Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

3 minggu menjelang pembukaan pabrik di Malang, Davin mulai menunjukan perubahan, dia full time di kantor dan mulai serius mempelajari apa-apa yang aku ajarkan, hampir setiap hari kami pulang kerja bersama dan dia sudah tidak pergi larut malam lagi. Iseng aku pernah bertanya, apa yang membuatnya berubah? Jawabannya membuatku sedikit terkejut, Zian. Ya… dia tidak ingin Zian membantuku lagi dalam pekerjaan, karena itu dia merasa harus bisa semua pekerjaan supaya aku tidak keteter lagi dalam bekerja. Dalam hatiku aku merasa bersalah karena sebenarnya diam-diam Zian sering menemuiku, kami sering berkomunikasi melalui pesan singkat membicarakan banyak hal dan dia juga sering membawakanku minuman atau makanan di jam kantor, Zian beralasan kebetulan dia sedang lewat dekat kantorku jadi aku tidak bisa menolaknya. Biarpun Zian sering mampir ke kantor tapi selama ini kami hanya bertemu di lobi dan kami tidak pernah ngobrol lama. Selain memang aku sibuk, aku juga tidak ingin terlihat oleh Davin. Pernikahanku dengan Davin memang hanya terikat oleh perjanjian semata, kalau aku mau sebenarnya perasaanku bebas saja ingin menemui siapa saja yang aku mau tapi aku menghargai perasaan Davin yang tidak menyukai aku dekat dengan Zian.

Selain perubahan Davin yang menjadi lebih rajin bekerja, di rumah juga Davin berubah menjadi lebih manis sikapnya biarpun caranya masih selalu menyebalkan buatku dan Davin menepati janjinya tentang peraturan di tempat tidur, tidak pernah sekalipun Davin mengganggu atau menyentuhku, itu membuatku bisa tidur nyenyak biarpun satu ranjang dengannya dan membuatku bangun selalu keduluan Davin sekarang. Ini menyebabkan Davin mempunyai kebiasaan baru setiap bangun pagi, Davin selalu membangunkanku dengan berbagai cara konyolnya dengan mengagetkanku.

Terkadang Davin tiba-tiba meneteskan madu di mulutku yang masih tertidur, begitu aku terkaget bangun, aku akan melihat cengiran Davin yang dengan begitu bahagia berkata “Selamat pagi tuan putri yang manis, selamat menikmati pagi yang manis dengan madu yang manis dari pangeran yang manis,”

Terkadang tiba-tiba aku terbangun karena mendengar bunyi keras dari kamera “cekrak.. cekrek.. cekrak.. cekrek..”, ternyata Davin lagi asyik memotretku yang masih ileran,” Bangun sekarang atau poto-potomu akan tersebar di internet hayooo…,” teriaknya sambil tertawa-tawa kesenangan.

Aku pernah shock karena Davin membangunkanku dengan hair dryer, bagaimana tidak kaget? Orang sedang asyik-asyik terlelap tidur, tiba-tiba telinganya ditodong tiupan kencang hair dryer, saat aku marah protes, Davin seperti biasa dengan muka tidak bersalah beralibi bahwa dia memang sedang mengeringkan rambutnya kok, ya tapi kenapa harus duduk di lantai samping tempat tidurku persis, yang bikin kepala dia dan rambut dia jadi sejajar sama mukaku yang masih tidur di tempat tidur coba? Huhh.. sengaja banget dia.

Bahkan pernah saat aku benar-benar masih lelah habis lembur dan harus meeting pagi-pagi, aku terbangun oleh suara Davin membaca Yassin, dia membaca Yassin tepat di telingaku dengan bibir dia hampir menyentuh telingaku seolah-olah dia sedang mendoakan orang sakit. Dan disaat aku membuka mataku yang masih keryip-keryip dia akan berteriak seperti orang gila, “Ya Allah… terima kasih, ternyata Naniya masih hidup,”. Kalau sudah begitu aku akan melemparnya dengan bantal karena kesal.

Pagi itu, tidak seperti biasa. Davin sebenarnya sudah lama terbangun, tapi dia tidak segera beranjak dari tempat tidur seperti biasa, dia tampak tersenyum-senyum sendiri sambil menatap langit kamar entah karena membayangkan apa, tidak berapa lama aku terbangun sendiri, ahh… senangnya terbangun karena memang tubuh sudah kenyang tidur, bukan bangun karena gangguan Davin. Aku membuka mataku, aku melihat Davin masih berbaring di sampingku.

“Wehh.. tumben kamu belum bangun?,” tanyaku lirih dengan suara parau khas orang bangun tidur, “Sakit kamu?,”
Davin menengok ke arahku, dia tersenyum, “Bagaimana bisa bangun kalau kakimu ngunci kakiku seperti sekarang”. Aku terkejut, eh iya aku baru sadar ternyata kaki kananku memeluk kaki kanan Davin, posisi seperti mengunci guling. Aku langsung menarik kakiku dan duduk bangun dengan muka memerah malu.
“Iishh… Kenapa diam saja kamu? Kesempatan dalam kesempitan ya kamu?,” gerutuku. Davin mengacak-acak rambutku sambil beranjak dari tempat tidur.
“Maaf ya aku tidak berselera dengan wanita yang masih penuh iler,” Ujar Davin sambil menutup pintu kamar mandi. Aku memanyunkan bibirku kesal sendiri, aku menyentuh rambutku yang bekas diacak-acak Davin, aku tersenyum sendiri, aku teringat bapak yang selalu mengacak-acak rambutku setiap aku nakal.

3 hari menjelang keberangkatanku dan Davin ke Malang, aku harus mampir ke rumah ayahnya Davin untuk mengambil sebuah berkas kantor yang tertinggal saat aku masih tinggal di rumah itu, Ayahnya Davin sendiri dengan ibu Ros dan Nino aku dengar sudah berangkat duluan ke Malang sembari berlibur. Rumah sepi saat aku tiba di sana, aku sengaja datang tengah hari supaya aku tidak bertemu dengan Zian. Dan kebetulan hari itu, aku tidak melihat mobil Zian berarti dia sedang tidak ada di rumah. Saat aku menuju ke kamarku, aku melihat kamar Zian pintunya terbuka separuh, aku berniat menutupnya, tapi tiba-tiba aku penasaran ingin melihat kamar Zian seperti apa.

Aku membuka pintu kamar Zian lebih lebar, kamar yang rapi untuk seukuran lelaki, ada TV di dalamnya, aku hanya membantin sendiri, kalau dia punya TV di kamarnya kenapa selama ini dia selalu nonton di ruang tengah saat malam tiba?, mataku menangkap beberapa foto yang menempel di kaca lemari Zian, aku melangkah masuk karena ingin melihatnya lebih jelas, dan betapa terkejutnya aku saat aku tahu, itu adalah fotoku yang tampak tertidur di bahu Zian, mulutku tampak melongo sedikit, aku tersenyum malu sendiri melihatnya, konyol… kenapa Zian sampai memajang potoku seperti ini?

Bunyi panggilan masuk di Handphoneku membuatku kaget, Davin menelepon.
“Ya Vin… sudah ketemu dokumennya kok, aku segera ke kantor sekarang,” Jawabku. Aku menutup teleponku, aku menatap foto yang dipajang Zian, aku melepasnya dari kaca lemari dan memasukan ke tasku, “Maaf Zian… ini tidak benar”.

Sore itu, aku masih menyelesaikan packing bajuku dan Davin di Apartment, sedang Davin masih di kantor untuk menyiapkan beberapa dokumen untuk dibawa ke Malang, kami membagi tugas supaya bisa mengejar pesawat kami yang malam ini jadwalnya karena besok satu hari sebelum acara kami harus melakukan gladi bersih dulu. Aku masih baru memasukan setengah tumpukan baju ke dalam koper saat aku mendengar bunyi bel pintu, Ahh… Davin cepat sekali selesainya, bahkan aku belum kelar, pikirku.

Aku membukakan pintu dengan tergesa, Deg… bukan Davin, tapi Zian yang ada di balik pintu itu. Zian menangkap sedikit keterkejutan melalui mataku. Aku mempersilahkannya masuk. Dan kami berdua sempat terdiam beberapa menit, Zian yang duduk di depanku menatapku lekat, membuatku mulai sedikit risih.
“Ada perlu apa kamu ke sini? Davin sebentar lagi pulang,” tanyaku membuka percakapan.
“Iya aku tidak akan lama kok,” Kata Zian sambil tersenyum, dia menghela nafas sejenak seperti mengatur suaranya.
“Nan, aku kehilangan beberapa foto di kamarku,” Mata kami bertemu.
“Kata Pak Endi, kemarin kamu ke rumah. Emm.. apa kamu tahu tentang foto yang aku maksud?” Zian bertanya hati-hati kepadaku.
“Iya aku tahu, aku yang mengambilnya, Zian,” Jawabku.
“Kenapa Nan?,”
“Karena itu tidak benar,” Jawabku lagi, aku menatap pasti ke Zian, “Bagaimanapun aku adalah iparmu, bisa menimbulkan salah paham kalau ada orang yang melihat kamu memajang fotoku seperti itu,”
“Itu benar, Nan. Benar kalau aku memang menyukaimu, entah kapan tepatnya tapi aku selalu merasakan nyaman saat bersama kamu, aku mengakui ke diriku sendiri bahwa aku jatuh cinta ke kamu” Zian menatap dalam ke mataku seolah meyakinkanku. ”Setelah kontrakmu dengan Davin berakhir, tidak bisakah kita memulai hal baru bersama?”
Aku terkejut dengan pernyataan Zian, selama ini aku memang merasa nyaman berbincang banyak hal dengan Zian tapi aku belum pernah kepikiran ke sana.
“Kau tahu, Zian? Kata orang, rasa nyaman bisa lebih berbahaya dari jatuh cinta. Menurutku, kamu harus lebih berhati-hati dengan rasa itu, gimanapun aku adalah istri kakakmu, sebaiknya kamu pulang sekarang, aku tidak mau Davin melihatmu di sini,” Ujarku sambil beranjak berniat membukakan pintu. Tiba-tiba Zian menarik tanganku.
“Tolong katakan, apa kamu benar-benar menyukai Davin?,” Suara Zian sedikit bergetar. Aku terpaku dengan pertanyaan Zian, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini ke Davin.
“Aku sendiri tidak tahu, tolong jangan tanyakan itu,” Aku berusaha melepaskan tanganku dari pegangan Zian, tapi Zian malah berganti memegang kedua bahuku.
”Tolong jawab, Nan… Supaya aku tahu kejelasannya,” Matanya setengah memohon, “Apa kamu merasakan nyaman dengan Davin seperti layaknya suami istri?,”
“Tentu saja tidak begitu, aku dan Davin hanya terikat oleh perjanjian,” Seruku mulai kesal dengan situasi yang ada. Tanpa kami sadari ternyata Davin sudah berdiri di pintu, dia melihat Zian yang masih memegang bahuku dan dia mendengar juga ucapanku yang terakhir. Zian melepas pegangannya, dia tersenyum ke arah Davin.
“Kamu dengar sendiri kan? Aku memberitahumu, aku akan memulainya kembali untuk Naniya setelah kontrak kalian berakhir,” Ucap Zian saat berpapasan dengan Davin di pintu sebelum dia pergi. Aku terpaku tanpa bisa menjelaskan apa-apa, aku ingin menjelaskan bahwa yang dikatakan Zian bukan seperti yang aku maksud, tapi raut wajah Davin yang merah seperti menahan amarah membuatku tidak berani mengatakan sepatah katapun.

Malam itu, dari berangkat ke bandara hingga di dalam pesawat, Davin sukses mendiamkanku, bahkan setelah tiba di Malang dan masuk kamar hotel, kami berdua masih saling diam, aku begitu ingin memulai percakapan duluan tapi Davin seperti menghindariku. Makan malam pun Davin memisahkan diri dengan keluarga. Saat Davin kembali ke kamar hotel dan melihatku sudah bersiap-siap tidur di tempat tidur, Davin memilih mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya di sofa. Ahh… Aku tidak tahan lagi didiamkan seperti itu, dengan gemas, aku menarik bantal dari kepala Davin.
“Tidak ada yang tidur di sofa lagi, semua tidur di tempat tidur,” Ujarku menirukan kata-kata Davin saat kami pertama pindah ke Apartment. Aku menarik tangannya untuk bangun dan pindah ke tempat tidur, aku mendengar Davin menghela nafas kesal tanpa mengeluarkan suaranya. Dengan dingin dia langsung memejamkan matanya berbaring di sampingku, tampaknya Davin benar-benar tersinggung hebat, bahkan saat tidur tanpa sengaja kakiku menyentuh kakinya saja, Davin langsung memalingkan badannya.

Gladi bersih berjalan dengan lancar, aku dan Davin tenggelam dalam kesibukan masing-masing mempersiapkan opening ceremony buat besok, dia mengajakku bicara hanya jika ada yang menyangkut pekerjaan yang perlu didiskusikan saja, selebihnya dia masih dingin, saat istirahat juga dia lebih asyik berkumpul dengan teman-temannya dari Jakarta yang dia undang secara mendadak. Aku berencana mengajak Davin bicara setelah ceremony selesai nanti.

Acara pembukaan pabrik baru malam itu berjalan lancar, Davin yang tampak gagah dengan setelah jas hitamnya tampil tanpa cela, dia tampak begitu meyakinkan saat berbicara memberi sambutan, presentasi skema produksi pun dia tampilkan dengan begitu baik, aku melihat para investor yang hadir mengangguk-angguk puas dengan gambaran yang dipaparkan Davin. Ayahnya Davin pun begitu bangga melihatnya. Ahh… dia belajar begitu baik, aku tersenyum lega melihat semuanya.

Saat memasuki acara bebas, aku disuruhnya Ayahnya Davin menemani Davin menemui satu persatu tamu penting yang hadir, kami berdua berakting begitu baik sebagai sepasang suami istri, Davin menaruh tanganku di lenganku supaya terlihat harmonis, aku sedikit lega karena merasa batu es di kepala Davin sudah mulai mencair, tapi aku salah, begitu tamu-tamu penting itu pulang, dia langsung meninggalkanku bergabung dengan teman-temannya, mataku tidak lepas mengamati sosok Davin yang terlihat tertawa-tawa bahagia, aku menunggu waktu untuk mendapat kesempatan mendekati dia dan bicara. Hingga lewat tengah malam, Davin masih saja asyik dengan teman-temannya, aku mulai menggigil kedinginan di udara malang malam itu, ayah dan ibu Ros tampak sudah kembali ke kamarnya, tinggal beberapa orang saja yang masih bercengkrama, menyadari aku tidak mempunyai teman, aku beranjak hendak kembali ke kamar hotel tapi langkahku terhenti saat tiba-tiba ada seseorang yang menaruh jasnya ke pundakku.
“Pakailah, kamu sudah terlalu lama menahan dingin dari tadi,” Aku menoleh, tampak Zian tersenyum. Aku kaget karena selama acara aku tidak melihat dia sama sekali.
“Zian… kamu di sini juga? Kok tidak kelihatan dari kemarin?,”
“Yaa.. aku kan memang tidak pernah terlihat sama kamu, Nan,” Ujarnya bercanda, kami berdua tertawa. Zian meminta maaf atas kelancangannya di apartment tempo hari.

“Kau tahu, Nan? Kenapa aku berani datang ke apartment kemarin? Aku pernah membaca info psikologi, bahwa naksir seseorang hanya akan bertahan selama empat bulan, jika lebih dari itu berarti kamu benar-benar jatuh cinta kepadanya. Karena itu aku pernah berdoa, kuharap itu kau, karena rasa ini sudah mulai seperti nafas, yang setiap tarikannya tidak bisa kusembunyikan lagi. Hal itulah yang mendorongku berani menemuimu,” Aku tertawa mendengar kalimat Zian yang panjang lebar itu.
“Hei… itu benar tahu? Yahh… sesaat aku sempat kehilangan diriku, aku pikir posisimu hanyalah seperti di perjanjianmu dengan Davin saja, yang hatinya tidak terikat, tapi aku tidak berpikir bahwa ternyata kebersamaan kalian mungkin saja menimbulkan rasa di antara kalian. Well… Bagaimanapun sekarang kamu adalah istri orang lain, biarpun hanya kontrak, tapi aku sempat lupa bahwa aku harus menghormati itu. Karena itu aku minta maaf ke kamu. Aku akan menjelaskan ke Davin juga nanti, Jadi kamu jangan khawatir,”
Aku menggenggam tangan Zian dengan tatapan penuh terima kasih karena dia mau mengerti keadaanku, bagaimanapun aku merasa bersalah juga karena mungkin sikapku ke Zian selama ini telah menumbuhkan harapan lebih di hati Zian yang membuatnya salah paham. Aku menghela nafas lega karena satu masalahku telah kelar, tinggal satu lagi yaitu menyelesaikannya dengan Davin, aku mengarahkan pandanganku ke arah Davin, mataku bertemu dengan mata Davin yang ternyata sedang menatap tajam ke arahku dan Zian berdiri.
Selama ngobrol dengan Zian, aku tidak memperhatikan bahwa ternyata Davin sudah mengamati kami berdua dari jauh. Ahh… dia pasti salah paham lagi. Aku pun berpamitan ke Zian untuk kembali ke kamar duluan dan mengembalikan jas nya.

Hampir jam 2 pagi, tapi Davin belum kembali juga ke kamarnya, aku mengambil jaketku untuk bersiap-siap akan menyusulkan, saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku terkejut bukan main, Davin yang terlihat setengah mabuk dipapah wanita muda seksi masuk ke dalam kamar. Aku geram bukan main.
“Apa-apaan ini?!,” Seruku dengan suara gemetar. “Maaf mba, terima kasih sudah mengantar suami saya, sekarang silahkan keluar,”
“Hei… siapa kamu? Seenaknya menyuruh orang keluar, aku yang mengundangnya, kalau kamu tidak suka, silahkan kamu yang keluar dari kamar ini,” Ujar Davin cuek sambil membuka jas yang dipakainya dibantu wanita muda itu yang tersenyum menang ke arahku sambil menempelkan dadanya yang montok ke lengan Davin seperti ulet keket.
“Bertemu wanita lain bagiku bukan hanya merupakan bentuk pengkhianatan, tapi itu juga berarti bentuk kamu mengusirku dari hatimu perlahan,” Ucapku dengan mata berkaca-kaca menahan emosi. “Apa sekarang ini kamu sedang mengusirku, Vin? Tolong jawab!”
“Dan bertemu lelaki lain di rumah sendiri apa itu juga bukan merupakan bentuk pengkhianatan, Nan?” Davin menatap tajam ke arahku. Tangan Davin menyingkirkan tangan wanita yang dibawanya dan beranjak ke arahku.
“Bagaimana bisa kamu mengkhianatiku terlebih dahulu saat status kita masih bersama? Bahkan saat kamu berpikir sudah tidak bisa melakukannya lagi, setidaknya terus lakukanlah sampai akhir,” Davin mendekatiku hingga wajahku begitu dekat dengannya, dia memegang pipiku dengan tangannya yang begitu dingin.
“Sekalipun hanya satu hari saja, aku ingin kita saling mencintai selayaknya pasangan sesungguhnya. Tapi kita berdua sama-sama terlalu keras untuk mengakui bahwa kita saling membutuhkan, bukan?” Davin dengan mata berkaca-kaca menatap mataku, dia mengusap rambutku dengan lembut. “Aku selalu ingin melakukan ini, menatap wajahmu 5 cm dari wajahku, setidaknya satu kali dalam pernikahan kita ini, aku ingin melakukan ini sambil memberitahumu bahwa aku mencintaimu, Nan,”
“Davin…” Suaraku tercekat.
“Naniya… aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi bahkan saat kamu berpikir sudah tidak bisa melakukannya lagi, setidaknya terus lakukanlah sampai akhir. Tetaplah seperti ini sampai akhir kontrak kita, setidaknya lakukanlah demi aku, karena aku benar-benar mencintaimu,”
Aku terisak mendengar pengakuan Davin, entah dapat kekuatan darimana tiba-tiba aku mencium bibir Davin, mata Davin sempat terbelalak kaget tidak menyangka dengan yang aku lakukan.
“I love you…,” Ucapku lirih sambil tersenyum meyakinkan Davin. Davin meraih pinggangku dan membalas ciumanku dengan begitu dalam. Kami berdua benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa.

“Hello… aku ada di sini lohhhhh,” Seruan tiba-tiba dari wanita yang dibawa Davin tadi mengagetkan kami berdua, kami sama-sama tertawa konyol karena benar-benar telah mengabaikannya. Davin segera mengambil dompetnya dan memberikan sejumlah uang kepada wanita itu dan menyuruhnya keluar.
“Tapi om… aku kan belum dipakai,” Rajuk wanita itu seperti tidak ingin meninggalkan kamar kami,” Kita main sekali deh ya, ahhh… aku penasaran sama om yang ganteng maksimal ini,” Rayunya sambil menggelayut manja.
“Haisss… ini ulet keket ya, enak saja mau nyobain om ganteng, aku yang istrinya juga belum pernah nyobain,” Ujarku gemas mendengar ucapan wanita muda itu, dan menarik tangannya keluar kamar. Davin tertawa tergelak mendengar ucapanku.
Malam itu kami berdua tidur nyenyak, tidak ada lagi guling di tengah-tengah kami, tidak ada lagi hal-hal konyol yang akan membangunkan pagiku selain pelukan hangat dari suamiku.

Besok sorenya, kami mengantar keluarganya Davin kembali ke Jakarta, Davin memberitahu mereka bahwa kami berdua akan tinggal lebih lama untuk sekalian berbulan madu. Ayahnya Davin kembali berpesan, “Ya… buatkan ayah cucu yang lucu segera,” dan aku dan Davin kompak menjawab, “Siap, yah”.

Begitulah, doa itu seperti kayungan sepeda, semakin kita sering mengayuhnya, semakin dekat pula dengan tujuannya. Jangan pernah berhenti untuk meminta (berdoa) kepada Tuhanmu apapun keinginanmu itu, sebut dan tunjuk saja “Tuhan… Aku mau yang itu…” sebanyak kamu bisa meminta, mengenai dikabulkan atau tidak, itu biarlah menjadi rahasia-Nya. Seperti aku, biarpun aku pernah berdoa kepada Tuhan bahwa aku mau Zian, ternyata Tuhan memberiku Davin. Ya… Tuhan tidak memberikan apa yang kita mau, melainkan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita anggap baik oleh kita, belum tentu baik untuk kita, dan terkadang apa yang kita anggap buruk untuk kita, justru mungkin itu yang terbaik untuk kita. Semua hal akan biasa karena terbiasa.

*Sekian*

NB: Jalan cerita, nama tokoh dan lainnya hanya karangan belaka, pembaca dilarang baper ^.^.

Cerpen Karangan: Bee Artie
Blog: www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id

Cerpen Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Cinta Untuk Denis

Oleh:
“Dik, lo serius beneran gak tau siapa yang selalu naruh surat ini di meja gue” Tanya Denis menunjukkan sepucuk surat berwarna pink padaku. “Yaelah bro… Serius dah… ngapain juga

Hurt

Oleh:
Aku melangkah beriringan dengan Aldo. Dia ketua osis sekaligus kakak kelasku. Meskipun aku dan dia selalu melangkah beriringan ke sekolah, dia sama sekali tidak pernah menyapaku. Kak Aldo selalu

Mawar Putih

Oleh:
Sebab aku mengerti.. Apa yang dinamakan perasaan itu memang tak dapat dipaksakan Apalagi dibohongi.. Untuk itu aku tak berani berharap lebih jauh lagi Cukup aku biarkan semua ini mengalir

Treason

Oleh:
Semua berawal bahagia Saat aku dan kau menjadi kita Saat waktu kita lalui bersama Tak ada yang berani mencela Tak ada yang berani menggoda Seolah-olah dunia hanya milik kita

Hadiah Terindah

Oleh:
Mungkin senja tidak ingin menunjukan keindahannya lagi. Mungkin pelangi pun juga begitu. Sudah 3 hari hujan turun di Solo. Ini hari pernikahanku. Namaku Reni. Tidak banyak yang menarik dariku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

11 responses to “Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 3)”

  1. dinbel says:

    Kerenssssssss, ceritanya. Goods jobs buat pengarang

  2. Nadilla says:

    jahat udah bafer kali ini yang baca,

  3. risa fbriynti says:

    Ahhh guaa baper njirr, jahat ni yang ngarang

  4. savitri dwi murdiani says:

    Keren ceritanya. Ingatkan aku tentang seseorang

  5. Dian Kalila sumbogo says:

    Keren banget! Semangat terus buat bikin cerpen ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *