pendampingku. Selama ini kita terkesan santai dalam menjalani sebuah hubungan, dia tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku hanya saja dia selalu memberikan perhatian lebih kepadaku. Aku tak peka terhadap perlakuannya selama ini. Sampai pada akhirnya dia menyatakan kalau dia ingin menikahiku. Saat itu aku hanya menangis terharu di hadapannya dan tanpa pikir panjang aku menerimanya. Tepat 3 bulan lalu dia memberanikan diri untuk melamarku di hadapan orangtuaku dan memperkenalkan keluarganya ke keluargaku.

Kini waktu mulai terasa singkat kita pun mulai mempersiapkan pernikahan kita yang tersisa dua bulan lagi. Beberapa persiapan sudah kita selesaikan tinggal beberapa persiapan lagi yang belum kita rampungkan. Maka kali ini kita mulai mencetak undangan pernikahan yang terpenting dari persiapan ini.

“Kamu setuju nggak yang kalau modelnya yang seperti ini? Simple keliatan elegant juga” aku menunjuki salah satu contoh undangan ke arahnya.
“Aku terserah kamu aja” jawabnya yang menenangkan hatiku.
“Aduh so sweet banget sih ayang” ledekku sambil mengelus alis tebalnya.
“Mau bikin berapa undangan mas-mba?” ucap mas pencetak undangannya itu
“500 mas” jawab Rama mantap
“Isi kata-katanya?” tanyanya lagi
“Seperti ini mas” aku memberikan selembar kertas ke mas Anto pencetak undangan itu.
“Oke” jawabnya sambil memperhatikan contoh tulisan itu
“Terus pembayaran dan pengambilannya gimana mas?” ujar Rama
“Nanti Insya Allah sebulan sudah bisa di ambil atau di kirim langsung ke rumah mbanya juga bisa. Kalo pembayarannya setengahnya ajah dulu kalo sudah selesai baru di lunasi nggak pa-pa. Soalnya biar enak gitu hehe” candanya

Transaksi pembayaran pun dilaksanakan dan kita pun memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu di sekitaran arah sana sambil iseng mencari souvernir. Karena di daerah sana juga banyak tersedia aneka perlengkapan pernikahan. Aku yang memang hobinya jalan-jalan merasa senang berkeliling di sana. Tapi tiba-tiba ada yang menganggu pemandanganku. Sosok seorang pria yang melintas di hadapanku. Sosok yang pernah kukenal dan membuatku penasaran. Aku pun segera pamit ke Rama dengan alasan ingin ke toko seserahan sebentar. Padahal aku ingin mengejar seorang pria itu.

“Andy.. Andy..” aku memanggil pria itu sambil terus mengejarnya tapi dia tak sedikit pun menoleh ke arahku. Karena rasa penasaran yang berkecamuk di hati ini aku pun menarik tangan pria itu agar dia mau berhenti berjalan. Dan ternyata pria itu, “Andy, apa kabar kamu? Masih ingat aku?” aku terus saja mencecarinya dengan ucapanku. Dia hanya mengerutkan pandangannya seperti orang yang tak mengenaliku. “Aku Resya aprilianti” aku mengingatkannya dengan tatapan tajam ke arahnya.Lagi-lagi dia hanya mengerucutkan pandangannya dan membalikkan badannya. Dengan kesalnya aku berkata, “Oh gini ya sekarang kamu sombong. Baru beberapa bulan nggak ketemu udah sombong. Aku kangen kamu loh. Serius”. “Hei kamu stres ya saya nggak kenal kamu dan nama saya handy bukan andy. Ngerti!” ujarnya yang membuatku makin penasaran. “Yakin kamu bukan Andy? Mata aku masih normal loh kamu tuh Andy, itu ada tahi lalat di pipi kiri kamu”. Dia pun langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajahku dan berucap, “Mana tahi lalatnya??”. “Tadi ada loh serius” ujarku yang mulai kehilangan kepercayaan diri. “Apa perlu saya kasih KTP saya biar kamu percaya kalau nama saya HANDY” bicaranya dengan nada kesal. Aku pun langsung membalikkan badanku dengan rasa malu dan berkata, “Nggak usah”. Pria itu sontak mengoceh dengan ocehan entah apa yang dia lontarkan. Sementara aku segera mempercepat langkahku menjauhinya. Aku malu sekali rasanya.

Andy merupakan teman sekantorku dulu. Dulu aku pernah menaruh rasa ketertarikanku padanya. Sejak awal dia masuk di kantorku entah mengapa pandanganku langsung tertuju padanya. Sekian hari aku mulai mengangguminya dalam diam. Sampai akhirnya aku harus resign dari pekerjaanku dan pindah ke kantor tempat Rama bekerja. Enam bulan tak bertemu dengannya membuatku rindu dengannya. Tatapan itu senyuman itu selalu membekas di hatiku. Tapi ya sudahlah dia hanya sosok seorang yang aku kagumi dulu. Kini aku ingin menjalani masa depanku dengan Rama. Seorang pria yang Allah kirimkan untukku. Rama? Oiya aku tersadar kalau sejak tadi aku meninggalkannya aku pun segera kembali ke tempat Rama berada.

“Yang maaf ya lama” ucapku dengan paniknya
“Emang kamu disana bantuin jualan apa nduk?” candanya dengan di selangi tawanya yang khas.
“Ngeledek?? Siapa yang jualan sih” ucapku kesal karena dia terus saja menertawaiku.
“Laku berapa?” ledeknya lagi
“Tau ah kesel” aku langsung memonyongkan bibirku karena dia paling senang ketika berhasil membuatku kesal.
“Oh tayang-tayang… anak manis nggak boleh marah nanti cantiknya hilang loh” ujarnya memperlakukanku bak anak kecil yang sedang marah.
“Udah ah.. Pulang aja yuk” pintaku.
“Kapan?” tanyanya dengan tatapan usil
“Tahun depan!!” aku kesal dan langsung membalikkan badanku.
“Haha.. Ya udah yuk pulang yuk” dia mengandeng tanganku sambil menatapku dengan manisnya. Aduh meleleh aku jadinya.

Entah mimpi apa aku semalam. Pagi ketika ku datang ke kantor aku terkejut melihat sebuklet mawar merah beserta ucapan romantis dengan sebungkus bubur ayam di meja kerjaku. “Happy nice day and don’t forget smile for me” itulah ucapan di selembar kertas yang terselip di bunga itu. Aku tak tahu siapa yang menaruh ini semua. Aku pun melirik kanan-kiri mencari keberadaan orang yang memberikan ini semua.
“Cie-cie so sweet banget pagi-pagi udah dikirimin bunga” tegur Sindy teman kantorku ketika melihatku membawa sebuklet bunga mawar merah.
“Aku lagi bingung nih Sin, siapa ya yang ngasih aku bunga sama bubur ini?” ucapku masih dengan kebingunganku.
“Lah kok bisa. Emang nggak ada nama pengirimnya?”
“Nggak ada Sin. Kira-kira siapa ya?” entah mengapa aku jadi kepikiran Andy. Apakah mungkin seseorang yang tak ada kabarnya lagi bisa muncul secara tiba-tiba? Dan memberikan sebuah kejutan untukku? Aku pun larut dalam khayalanku dan memikirkannya.
“Nduk, kok buburnya belum dimakan?” suara pria itu pun membangunkanku dari lamunanku.
“Iya Ndy” spontan ku menyebut namanya ketika aku tersadar.
“Siapa yang kamu maksud?” aku kaget sekali ketika Rama yang menegurku dan mimik mukanya terlihat seperti orang yang sedang mencurigai pasangannya.
“O..oh.. ada kamu yang. Oh tadi aku lagi ngobrol sama Sindy” jawabku gugup mencari alasan
“Oh kirain kamu lagi mikirin siapa gitu” ucap Rama. Baru kali ini aku melihatnya bisa securiga ini dan mencemburuiku.
“Ya nggaklah yang. Hmm.. ceritanya kamu cemburu ya” aku berusaha membuatnya tenang.
“Ya ampun nyamuk banget aku di sini” tiba-tiba Sindy berujar dan aku baru tersadar kalau dia masih berada di sampingku.
“Eh masih ada kamu Sin?” aku terhentak kaget
“Iyalah aku dari tadi masih di sini. Ya udah aku pergi ah nggak enak ganggu kalian” Sindy pun meninggalkan kita berdua dan suasana menjadi tegang kembali.
“Iya Sin. Yang kamu merasa ngasih bunga sama bubur ini nggak?” pikiranku pun tersadar mungkin ini semua Rama yang memberikannya karena dialah orang yang selalu berada di sampingku.
“Emang kamu kira siapa yang memberikan ini semua?” dia balik bertanya kepadaku dan tatapannya tajam menatapku.
“Ya aku kan nggak tahu siapa yang memberikan ini semua. Lagipula nggak tertera nama pengirimnya juga” aku merasa panik dan merasa seperti di intrograsi.
“Coba kamu lihat di sudut bawah sebelah kanan di sana tertera nama pengirimnya” ucapnya memberikanku instruksi. Dan aku kaget ketika kulihat nama pengirimnya. Ternyata Rama yang memberikan ini semua. Sebelumnya dia tak pernah seromantis ini makanya aku tak kepikiran kalau dialah yang memberikannya.
“Oh kamu yang memberikan ini semua buatku” aku berbicara selembut mungkin karena aku melihat mimik mukanya yang terlihat kaku.
“Kamu pikir siapa memangnya??” tanyanya lagi dengan intonasi penuh ketegasan.
“Aku nggak kepikiran kamu yang. Soalnya kamu nggak pernah seromantis ini” aku mencoba menutupi rasa ketakutanku terhadap sikapnya itu.
“Kamu lagi dekat sama siapa selain aku? Sampai kamu meragukan keromantisanku?” dia semakin menunjukan kecemburuannya.
“Cuma kamu yang nggak ada yang lain di hati aku. Aku takut sungguh melihat sikapmu yang tak biasa ini” ucapku lirih sambil menundukan wajahku agar tak menangis di hadapannya.
“Aku cuma tak mau ada seseorang di hubungan kita. Aku tak mau ada pihak yang terluka nantinya. Kita sudah melewati hari-hari bersama dalam suka dan duka. Tinggal selangkah lagi kita akan melabuhkan hati kita berdua. Jangan sampai ini semua terbuang sia-sia. Aku mencintaimu tulus maka aku tak mau kamu membiarkan cintaku terbuang percuma” dia berujar dengan bijaknya dan mengelus rambutku dengan lembut.
Tak pernah sebelumnya dia secemburu ini padaku. Aku tak tahu mengapa dia bisa tahu kalau aku memikirkan pria lain selain dia. Mungkin benar apa yang dia katakan kita sudah hampir mencapai tujuan kita. Bagaimana bisa semua rancangan dan angan itu sia-sia ketika ada sesuatu hal yang menghalanginya. Tapi akhirnya persoalan itu bisa selesai setelah aku menyakinkannya. Aku juga tak mungkin membuarkan mimpiku untuk bersanding dengannya.

Setelah kejadian pagi tadi sikapku menjadi kaku kepadanya. Aku masih takut dia marah denganku. “Kamu kenapa? aku nggak akan gigit kamu kok” Rama mengajakiku bercanda ketika dia mengantarku pulang. Aku hanya tersenyum lesu padanya. Dia pun mengegam tanganku dan berujar, “Aku nggak ada maksud untuk membuat kamu takut. Aku cuma ingin kita saling jujur”. Dia benar dalam sebuah hubungan memang harus saling jujur supaya tak ada kesalah-pahaman nantinya. Tapi tak mungkin juga untuk saat ini aku memberitahukannya kalau aku memikirkan lelaki lain selain dia. “Maaf ya kalau aku kurang peka ke kamu” ucapku yang mulai terlihat agak tenang. Dia pun berkata, “Iya maaf aku juga udah membuat kamu takut. Jangan kecewain aku ya”. Aku pasti tak akan menyecewakannya hanya saja semenjak kemarin ku menemui seseorang yang mirip dengan Andy aku jadi merindukannya.

Keesokan harinya Sindy menondongku dengan pertanyaan yang membuat pagiku terasa tak bersemangat. Dia mencari tahu tentang hubungan aku dan Rama yang terlihat terlibat pertengkaran kemarin. Meskipun dia teman tempatku bercerita tapi tak semua hal yang harus kucurahkan kepadanya. Dengan malasnya aku pun memberikan klarifikasiku.
“Nggak seperti biasanya loh dia begitu” ujarku lesu
“Emang sebenarnya siapa sih yang salah dan pokok permasalahannya apa sih?” Sindy menginterograsiku.
“Kemarin tuh dia kayanya aneh banget kaya lagi cemburu gitu” tuturku
“Oh pantes” ujarnya sambil menatapku lekat.
“Kamu kenapa kok ngeliatin aku gitu?” sikap Sindy membuatku bertanya dan membuatku panik.
“Waktu Rama nganter kamu pulang dari nyetak undangan dia bilang kamu tertidur di motor dan dia mendengar kamu mengingau menyebut nama Andy. Terus dia nelepon aku menanyakan hal itu ke aku. Makanya mungkin saat itu dia mulai curiga ke kamu. Dia sampai memaksa aku buat cari tahu siapa Andy. Ya aku bilang aja kalau aku nggak tahu dia siapa”
Ya ampun aku mengapa bodoh sekali bisa menyebut nama pria lain ketika ku bersamanya. Pantas saja dia mulai curiga kepadaku. Dan aku pun segera menjelaskan itu semua kepada Sindy orang yang aku percaya bisa menyimpan rahasia ini dari Rama.
“Andy itu masa lalu aku Sin. Dulu aku mengangguminya cuma kekagumanku tak terbalas. Tapi nggak tahu kenapa aku sekarang jadi kangen dia. Cuma kangen aja kok Sin aku nggak pakai hati”
“Tetap aja kamu salah seharusnya kamu cerita ke Rama. Karena dia berhak tahu karena kalian akan menikah. Lagipula pasti dia terluka ketika kamu menyebut nama pria lain di hadapannya. Jelaskan ke dia Sya. Lebih cepat lebih baik agar tak ada lagi kecurigaan itu” Sindy menasihatiku dengan bijaknya.
Aku pasti akan menceritakannya ini pada Rama. Aku tak ingin membuatnya terluka dan membuat hubunganku dengannya berjalan dengan kecurigaan. Dia berhak tahu tidak baik jika ku harus menyimpan rahasia darinya. Semua harus berjalan dengan kejujuran dalam sebuah hubungan.

Ku ingin menjelaskan ini semua padanya. Aku pun memutuskan untuk membeli sebuah kue brownies kesukaannya itu ketika ku pulang kerja. Kali ini dia harus ditugaskan ke luar kantor jadi kita tidak pulang bersama. Maka aku ingin menebus kesalahan ini padanya. Kebetulan toko kuenya tak jauh dari kantorku, aku pun mampir sebentar untuk membeli kue di sana.
Mataku langsung tertuju ke arah brownies yang tersaji di rak display di lorong sebelah kanan dari pintu masuk toko kue itu. Aku memang tak ingin berlama-lama di sana aku takut terjebak macet karena arah rumah Rama terkenal dengan kemacetannya. Ketika aku ingin berjalan ke arah kasir aku mendengar seperti ada seseorang yang menegurku.
“Heii…” panggilnya dari arah belakangku belum sempat aku menengok dia sudah menghampiriku. Dan aku kaget bagaimana bisa aku bertemu lagi dengan orang yang kusangka Andy saat itu.
“Kamu orang yang waktu itu ya” ku memperhatikan detail tubuhnya.
“Kamu Resya kan ya. Hai apa kabarnya?” aku bingung mengapa orang itu jadi ramah terhadapku padahal saat itu dia sombong sekali kepadaku.
“Sok kenal deh. Kamu orang yang waktu itu aku sangka Andy itu kan ya” bicaraku sewot.
“Aku emang Andy kali. Kita kan pernah satu kantor. Emang sih udah 6 bulanan kamu resign dari sana tapi masa udah lupa sih” ucapnya
Aku pun memperhatikan wajah pria itu lagi kali ini kufokuskan tatapanku ke arah pipi kirinya mencari keberadaan tahi lalatnya. Dan aku pun melihat tahi lalat itu, apa mungkin orang ini benar Andy. Aku tak mau salah orang lagi. Aku pun agak bingung dan canggung.
“Kamu benar Andy?” ucapku ragu
“Iya ini aku” senyuman itu hadir kembali, kini aku percaya kalau dia memang benar seseorang yang selalu kurindukan. Aku tak menyangka aku bisa bertemu dengannya lagi. Ada guratan kerinduanku terhadapnya.
“Kamu sekarang kerja dimana?” tanyanya
“Nggak jauh dari sini kok. Kamu masih di sana?” bicaraku grogi
“Masih kok kamu kok nggak pernah main sih nggak kangen apa?” ingin rasanya kukatakan kalau aku merindukannya tapi aku tak mau dia mengetahuinya. Cukup dalam diam ku mengangguminya.
“Kamu udah mau pulang nih?” sungguh kali ini sikap Andy tak secuek dulu aku pun terbuai dengan anganku dulu.
“Iya” jawabku singkat.
“Kalau nggak keberatan bisa nggak kita ngobrol sebentar kangen nih udah lama nggak ketemu kamu” ajaknya
Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan ajakannya itu. Aku urungkan niatku untuk bertemu Rama dan menjelaskan perkaraku padanya. Aku tak bisa mengbohongi perasaanku yang juga merindukannya. Dia pun mengajakku untuk ke tempat makan dekat sana. Di sana kita saling bercerita mengulas masa lalu itu. Masa di mana aku selalu memperhatikannya dari kejauhan, masa di mana aku yang diam-diam mencari keberadannya. Kita semakin asyik mengobrol sampai akhirnya aku tak sadar sudah lumayan lama aku bersamanya. Maka kita pun saling berpamitan untuk pulang. Tapi kini kita saling menyimpan kontak masing-masing agar kita bisa bertemu kembali. Senang rasanya bisa menatapnya lagi. Senyuman itu meneduhkanku.

“Hei yang lagi ngapain? Sarapan dulu yuk aku bawain kamu brownies nih” aku menegur Rama di meja kerjanya yang berada di samping ruang kerjaku. Aku memberikan kue yang kemarin ku belikan untuknya.
“Tumben. Ceritanya mau nyogok aku nih” ujarnya jail
“Ishtt.. kamu masih marah aja sih. Aku ikhlas kok ngelakuin ini buat kamu. Serius” bicaraku menyakinkannya.
“Iya-iya ya udah sini yuk kita makan bareng” dia langsung memberikan kursi yang berada di sampingnya itu.
“Cielah yang udah baikan” ledek Sindy ketika melintas di depan kita.
“Eh Sindy sini yuk gabung kita sarapan bareng!” ujar Rama
“Hmm.. manis bener ngajakinnya” ucapku yang kali ini justru aku yang mencemburuinya.
“Aishh.. gawat sekarang giliran yang perempuan yang cemburuan. Udah ah aku pergi. Makasih Ram, nanti aja kita makan barengnya kalau nggak ada dia” ujar Sindy meledekiku yang entah mengapa aku ikut terpancing. Padahal kita bertiga sudah berteman akrab.
“Nduk kenapa bibirnya keriting gitu. Udah ah yuk makan udah ngiler ini!” ucap Rama memperhatikan mimik mukaku yang sedang kesal itu.
“Awas genit-genit lagi sama Sindy. Aku kardusin nanti kamu” aku mengancamnya.
“Hahaa emang aku barang bekas dikardusin. Lagian siapa yang genit sih udah ah kamu jangan ngaco. Hati aku tuh udah mentok di kamu. Serius” bicaranya sambil menatapku tajam.
Jika dia sudah bicara begitu aku tidak bisa berkutik lagi. Rasanya aku seperti terbang di awang-awang. Rama memang paling bisa menenangkanku dengan jurus kata rayuannya jika aku sudah marah. Dia bukan tipe seorang pria romantis makanya aku kadang suka tersipu malu jika dia sudah mengeluarkan kata gombalannya itu.

Cerpen Karangan: Retno santi finarsih
Facebook: Retno santi finarsih
Jika para pembaca mau membaca kumpulan cerpen saya bisa di Follow :
wattpad: Retnoshanty
Blog: Retnoshanty.blogspot.com
Instagram: Santy.retno
Terima kasih

Cerita The Second Time (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Akhir Waktuku

Oleh:
Ku buka tirai jendela kamarku. Matahari bersinar cerah, seperti berlawanan dengan suasana hatiku yang masih seperti semalam. Semalam jantungku berdegup kencang. Kini deg deg-an itu menghilang. Tapi resah itu

Cintaku Tulus

Oleh:
Aku mengenalnya dari sahabat terbaikku. Dia seseorang yang ramah dan selalu tersenyum pada semua gadis. Ya, termasuk aku salah satunya. Seperti pada sebuah istilah “Cinta pada pandangan pertama” entah

Hear Me? Miss Me?

Oleh:
Namaku Megumi, aku bersekolah di SMAK SSang Timur (Tomang). Aku mempunyai sahabat bernama Monica, yang biasa kupanggil Monik. Setiap hari aku selalu bersama-sama dengannya, apalagi kami petugas agenda. “Hmm…

Jomblo Bukan Kutukan

Oleh:
Cinta itu seperti perang, mudah dimulai namun sukar diakhiri. Begitulah kata pepatah yang pernah kubaca pada sebuah novel. Bagiku, pepatah tersebut memang benar adanya. Karena aku adalah seorang cewek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *